BAB 4: NAMA KIRANA MASUK DAFTAR HITAM

"Eh, Kir, katanya kamu jadi favoritnya Pak Alden ya sekarang?" celetuk Bagas begitu mereka duduk melingkar di taman belakang kampus, menunggu jam kuliah berikutnya dimulai.

"Favorit apaan," Kirana mendengus, menyandarkan punggung ke batang pohon.

"Itu kan cuma soal tugas kelompok doang."

"Tapi kemarin dia muji kamu di depan kita semua," Ferra ikut menimpali, menyeruput es tehnya. "Nggak biasanya lho dia muji mahasiswa."

"Ferra bener," Nadia menambahkan,

"biasanya Pak Alden itu tipe yang nyari kesalahan, bukan nyari yang bagus buat dipuji."

Kirana menggeleng cepat. "Udah ah, jangan digosipin kayak gitu. Ntar kalau kedengeran orang lain, aku yang repot."

"Emang kenapa kalo kedengeran orang lain?" Bagas menyeringai jahil.

"Ya... nanti dikira aku cari muka atau apa," jawab Kirana, sedikit gelagapan.

Belum sempat dia melanjutkan kalimat, ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup kelas muncul di layar. Kirana membukanya, dan alisnya langsung mengernyit membaca isi pesan yang baru masuk.

"Woy, ada yang share daftar nama mahasiswa yang sering ditegor Pak Alden," kata salah satu teman sekelas di grup, disusul emoji tertawa.

Kirana men-scroll pesan itu, jantungnya berdegup tidak enak ketika melihat namanya tercantum di urutan kedua, tepat di bawah nama seorang cowok yang terkenal sering bikin onar di kelas.

DAFTAR HITAM KELAS PAK ALDEN

Reza (telat 3x, HP bunyi 2x)

Kirana Ayu (telat hari pertama, disemprot depan kelas soal tugas kelompok)

dst

"Hah? Ini apaan sih?" Kirana menunjukkan layar ponselnya ke Tesa yang baru datang bergabung.

Tesa membaca sekilas, lalu tertawa kecil. "Ih, iseng banget sih yang bikin. Tapi ya emang bener sih kejadiannya."

"Tesa, ini nggak lucu," Kirana mendesah, wajahnya mulai memerah menahan kesal.

"Gila ya, baru juga dua kali kena semprot udah masuk daftar segala."

"Udah, jangan dipikirin," Bagas menepuk bahu Kirana, mencoba menenangkan. "Paling juga becandaan doang, nanti juga ilang sendiri."

Tapi kenyataannya, pesan itu terus menyebar. Sampai siang hari, hampir seluruh angkatan tahu soal daftar itu, dan nama Kirana jadi bahan obrolan di mana mana, mulai dari kantin sampai lorong kelas.

Menjelang sore, Kirana berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi tambahan buat tugas kelompoknya. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan dua mahasiswi yang tidak dia kenal, keduanya berbisik bisik sambil melirik ke arahnya.

"Itu yang tadi masuk daftar hitam ya?" bisik salah satu, tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Kirana.

"Iya, katanya sih deket sama Pak Alden," bisik yang lain, disusul cekikikan kecil.

Kirana mempercepat langkah, pura pura tidak mendengar meski telinganya panas. Dia menghela napas panjang begitu sampai di depan perpustakaan, menyandarkan punggung ke dinding sebentar sebelum masuk.

"Kenapa jadi seheboh ini sih," gumamnya pelan, meremas tali tas ranselnya.

Di dalam perpustakaan, dia mencari buku referensi di rak manajemen strategis, tapi pikirannya terus melayang memikirkan gosip yang beredar. Dia bahkan tidak sadar sudah berdiri diam di depan rak yang sama selama beberapa menit tanpa mengambil buku apa pun.

"Nyari apa?"

Suara itu membuat Kirana tersentak, hampir menjatuhkan tas yang dia pegang. Dia menoleh dan mendapati Alden berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa setumpuk buku tebal di tangan.

