Kunjungan Tak terduga

"Tujuh puluh ribu koin emas untuk kalung zamrud sebesar telur puyuh ini? Dan Anda membelinya hanya karena warnanya persis sama dengan warna mata Tuan Duke?"

​Suara Odette melengking memecah kesunyian ruang kerja. Pelayan itu mengangkat sebuah kalung dengan bandul zamrud hijau tua yang dikelilingi berlian berukuran tidak wajar. Ia memegangnya tinggi-tinggi seolah sedang memamerkan barang bukti kejahatan di depan hakim persidangan.

​Geneviève mengurut pangkal hidungnya perlahan. Kepalanya yang sudah berhenti berdenyut kini mulai terasa pening lagi. Ia duduk di balik meja kayu ek berukuran besar yang penuh dengan tumpukan buku besar bersampul kulit. Tumpukan dokumen keuangan wilayah Montmirail dan catatan pengeluaran pribadinya berserakan di mana-mana.

​"Itu belum seberapa, Odette," jawab Geneviève dengan nada datar. Matanya tidak lepas dari deretan angka di buku kas yang terbuka di hadapannya. "Coba kau lihat kotak beludru merah di sebelah kiri kakimu."

​Odette menunduk. Ia menendang pelan kotak itu hingga terbuka. Matanya langsung menyipit silau karena pantulan cahaya dari dalam sana. "Sebuah bros emas berbentuk kepala singa. Mulut singanya menggigit batu mirah delima. Dan tunggu sebentar. Kenapa di bagian belakangnya ada ukiran huruf L dan G yang diikat dengan pita?"

​"L untuk Lucien. G untuk Geneviève. Wanita yang dulunya menempati ruang di kepalaku ini mengira itu adalah ide yang romantis," sahut Geneviève tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. Tangannya dengan lincah mencoret angka-angka pengeluaran menggunakan pena bulu. "Bros itu seharga empat puluh ribu koin emas. Jika kita mencairkan seluruh perhiasan norak di ruangan ini, kita bisa mengumpulkan setidaknya setengah juta koin emas dalam waktu seminggu."

​Odette meletakkan kalung zamrud itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Tatapannya beralih pada majikannya. Ia menatap Geneviève dari ujung rambut yang kini disanggul rapi ke belakang hingga ke kerah gaun rumahan berwarna biru pucat yang sangat sederhana. Sama sekali tidak ada renda berlebihan. Sama sekali tidak ada warna neon yang mencederai mata.

​"Nona, saya harus bertanya sekali lagi untuk memastikan kewarasan Anda," ucap Odette curiga. "Anda benar-benar akan menjual semua barang ini? Barang-barang yang Anda kumpulkan selama tiga tahun terakhir demi menarik perhatian Duke Vaudémont? Anda bahkan pernah menampar seorang penjaga toko perhiasan karena dia berani menjual bros singa itu kepada wanita lain."

​"Aku akan menjual semuanya tanpa sisa," tegas Geneviève. Ia menutup buku besar di depannya dengan bunyi debuman keras. "Aku butuh modal segar. Menyimpan perhiasan dengan desain memalukan ini tidak akan menghasilkan bunga pinjaman. Mulai hari ini, aku akan membuka bisnis perhiasan. Sesuatu yang elegan. Sesuatu yang berkelas. Aku akan menamai tokonya Le C'eow. Semua perhiasan norak ini akan dilebur menjadi modal awal."

​Mata Odette berbinar terang. Mendengar kata modal awal dan bisnis langsung menyentuh sisi materialistis di dalam hatinya. "Kalau begitu, saya kenal beberapa rentenir pasar gelap dan pandai besi yang bisa melebur emas ini tanpa banyak bertanya. Mereka tidak akan peduli pada ukiran huruf L dan G yang menggelikan itu."

​"Bagus. Urus itu besok pagi." Geneviève menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya rencana finansialnya mulai berjalan.

​Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Pintu ruang kerja diketuk tiga kali dengan ketukan yang sangat teratur. Pierre, kepala pelayan keluarga Montmirail yang rambutnya sudah memutih, melangkah masuk dengan ekspresi tegang.

​"Mohon ampun karena mengganggu Anda, Nona Muda," ucap Pierre seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Tetapi ada tamu yang tiba-tiba datang berkunjung. Mereka sedang menunggu di ruang tamu utama sekarang."

