SATU BULAN DALAM SUNYI.

Satu bulan telah berlalu sejak tragedi berdarah itu merenggut segalanya, namun bagi Nabila, waktu seolah mati di sore yang basah itu. Dunia yang dahulu penuh warna dan lantunan ayat suci kini menjelma menjadi cangkang hampa berwujud kegelapan abadi. Ia mengurung diri di dalam kamar, meringkuk di sudut kasur dengan mata membisu yang tak lagi mampu menatap indahnya dunia.

Al-Qur’an berbingkai emas peninggalan ibunya tergeletak tak tersentuh di atas meja nakas. Jemari Nabila yang dahulu dengan lincah membuka lembar demi lembar mushaf kini terlalu gemetar bahkan hanya untuk menyentuhnya. Buat apa? Untuk apa ia mengaji jika Allah merenggut penglihatannya dan membiarkannya membusuk dalam kegelapan ini?

"Nabila... makan sedikit ya, Dek? Mas buatkan sup kesukaanmu," suara Ardhana memecah hening yang menyiksa. Langkah kakinya terdengar mendekat, perlahan dan begitu berhati-hati.

Nabila tak bergeming. Wajahnya yang kian tirus berpaling ke dinding kamar. "Bawa keluar, Mas. Nabila tidak lapar."

Helaan napas berat terdengar dari Ardhana. Pria itu duduk di tepi ranjang, meletakkan nampan berisi mangkuk sup yang masih berasap di meja. Tanpa mengeluh, Ardhana menarik sendok dan mengarahkannya ke bibir sang adik.

"Satu suap saja, Dek. Kasihan tubuhmu. Sudah dua hari kamu cuma minum air putih," bujuk Ardhana dengan nada bicara yang teramat lembut. Tidak ada sedikit pun nada kesal atau lelah dalam suaranya.

Selama satu bulan penuh, Ardhana lah yang menjadi pilar tunggal di rumah itu. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia merawat Nabila, membersihkan kamarnya, bahkan mengurus pakaian adiknya tanpa sepatah kata pun keluhan. Namun, di balik ketenangannya yang luar biasa, ada sesuatu yang ganjil. Ardhana selalu menatap Nabila, atau setidaknya, menghabiskan setiap detiknya untuk menatap sang adik dengan binar mata yang sarat akan kerinduan yang teramat sangat. Seolah-olah, ia tahu bahwa detik-detik kebersamaan mereka di rumah itu sudah berhitung mundur. Seolah-olah, Nabila akan segera pergi jauh meninggalkannya.

Nabila memiringkan kepalanya, menepis pelan tangan Ardhana hingga sendok itu berdenting menabrak mangkuk. "Kenapa Mas Ardhana masih repot-repot merawatku?! Aku ini cuma beban! Harusnya aku ikut mati bersama Ayah dan Bunda sore itu!" jerit Nabila dengan suara serak, air mata hangat kembali menetes membasahi pipinya yang pucat.

"Nabila, jangan bicara seperti itu..." Ardhana merengkuh pundak adiknya yang bergetar hebat. Pelukannya begitu erat, bahkan terlalu erat, seolah ia takut Nabila akan melenyap dari jangkauannya saat itu juga. "Kamu satu-satunya harta yang ditinggalkan Ayah dan Bunda untuk Mas. Selama Mas masih bernapas, Mas tidak akan pernah merasa kamu ini beban."

"Tapi aku buta, Mas! Aku tidak berguna! Aku tidak bisa melihat wajahmu lagi, aku tidak bisa membantu apa-apa!" amuk Nabila dalam pelukan kakaknya.

Ardhana tak membalas amarah itu. Ia justru makin menekan kepala Nabila ke dadanya, menyembunyikan matanya sendiri yang berkaca-kaca. Ardhana memejamkan mata rapat-rapat, menahan gejolak rasa bersalah dan rahasia besar yang menghimpit dadanya. Nabila tidak tahu bahwa selama satu bulan ini, Ardhana berjuang sendirian di luar sana. Pria itu mengurus proses hukum kecelakaan orang tua mereka yang terkesan ditutup-tutupi, sekaligus menghadapi teror dari beberapa pihak luar mengenai masalah keuangan dan warisan peninggalan almarhum ayahnya yang mendadak kacau secara misterius.

Ada badai besar yang sedang mengintai rumah mereka, dan Ardhana tahu betul bahwa dirinya tidak akan bisa menyembunyikan Nabila di balik ketiaknya selamanya. Takdir yang dirancang almarhum ayahnya sebelum menghembuskan napas terakhir sudah mulai berjalan.

