Sarapan Pertama

Hangat.

Hal pertama yang Aurora rasakan ketika sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamarnya. Aurora menggeliat dengan mata terpejam. Mungkin terusik karena silau yang mengganggu.

Perlahan, Aurora membuka kedua matanya, lalu tanpa sadar menoleh ke sisi lain tempat tidur.

Kosong.

Sosok yang diharapkannya ada di sana hanyalah angan-angan semata. Selimut di sisi itu juga masih tertata rapi. Aurora menelan kenyataan bahwa tidak ada yang berbaring di sana semalaman.

Aurora mengembuskan napas pelan.

Semalam, Rozen meminta tidur di kamar sebelah dengan alasan ingin memberi Aurora waktu untuk beristirahat dan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.

Tentu saja Aurora tidak merasa kecewa, apalagi marah. Ia justru mengerti.

Bagaimanapun juga, Aurora bukan wanita yang seharusnya berdiri di altar bersama Rozen. Perempuan itu hanyalah pengantin pengganti yang hadir karena keadaan memaksa. Terlalu berlebihan jika Aurora berharap pria itu akan langsung menerima kehadirannya sebagai seorang istri. Tidak mungkin.

Mereka hanyalah dua orang asing yang terikat dalam sebuah pernikahan tanpa persiapan. Tanpa bisa menolak.

Aurora tersenyum tipis, berusaha menenangkan hatinya sendiri.

"Tidak apa-apa," batinnya. "Setidaknya Tuan Rozen sudah cukup baik menerimaku tinggal di rumah ini."

Dengan pikiran itu, Aurora menyingkirkan segala kegelisahan yang mengusiknya.

Beberapa detik berlalu, Aurora hanya menatap langit-langit kamar yang asing dan merasa bahwa kamar itu terlalu luas untuk dihuni seorang diri.

Langit-langit kamar yang tinggi, lampu kristal yang menggantung megah dan aroma lembut bunga lily yang memenuhi ruangan mengingatkannya bahwa ia bukan lagi berada di rumah keluarga Valencia.

Benar. Setelah pernikahannya usai, Aurora pindah dan ikut bersama Rozen. Menjadi seorang istri dan tinggal di mansion megah nan mewah milik suaminya.

Dan pagi ini merupakan pagi pertamanya setelah resmi menjadi bagian dari keluarga Salvadore. Sebagai Nyonya Salvadore, istri sah seorang Rozen Salvadore.

...***...

"Ini benar-benar bukan mimpi." Aurora membatin.

Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Aurora pelan, memberitahukan bahwa sarapan sudah tersaji di ruang makan.

Aurora segera bersiap dan tidak lupa merapikan ranjang sebelum mandi. Ia juga mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang telah disiapkan Rosa di atas ranjang.

Saat membuka pintu kamar, hendak menuju ruang makan, seorang pelayan langsung membungkukkan badan.

"Selamat pagi, Nyonya Salvadore."

"Selamat pagi." Aurora tersenyum kikuk.

Sebenarnya sapaan itu masih terdengar asing di telinganya. Tapi kali ini, ketika pelayan menyapanya dengan sebutan Nyonya Salvadore, muncul perasaan asing yang sulit dijelaskan menyelinap ke dalam hatinya.

Selama dua puluh tiga tahun hidup, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari nanti ia akan dipanggil dengan nama keluarga orang lain.

'Nyonya Salvadore'. Panggilan itu terdengar begitu indah, hangat, sekaligus terasa jauh. Seolah nama akhir suaminya tersebut memeluknya sebagai bagian dari keluarga, meski Aurora tahu dirinya datang dengan cara yang tidak seharusnya.

Tanpa disadari, Aurora mulai menyukai panggilan barunya. Bahkan timbul percikan kebahagiaan yang muncul setiap kali mendengarnya.

Namun setiap kali perasaan itu tumbuh, kenyataan datang menghempaskannya.

Nama Salvadore bukanlah nama yang semestinya melekat padanya. Seharusnya, wanita yang menyandang nama itu adalah Isabella, kakaknya. Sedangkan dirinya hanyalah seorang pengganti yang kebetulan mengenakan gaun pengantin di hari yang salah.

