Chapter 3: Mencari Petunjuk soal Sesilia

Setelah rangkaian perawatan dan terapi yang dilakukan. Dokter akhirnya mengizinkan Azka untuk pulang. Meskipun Azka belum sepenuhnya pulih, dokter menjelaskan bahwa mungkin kondisi Azka bisa lebih cepat membaik jika berada di rumah. Terutama untuk kondisi ingatannya.

Setiba di rumah, Visha membantu Azka masuk dengan hati-hati. Ketika berada di dalam, rumah terlihat bersih dan rapi. Ternyata sebelum kepulangan, Visha membersihkan seisi rumah yang sebelumnya tidak terurus karena dibiarkan kosong selama satu bulan.

Azka berdiri di ambang ruang tengah, matanya menyapu perlahan ke setiap sudut rumah terasa sedikit asing namun hangat. Ada sesuatu dalam kesunyian yang membuat langkahnya melambat, seperti tempat ini pernah menjadi bagian penting dari dirinya, tapi kini hanya kenangan samar tertinggal.

Pandangannya tertumbuk pada dinding di sisi kanan. Beberapa bingkai foto berjajar rapi. Ia mendekat, membiarkan mata menelusuri setiap gambar yang tertangkap lensa di masa lalu.

Potret dirinya tersenyum, berdiri di samping seorang perempuan, yaitu Visha. Dalam beberapa foto, mereka tertawa. Dalam foto lain, berpegangan tangan, saling menatap seakan dunia milik berdua.

Azka diam. Tak satupun momen dalam gambar itu bisa ia kenali, namun ada yang aneh. Sesuatu di dalam ingatannya terbesit sekilas. Entah kenangan atau hanya ingatan kosong dari sesuatu yang dulu pernah berarti. Tapi cukup untuk membuat ia terpaku, menatap lebih lama dari yang direncanakan.

“Kamu juga tidak ingat foto ini? Foto pernikahan kita,” tanya Visha menunjuk salah satu bingkai foto yang paling besar terpajang di dinding rumah.

“Aku sebenarnya ingat, tapi,” jawab Azka pelan.

Ia merasa tidak enak dengan Visha jika melanjutkan kalimatnya yang ingin mengucapkan nama Sesilia.

“Azka, coba kamu lihat dengan jelas. Siapa yang ada di foto pernikahan ini? Siapa? Itu aku! Visha Aurelia! Aku, istri kamu!” ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis.

Suasana yang semula hanya dihiasi percakapan ringan, mendadak mengeras seperti angin beku, berubah dingin tanpa peringatan. Kata-kata terakhir diucap menggantung, menggema lebih nyaring dari seharusnya.

Visha tersadar, sorot mata Azka menajam, raut wajahnya juga ikut tegang. Visha tahu, sudah melewati batas.

Ia menutup mata, menarik napas perlahan, mencoba meredam gelombang emosi sempat meluap. Suaranya yang barusan meninggi kini tenggelam dalam penyesalan. Ia menunduk, lalu berkata pelan, nyaris seperti bisikan mengaku salah.

“Maaf, aku tadi tidak bisa menahan diri,” ujarnya lalu kembali menarik nafas panjang.

“Iya, tidak apa-apa,” jawab Azka yang sebenarnya masih takut.

***

Malam harinya. Lampu-lampu rumah menyala dengan sangat terang. Tapi suasana terasa sendu. Meskipun ada dua manusia yang tinggal di dalam, hanya suara detak jam dinding terdengar pelan.

Visha duduk di ruang tengah. Televisi menyala tapi tidak mengeluarkan suara apapun karena volume dimatikan. Ia melamun, tatapan kosong.

Tak berapa lama, Azka keluar dari dalam kamar. Ia kemudian menghampiri istrinya.

“Visha, sementara ini aku tidur di sofa ya. Kamu yang di kamar,” kata Azka.

Memahami maksud suaminya itu, Visha menyetujui.

“Oke,” jawabnya datar.

Visha beranjak dari duduk, masuk ke dalam kamar.

Tapi ternyata Visha kemudian keluar lagi membawa bantal, guling dan selimut.