"Mas cuma mau menghabiskan sebanyak mungkin waktu denganmu, Nabila," bisik Ardhana lirih, hampir tak terdengar. Suaranya bergetar menahan tangis. "Jadi tolong... jangan benci hidupmu. Izinkan Mas merawatmu selagi Mas masih bisa berada di sisimu."

Nabila tertegun dalam kegelapan. Ada nada kepasrahan yang teramat dalam dari ucapan kakaknya, sebuah nada yang membuat dadanya kian sesak oleh rasa bersalah. Kenapa Ardhana bicara seolah-olah mereka akan berpisah dalam waktu dekat?

"Mas Ardhana..."

"Mas ke dapur dulu, mau memanaskan supnya lagi," potong Ardhana cepat, bangkit dari kasur sebelum Nabila sempat bertanya lebih jauh. Langkah kakinya terburu-buru meninggalkan kamar, mengunci rasa serba penasaran dalam dada adiknya.

Sepeninggal Ardhana, Nabila terduduk membisu. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya. Kakaknya sudah berkorban begitu banyak, merawatnya tanpa henti, sementara ia hanya bisa meratapi nasib dan menyusahkan Ardhana.

Nabila memantapkan hati. Ia tidak boleh terus-menerus menjadi benalu. Ia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, meski dalam kegelapan.

Secara perlahan, Nabila menurunkan kakinya dari tempat tidur. Membelakangi ketakutannya, ia meraba-raba udara, mencoba mengandalkan memorinya tentang tata letak kamar yang pernah ia huni bertahun-tahun. Ujung jemarinya menyentuh dinding, lalu merayap menuju gagang pintu kamar.

"Aku pasti bisa... aku tidak boleh merepotkan Mas Ardhana lagi," bisiknya menguatkan diri sendiri.

Nabila berhasil membuka pintu kamar. Dengan langkah terpincang-pincang dan tangan terlentang membelah hampa, ia menyusuri lorong rumah. Namun, dunia tanpa cahaya ternyata jauh lebih kejam dari perkiraannya. Hilangnya pijakan visual membuat keseimbangannya kacau balau.

BARRAGGHHH!

Kaki Nabila tersandung ujung meja konsol di lorong. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur dengan keras ke lantai ubin yang dingin. Vas bunga porselen di atas meja ikut tersenggol dan jatuh pecah berkeping-keping tepat di sampingnya.

"Aww!" Nabila merintih kesakitan.

Serpihan tajam porselen menancap di telapak tangan kanannya. Darah segar berwarna merah pekat merembes keluar, mengaliri lantai marble yang dingin. Rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa hina yang membakar jiwanya. Nabila tergeletak di lantai, menangis terisak-isak meratapi ketidak berdayaannya bahkan hanya untuk berjalan di rumahnya sendiri.

"Nabila?!" Suara langkah Ardhana berlari panik dari arah dapur.

Namun, sebelum Ardhana sempat mendekati adiknya, sebuah suara menghentikan pergerakan semua orang di rumah itu.

KTOCK... KTOCK... KTOCK...

Ketukan di pintu depan rumah berbunyi. Bukan ketukan tergesa-gesa atau bernada ancaman, melainkan tiga kali ketukan yang terdengar sangat tegas, tenang, dan berwibawa.

Ardhana membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap pintu kayu di depannya, seolah ia sudah menanti momen ini dengan rasa takut sekaligus kepasrahan yang mendalam.

Nabila yang masih terduduk di lantai dengan tangan bersimbah darah menghentikan tangisnya. Di balik kegelapan matanya, jantungnya mendadak berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ada aura asing yang begitu kuat berhembus masuk bersamaan dengan ketukan pintu tersebut.

Siapa yang datang ke rumah mereka di saat duka masih menyelimuti? Dan mengapa Ardhana justru menahan napasnya, seolah sosok di balik pintu itu adalah jawaban atas takdir yang selama ini disembunyikannya?