"Pak Alden," Kirana terkejut, buru buru berdiri lebih tegak. "Saya... lagi nyari referensi buat tugas kelompok."

"Buku apa?"

"Tentang analisis SWOT, Pak. Sama laporan keuangan perusahaan multinasional."

Alden meletakkan tumpukan bukunya di meja terdekat, lalu menyusuri rak yang sama, mengambil satu buku dan menyerahkannya ke Kirana. "Coba baca bab lima di buku ini. Ada studi kasus yang relevan sama tugas kalian."

"Terima kasih, Pak," Kirana menerima buku itu, sedikit canggung karena jarak mereka yang lebih dekat dari biasanya.

Alden menatapnya sejenak, lalu bertanya, "Kamu kenapa? Dari tadi keliatan nggak fokus."

Kirana terkejut ditanya seperti itu. Dia tidak menyangka dosen yang biasanya terlihat cuek akan memperhatikan hal sekecil itu.

"Nggak apa apa kok, Pak. Cuma... lagi banyak pikiran aja."

"Soal daftar hitam itu?"

Mata Kirana membelalak. "Pak Alden tahu?"

"Kampus ini kecil. Gosip cepat nyebar, termasuk ke dosen," jawab Alden datar, meski ada sedikit nada geli di suaranya.

"Kamu nggak perlu terlalu dipikirin. Itu cuma becandaan anak anak yang nggak ada kerjaan."

"Tapi malu, Pak," Kirana menunduk, meremas ujung buku yang dia pegang. "Baru juga masuk kuliah seminggu, udah kena reputasi kayak gitu."

Alden diam sejenak, menatap Kirana yang masih menunduk. "Reputasi itu dibangun dari kerja kamu sendiri, bukan dari daftar konyol yang dibuat orang iseng. Kalau kamu tetap kerja keras, orang akan lihat itu, bukan gosip murahan kayak gitu."

Kirana mendongak, menatap Alden yang balas menatapnya dengan ekspresi yang jauh lebih lembut dari yang biasa dia tunjukkan di kelas. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya suara kipas angin perpustakaan yang berputar pelan, dan detak jantung Kirana yang entah kenapa terasa lebih kencang dari biasanya.

"Makasih, Pak," ucap Kirana akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang dia inginkan.

"Itu... bikin aku ngerasa mendingan."

"Hm," Alden hanya bergumam pendek, lalu mengambil kembali tumpukan bukunya dari meja. "Jangan lupa balikin buku itu sebelum jatuh tempo."

"Siap, Pak," Kirana mengangguk cepat, menahan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.

Alden berjalan menjauh, meninggalkan Kirana yang masih berdiri di tempat yang sama, memandangi punggung dosen itu sampai menghilang di balik rak buku lain.

"Kenapa sih tadi dia jadi baik banget," gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri, dadanya masih terasa hangat. "Padahal di kelas galaknya minta ampun."

Malam harinya, Kirana bercerita ke Tesa lewat telepon, menceritakan kejadian di perpustakaan sore tadi.

"Serius dia bilang gitu ke kamu?" Tesa terdengar antusias di seberang telepon.

"Iya, serius," jawab Kirana, sambil rebahan di kasur kosnya. "Aneh sih, tadi di kelas galak banget, tapi pas di perpustakaan malah kayak... beda orang."

"Kir, jangan jangan dia emang perhatian sama kamu," goda Tesa.

"Tesa, please," Kirana menghela napas, meski pipinya mulai terasa hangat lagi. "Dia dosen. Aku mahasiswa. Nggak ada hubungannya sama perhatian perhatian gitu."

"Ya kali nggak ada. Kamu aja yang keliatan seneng banget cerita soal dia," Tesa tertawa kecil.

"Aku cerita karena tadi beneran nolong aku dari rasa malu, bukan karena hal lain," Kirana membela diri, meski dalam hati dia sendiri tidak yakin seratus persen dengan kalimatnya sendiri.

