*"Ada dua pilihan," katanya, sambil melepas kacamatanya. "Yang pertama, kamu sudah tahu. Yang kedua—"* > *"Saya cuma pengin punya rumah, Pak."* > *"Kalau begitu, kita nikah."* Ayahnya menolak jadi wali. Ibunya minta dua ratus juta. Tetangga sudah mulai berhitung tanggal. Tapi laki-laki yang katanya cuma dosen biasa itu datang ke rumah petak di Bekasi dengan **mahar** yang membuat seluruh kampung terdiam — satu set instrumen bedah jantung, dan akta notaris atas biaya kuliahnya sampai lulus. *"Saya nggak taruhan di badan kamu. Saya taruhan di masa depan kamu."* Mereka menikah. Mereka tidur di kamar terpisah. Sampai malam itu Pak Damar berdiri di depan pintu kamarnya sambil memeluk bantal. *"AC kamarku mati. Semalam aja."* Besoknya dia datang lagi. *"Belum diperbaiki."* Malam ketiga, dia nggak repot-repot bikin alasan. Dia cuma meletakkan bantalnya dan bilang: **"Hemat listrik. Buat anak."** Rana kira dia sudah tahu bentuk paling buruk dari hidupnya. Dia belum tahu apa-apa. Dia belum tahu bahwa gelas yang diminum suaminya malam itu **ada yang menaruh sesuatu di dalamnya** — dan orang itu sekarang berjalan di koridor fakultasnya, tersenyum kepada semua orang, membagikan takjil di bulan Ramadan. Dia belum tahu bahwa lima tahun kemudian, dia akan pulang sebagai dokter — dan anak perempuannya sendiri akan menatapnya, lalu bertanya kepada ayahnya: **"Ayah, itu siapa?"** Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri"/> Episode 29 - Dosenku di Siang Hari, Ayah Anakku di Malam Hari - NovelToon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!