Bab 3 – Misi Dari Sang Raja dan Undangan Pesta Dari Utara.

Raja Nolan membelalak. “Jejak miasma dan sihir hitam katamu!?”

“A-apa kau yakin!?”

Jenderal Vermont membungkuk. “Saya yakin, Yang Mulia.”

Seketika semua orang yang ada di ruangan terdiam.

“Ini aneh....”

Edward mengernyitkan dahi. Ia lalu menoleh ke arah pelayan tuanya.

“Apakah kau juga merasakan hal itu kemarin, Bernard?”

“I-iya, Yang Mulia,” jawab Bernard, melangkah maju satu langkah.

“Sejak kedatangan Yogner itu... memang ada sisa-sisa sihir hitam dan jejak miasma, sebagaimana yang diungkapkan oleh Tuan Jenderal Vermont.”

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.

“Namun, karena intensitasnya terlalu kecil...”

“Saya mengira semua itu hanya berasal dari sisa sihir bawaan Yogner.”

Brak!

“Itu berarti... ada bajingan yang mencoba bermain api di wilayah kekuasaan Aureliania,” geram sang Raja. Tangannya mengepal begitu erat di atas sandaran tangan singgasana.

Suasana di aula utama seketika turun drastis.

Aura kemarahan yang pekat dari sang Raja mendadak menyelimuti seluruh ruangan, membuat atmosfer terasa begitu mencekam.

“Duke Vermont...”

Raja Nolan angkat bicara, suaranya terdengar berat dan dingin.

“Situasi ini sudah menjadi sangat serius. Aku minta padamu untuk menyelidiki masalah ini lebih jauh sampai ke akarnya.”

“Ajak Pangeran Edward bersamamu. Laporkan kepadaku secepatnya jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan.”

“Dimengerti, Yang Mulia,” jawab Jenderal Vermont dengan nada suara mantap tanpa keraguan.

Raja Nolan kemudian mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah putra angkatnya.

“Edward, kau sudah mendengar apa yang baru saja kukatakan, bukan?”

“Tentu saja, Ayahanda. Saya akan melakukan yang terbaik,” jawab Edward dengan sorot mata mantap.

Edward, Jenderal Vermont, dan juga Bernard segera melangkah pergi meninggalkan aula utama.

Kepergian mereka menyisakan sang Raja seorang diri di dalam ruangan luas tersebut, ditemani oleh perasaan kesal yang membakar dada.

Tentu saja, sebagai seorang penguasa, hal ini membuat dirinya amat murka.

Jika saat itu Edward tidak berada di sana, kemungkinan besar Yogner akan berhasil menerobos keluar dari perbatasan dan mengamuk di desa-desa penduduk. Sudah bisa dipastikan korban jiwa akan berjatuhan dalam jumlah yang tidak sedikit.

Apalagi, monster tingkat 5 itu diketahui mampu menyebarkan miasma mematikan, jenis racun pekat yang akan langsung mengubah area mana pun yang dilaluinya menjadi wilayah mati yang gersang.

Krieeet.

Pintu aula terbuka perlahan.

Sang Ratu melangkah masuk bersama pelayan setianya, Emma, yang mengekor takzim di belakang.

Melihat guratan kekesalan yang tercetak jelas di wajah suaminya, Tiana tahu betul jika situasi saat ini jauh lebih buruk daripada kelihatannya.

“Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya sang Ratu lembut, berjalan mendekat.

“Hanya... sedikit kesal,” jawab Nolan pendek.

“Apakah ini karena laporan kemarin?” selidik Ratu Tiana lagi.

Raja Nolan memegang keningnya yang mulai berdenyut pusing.

“Lagi-lagi... anak itu menyelamatkan kita. Jika bukan karena dirinya, wilayah pinggiran kerajaan pasti sudah luluh lantak, beserta dengan orang-orang tak berdosa yang tinggal di sana.”

Mendengar hal itu, Ratu Tiana mengulas senyum tipis.

Sebuah senyuman yang penuh kehangatan, seolah mampu mencairkan ketegangan di dalam ruangan.

“Entah mengapa, sejak kedatangan Edward di hidup kita...”

Ratu Tiana menerawang, tatapannya melembut.

“Dewi Keberuntungan seolah-olah selalu memihak pada kerajaan ini.”

“Sudah berapa kali anak itu menyelamatkan banyak nyawa...”

Dia menghela napas pelan, ada nada kagum sekaligus gemas dalam suaranya.

“Dan hebatnya, dia bahkan tidak menyadari dampaknya sama sekali.”

Ratu Tiana menghela napas pendek, sorot matanya melembut.

“Andai saja orang-orang di luar sana memahami siapa Edward yang sebenarnya... aku yakin mereka akan mengerti.”

“Ya. Kau benar, Ratuku.”

“Ngomong-ngomong,” Ratu Tiana mengalihkan pembicaraan, mengeluarkan sebuah dokumen dari tangannya. “Aku ingin menyampaikan surat undangan resmi dari Kerajaan Utara, Nivalis.”