​Geneviève mengernyit. "Aku tidak punya jadwal menerima tamu hari ini, Pierre. Siapa yang datang berkunjung di jam kerja seperti ini tanpa mengirim surat pemberitahuan lebih dulu? Sangat tidak sopan."

​Pierre menelan ludah. Keringat dingin terlihat di pelipisnya. "Itu adalah Yang Mulia Putri Mahkota Camille de Chanteclair. Beliau datang dikawal langsung oleh Yang Mulia Duke Lucien de Vaudémont beserta ksatria pribadinya."

​Hening turun menyelimuti ruangan itu dengan sangat cepat.

​Geneviève menghentikan gerakan tangannya. Odette yang sedang menghitung jumlah kotak perhiasan langsung menjatuhkan bros singa ke lantai.

​Kemarahan segera merambat di dada Geneviève. Ini adalah bentuk ketidaksopanan kelas atas di kalangan bangsawan Valerand. Datang tanpa pemberitahuan ke rumah seorang putri Duke adalah penghinaan terang-terangan. Terlebih lagi, Camille membawa Lucien bersamanya. Membawa pria yang kemarin baru saja mempermalukan Geneviève di depan umum. Ini bukan kunjungan persahabatan. Ini adalah pamer kekuasaan.

​Di novel aslinya, Putri Mahkota Camille memang digambarkan memiliki sindrom penyelamat dunia. Ia suka memposisikan dirinya sebagai malaikat yang penuh belas kasih. Mengunjungi penjahat wanita yang sedang patah hati pasti akan membuat nama Camille semakin harum di kalangan sosialita ibu kota.

​Benar-benar trik rendahan yang membuat mual.

​"Nona," bisik Odette panik. Pelayan itu langsung melompat ke arah lemari pakaian darurat di sudut ruangan. "Apakah Anda butuh gaun yang baru? Saya masih bisa mencari gaun warna ungu terang yang kemarin belum sempat Anda bakar. Anda tidak boleh terlihat kalah dari Putri Mahkota. Kita harus merias wajah Anda agar lebih cerah. Tolong jangan menangis sekarang."

​"Tutup lemarinya, Odette," perintah Geneviève tenang. Ia berdiri dari kursinya.

​Odette menoleh dengan wajah bingung. "Tetapi Nona, Tuan Duke ada di bawah sana. Bersama wanita yang Anda benci setengah mati."

​"Lalu kenapa?" Geneviève merapikan lipatan gaun rumahan berwarna biru pucatnya. "Ini adalah rumahku. Jika mereka tidak punya sopan santun untuk mengirim surat, aku juga tidak punya kewajiban untuk merias diri menyambut mereka. Mari kita temui tamu tidak diundang kita."

​Geneviève melangkah keluar dari ruang kerja dengan dagu terangkat tinggi. Odette mengikuti di belakangnya sambil meremas celemeknya sendiri. Di dalam hati, Odette bersiap menghadapi badai air mata dan amukan histeris yang biasa terjadi jika majikannya melihat Lucien bersama wanita lain.

​Mereka menuruni tangga marmer ganda yang melengkung indah di tengah rumah utama. Sepatu Geneviève tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat menyentuh lantai. Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu utama, pemandangan di depannya terlihat persis seperti lukisan klasik yang membosankan.

​Putri Mahkota Camille duduk di sofa tunggal berlapis beludru merah muda. Wanita itu terlihat sangat menawan. Gaunnya berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas di sepanjang ujung roknya. Rambut pirangnya bergelombang sempurna memantulkan cahaya matahari dari jendela. Senyumnya terlihat sangat rapuh dan polos, persis seperti malaikat turun dari surga.

​Dan berdiri tidak jauh darinya, kaku layaknya patung penjaga, adalah Lucien de Vaudémont.

​Pria itu mengenakan kemeja berkerah tinggi khas bangsawan Prancis yang sangat pas di badan atletisnya, dibalut dengan rompi berwarna hitam pekat. Wajahnya sangat tampan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata hijau tuanya memancarkan aura dingin yang membekukan ruangan.

​Di sudut ruangan dekat pintu, bersandar seorang pria berpakaian zirah kulit serba hitam. Gaspard. Ksatria bayangan Lucien itu menatap lurus ke depan, wajahnya sekaku batu bata. Odette langsung membuang muka saat tidak sengaja bersitatap dengan ksatria itu.