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

lanjut kak semangat 💪💪

2026-08-07

1

lihat semua
Episodes
1 MAHKOTA CINTA UNTUK IBU.
2 KEGELAPAN ABADI.
3 SATU BULAN DALAM SUNYI.
4 PENGAKUAN YANG SULIT DI TERIMA
5 RAHASIA DI BALIK LEMBARAN AKAD.
6 CAHAYA DI BALIK LANTUNAN PRAYER.
7 SAPAAN DI UJUNG SENJA.
8 RUMAH DI TEPI SAWAH.
9 KEBENARAN DI BALIK ANGIN PAGI.
10 BADAI DI UJUNG SENJA
11 PETUNJUK DI BALIK TAKDIR.
12 EMOSI DI ATAS SEJADAH.
13 LUKA YANG BERSUARA.
14 HANGAT DI TEPI SAWAH.
15 MURAJA'AH CINTA DI SEPERTIGA MALAM.
16 LANTUNAN DI BALIK KETERBATASAN
17 DI BALIK LEMBARAN KAIN
18 USAPAN DI KEDALAMAN KALBU
19 BAYANG-BAYANG DARI MASA LALU
20 KETETAPAN YANG TAK TERDUGA
21 BIDADARI DI BALIK CADAR
22 IKATAN DI ATAS TAKDIR
23 HANGATNYA DEKAPAN RUMAH PANGGUNG
24 INDAHNYA MALIOBORO DI MATA HATIMU
25 MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA
26 JANJI SUCI
27 FIRASAT BURUK.
28 CAHAYA DI BALIK KEGELAPAN
29 PENANTIAN DI AMBANG CAHAYA
30 TIRAI YANG TERBUKA
31 CAHAYA YANG TELAH KEMBALI
32 KEHANGATAN KASIH DI RUMAH LAMA
33 BENIH DI BALIK BADAI
34 KABAR BAHAGIA DI PANGKUAN SUBUH
35 RUMAH BARU UNTUK HARAPAN BARU
36 BENIH PERJODOHAN
37 RENCANA DIBALIK RENGEKAN
38 PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA
39 UMUR YANG TERLUPAKAN
40 RANTING YANG PATAH
41 BADAI DI UJUNG HARAPAN
42 DOA DI SEPERTIGA MALAM
43 PINANGAN DI LUAR DUGAANt
44 PENGEROYOKAN MENUJU HALAL.
45 IJAB KABUL TERBARING
46 KECANGGUNGAN DI BALIK PINTU VIP
47 AMANAH BESAR
48 PERTARUNGAN DI RUANG RAPAT
49 UNGKAPAN CINTA USAI BADAI
Episodes

Updated 49 Episodes

1
MAHKOTA CINTA UNTUK IBU.
2
KEGELAPAN ABADI.
3
SATU BULAN DALAM SUNYI.
4
PENGAKUAN YANG SULIT DI TERIMA
5
RAHASIA DI BALIK LEMBARAN AKAD.
6
CAHAYA DI BALIK LANTUNAN PRAYER.
7
SAPAAN DI UJUNG SENJA.
8
RUMAH DI TEPI SAWAH.
9
KEBENARAN DI BALIK ANGIN PAGI.
10
BADAI DI UJUNG SENJA
11
PETUNJUK DI BALIK TAKDIR.
12
EMOSI DI ATAS SEJADAH.
13
LUKA YANG BERSUARA.
14
HANGAT DI TEPI SAWAH.
15
MURAJA'AH CINTA DI SEPERTIGA MALAM.
16
LANTUNAN DI BALIK KETERBATASAN
17
DI BALIK LEMBARAN KAIN
18
USAPAN DI KEDALAMAN KALBU
19
BAYANG-BAYANG DARI MASA LALU
20
KETETAPAN YANG TAK TERDUGA
21
BIDADARI DI BALIK CADAR
22
IKATAN DI ATAS TAKDIR
23
HANGATNYA DEKAPAN RUMAH PANGGUNG
24
INDAHNYA MALIOBORO DI MATA HATIMU
25
MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA
26
JANJI SUCI
27
FIRASAT BURUK.
28
CAHAYA DI BALIK KEGELAPAN
29
PENANTIAN DI AMBANG CAHAYA
30
TIRAI YANG TERBUKA
31
CAHAYA YANG TELAH KEMBALI
32
KEHANGATAN KASIH DI RUMAH LAMA
33
BENIH DI BALIK BADAI
34
KABAR BAHAGIA DI PANGKUAN SUBUH
35
RUMAH BARU UNTUK HARAPAN BARU
36
BENIH PERJODOHAN
37
RENCANA DIBALIK RENGEKAN
38
PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA
39
UMUR YANG TERLUPAKAN
40
RANTING YANG PATAH
41
BADAI DI UJUNG HARAPAN
42
DOA DI SEPERTIGA MALAM
43
PINANGAN DI LUAR DUGAANt
44
PENGEROYOKAN MENUJU HALAL.
45
IJAB KABUL TERBARING
46
KECANGGUNGAN DI BALIK PINTU VIP
47
AMANAH BESAR
48
PERTARUNGAN DI RUANG RAPAT
49
UNGKAPAN CINTA USAI BADAI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!