Nolan mengangkat pandangannya. “Nivalis?”

“Benar. Mereka menanti kehadiran kita dalam acara The Grand Masquerade minggu depan, dalam rangka merayakan hari ulang tahun Putri pewaris sah mereka yang ke-21. Bagaimana? Apakah kau akan mengirimkan surat balasan untuk mereka?”

Sang Raja mengelus janggutnya perlahan. Detik berikutnya, sebuah senyuman misterius menyungging di bibirnya.

“Ini bagus. Suruh Kanselir Agung untuk segera menulis surat balasan, dan katakan padanya jika kita akan menghadiri acara tersebut.”

Ratu Tiana sedikit mengangkat sebelah alisnya, heran. “Tiba-tiba saja Anda kelihatan bersemangat. Ada apa?”

“Aku ingin mengajak Edward pergi bersama kita. Ini bisa menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk mulai mengenalkan reputasinya ke dunia luar.”

Deg.

Seketika itu juga, ekspresi wajah Ratu Tiana berubah menjadi luar biasa serius. Pancaran matanya menyiratkan rasa tidak suka yang amat kentara.

“Apakah Anda yakin?” tanya Ratu Tiana, nadanya mendingin. “Bukankah Anda tahu sendiri bagaimana pandangan dunia luar terhadapnya?”

Wanita jelita itu mengepalkan tangannya di balik gaun indahnya.

“Saya tahu ini terdengar kurang sopan... tapi aku tidak akan pernah mengizinkan putraku ikut hanya untuk dijadikan sebagai bahan hinaan orang-orang sombong itu. Dan jujur saja, aku tidak tahu apakah bisa menahan emosiku kali ini jika hal buruk itu sampai terjadi lagi di hadapanku.”

Raja Nolan tersenyum lembut. Ia melangkah mendekati sang Ratu, lalu menggenggam kedua tangan istrinya dengan hangat.

“Tenang saja. Aku pun tahu betul akan hal itu. Tapi Edward sudah besar, dan dia sekarang sangat berbeda. Dia bukan lagi bocah yang sama seperti tahun-tahun lalu.”

Nolan menatap mata istrinya, mencoba menyalurkan keyakinan.

“Aku yakin dia bisa mengatasinya. Dia sudah tumbuh menjadi lelaki yang kuat. Bahkan... jauh lebih kuat daripada apa yang bisa kita bayangkan.”

Sorot mata tajam sang Ratu perlahan-lahan mulai melunak.

“Pesta ini akan menjadi awal baginya untuk belajar mengenali siapa lawan dan siapa kawan. Ini adalah jalannya untuk mencapai kedewasaan. Jika kau terus mengekangnya di dalam sangkar emas, selamanya dia akan hidup dengan membawa rasa takut itu.”

Ratu Tiana menunduk dalam-dalam.

Dia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk kembali menimpa putranya. Anak itu sudah cukup banyak menderita di masa kecilnya. Setiap kali mengingat penderitaan yang harus dilalui Edward dulu, hati Tiana selalu terasa bagai tersayat sembilu.

Namun, perkataan suaminya ada benarnya. Cepat atau lambat, Edward harus menghadapi dunia luar. Dan melihat perkembangannya belakangan ini, sepertinya momen itu memang sudah tiba.

“Selain itu....” Raja Nolan melanjutkan kalimatnya. “Ini bisa menjadi kesempatan yang sangat bagus bagi anak kita untuk mulai mencari pendamping hidup.”

Nolan menceletuk dengan senyum jahil yang terukir di wajah paruh bayanya.

Ratu Tiana seketika tertawa renyah. “Aku tahu betul bagaimana kapasitas putraku, Nolan. Jangankan mencari pendamping, dia bahkan mungkin tidak akan berani menyapa seorang gadis di sana.”

“Ya, tapi....”

Ratu Tiana menyeka air mata sudut matanya akibat tertawa, lalu mendadak menatap suaminya dengan senyuman manis... yang teramat mengerikan.

Glek.

Aura membunuh yang pekat dan dingin seketika meletup dari tubuh sang Ratu, membuat suhu di dalam ruangan terasa anjlok drastis.

“Jika acara di Kerajaan Utara nanti tidak jauh berbeda dengan kejadian sebelas tahun lalu... aku pastikan ancamanku yang sempat tertunda akan benar-benar terwujud di sana. Kau paham, kan, Suamiku?”

Sang Raja hanya bisa terkekeh canggung menanggapi ucapan istrinya.

Di balik tawa formalnya, Nolan diam-diam bergidik ngeri. Ia tahu betul kalau istrinya sama sekali tidak pernah main-main jika itu menyangkut keselamatan Edward.

Sementara itu, di area luar gerbang istana.

Edward tengah bersiap-siap bersama pelayan setianya, Bernard. Di hadapan mereka, Jenderal Vermont beserta sepasukan kesatria berbaju zirah lengkap sudah bersiap di atas kuda masing-masing.

Hachuuu!