Ia meletakkannya di atas sofa, merapikan, kini sofa itu terlihat seperti kasur kecil.

Dalam diam, ia kembali masuk ke kamar, mengambil sesuatu lalu keluar lagi menuju dapur, membawa segelas air putih.

Visha memberikan beberapa butir obat.

“Minum dulu obatnya,” kata Visha sambil menyodorkan segelas air.

Dengan perasaan canggung, Azka meminumnya.

“Makasih ya,” ucap Azka.

“Iya, aku masuk dulu,” ujar Visha yang kemudian langsung balik badan menuju kamar.

***

Suara gemericik air dari arah dapur membelah keheningan pagi. Kran menyala, mengalir deras, nyaris seperti air terjun yang menghantam besi pencuci piring.

Azka terbangun dengan dahi berkeringat, tubuhnya sedikit menggeliat dari tempat tidur. Napas memburu, pandangan buram oleh sisa-sisa mimpi yang belum sepenuhnya terlupa. Dalam kekacauan pikiran masih setengah sadar, ia berjalan sempoyongan menuju dapur.

Ketika ia melihat sosok wanita sedang berdiri di dapur, ia refleks menyapanya, “Sesilia?”.

Sontak saja, suara kran air itu berhenti. Visha balik badan dengan wajah cukup kesal.

“Aku Visha, bukan Sesilia,” jawabnya sambil membawa omelet, makanan favorit Azka untuk sarapan.

Dengan gerakan tenang namun sedikit lelah, Visha meletakkan piring berisi omelet hangat di atas meja makan. Asapnya masih mengepul tipis, membawa aroma telur dan rempah yang menggoda selera makan Azka. Sebuah rutinitas sederhana, namun tak pernah kehilangan makna, meski di pagi yang sendu seperti ini.

Setelah itu, tangannya merogoh ke saku celana. Ia mengeluarkan handphone milik Azka, sekilas menatap layar yang menyala. Ada sejumlah pesan masuk dan panggilan tak terjawab.

“Tolong buka ini, aku tahu kode pinnya, tapi aku rasa tidak etis kalau aku buka tanpa sepengetahuan kamu,” ujarnya.

Meraih handphone tersebut, Azka kemudian menekan kode pin untuk membuka kunci handphonenya.

Setelah terbuka, Azka kembali memberikannya kepada Visha.

“Aku izin periksa ya,” ucap Visha.

“Iya,” jawab Azka singkat.

Visha berputar, duduk di ujung sofa.

“Makan dulu omeletnya, mumpung masih hangat. Habis ini aku ambilkan air minum,” ujar Visha.

Menurut, Azka makan omelet itu. Suapan pertama, ia langsung teringat bahwa memang rasanya persis seperti masakan istrinya. Sejenak ia berpikir kalau istrinya adalah benar Visha.

Tapi sayang karena ingatan Azka berkata lain sehingga ia masih belum bisa menerima.

Sedangkan Visha masih sibuk memeriksa handphone milik Azka. Dia mencari petunjuk mengenai wanita bernama Sesilia.

Tapi sayang karena Visha tidak berhasil menemukan petunjuk apapun.

“Gimana? Apakah kamu menemukan sesuatu?,” tanya Azka yang telah menghabiskan omeletnya.

“Belum,” jawab Visha singkat.

***

Dengan nafas berat dan sorot mata yang redup, Visha menyerah. Sudah cukup ia menyusuri jejak demi jejak di dalam handphone itu.

Mulai dari menggeser layar, membuka pesan, menelusuri riwayat panggilan, semua terasa seperti menelusuri lorong semakin gelap dan dingin, tanpa ujung kejelasan. Kalaupun berhasil menemukan sesuatu, ia meyakini bahwa itu hanya akan memperburuk keadaan.

Tak ada petunjuk, hanya tanda tanya yang semakin membuat hatinya lelah.

Dengan pelan, Visha menutup layar handphone dan menggenggamnya sejenak. Lalu, ia berjalan mendekati dan meletakkan kembali gadget itu di meja makan, tempat Azka sedang duduk.