"Terserah deh," Tesa masih terkekeh. "Tapi hati hati aja, Kir. Kalau gosip soal daftar hitam aja bisa nyebar secepat itu, apalagi kalau ada yang liat kamu deket deket sama dosen killer."

Ucapan Tesa membuat Kirana terdiam sejenak. Dia baru sadar, di tengah rasa hangat yang muncul karena perhatian kecil Alden tadi sore, ada risiko yang sebenarnya jauh lebih besar dari sekadar gosip daftar hitam biasa.

"Iya juga sih," gumam Kirana pelan. "Tapi kan kita cuma ngobrol biasa doang. Nggak ada apa apa."

"Semoga aja tetep gitu," jawab Tesa, nadanya sedikit lebih serius. "Soalnya kampus kita ini gosipnya cepet banget nyebar, Kir. Kamu udah ngerasain sendiri kan hari ini."

Kirana menutup telepon setelah beberapa menit mengobrol lagi, lalu menatap langit langit kamar kos dalam diam. Pikirannya kembali memutar kejadian di perpustakaan, cara Alden menatapnya, cara suaranya melunak ketika bicara soal reputasi.

Dia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran yang mulai terasa berbahaya untuk terus dipikirkan. Tapi semakin dia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan itu terpatri di kepalanya, seperti janji diam diam bahwa cerita ini baru saja dimulai.

