Canggung

Interaksi antara Maria dan Daniel sangat jelas terlihat. Dan terlihat teman - temannya Maria sangat mendukung kedekatannya dengan Daniel.

Anna masih tetap menyanyi. Suara Anna didengar oleh Daniel. Dia tidak menyangka bahwa Anna juga ada di cafe ini. Acara inti sudah selesai namun ada tamu undangan yang masih mau bernyanyi. Anna masih setia melayani tamu - tamu yang mau bernyanyi.

Pukul sebelas malam, baru Anna selesai bekerja. Amelia sudah lebih dahulu pulang, karena saudara sepupunya baru tiba dari Belanda dan mereka akan makan malam keluarga di restoran. Anna sudah ada di halaman parkir cafe, dia sedang menunggu taksi online yang dia pesan, namun beberapa kali di tolak.

"Anna pulang sama aku saja." Daud Triyanto ternyata belum pulang juga. Menawarkan tumpangan buat Anna.

"Kak, belum pulang juga??"

"Iya, tadi sempat, ngobrol dengan teman - teman dan lupa waktu."

"Pulang sama kakak saja. Sudah malam jangan naik motor." Daniel datang dengan embel - embel kakak menawarkan tumpangan juga kepada Anna.

"Kak Daniel, Kak Daud. Aku sudah pesan taksi online."

"Jam segini mana ada taksi online yang mau masuk dijalan lorong - lorong gank. Aku antar, kita sejalan juga." Akhirnya Daniel mengantar Anna pulang. Daud tidak mau memaksa karena memang malam ini dia menggunakan motor. Sepanjang perjalanan mereka, Daniel dan Anna hanya berdiam diri, satu dengan yang lain.

Kosan tempat Anna tinggal jam sepuluh sudah tutup, namun tadi sebelum pergi Anna sudah ijin pemilik kosan bahwa dia ada job bermain musik dan menyanyi mungkin pulangnya terlambat makanya gembok pagar belum terpasang oleh satpam yang menjaga kosan.

"Non, Anna sudah pulang."

"Maaf ya pak."

"Kan non Anna sudah ijin tadi. Bapak kan memang tugas menjaga."

"Terima kasih pak. Ini ada kue sedikit bekal jaga malam pak. Temannya kopi."

"Terima kasih ya non. Kamu baik sekali." Anna hanya tersenyum. Daniel belum beranjak dengan mobilnya dia masih melihat apa Anna sudah masuk kamar kosannya atau belum.

Hari ini Anna hanya malas - malasan di kosan. rencana sore hari dia mau pergi jilid skripsinya. Dan besok dia akan bawa ke kampus untuk di tanda - tangan lembar pengesahannya. Serta mengumpulkan skripsi ke bagian administrasi kampus sebagai salah satu syarat agar dia bisa wisuda.

Bangun pagi, Anna menyempatkan dirinya untuk berolahraga kecil di kamar kosanya. Dia mengeluarkan trade mile. Tiga puluh menit berlari di trade mile, lumayan menguras tenaga dan bermandikan keringat. Selesai olahraga Anna langsung mandi dan sarapan.

Pukul sepuluh Anna sudah berada di percetakan yang ada di lantai empat mall. Setelah soft filenya diserahkan, Anna punya waktu dua jam untuk putar - putar di mall sampai skripsinya selesai di jilid menjadi buku.

Kebetulan percetakannya bersebelahan dengan studio film XXI. Dan kebetulan juga, hari ini ada pemutaran film kesukaannya. Maka waktu dua jam itu Anna manfaatkan dengan menonton. Karena film ini pemutaran perdana, maka banyak sekali orang - orang kantoran datang menonton menggunakan waktu makan siang mereka.

Sementara antri, Anna melihat Maria Grace orang yang semalam ulang tahun yang berbagi berkat dengan dia, bersama teman - temannya. Maria mengenal, karena Maria yang suka menyanyi sama seperti Anna sangat suka penampilan Anna dalam bermain keyboard di acara ulang tahunnya semalam, dan sempat meminta Anna mengiringinya menyanyi bahkan ada tiga lagu yang Maria menyanyi.

"Hai... Kamu Anna kan yang semalam main keyboard."

"Iya mba saya Anna."

"Mau nonton juga?"

"Iya."

"Sama - sama saya aja Anna."

"Terima kasih mba, saya sudah membeli membeli tiketnya." Anna menunjukan tiket nontonnya kepada Maria, karena tadi Maria mau mengajaknya juga nonton dan mau membeli tiketnya juga. Maria tersenyum.

"Sudah ya."

"Iya. Kan semalam, saya dapat berkat dari acara mba."