Menyadari hal itu, Aurora hanya mampu tersenyum pahit. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak berharap terlalu jauh, karena semakin ia menikmati peran sebagai Nyonya Salvadore, semakin besar pula luka yang akan wanita itu rasakan jika suatu hari nanti harus melepaskan nama itu dari hidupnya.

...***...

Ruang makan keluarga Salvadore membentang luas. Langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar diciptakan sedemikian rupa agar tetap membiarkan cahaya pagi masuk dengan lembut.

Sebuah meja makan terbuat dari kayu ek membujur hampir memenuhi ruangan, cukup untuk menampung belasan orang sekaligus. Namun, di tengah luasnya ruangan itu, hanya ada satu kursi yang terisi.

Rozen Salvadore duduk seorang diri di ujung meja.

Di hadapan pria itu hanya tersaji secangkir kopi hitam, roti panggang, dan beberapa lembar koran bisnis yang telah terbuka. Punggungnya tegak, ekspresinya datar dengan sorot mata tetap tajam meski baru memulai hari.

Aurora menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu.

Sulit memercayai bahwa pria yang kini menyandang status sebagai suaminya adalah sosok yang begitu disegani di dunia bawah. Di usianya yang masih terbilang muda, Rozen telah menjadi kepala keluarga Salvadore sekaligus pemimpin organisasi mafia yang memiliki jaringan bisnis legal dan ilegal di berbagai negara. Namanya dikenal sebagai simbol kekuasaan, ketegasan dan disiplin. Banyak orang menghormatinya, tidak sedikit pula yang memilih takut padanya.

Meski begitu, Rozen bukan tipe pemimpin yang gemar memamerkan kekuatan. Ia lebih sering berbicara melalui keputusan-keputusannya yang tegas daripada ancaman. Karena itulah setiap ucapannya hampir tidak pernah dibantah, bahkan oleh orang-orang yang lebih tua darinya.

Di dalam mansion ini pun tidak jauh berbeda.

Para pelayan bergerak dengan tenang dan teratur, seolah memahami kebiasaan sang tuan tanpa perlu diperintah. Tidak seorang pun berani membuat keributan saat pria itu berada di ruang makan. Keheningan seakan telah menjadi aturan yang dipahami semua orang.

Aurora menarik napas pelan sebelum melangkah masuk. Wanita itu kembali gugup.

"Selamat pagi." Aurora menyapa dengan suara lembut miliknya. Pada akhirnya ia tetap melawan kegugupannya sendiri.

Rozen mengangkat pandangannya dari koran. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum pria itu hanya menganggukkan kepala sebagai balasan.

"Pagi."

Hanya satu kata. Namun jawaban singkat itu cukup membuat ketegangan di hati Aurora sedikit mereda. Setidaknya, pagi pertama mereka sebagai suami istri tidak dimulai dengan sikap dingin yang benar-benar menolak kehadirannya. Atau begitulah yang Aurora pikir.

Aurora duduk dengan hati-hati di kursi yang berhadapan dengan Rozen, lalu mengukur jarak yang memisahkan mereka. Hanya sejauh meja makan yang panjang, tetapi keheningan yang menyelimuti ruang makan itu terasa jauh lebih lebar daripada itu.

Di saat bersamaan, seorang pelayan menuangkan teh hangat ke cangkir Aurora, sementara pelayan lain menyajikan sarapan di hadapannya. Aroma roti panggang, telur, dan sup krim memenuhi ruangan, tetapi tidak mampu mengusir suasana canggung yang menggelayut di antara mereka.

Aurora memperhatikan bagaimana suaminya begitu fokus pada koran yang berada di tangannya. Sesekali pria itu menyesap kopi hitam, tetapi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari lembaran berita yang sedang dibacanya.

Aurora tidak melakukan apapun, kecuali mencoba menikmati sarapannya. Tetapi pikiran wanita berambut panjang itu justru sibuk mencari cara untuk memecah keheningan. Karena menurutnya sangat aneh ketika makan berdua tanpa bertukar sepatah kata pun.

Beberapa kali Aurora mengangkat wajah, lalu kembali mengurungkan niatnya untuk berbicara. Entahlah, wanita itu merasa ragu.

Tapi jika terus tertekan oleh keheningan yang melahirkan canggung itu, Aurora tidak akan bisa menikmati sarapannya dengan tenang.