​Geneviève tidak memedulikan aura dingin yang dibawa rombongan tamu tersebut. Ia berjalan mendekat dan melakukan gerakan salam hormat yang sangat standar. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.

​"Salam kepada Cahaya Kekaisaran, Yang Mulia Putri Mahkota. Dan salam untuk Anda, Tuan Duke," ucap Geneviève dengan nada suara yang sangat datar. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sofa seberang tanpa menunggu dipersilakan. Lagipula, ini rumahnya sendiri.

​Mata Lucien sedikit melebar. Pria itu menatap Geneviève dari atas ke bawah. Tidak ada gaun norak. Tidak ada riasan tebal. Tidak ada tatapan memuja dan air mata yang biasanya menggenang di mata wanita itu. Geneviève yang duduk di depannya saat ini terlihat seperti orang asing yang sangat elegan.

​Senyum manis di wajah Camille sedikit kaku, namun wanita itu segera menguasai dirinya.

​"Geneviève, temanku sayang," sapa Camille dengan suaranya yang lembut dan mendayu-dayu. Suara yang dirancang khusus untuk membuat siapa pun merasa disayangi. "Aku harap kunjunganku yang mendadak ini tidak mengganggu waktu istirahatmu. Aku sangat mengkhawatirkan kondisimu sejak kemarin."

​Geneviève menatap lurus ke arah mata biru Camille. "Saya dalam keadaan sangat sehat, Yang Mulia. Apakah ada alasan khusus mengapa Anda harus mengkhawatirkan saya di jam sibuk seperti ini?"

​Camille menghela napas pelan, pura-pura bersimpati. Ia melirik sekilas ke arah Lucien sebelum kembali menatap Geneviève. "Aku dengar dari para pelayan istana tentang kejadian di gerbang kemarin sore. Tentang kereta kudamu dan... kue yang kau siapkan untuk Duke Vaudémont. Aku tahu perasaanmu pasti sangat hancur. Kau menangis sangat keras sampai penjaga gerbang mendengarnya. Karena itu aku meminta Duke Vaudémont untuk menemaniku ke sini. Aku ingin menengahi kesalahpahaman di antara kalian."

​Rasa frustrasi Geneviève merangkak naik perlahan. Wanita ini benar-benar ular berbisa. Camille sengaja mengungkit kejadian memalukan itu di depan pelayan dan ksatria demi memojokkan Geneviève. Camille ingin melihatnya menangis histeris. Camille ingin melihatnya melempar barang.

​"Anda pasti salah dengar, Yang Mulia," balas Geneviève sambil tersenyum tipis, sebuah senyum sopan namun tidak mencapai matanya sama sekali. "Saya menangis keras kemarin murni karena debu jalanan yang sangat tebal berterbangan ke mata saya. Saya rasa dewan kota harus mulai memperbaiki jalan berbatu di depan gerbang istana. Saya sama sekali tidak hancur. Kereta kuda saya hanya perlu dibersihkan."

​Lucien mengerutkan keningnya. Alis tebalnya bertaut. "Kau tidak perlu berpura-pura tegar di depan Yang Mulia Putri Mahkota, Nona Montmirail. Kelakuanmu kemarin sudah cukup mengganggu ketertiban umum. Aku datang ke sini murni atas perintah Yang Mulia untuk memastikan kau tidak melakukan tindakan nekat yang membahayakan nyawamu sendiri."

​Suara Lucien bariton, berat, dan dipenuhi dengan rasa muak yang tidak ditutupi. Pria itu menatap Geneviève seolah sedang melihat noda kotor di karpetnya.

​Di kehidupan aslinya, Geneviève pasti akan merasa hatinya dicabik-cabik mendengar nada bicara setajam itu. Namun sekarang, ia murni hanya merasa kesal karena waktunya terbuang.

​"Tindakan nekat?" Geneviève tertawa kecil. Suara tawanya terdengar kering dan sangat sinis. Ia menumpukan sikunya di sandaran sofa dan menopang dagunya. "Tuan Duke, Anda sangat melebih-lebihkan nilai diri Anda di mata saya. Menyakiti diri sendiri demi seorang pria yang menolak kue buatan saya adalah investasi emosional yang sangat merugikan. Saya memiliki ratusan hal yang lebih penting untuk diurus hari ini daripada menangisi masa lalu."

​Keheningan kembali menyergap ruang tamu itu. Odette yang berdiri di belakang sofa Geneviève harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak bersorak kegirangan.

