Kekhawatiran Albie

*

*

*

"Kita harus segera menguburkannya, Abah. Ini lebih baik daripada menunggu yang akhirnya malah membuat lebih banyak orang yang tahu."

Kalimat itu yang didengar Khalisa di tengah rasa perih yang masih menjalar di bagian bawah perutnya. Tatapanya tak lepas dari bayi yang baru beberapa jam lalu masih bergerak di dalam perutnya. Ia masih ingat bagaimana bayi itu menendang, membuat perutnya mengencang. Memberi tahu, bahwa ada sebuah kehidupan di dalam rahimnya.

Namun,

Kini bayi itu diam. Tubuhnya membiru. Kelopak matanya tertutup rapat. Khalisa menitikkan air mata, memeluknya erat.

Pintu kamar yang terbuat dari triplek tipis, terbuka. Kiai Rohman masuk, di belakangnya menyusul Farid dan Zayan.

Kiai Rohman mendekat, tatapannya jatuh pada bayi laki-laki yang tengah berada di pelukan Khalisa. Jemarinya gemetar, ketika mengusap lembut kening cucunya yang kini terasa dingin.

"Khalisa, biar Abah sama Mas-mas mu yang mengurus semuanya."

Khalisa menggeleng, setelah apa yang tadi ia dengar, soal aib yang mereka bicarakan, Khalisa tidak lagi mempercayai mereka. "Nggak, Abah. Ini anak Khalisa. Dia bukan aib, dia suci." ucapnya penuh luka.

"Terkait dia aib atau bukan, dia harus segera dimakamkan Khalisa. Anak itu sudah meninggal." Farid maju selangkah.

Namun, Khalisa tetap menggeleng. Kedua lengannya justru semakin erat mendekap tubuh mungil itu, ia takut seseorang akan merebut paksa.

Ummi Khansa yang sejak tadi mengusap air mata, beringsut mendekat. Tangannya dingin, mengelus pelan punggung putrinya. "Khalisa ..." Suaranya bergetar, dengan isak tertahan. "Ikhlaskan dia, Nak. Allah lebih menyayanginya. Percayalah, kelak dialah yang akan menuntun mu menuju syurga."

Khalisa mengangkat wajah. Pandangannya bertemu dengan mata sembab Ummi Khansa. "Tapi dia anak Khalisa, dia bukan aib."

"Ummi tahu, sayang ... Dia putramu." Ummi Khansa memejamkan mata sejenak.

Jemari Khalisa mengusap pipi bayi laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Bibir mungil yang tak sempat menangis, mata yang tak pernah terbuka menyambut dunia. Dadanya kembali sesak. "Maafkan Ibu ..." bisiknya lirih. Satu persatu jemarinya akhirnya melepas tubuh kecil itu.

Kiai Rohman menerima cucunya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Bersama Farid dan Zayan, beliau melangkah keluar dari kamar.

Khalisa hanya mampu menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Hingga pintu itu kembali tertutup.

Ia benar-benar kehilangan putranya. Bahkan, Ia tidak tahu di mana tanah terakhir yang memeluk tubuh kecil buah hatinya.

*

*

*

*

*

Rumah Sakit Pusat, Jakarta Selatan.

"Melamun aja Bie, kenapa?"

Naufal —dokter spesialis anestesi—menghempaskan tubuhnya di sofa ruang khusus Albie.

Bukan sekedar rekan sejawat, mereka telah bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Bertahun-tahun melewati masa pendidikan kedokteran bersama, membuat hubungan mereka terasa lebih seperti saudara daripada teman.

Albie mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya. Barisan laporan medis pasien itu, sedari tadi tak benar-benar ia baca. Fokusnya pecah, wajah istrinya berputar-putar di kepala.

"Aku kepikiran Qistina." ucapnya tanpa mengangkat wajah.

Naufal mengernyit, mencondongkan tubuhnya kedepan. "Memangnya Qistina kenapa?"

Albie mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Akhir-akhir ini dia sering kelihatan capek. Dua hari kemarin juga sempat demam. Tadi pagi, sebenarnya udah kelihatan lebih baikan, tapi nggak tahu kenapa... perasaan ku nggak enak."

Naufal terdiam sesaat, ujung matanya sedikit menyipit. "Kecapekan ngurus bakery kali. Setelah melahirkan, baru sekarang dia aktif lagi, 'kan?"

Albie mengangguk.

Bakery yang dikelola Qistina berkembang cukup pesat.

Selain karena ketekunan istrinya, didukung juga oleh keluarga besar Dewangga yang memang memiliki jaringan bisnis diberbagai bidang.

"Iya ..." Albie menatap kosong ke permukaan meja. "Aku juga berharap cuma karena kecapekan."