“Tidak ada yang aneh, tapi tetap saja aku merasa ada kejanggalan, entah apa,” ujar Visha lagi, kemudian mengambilkan Azka minum air putih.

Azka mengambil handphone dengan raut wajah datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun di balik sikap tenangnya, ada kegelisahan yang perlahan muncul.

Dengan ibu jari sedikit gemetar, ia membuka daftar kontak, matanya melihat cepat deretan nama yang tersimpan rapi. Satu per satu ia telusuri, berharap tidak menemui apapun, namun tetap mencari.

Lalu ia beralih ke riwayat pesan. Layar digulir perlahan, menampilkan potongan percakapan dari masa lalu. Tatapannya menjadi lebih tajam, seakan berharap setiap percakapan bisa menjawab kebingungan.

Tapi sayang karena nama Sesilia tidak juga muncul. Di dalam benaknya, muncul satu pertanyaan meski tak sanggup ia katakan, apa yang sedang ia cari.

“Kalau menurut kamu sendiri. Sesilia itu siapa?” tanya Azka.

“Mana aku tahu, Azka. Justru ini jadi pertanyaan besar untuk kita kan? Kamu harusnya jelaskan itu ke aku. Siapa Sesilia?,” jawab Visha dengan nada kembali meninggi.

Visha berupaya untuk mengendalikan emosinya.

“Mantan? Setahuku, kamu tidak punya nama mantan namanya Sesilia. Cinta monyet mu? Mungkin kamu waktu kecil pernah punya crush, tapi belum kesampaian? Sekarang kamu jadi ingat tentang dia?” lanjutnya.

Seketika, suasana menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Kata-kata yang semula mengalir kini tertahan di tenggorokan, tercekat atas sesuatu yang sulit diungkapkan.

Pikiran mulai dipenuhi kemungkinan, tak ingin diketahui, namun terlalu nyata untuk diabaikan. Opsi terburuk perlahan menjelma dalam bentuk pertanyaan tajam, rapuh dan berbahaya.

Dengan suara tertahan dan sorot mata yang mencoba tetap tenang, Azka akhirnya bertanya.

“Menurut kamu, apakah mungkin aku selingkuh?,” tanyanya.

Beranjak dari duduknya, Visha mengaku tidak bisa menjawab.

“Jujur, aku tidak tahu”.

“Sudahlah, kita lanjut lagi nanti. Lebih baik sekarang kamu bangun, aku mau bereskan ini. Kamu tidak mau Papa sama Mama tahu kan kalau kita pisah ranjang. Mereka sudah di jalan menuju ke sini,” ujar Visha.

***

Hanya dalam beberapa menit, Visha berhasil membuat suasana rumah menjadi jauh berbeda.

Sejumlah hidangan telah disiapkan olehnya untuk menyambut orang tua Azka. Kemampuan ini ia dapatkan dari sang nenek yang memang selalu mengajari Visha untuk menjadi perempuan seutuhnya.

Di ruang tengah juga tersaji makanan ringan terutama kacang-kacangan dalam toples. Visha menyediakannya karena tahu orangtua Azka suka ngemil.

Yang ditunggu pun akhirnya tiba.

“Assalamu’alaikum,” teriak Mama Azka begitu masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.

Azka dan Visha menyambut dengan kompak menjawab salam tersebut.

“Alhamdulillah, kamu sudah sehat, nak,” ucap Mama Azka sambil memeluknya erat-erat.

Lanjut bergantian Papa Azka juga ingin memeluk.

“Iya ma, pa, alhamdulillah. Mama, papa gimana kabarnya? Lancar umrohnya?,” tanya Azka.

“Lancar dong,” jawab Mama Azka yang masih terlihat sumringah.

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

“Wah, Visha, kamu tahu saja kesukaanku,” ucap Papa Azka ketika melihat kacang dalam toples di ruang tengah.

“Iya pa, tapi makan nasi dulu ya, aku sudah masak untuk kalian,” ujar Visha sambil berjalan ke arah meja makan.

