.
“Kamu lagi apa sih? Aku ngomong panjang lebar tapi kamu sama sekali gak peduli?" tanya pria itu akhirnya.
"Oh… aku…? Lagi makan. Kamu mau? Nanti aku suruh pelayan ngantar ke rumah sakit."
Di seberang telepon mata Reno terbelalak. “Makan?" tanyanya dengan raut tak percaya. "Aku bicara serius tentang pernikahan kita dan kamu enak-enakan makan?” Reno menggelengkan kepalanya. "Apa kamu benar-benar tidak peduli dengan apa yang baru saja kamu lakukan?”
Akhirnya Alena berdiri, melangkah meninggalkan ruang makan seraya membawa ponselnya yang masih dalam mode loudspeaker. “Kamu sudah selesai?" tanyanya datar.
"Apa?” Reno mengernyit tak mengerti. "Maksudmu apa sih? Apa yang selesai?"
“Bicaranya. Kalau belum selesai lanjutkan saja. Aku dengerin.”
"Alena…?"
“Sepertinya kami sudah selesai. Kalau begitu sekarang giliranku." Alena memotong ucapan Reno. "Kamu yang membiarkan aku sendirian di acara pernikahan, kamu yang memilih menunggui Selena. Dia pingsan, itu kan alasanmu? Kalau hanya karena dia pingsan, kenapa tidak menyuruh pengawal saja yang membawa dia ke rumah sakit? Kamu tahu kenapa? Karena kamu tidak menganggap aku sebagai prioritas. Cinta yang selalu ini kamu gaungkan hanya bullshit."
“Alena, aku…"
“Diam! Sekarang giliran kamu yang harus mendengar ku!” Alena tak membiarkan Reno untuk kembali bicara.
“Kamu bilang pernikahan ditunda? Apa kamu gila? Aku sudah selesai dirias, penghulu sudah datang, para tamu undangan sudah memenuhi ballroom, semua persiapan sudah selesai hanya tinggal menunggu kamu datang. Lalu tiba-tiba kamu bilang acara ditunda? Apa kamu masih wara!"
"Alena!!” Reno terdengar benar-benar marah.
"Reno Sebastian!!” Alena balas berteriak.
Di seberang telepon Reno kembali terbelalak. Ini pertama kalinya Alena memanggil dia hanya nama saja, tanpa embel-embel panggilan mesra.
"Aku yang dipermalukan, aku yang jadi bahan gunjingan, semua itu karena kamu dan Selena. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Kamu tunanganku, tapi bagimu Selena selalu prioritas. Saat kita sedang bersama, kamu akan selalu pergi hanya dengan satu panggilan dari Selena. Aku sudah muak dengan semua itu. Karena Selena lebih butuh perhatian darimu, karena itu… Reno Sebastian… aku melepasmu untuknya. Mulai sekarang, jangan lagi sebut hubungan di antara kita. Mengenai Om dan Tante, aku yang akan bicara pada mereka."
Klik!
Alena menutup panggilan tanpa mau mendengar bantahan ataupun pembelaan diri dari Reno.
Di tempatnya berdiri, Reno mengacak rambutnya kasar. Ini adalah sesuatu yang buruk. Jawaban apa yang akan ia berikan pada papa dan mamanya yang sebentar lagi pasti mendengar laporan dari asistennya? Atau bahkan saat ini laporan itu sudah sampai pada mereka?
"Ugh… sssttt…”
Reno membalikkan punggungnya mendengar lenguhan dan desis kesakitan dari ranjang pasien yang ada di belakangnya. Melihat Selena sudah bangun, pria itu bergegas menghampiri dan duduk di kursi di samping ranjang pasien.
“Kamu sudah bangun? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?” tanya Reno sambil menggenggam tangan Selena yang tak terpasang infus. Raut cemas tampak jelas di wajah pria tampan itu.
"Aku baik-baik saja, Kak,” jawab Selena dengan suara yang terdengar begitu lemah. “Ini ada di mana?" tanyanya yang tentu saja hanya pura-pura.
“Kamu ada di rumah sakit. Kamu pingsan waktu perjalanan ke hotel tadi,” jawab Reno masih menggenggam tangan Selena.
"Apa?" Selena berpura-pura terkejut. “Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian. Aku sedih tidak bisa hadir."
Reno mengambil nafas dalam-dalam lalu menjelaskan bahwa pernikahan mereka batal. Dalam hatinya Selena tersenyum puas. Rencananya untuk membuat Alena hancur dan dipermalukan sudah berhasil.
"Cepat hubungi Adik. Dia pasti salah paham pada hubungan kita." Dengan gerakan cepat, Selena mencabut selang infus di tangannya hingga membuat punggung tangannya berdarah.
"Apa yang kamu lakukan?!” Reno dengan panik menahan tubuh Selena yang akan turun dari ranjang pasien.
