Episode 4

Bab 4 — Anak yang Diperebutkan

Pak Hendra berdiri di depan Surya, seolah Kepala IGD itu benar-benar berubah menjadi pintu besi.

dr. Wahyu mendengus. "Anak Anda? Sejak kapan?"

"Sejak kalian mulai tidak tahu malu."

"Bakat ortopedi harus berada di Bedah Ortopedi. Saya sedang mengelola sumber daya manusia."

"Kalau begitu cari sumber daya lain. Yang ini milik IGD."

Kabar reposisi tiga fraktur dalam kurang dari lima menit menyebar sebelum pasien meninggalkan OK. Pagi berikutnya, dr. Qodir dari Bedah Digestif ikut datang membawa kopi dan proposal rotasi.

"Saya tidak mau merebut," katanya dengan wajah paling tulus. "Saya hanya menawarkan masa depan. Tangan seperti itu cocok untuk bedah digestif."

Pak Hendra mengambil kopi pemberiannya, menyeruput sekali, lalu menunjuk pintu.

"Kopinya tinggal. Orangnya keluar."

Rizki yang berdiri di belakang Surya menutup mulut. Bahunya berguncang menahan tawa.

dr. Qodir memandang Surya. "Pikirkan baik-baik, Dok. Di bagian saya, kasus operasinya banyak."

"Di IGD juga banyak, Pak. Bahkan dokternya yang lebih sering jadi kasus," jawab Surya.

Pak Hendra tertawa paling keras.

Setelah kedua dokter itu pergi, dia membawa Surya ke kantornya. Pintu ditutup. Tak ada lagi lelucon di wajahnya.

Di atas meja terdapat foto lama seorang lelaki muda memakai jas dokter. Di sebelahnya, foto Pak Hendra bersama istri dan putrinya.

"Ayahmu meninggal waktu kamu enam belas tahun, ya?" tanyanya.

Surya mengangguk. "Iya, Pak."

"Saya tidak akan menggantikan beliau." Pak Hendra menatapnya lurus. "Tidak ada orang yang bisa. Tapi kalau kamu bersedia, saya ingin menganggapmu anak. Bukan cuma murid di rumah sakit."

Surya tak langsung menjawab.

Selama bertahun-tahun dia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Uang sekolah. Biaya hidup. Kabar buruk dari rumah. Bahkan saat ditampar Kevin, tak ada ayah yang berdiri di depannya.

Kemarin, Pak Hendra melakukannya tanpa diminta.

"Bapak yakin?" suara Surya lebih serak daripada yang dia inginkan. "Saya baru tiga hari bikin masalah besar."

"Makanya saya harus cepat. Kalau terlambat, masalahmu keburu diadopsi orang lain."

Surya tertawa pendek. Matanya terasa panas.

Dia mengulurkan tangan, tetapi Pak Hendra menepisnya dan menariknya ke dalam pelukan singkat yang keras.

"Mulai sekarang, kalau di luar urusan resmi, panggil saya Bapak."

"Baik... Bapak."

"Nah, begitu. Tapi jangan berharap uang jajan."

"Kalau warisan?"

"Keluar dari kantor saya."

Di lorong, Bu Ratna sudah menunggu dengan dua rekam medis. Dia melihat mata Surya yang sedikit merah, lalu melirik pintu kantor.

"Sudah resmi?"

"Apa, Bu?"

"Pak Hendra bicara soal mengangkatmu sejak semalam. Satu lantai sudah tahu."

Surya menghela napas. "Rumah sakit ini tidak butuh sistem informasi. Gosipnya lebih cepat."

Bu Ratna menyerahkan berkas pertama. "Kalau begitu, anak baru Pak Hendra bisa mulai bekerja. Pasien perempuan, dua puluh lima tahun, nyeri perut kanan bawah. USG dari klinik menyebut apendisitis akut."

Surya membaca hasil laboratorium sambil berjalan. Leukosit normal. Tidak ada demam. Nyeri memang berada di kanan bawah, tetapi pola buang air besarnya berubah selama dua bulan dan berat badannya turun enam kilogram.

Pasien mendadak kehilangan kesadaran ketika mereka memasuki ruang periksa.

Surya memeriksa nadi dan tekanan darah, memastikan jalan napas, lalu meminta akses intravena dan pemeriksaan darah ulang. Setelah pasien stabil, dia berjongkok di samping pacar pasien.

"Ada diare atau darah pada tinja?"

Pria itu mengangguk ragu. "Kadang diare. Katanya karena makanan pedas. Dua kali ada darah, tapi sedikit."

Surya berdiri. "Ini belum tentu apendisitis."

Bu Ratna mengerutkan kening. "USG menunjukkan peradangan di area apendiks."

"Bisa jadi reaksi di sekitar massa kolon. Leukositnya tidak mendukung apendisitis akut, dan gejalanya terlalu lama. Kita butuh kolonoskopi serta konsultasi Bedah Digestif sebelum memotong apa pun."

dr. Qodir kembali setengah jam kemudian. Kali ini tanpa kopi.