Episodes
1 BAB 1: MAHASISWI BARU DI KELAS DOSEN KILLER
2 BAB 2: TERLAMBAT HARI PERTAMA
3 BAB 3: DITEGUR DI DEPAN KELAS
4 BAB 4: NAMA KIRANA MASUK DAFTAR HITAM
5 BAB 5: AROMA VANILA YANG MENGGANGGU KONSENTRASI
6 BAB 6: TUGAS BALAS DENDAM
7 BAB 7: KIRANA NGADU KE SAHABAT
8 BAB 8: PAK ALDEN YANG TIDAK PERNAH SENYUM
9 BAB 9: KELAS TAMBAHAN JAM MALAM
10 BAB 10: BERDUA DI RUANG DOSEN
11 BAB 11: TATAPAN YANG TERLALU LAMA
12 BAB 12: KIRANA KETAHUAN MENATAP
13 BAB 13: DEBAT KECIL SOAL NILAI
14 BAB 14: PAYUNG YANG SAMA SAAT HUJAN
15 BAB 15: JANTUNG BERDEBAR TANPA ALASAN
16 BAB 16: RAHASIA DI BALIK WAJAH GALAK
17 BAB 17: KIRANA DIPANGGIL KE RUANGAN DOSEN
18 BAB 18: TEGURAN YANG TERASA BERBEDA
19 BAB 19: KOPI YANG TIDAK PERNAH DIPESAN
20 BAB 20: KIRANA MULAI CURIGA PADA DIRI SENDIRI
21 BAB 21: PROYEK KELOMPOK YANG DIPAKSAKAN
22 BAB 22: SEKELOMPOK DENGAN PAK ALDEN
23 BAB 23: KIRANA DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS
24 BAB 24: CEMBURU YANG TIDAK DIAKUI
25 BAB 25: ALDEN MARAH TANPA SEBAB JELAS
26 BAB 26: KIRANA MENANGIS DI TOILET KAMPUS
27 BAB 27: ALDEN MENCARI KIRANA
28 BAB 28: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR ITU
29 BAB 29: KIRANA DIPANGGIL KE RUANG KAPRODI
30 BAB 30: KIRANA TETAP MERASA TERLUKA
31 BAB 31: MAHASISWA LAIN MULAI CURIGA
32 BAB 32: DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS LAGI
33 BAB 33: ALDEN KEMBALI MENGAJAR
34 BAB 34: ALDEN MEMBELA KIRANA DI DEPAN UMUM
35 BAB 35: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR PEMBELAAN ITU
36 BAB 36: ALDEN MENDATANGI KOS KIRANA
37 BAB 37: PERTEMUAN DENGAN SARAH
38 BAB 38: PERTEMUAN ALDEN DAN SARAH
39 BAB 39: KABAR BAIK DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
40 BAB 40: KEMBALI KE KEBIASAAN LAMA
41 BAB 41: AKHIR PEKAN YANG TENANG
42 BAB 42: SESEORANG YANG MENGENALI MEREKA
43 BAB 43: PILIHAN YANG SEMAKIN SULIT
44 BAB 44: KOMITMEN DALAM DIAM
45 BAB 45: PENGAKUAN YANG TERTAHAN DI UJUNG LIDAH
46 BAB 46: MENUNGGU KABAR YANG MENENTUKAN
47 BAB 47: TIGA BULAN TERAKHIR BERSAMA
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1: MAHASISWI BARU DI KELAS DOSEN KILLER
2
BAB 2: TERLAMBAT HARI PERTAMA
3
BAB 3: DITEGUR DI DEPAN KELAS
4
BAB 4: NAMA KIRANA MASUK DAFTAR HITAM
5
BAB 5: AROMA VANILA YANG MENGGANGGU KONSENTRASI
6
BAB 6: TUGAS BALAS DENDAM
7
BAB 7: KIRANA NGADU KE SAHABAT
8
BAB 8: PAK ALDEN YANG TIDAK PERNAH SENYUM
9
BAB 9: KELAS TAMBAHAN JAM MALAM
10
BAB 10: BERDUA DI RUANG DOSEN
11
BAB 11: TATAPAN YANG TERLALU LAMA
12
BAB 12: KIRANA KETAHUAN MENATAP
13
BAB 13: DEBAT KECIL SOAL NILAI
14
BAB 14: PAYUNG YANG SAMA SAAT HUJAN
15
BAB 15: JANTUNG BERDEBAR TANPA ALASAN
16
BAB 16: RAHASIA DI BALIK WAJAH GALAK
17
BAB 17: KIRANA DIPANGGIL KE RUANGAN DOSEN
18
BAB 18: TEGURAN YANG TERASA BERBEDA
19
BAB 19: KOPI YANG TIDAK PERNAH DIPESAN
20
BAB 20: KIRANA MULAI CURIGA PADA DIRI SENDIRI
21
BAB 21: PROYEK KELOMPOK YANG DIPAKSAKAN
22
BAB 22: SEKELOMPOK DENGAN PAK ALDEN
23
BAB 23: KIRANA DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS
24
BAB 24: CEMBURU YANG TIDAK DIAKUI
25
BAB 25: ALDEN MARAH TANPA SEBAB JELAS
26
BAB 26: KIRANA MENANGIS DI TOILET KAMPUS
27
BAB 27: ALDEN MENCARI KIRANA
28
BAB 28: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR ITU
29
BAB 29: KIRANA DIPANGGIL KE RUANG KAPRODI
30
BAB 30: KIRANA TETAP MERASA TERLUKA
31
BAB 31: MAHASISWA LAIN MULAI CURIGA
32
BAB 32: DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS LAGI
33
BAB 33: ALDEN KEMBALI MENGAJAR
34
BAB 34: ALDEN MEMBELA KIRANA DI DEPAN UMUM
35
BAB 35: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR PEMBELAAN ITU
36
BAB 36: ALDEN MENDATANGI KOS KIRANA
37
BAB 37: PERTEMUAN DENGAN SARAH
38
BAB 38: PERTEMUAN ALDEN DAN SARAH
39
BAB 39: KABAR BAIK DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
40
BAB 40: KEMBALI KE KEBIASAAN LAMA
41
BAB 41: AKHIR PEKAN YANG TENANG
42
BAB 42: SESEORANG YANG MENGENALI MEREKA
43
BAB 43: PILIHAN YANG SEMAKIN SULIT
44
BAB 44: KOMITMEN DALAM DIAM
45
BAB 45: PENGAKUAN YANG TERTAHAN DI UJUNG LIDAH
46
BAB 46: MENUNGGU KABAR YANG MENENTUKAN
47
BAB 47: TIGA BULAN TERAKHIR BERSAMA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!