Edward mendadak bersin keras. Ia menggosok hidungnya yang terasa gatal, lalu menengadah menatap langit pagi yang bersih cerah tanpa ada selembar awan pun yang menutupi.

Bernard berjalan mendekat. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu Anda, Tuan Muda?”

“Uhh... Tidak ada,” ucap Edward sambil menyeka hidungnya dengan punggung tangan.

“Hanya saja... entah mengapa aku merasa seperti ada orang yang sedang membicarakan hal-hal aneh tentangku di dalam sana.”

Episodes
1 Bab 0 – Prolog
2 Bab 1 – Pangeran Tanpa Mana, Tapi Bisa Meninju Gajah Raksasa!
3 Bab 2 – Undangan Akademi Lumina dan Masalah di Perbatasan.
4 Bab 3 – Misi Dari Sang Raja dan Undangan Pesta Dari Utara.
5 Bab 4 – Bisikan dari Kedalaman Hutan.
6 Bab 5 – Ritual Terlarang.
7 Bab 6 – Monster Tingkat S Bagaikan Mainan di Tangan Sang Pangeran!
8 Bab 7 – Pertarungan Brutal! Penyihir Hitam Yang Tak Bisa Mati.
9 Bab 8 – Puncak Pertarungan: Wujud Sang Dewa!
10 Bab 9 – Asal-Usul Florence: Penyelamat yang Tak Terduga!
11 Bab 10 – Akhir dari Sang Penyihir Abadi dan Miniatur Matahari di Dalam Dungeon.
12 Bab 11 — Bahkan Jika Lawanku Adalah Dewa.
13 Bab 12 — Ancaman Baru Setelah Pertempuran.
14 Bab 13 — Sang Pangeran yang Takut Pesta Dansa.
15 Bab 14 – Pangeran yang Tak Bisa Berdansa.
16 Bab 15 — Selamat Datang di Nivalis.
17 Bab 16 — Kenapa Dia Menatapku?
18 Bab 17 — Pertemuan di Bawah Aurora.
19 Bab 18 — Menembus Langit Bersamamu.
20 Bab 19 — Siapa yang Ingin Mati Lebih Dulu?
21 Bab 20 — Putri Kedua Kerajaan Nivalis.
22 Bab 21 — Tantangan Sang Raja Utara.
23 Bab 22 — Kekuatan 50% Sang Raja Utara.
24 Bab 23 — Target: Planet Terrasia!
25 Bab 24 — Ancaman atau Sekutu?
26 Bab 25 — Dansa yang Berubah Menjadi Pertanda Bahaya.
27 Bab 26 — Neraka di Tengah Festival!
28 Bab 27 — Jutaan Bilah Maut.
29 Bab 28 — Harga Sebuah Kemenangan.
30 Bab 29 — 50% Peluang untuk Hidup.
Episodes

Updated 30 Episodes

1
Bab 0 – Prolog
2
Bab 1 – Pangeran Tanpa Mana, Tapi Bisa Meninju Gajah Raksasa!
3
Bab 2 – Undangan Akademi Lumina dan Masalah di Perbatasan.
4
Bab 3 – Misi Dari Sang Raja dan Undangan Pesta Dari Utara.
5
Bab 4 – Bisikan dari Kedalaman Hutan.
6
Bab 5 – Ritual Terlarang.
7
Bab 6 – Monster Tingkat S Bagaikan Mainan di Tangan Sang Pangeran!
8
Bab 7 – Pertarungan Brutal! Penyihir Hitam Yang Tak Bisa Mati.
9
Bab 8 – Puncak Pertarungan: Wujud Sang Dewa!
10
Bab 9 – Asal-Usul Florence: Penyelamat yang Tak Terduga!
11
Bab 10 – Akhir dari Sang Penyihir Abadi dan Miniatur Matahari di Dalam Dungeon.
12
Bab 11 — Bahkan Jika Lawanku Adalah Dewa.
13
Bab 12 — Ancaman Baru Setelah Pertempuran.
14
Bab 13 — Sang Pangeran yang Takut Pesta Dansa.
15
Bab 14 – Pangeran yang Tak Bisa Berdansa.
16
Bab 15 — Selamat Datang di Nivalis.
17
Bab 16 — Kenapa Dia Menatapku?
18
Bab 17 — Pertemuan di Bawah Aurora.
19
Bab 18 — Menembus Langit Bersamamu.
20
Bab 19 — Siapa yang Ingin Mati Lebih Dulu?
21
Bab 20 — Putri Kedua Kerajaan Nivalis.
22
Bab 21 — Tantangan Sang Raja Utara.
23
Bab 22 — Kekuatan 50% Sang Raja Utara.
24
Bab 23 — Target: Planet Terrasia!
25
Bab 24 — Ancaman atau Sekutu?
26
Bab 25 — Dansa yang Berubah Menjadi Pertanda Bahaya.
27
Bab 26 — Neraka di Tengah Festival!
28
Bab 27 — Jutaan Bilah Maut.
29
Bab 28 — Harga Sebuah Kemenangan.
30
Bab 29 — 50% Peluang untuk Hidup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!