Naufal mengenal sahabatnya itu dengan baik. Kalau Albie sudah berkata begitu, biasanya bukan sekedar kekhawatiran seorang suami.

Albie mencoba kembali memusatkan perhatian pada layar laptop di hadapannya.

Pasien kecelakaan lalu lintas yang menjalani operasi kemarin, karna Perdarahan Subdural, darah yang berkumpul di antara selaput otak dan permukaan otak akibat benturan. Terlihat menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Bibirnya mengulas senyum tipis saat membandingkan hasil CT scan sebelum operasi dengan hasil pemeriksaan pasca operasi.

"Hematomanya sudah jauh berkurang, gumpalan darah yang semula menekan otak menyusut" gumamnya pelan.

Jemarinya kembali menggeser beberapa citra radiologi di layar, memastikan tidak ada tanda perdarahan baru ataupun peningkatan tekanan intrakranial.

Sementara itu, Naufal berjalan santai ke sudut ruangan. Ia meletakkan mug porselen di bawah mesin kopi lalu menekan tombol. Aroma kopi yang baru diseduh perlahan memenuhi ruangan.

"Ngopi dulu, nih." Ujar Naufal sambil meletakkan mug berisi kopi hangat di samping laptop.

Albie melirik sekilas mug itu, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.

"Masih kepikiran?" tanya Naufal. Lalu menyeduh kopi satu mug lagi untuk dirinya.

Albie mengangguk.

"Kenapa nggak suruh Qistina check-up aja?"

"Aku juga kepikiran begitu. Tapi Qistina masih nolak. Katanya cuma kecapekan, dibawa istirahat juga nanti sembuh sendiri."

Naufal mengembuskan napas pelan. Kemudian duduk kembali ke sofa. "Namanya juga istri dokter. Kadang paling susah disuruh periksa. Dikira punya suami dokter bisa terhindar dari segala penyakit."

Albie tersenyum getir. "Aku tetap nggak tenang, ..." tatapanya kembali kosong. "Takut kenapa-kenapa sama Qistina."

Tak lama kemudian ponsel yang Albie letakkan di atas meja, berderit panjang.

Reflek, ia menoleh ke arah layar. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan. "Rumah?" gumamnya nyaris tanpa suara.

Keningnya berkerut. Jarang sekali telpon rumah menghubunginya saat jam kerja. Kecuali jika benar-benar ada sesuatu yang penting. Dadanya mendadak dipenuhi rasa gelisah. Jemarinya bergetar, menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

"Assalamualaikum. Ada apa?"

"Pak ... Ini saya, Rani." Suara baby sitter putri mereka terdengar bergetar dari seberang telepon.

Kening Albie langsung berkerut. "Kenapa, Ran?"

"Ibu ... Ibu Qistina pingsan, Pak."

Albie membeku. Jemarinya menegang menggenggam ponsel. "Pingsan?!"

"Ibuk pingsan di kamar mandi. Tadi sempet mimisan juga..."

"Sekarang gimana?!" Albie cepat menyela. Kemudian berdiri. Hingga kursinya bergeser cukup keras.

Naufal yang melihat ketegangan di wajah Albie, ikut berdiri.

"Bik Sarti sama Hilman sudah bawa Ibu ke IGD." Rani menjawab.

Jantung Albie seperti berhenti berdetak sesaat. Bumi seolah berhenti berputar, di ruangan yang didominasi cat putih bersih. "Saya ke sana sekarang."

Sambungan telepon terputus. Albie langsung menyambar jas putihnya. Gegas melangkah lebar.

"Kenapa, Bie?" Naufal penasaran.

"Qistina pingsan!"

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibir Albie. Tanpa sempat menjelaskan apa pun lagi, Albie berlari keluar ruangan.

Lorong-lorong menuju IGD terasa lebih panjang. Wajah Albie kehilangan warna, napasnya memburu. Seolah apa yang dilewatinya tidaklah terlalu penting untuk dilihat.

Yang ada dikepalanya hanya satu. Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Qistina.

*

*

*

~ Salam hangat dari Penulis 🤍

Terpopuler

Comments

neny

neny

ayo bie,,tlng qistina🥹🥹

2026-07-25

1

Miranda.

Miranda.

sempat ovt saat baca sinopsisnya terlebih dahulu. kirain si korban pemerkosaan ini bukan dari lingkungan pondok soalnya/Frown//Frown/

2026-08-11

0

Mingyu gf😘

Mingyu gf😘

Tidak ada seorang anak yang baru lahir itu aib, mereka tidak bisa memilih kapan mereka harus lahir dan ada di dunia

2026-08-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!