"Kamu memanggil saya untuk menggagalkan diagnosis apendisitis?"

"Saya memanggil Bapak supaya pasien tidak menjalani operasi yang salah."

dr. Qodir awalnya tampak tidak terkesan. Namun setelah mendengar riwayat lengkap, dia menyetujui pemeriksaan. Kolonoskopi memperlihatkan massa hitam yang melekat pada dinding kolon.

Ruangan pemeriksaan menjadi senyap.

Hasil biopsi cepat mengarah pada kanker kolon stadium awal.

dr. Qodir membaca laporan dua kali. "Kalau langsung dilakukan apendektomi, kita mungkin menunda terapi utama berminggu-minggu."

Bu Ratna menatap Surya. "Kamu menangkapnya hanya dari leukosit dan riwayat diare?"

"Ditambah penurunan berat badan dan darah pada tinja. Tubuh pasien sudah memberi petunjuk. Kita saja yang hampir tidak mendengar."

dr. Qodir menutup rekam medis. "Tawaran saya tadi masih berlaku. Bahkan sekarang naik."

Pak Hendra muncul di pintu seperti dipanggil oleh naluri. "Qodir. Kopi pagi tadi lumayan. Jangan buat saya memuntahkannya."

Sore itu, ketika Surya sendirian di ruang jaga, Botol Pahala muncul kembali. Cahaya dari pasien patah tulang, keluarga lelaki tua, ibu anak yang dijahit, dan pasien yang terhindar dari salah operasi menyatu hingga memenuhi botol.

『Botol Pahala penuh untuk kedua kalinya.』

Empat kartu terbuka.

『Pengalaman operasi kanker hati stadium empat tingkat dunia diperoleh.』

『Tangan Emas meningkat menjadi 80 persen.』

『Seratus pengetahuan medis khusus diperoleh.』

『Botol Energi Kecil diperoleh. Efek: memulihkan enam jam stamina.』

Jari Surya bergerak pelan. Jika Tangan Emas 50 persen membuatnya presisi, 80 persen membuat instrumen di meja terasa seperti bagian dari tubuhnya.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah kabar dari kenalan lama masuk: RSUD Anak Surabaya memutus kontrak Tiara setelah video pertengkarannya dengan keluarga pasien menyebar dan sejumlah pelanggaran disiplin diperiksa. Surya membaca sekali, lalu menghapus notifikasi.

Hidup Tiara bukan lagi urusannya.

Pintu ruang jaga terbuka.

Pak Hendra melempar satu rekam medis ke meja. "Apendisitis tanpa komplikasi. Pasien sudah setuju dan tim lengkap. Kamu yang jadi operator utama."

Surya mengangkat kepala. "Saya?"

"Katanya bisa membedakan apendisitis dan kanker. Sekarang buktikan kamu bisa menangani yang benar-benar apendisitis."

"Komite medik mengizinkan?"

"Kamu bekerja di bawah supervisi saya. Semua kewenangan dan persetujuan dicatat. Jangan membuat saya menyesal mengangkat anak."

Di OK, Bu Ratna berdiri sebagai asisten. Pak Hendra mengawasi dari sisi meja.

"Mulai," katanya.

Sayatan pertama Surya rapi. Tangan Emas mengendalikan setiap milimeter gerak. Jaringan dibuka tanpa tarikan berlebihan, apendiks yang meradang diidentifikasi, pembuluh kecil ditangani, pangkal diikat, lalu lapisan ditutup kembali.

Tak ada gerakan yang terbuang.

"Waktu," kata Surya.

Perawat sirkuler melihat jam. "Lima belas menit."

Bu Ratna memandangi jahitan penutup. "Saya bahkan belum sempat merasa jadi asisten."

Pak Hendra berdeham, berusaha menyembunyikan kepuasan. "Jangan puji dia terlalu cepat. Nanti kepalanya tidak muat lewat pintu IGD."

Malamnya, Surya mengunggah satu foto sederhana ke grup alumni FK Universitas Airlangga: kartu identitas operator pada laporan operasi, tanpa wajah pasien dan tanpa data medis.

Operasi pertama sebagai operator utama. Lima belas menit. Pasien stabil.

Notifikasi dari bagian keuangan ikut masuk. Insentif kontrak awal, penghargaan tindakan, dan bonus kinerja yang disahkan rumah sakit berjumlah Rp90.000.000.

Ratusan pesan memenuhi grup.

Maya Salsabila mengetik: Serius? Operator utama?

Farhan mengirim deretan emoji api.

Di Jakarta, seorang dokter muda bernama Reza Firmansyah berhenti membaca laporan operasi. Dia memperbesar foto nama operator di layar ponselnya.

Surya Pratama.

Nama yang belum pernah dia anggap sebagai pesaing.

Sampai malam ini.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!