[Ding!]
[Peringatan Keras! Tingkat Keintiman Target (Mo Jue) saat ini berada di angka: -100!]
[Status: Kebencian Maksimal. Target menganggap Host sebagai ancaman yang harus segera disingkirkan.]
Su Yinyin merasakan cengkeraman di dagunya semakin mengetat hingga tulangnya terasa ngilu. Udara di kamar mandi itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah ribuan jarum es tak kasat mata siap menusuk kulitnya kapan saja.
Mo Jue menunduk, menatap wanita di dalam dekapannya dengan tatapan penuh jijik dan ancaman mematikan. Tidak ada secercah pun kehangatan suami-istri, yang ada hanya aura pembunuh yang pekat.
"Minus seratus?" Su Yinyin membatin ngeri sambil melirik layar sistem biru yang masih berkedip-kedip merah di dekat kepala Mo Jue. Bahkan sebelum aku berbuat apa-apa, tubuh asli ini sudah membuat suaminya ingin membunuhnya?!
"Yang Mulia..." Su Yinyin mencoba memasang senyum paling kaku sedunia, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang nyaris melompat keluar dari dada. "Kalau kubilang, aku baru saja amnesia dan lupa ingatan, apakah Anda percaya?"
Mo Jue mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis sinis yang tajam.
"Amnesia?" Suara pria itu merendah, bernada mengancam tepat di telinga Su Yinyin. "Bagus. Jika otakmu sudah rusak, biar kutolong ingatkan bagaimana caramu memohon ampun di hadapanku."
Cengkeraman di dagu Su Yinyin semakin kuat. Rasa sakit yang tajam membuat matanya berbinar basah, bukan karena terharu, melainkan karena ia yakin rahangnya akan remuk dalam hitungan detik.
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan Mo Jue: -100 (Kritis!)]
[Peringatan: Nyawa Host dalam bahaya. Silakan lakukan tindakan pembelaan diri atau rayuan darurat dalam waktu 10 detik!]
Layar biru di depan matanya berkedip-kedip semakin cepat, disertai suara alarm nyaring yang berdengung di kepala Su Yinyin. Sialan! Sistem macam apa ini? Baru juga masuk babak pertama, aku sudah mau dibunuh oleh suami sendiri! batin Su Yinyin menjerit frustrasi.
"Yang ... Yang Mulia ..." Su Yinyin terpaksa mendesis pelan, kedua tangannya yang bebas menahan dada bidang Mo Jue untuk menjaga jarak. Sentuhan otot yang keras dan padat itu justru membuatnya semakin merinding. "Tangan Anda... patah nanti..."
"Patah?" Mo Jue membeo dengan nada datar penuh cibiran. Pria itu sama sekali tidak melonggarkan cengkeramannya. "Kau yang mendobrak masuk ke ruang mandiku, berani menyebut nama pria lain, dan sekarang kau menyuruhku melepaskanmu? Su Yinyin, racun apa lagi yang ada di dalam kepalamu?"
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan turun menjadi -101!]
Sial! Turun lagi?!
Su Yinyin hampir menangis darah. Di dalam novel-novel yang biasa ia baca, tokoh utama wanita yang transmigrasi biasanya langsung disayang oleh pemeran utama pria setelah kejadian salah paham. Kenapa gilirannya malah mendapat sambutan berupa tiket gratis menuju akhirat?
Karena terdesak oleh batas waktu sistem yang hampir habis--tinggal menghitung detik--Su Yinyin akhirnya mengambil keputusan nekat. Ia mendadak mengubah ekspresinya dari ketakutan menjadi sorotan mata yang tampak kosong, lalu menghembuskan napas berat dengan dramatis.
"Sebenarnya..." Su Yinyin berbisik pelan, sengaja melembutkan suaranya selemah mungkin. Ia menatap tepat ke dalam manik mata hitam Mo Jue tanpa berkedip. "...kepalaku memang terbentur sangat keras tadi malam. Aku benar-benar tidak ingat apa pun. Termasuk siapa diriku, dan siapa pria bernama Andi Li yang kau sebutkan tadi."
Mo Jue terdiam. Alis tajam pria itu sedikit menukik ke atas. Ia mengamati setiap inci wajah wanita di hadapannya, mencari kebohongan di balik mata bulat Su Yinyin yang jernih. Namun, yang ia temukan hanyalah kebingungan yang tampak natural.
"Kau pikir aku akan percaya alasan klasik seperti itu?" Mo Jue menyeringai dingin, meski cengkeramannya sedikit mengendur.
[Ding!]
[Peringkat Kesukaan naik +1 menjadi -100.]
[Catatan: Target meragukan penjelasan Host, tetapi tingkat kewaspadaan sedikit bergeser.]
Su Yinyin mengembuskan napas lega dalam hati. Terimakasih Tuhan, naik satu angka pun jadilah! Yang penting kepalaku tidak copot hari ini.
"Jika Yang Mulia tidak percaya, silakan bunuh aku sekarang," ujar Su Yinyin pasrah, sengaja meluruskan bahunya dan mendongak menantang. "Tapi kalau aku mati dalam keadaan penasaran karena tidak tahu mengapa aku punya suami setampan dan sekecil es batu sepertimu, itu akan jadi penyesalan terbesar dalam sejarah."
Mo Jue terpaku sejenak. Belum pernah seumur hidupnya ada seorang pun di istana--bahkan selir atau menteri sekalipun--yang berani berbicara secara terang-terangan dan menyebutnya sebagai "es batu" tepat di depan wajahnya.
Suasana kamar mandi mendadak sunyi. Uap air yang mengepul perlahan menipis, menyisakan ketegangan tajam di antara mereka berdua.
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis Noveltoon ANWi yah, terimakasih ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
tinie
ahhaha
sekecil es batu
apa maksudnya coba
sedingin gunung aja jangan tanggung😁😁👊
2026-07-28
0
Wahyuningsih
thor buat mo jue bucin n buat su nyiyin badaz abiz buar mkin sru
2026-07-27
1