Pemutaran film akan segera dimulai. Semua penonton yang sudah membeli tiket dipersilahkan untuk masuk ruang bioskop. Maria dan rombongannya yang terdiri dari lima perempuan itu duduk di satu deret. Sedangkan Anna dua deret di atas mereka.

Satu jam tiga puluh menit mereka menikmati film itu. Selesai pemutaran film. Anna yang buru - buru mau ke toilet langsung keluar. Sedangkan Maria sedang mencarinya.

"Cari siapa Mia?" Nama panggilan Maria Grace dia antara teman - temannya.

"Mba pemain keyboard ya?"

"Sudah keluar kali bestie."

"Semalam aku lihat dia pulang diantar Daniel. Bukan hanya Daniel, Daud calon dokter itu juga menawar tumpangan kepadanya." Maria tersenyum. Sikap Maria ini membuat teman - temanya kesal.

"APA !!! LO NGAK MARAH MIA. DUA LAKI - LAKI IDOLA KAMU DEKATI TUCH PEREMPUAN."

"Ternyata kalian memperhatikan juga ya."

"Lah kan kita semua pulang belakangan. Padahal Daniel itu sudah pamit pulang terlebih dahulu. Ternyata dia lebih memilih duduk di parkiran menunggu tuch perempuan."

"Bestie kamu sebenarnya suka sama siapa sih?? Siapa yang kamu pilih?"

"Iya, Daniel apa Daud sih?? Apa kamu mau dua - duanya." Maria hanya tertawa.

Dari mereka sekolah, Daniel dan Daud selalu bersaing. Dari soal pendidikan sampai urusan cewek pun mereka saingan. Daud Triyanto dari sekolah sudah suka kepada Maria Grace, bahkan dari kelas sebelas dia sudah menyatakan cintanya. Namun oleh Maria Grace, dia di tolak. Karena selama itu Maria hanya suka kepada Daniel Johanes laki - laki kaku itu. Soal ketampanan Daniel dan Daud sangat tampan. Dan mereka berdua adalah idola di sekolah mereka. Sudah pintar dan ganteng. Mereka berdua selalu mewakili sekolah dalam pertandingan baik saint maupun olah raga.

Bahkan dalam memilih ketua tim basket saja, mereka berdua selalu bersaing. Namun satu hal mereka tidak perna mengunakan fisik, persaingan mereka sehat. Jika salah satu dari mereka kalah, mereka harus sportif dan mendukung rekannya. Itu yang menyebabkan tim basket sekolah mereka kalau bertanding selalu menang.

Maria masih mencari keberadaan Anna. Matanya tertuju ke tempat percetakan. Di sana ada sosok yang dia cari. Maria pun mendekat.

"Joanna Josephine Josep, S.Kg. Nama yang cantik."

"Terima kasih mba." Senyum Anna sangat manis. Di akui oleh Maria bahwa , Anna sangat cantik."

"Sarjana kedokteran gigi. Mau jadi dokter gigi ya??"

"Iya mba. Masih harus koas satu setegah sampai dua tahun lagi, baru jadi dokter."

"Berarti sama seperti Daud dong."

"Daud???"

"Daud Triyanto teman sekolahku."

"Oooo kak Daud iya. Tetapi kak Daud dokter umum dan sudah mau selesai koasnya."

"Kamu kenal??"

"Kak Daud ketua pemuda di gereja kami."

"Daud kan rajin pelayanan. Berarti kamu tinggal sekompleks ya."

"Iya. Kosan saya dekat dengan rumahnya kak Daud berdekatan."

"Berarti dekat juga dengan Daniel dong??" Anna kaget. Dia mulai sedikit curiga, jangan sampai kejadian semalam dia jadi rebutan Daniel dan Daud dilihat oleh mereka.

"Iya dekat. Tetangga."

"Senang ya jadi rebutan dua cowok ganteng itu."

"Maksud mba??"

"Eeeee... Sori ngak ada maksud apa - apa. Lupakan saja."

"Maafkan teman - temanku Anna, mereka tidak bermaksud aneh - aneh. Aku pamit ya Anna." Anna memberikan senyuman terindahnya. Dia akui Maria bahwa calon dokter gigi ini sangat cantik. Jika Daud dan Daniel memperebutkannya wajar saja.

Maria langsung bergabung dengan teman - temannya setelah pamit dari Anna. Tentu saja Anna merasa ada yang tidak beres. Yang membuat dia kebingungan. Namun prinsip hidup Anna, selama dia tidak berbuat jahat kepada orang lain. Maka dia yakin hidupnya akan baik - baik saja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!