​Lucien terdiam kaku. Ada kilatan kebingungan melintas di mata hijau tuanya. Jawabannya tertahan di tenggorokan. Selama tiga tahun ini, Geneviève selalu mengejarnya bagai anjing yang kelaparan. Memanggil namanya dengan penuh kerinduan, mengirim hadiah-hadiah mahal, dan menangis jika ia bersikap dingin. Kini, wanita di depannya menatapnya dengan pandangan kosong. Sama sekali tidak ada jejak cinta di mata cokelat terang Geneviève. Ruang kosong yang tiba-tiba hadir di antara mereka entah kenapa membuat dada Lucien terasa sedikit sesak.

​Camille menyadari perubahan suasana tersebut. Tangan wanita pirang itu meremas sapu tangannya dengan kuat. Rencananya memamerkan kekuasaan sama sekali tidak berjalan lancar. Geneviève tidak terpancing. Geneviève tidak terlihat menyedihkan.

​"Geneviève, kau mungkin merasa terluka sekarang, tapi tidak apa-apa," ucap Camille. Suaranya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gaun putihnya berdesir halus di atas lantai marmer.

​Wanita suci itu melangkah maju melintasi meja teh. Tanpa peringatan apa pun, Camille menunduk dan meraih kedua tangan Geneviève yang berada di atas pangkuan.

​Geneviève terkejut. Invasi ruang pribadi yang tiba-tiba ini melanggar etika dasar. Ia baru saja akan menarik tangannya ketika kulit Camille bersentuhan dengan kulitnya.

​Seketika, hawa dingin yang tidak wajar merayap naik dari telapak tangannya. Dingin itu menjalar cepat melewati lengan, merayap ke leher, dan langsung menembus masuk ke dalam kepalanya.

​Camille tersenyum sangat manis. Mata birunya menatap tepat ke manik mata Geneviève. Sebuah tatapan polos yang menyembunyikan jurang mematikan di baliknya.

​Kepala Geneviève mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mulai berbayang. Ruang tamu itu tampak berputar. Suara napasnya sendiri terdengar bergema di telinganya. Dan di saat yang bersamaan, sebuah suara bisikan halus, suara yang persis menyerupai suaranya sendiri, mulai bergema di dalam otaknya.

​Kau mencintainya. Kau sangat mencintai Lucien. Kau rela mati untuknya. Rebut dia kembali. Menangislah sekarang. Sujud di kakinya.

​Geneviève melebarkan matanya. Kepanikan mulai meronta di dadanya. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia menatap wajah malaikat Camille yang masih tersenyum tanpa dosa. Di titik inilah Geneviève sadar sepenuhnya. Ini bukan serangan panik. Ini adalah Sihir Putih. Sihir halusinasi pengendali pikiran yang sedang disalurkan Camille tepat ke dalam otaknya.

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶

Tiktok & Ig: nadnote__

Terpopuler

Comments

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

Sindrom penyelamat dunia atau dikenal sebagai savior complex atau hero complex adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terdorong secara berlebihan untuk membantu, memperbaiki, atau menyelamatkan hidup orang lain.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨

2026-08-14

2

lihat semua
Episodes
1 Prolog & Teh yang Terlalu Manis
2 Kunjungan Tak terduga
3 Pertunjukan Sang Putri
4 Logika Melawan Sihir
5 Retaknya Belenggu
6 Ruang Rahasia di Balik Lukisan
7 Kepingan Masa Lalu
8 Rencana Le C'eow dan Laporan Busuk
9 Perjalanan Rahasia yang Berlumpur
10 Mulut Pedas Sang Pelayan
11 Serangan di Tengah Hutan
12 Sidang Darurat
13 Audit Brutal ala Geneviève
14 Pesta Dansa Topeng (Masquerade)
15 Estetika Baru yang Mendobrak Pasar
16 Etalase Berjalan yang Jenius
17 Solusi tak Terduga dari Odette
18 Taktik Penyelundupan
19 Asli vs Tiruan
20 Trendsetter Aristokrat
21 Konfrontasi di Malam Hari
22 Penyangkalan di Tengah Malam
23 Penyelidikan Sang Duke
24 Kepanikan Sang Putri Mahkota
25 Pasien yang Tidak Diinginkan
26 Kesepakatan Tanpa Cinta
27 Halaman yang Hilang
28 Undangan Mematikan ke Istana
29 Insting Alam
30 Pertarungan di Tepi Jurang
31 Rahasia Si Pelayan dan Ksatria Bayangan
32 Ingatan yang Tumpang Tindih
33 Penangkapan Sang Dalang
34 ​Mulut yang Terkunci
35 Segel Kerajaan di Pintu Toko
36 Taktik Bumi Hangus Odette
37 Mengingat Setiap Digit
38 Pengadilan di Balai Kota
39 Sang Akuntan Aristokrat
40 Kemarahan Sang Duke
41 Kemenangan Finansial
42 Kereta Kuda Emas
43 Ujian Sang Penguasa
44 Gunung Kertas di Musim Gugur
45 Akuntan dan Sang Ksatria
46 Sidang Hari Ketujuh
47 Skakmat untuk Sang Putri
48 Mengingat Sentuhan Itu
49 Noda di Atas Permata
50 Karantina Toko
51 Misi Sang Ksatria Kaku dan Pelayan Cerewet
52 Pengakuan di Balik Lemari
53 Pembuktian Logis
54 Serangan Balik Opini Publik
55 Tarian Sang Duke yang Bangkit
56 Blokade Laut Kekaisaran
57 Para Boneka Istana
58 Perjalanan Tengah Malam
59 Pertempuran di Dermaga
60 Memutus Tali Gaib
61 Mengamankan Rute Logistik
62 Rahasia Sang Putri Suci
63 Sang Jenderal Pulang Kandang
64 Pembangkangan Aristokrat
65 Sabotase Pesta Teh
66 Realita Kas Kekaisaran
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Prolog & Teh yang Terlalu Manis
2
Kunjungan Tak terduga
3
Pertunjukan Sang Putri
4
Logika Melawan Sihir
5
Retaknya Belenggu
6
Ruang Rahasia di Balik Lukisan
7
Kepingan Masa Lalu
8
Rencana Le C'eow dan Laporan Busuk
9
Perjalanan Rahasia yang Berlumpur
10
Mulut Pedas Sang Pelayan
11
Serangan di Tengah Hutan
12
Sidang Darurat
13
Audit Brutal ala Geneviève
14
Pesta Dansa Topeng (Masquerade)
15
Estetika Baru yang Mendobrak Pasar
16
Etalase Berjalan yang Jenius
17
Solusi tak Terduga dari Odette
18
Taktik Penyelundupan
19
Asli vs Tiruan
20
Trendsetter Aristokrat
21
Konfrontasi di Malam Hari
22
Penyangkalan di Tengah Malam
23
Penyelidikan Sang Duke
24
Kepanikan Sang Putri Mahkota
25
Pasien yang Tidak Diinginkan
26
Kesepakatan Tanpa Cinta
27
Halaman yang Hilang
28
Undangan Mematikan ke Istana
29
Insting Alam
30
Pertarungan di Tepi Jurang
31
Rahasia Si Pelayan dan Ksatria Bayangan
32
Ingatan yang Tumpang Tindih
33
Penangkapan Sang Dalang
34
​Mulut yang Terkunci
35
Segel Kerajaan di Pintu Toko
36
Taktik Bumi Hangus Odette
37
Mengingat Setiap Digit
38
Pengadilan di Balai Kota
39
Sang Akuntan Aristokrat
40
Kemarahan Sang Duke
41
Kemenangan Finansial
42
Kereta Kuda Emas
43
Ujian Sang Penguasa
44
Gunung Kertas di Musim Gugur
45
Akuntan dan Sang Ksatria
46
Sidang Hari Ketujuh
47
Skakmat untuk Sang Putri
48
Mengingat Sentuhan Itu
49
Noda di Atas Permata
50
Karantina Toko
51
Misi Sang Ksatria Kaku dan Pelayan Cerewet
52
Pengakuan di Balik Lemari
53
Pembuktian Logis
54
Serangan Balik Opini Publik
55
Tarian Sang Duke yang Bangkit
56
Blokade Laut Kekaisaran
57
Para Boneka Istana
58
Perjalanan Tengah Malam
59
Pertempuran di Dermaga
60
Memutus Tali Gaib
61
Mengamankan Rute Logistik
62
Rahasia Sang Putri Suci
63
Sang Jenderal Pulang Kandang
64
Pembangkangan Aristokrat
65
Sabotase Pesta Teh
66
Realita Kas Kekaisaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!