“Aku akan menjelaskan pada Adik. Kalian saling mencintai, pernikahan kalian tidak boleh gagal hanya karena aku yang sakit-sakitan.”
Reno memeluk tubuh Selena, mencegah gadis itu turun dari ranjang. "Sudahlah," ucapnya. "Alena hanya emosi sesaat. nanti kalau sudah merasa lebih tenang, aku akan bicara lagi padanya. Lagipula ini bukan salahmu. Kamu sakit juga bukan sengaja, seharusnya dia mengerti."
Reno kembali membantu Selena untuk berbaring lalu menutup tubuh gadis itu dengan selimut hingga batas pinggang. ditatapnya wajah gadis itu. Begitu lembut, begitu lemah, mengundang rasa iba. Sesuatu yang membuat pria itu merasa ingin melindunginya. Bersama Selena membuat pria itu merasa begitu berharga. Berbeda dengan Alena yang terlalu mandiri dan terkadang membuat Reno merasa tak dibutuhkan.
Dalam hatinya, pria itu lebih menyukai Selena yang begitu anggun, tapi sayangnya, menantu pilihan kedua orang tuanya adalah Alena. Dan ia tidak bisa membantah, atau ia akan dicoret dari daftar pewaris. Tidak! Ia tidak mau, tahta keluarga besar Sebastian yang seharusnya menjadi miliknya jatuh ke tangan adik sepupunya. Karena itu walaupun rasa enggan, ia tetap menjalin hubungan dengan Alena. Gadis yang menurutnya hanya pintar dalam urusan perusahaan tapi sama sekali tidak pandai menyenangkan pasangan.
"Mama sama Papa kemana? Apa mereka tidak ke sini menengokku?" pertanyaan dari Selena membuyarkan lamunan Reno.
"Ada," jawab Reno. "Mereka sedang mengurus administrasi."
Tak lama kemudian, Tuan Gunawan dan Nyonya Miranda masuk ke dalam ruangan itu.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya nyonya Miranda merasa senang melihat putrinya sudah siuman.
"Selena baik-baik saja, Ma. Jangan khawatir. Yang seharusnya Mama khawatir kan itu Adik. Dia pasti sangat sedih. Bagaimana kalau Mama sama Papa pulang untuk menghiburnya. Selena tidak apa-apa di rumah sakit sendiri. Lagi pula di sini ada banyak perawat."
Nyonya Miranda menggenggam tangan putrinya dan menciumnya berkali-kali. "Kamu benar-benar Putri Mama yang paling pengertian." wanita itu menghela nafas panjang. "Seandainya saja Alena memiliki separuh saja kebaikan hatimu... Tapi dia malah marah-marah tidak jelas. Padahal tahu kalau kamu masuk rumah sakit."
"Jangan bicara seperti itu, Ma. Dia juga pasti tidak sengaja marah sama Mama." Selena terus bersikap seolah dia adalah kakak yang penyayang. Padahal dalam hatinya dia sedang tertawa penuh kemenangan.
"Oh iya, Ma, Pa... Tadi sepertinya Kak Reno menelpon Adik. Iya kan, Kak?" Selena menoleh ke arah Reno.
"Benarkah?" tanya Tuan Gunawan ikut menoleh ke arah Reno. "Apa katanya? Dia pasti langsung menurut kalau kamu yang bicara. Iya kan?"
Pria itu menghela nafas lemah. "Alena sangat marah. Ia tetap membatalkan pernikahan. Dan Om pasti tahu, kalau itu benar-benar terjadi, artinya..."
"Tidak!" sahut tuan Gunawan cepat. "Dia pasti hanya sedang merajuk. Lihat saja nanti. Om akan mencabut semua fasilitasnya supaya dia tidak berani berbuat macam-macam."
Reno tersenyum puas. Ia tahu tuan Gunawan juga pasti takut papanya akan memutuskan hubungan kerja jika pernikahan batal. Dengan demikian ia bisa memastikan posisinya sebagai pewaris tetap aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
partini
cabut semua jahat sekali,,tapi mending cabut atau putus sekalian hubungan keluarga dengan ortumu suatu saat nanti pasti ada seseorang yg meratukan mu like Noah he love Sera ❤️❤️❤️❤️❤️
2026-08-04
0
Sri Rahayu
kalian salah semua...Alena tetap membatalkan pernikahan nya, walau fasilitasnya akan dicabut dia tdk takut...dia bisa kerja, yg akan rugi ya kalian semua 🤪🤪🤪....lanjut Thorr😘😘😘
2026-08-04
0
Muft Smoker
cabut aj pak ,, asal jgn menyesal di kemudian hari ,,
Krn putri yg km sia sia kan ,, adalah anak yg mandiri ,, sedangkan putri yg km agung2kan ,, adalah putri yg manipulatif 😒😒😒😒
2026-08-08
0