Hingga akhirnya Aurora memberanikan diri.

"Maaf?"

Rozen menurunkan korannya beberapa senti dan mengangkat pandangan.

"Ada apa?"

Aurora tersenyum tipis karena gugup. Khawatir karena telah berani berbuat lancang.

"Kamu... selalu membaca koran saat sarapan?"

Rozen melipat sedikit koran di tangannya sebelum menjawab dengan nada tenang.

"Mungkin sudah menjadi kebiasaan."

Aurora mengangguk pelan. "Berarti setiap pagi memang seperti ini?" tanya Aurora lagi, sedikit memperdengarkan nada penasarannya.

"Ya." Walau jawaban suaminya tetap singkat, tetapi kali ini tidak terdengar dingin.

Aurora terkekeh kecil.

"Pantas suasananya sangat tenang. Aku sampai bingung harus mulai mengobrol dari mana."

Rozen menatap Aurora beberapa saat. Untuk pertama kalinya pria itu meletakkan koran sepenuhnya di atas meja.

"Mulai dari apa saja yang ingin kau ketahui."

Bukan hanya kalimat sederhana itu yang membuat Aurora terkejut. Tapi juga sebuah koran yang sudah terlipat rapi di pinggir meja makan. Artinya, pria dingin itu sedang memberi seluruh fokusnya hanya untuk mendengarkan Aurora?

Aurora masih terdiam.

Setidaknya, Aurora tahu bahwa pria di hadapannya bukan tidak ingin berbicara. Suaminya yang kaku itu hanyalah orang yang tidak terbiasa memulai sebuah percakapan.

"Bicaralah."

Aurora terkesima. Ternyata Rozen benar-benar menunggunya berbicara. Wanita itu menarik napas pelan, lalu mulai menceritakan hal-hal sederhana tentang taman yang dilihatnya dari jendela kamar, cuaca pagi yang cerah, hingga rasa kagumnya pada megahnya Mansion Salvadore.

Rozen, pria dingin itu mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengangguk singkat atau memberikan jawaban pendek, tetapi cukup untuk membuat percakapan mereka terus mengalir.

"Rumah ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan," ujar Aurora sambil tersenyum kecil. "Kurasa aku bisa tersesat kalau berjalan sendirian."

"Aku juga berpikir begitu," sahut Rozen datar.

Aurora tertawa pelan mendengar jawaban jujur itu. Satu hal yang Aurora sukai dari sifat dingin suaminya. Ucapan berterus-terangnya itu.

Rozen menyeka sudut bibirnya dengan serbet, lalu berdiri dari kursinya. Sudah cukup untuk mendengarkan celotehan istrinya tentang mansion dan taman bunga.

"Kalau kau ingin berkeliling, silakan."

Aurora mendongak menatap suaminya. Binar di sepasang mata bulatnya terpancar terang.

"Benarkah?"

Rozen hanya mengangguk sekali.

"Rosa akan menemanimu. Dia mengenal setiap sudut mansion ini, jadi kau tidak perlu khawatir tersesat."

Aurora tersenyum bahagia, "Terima kasih."

"Mansion ini adalah rumahmu sekarang. Kau tidak perlu meminta izin untuk melihat-lihat."

Kalimat itu membuat Aurora terdiam sejenak. Walau diucapkan dengan nada datar, tapi Aurora merasakan hatinya perlahan menghangat.

Setelah itu Rozen merapikan jas yang dikenakannya sebelum beranjak meninggalkan ruang makan.

"Aku harus kembali bekerja."

Aurora mengangguk penuh pengertian dengan tarikan senyum manis di bibir ranumnya. "Semoga pekerjaanmu lancar."

Rozen menatapnya sekilas, lalu membalas dengan anggukan tipis sebelum melangkah meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya. Aurora mengikuti punggung pria itu dengan pandangan hingga menghilang di balik koridor.

Di saat yang sama, Rosa menghampiri dengan senyuman ramah.

"Kalau Nyonya sudah selesai sarapan, bagaimana kalau saya mulai mengajak Nyonya berkeliling mansion?"

Aurora mengalihkan pandangannya lalu memandang Bibi Rosa dengan lembut.

"Baik, Bibi Rosa. Sepertinya aku memang membutuhkan seorang pemandu."

...***...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!