Azka kembali berpikir tentang sikap orang tuanya kepada Visha, begitu juga sebaliknya. Sungguh tidak ada alasan bagi Azka untuk mengingkari kalau Visha adalah istrinya.

Mereka kini sedang menyantap hidangan yang disiapkan oleh Visha.

“Makasih ya Visha, kamu sudah menjaga anak mama dengan baik,” ucap Mama Azka mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sang menantu.

“Iya ma, kan Azka juga suami aku. Sudah menjadi tanggung jawab aku untuk merawat dia,” jawab Visha.

Kalimat yang diucapkan Visha sekilas terdengar biasa. Tapi mengingat kondisi Azka tidak mengingat Visha, tentu saja bukan hal mudah untuk diucapkan.

Azka pun hanya bisa mengikuti permainan berpura-pura ini agar menjaga perasaan orang tuanya.

Episodes
1 Chapter 1: Rumah Tangga Azka dan Visha
2 Chapter 2: Azka Mengalami Konfabulasi
3 Chapter 3: Mencari Petunjuk soal Sesilia
4 Chapter 4: Momen Flashback Sebelum Peristiwa Kecelakaan
5 Chapter 5: Wibawa Azka sebagai Pimpinan di Kantor
6 Chapter 6: Kemarahan Visha Tak Terkendali
7 Chapter 7: Azka Berkunjung ke Psikiater
8 Chapter 8: Perbaikan Hubungan antara Azka dan Visha
9 Chapter 9: Berada di Pinggir Jurang Perselingkuhan
10 Chapter 10: Pesan dari Noval dan Ajakan untuk Visha
11 Chapter 11: Merawat Visha yang Sakit Demam
12 Chapter 12: Memanggil Nama Kayla
13 Chapter 13: Tanggal Ulang Tahun Beda Tipis
14 Chapter 14: Rapat Besar Mengguncang Kantor
15 Chapter 15: Peringatan Tegas dari Noval
16 Chapter 16: Ajakan Makan Malam ke Kafe Kekinian
17 Chapter 17: Terjerembab Dalam Perasaan Tak Tertahankan
18 Chapter 18: Tak Ada Lagi Panggilan Bernama Kayla
19 Chapter 19: Sebuah Mimpi yang Terasa Nyata
20 Chapter 20: Ketika Hasrat Menguasai Logika
21 Chapter 21: Hadiah Ulang Tahun untuk Kayla
22 Chapter 22: Kalung Atas Nama Dua Wanita
23 Chapter 23: Keberangkatan Dinas ke Ibukota
24 Chapter 24: Mampir ke Dess Cake
25 Chapter 25: Ibunya Kayla Sudah Tahu
26 Chapter 26: Mimpi Kedua, Pertanda yang Diabaikan
27 Chapter 27: Rapat via Zoom Bersama Kayla
28 Chapter 28: Siasat Menghilangkan Jejak
29 Chapter 29: Visha Menyusul dan Pemberian Hadiah
30 Chapter 30: Pembohong Tidak Pandai vs Wanita Polos
31 Chapter 31: Ketika Kebohongan Berbuah Kebohongan Lain
32 Chapter 32: Paket Kilat Hadiah untuk Visha
33 Chapter 33: Kontroversi Pakaian Kotor yang Singkat
34 Chapter 34: Pertemuan Tak Sengaja yang Berbahaya
35 Chapter 35: Salah Paham dan Dicecar Noval saat Rapat
36 Chapter 36: Obrolan Azka dengan Tante Irma di Telepon
37 Chapter 37: Menjemput Kayla di Bandara
38 Chapter 38: Kejeniusan Katlyn Mengalahkan Sesilia
39 Chapter 39: Perang Kantor dan Kemenangan yang Sangat Mudah
40 Chapter 40: Konsekuensi dan Perayaan Kemenangan
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Chapter 1: Rumah Tangga Azka dan Visha
2
Chapter 2: Azka Mengalami Konfabulasi
3
Chapter 3: Mencari Petunjuk soal Sesilia
4
Chapter 4: Momen Flashback Sebelum Peristiwa Kecelakaan
5
Chapter 5: Wibawa Azka sebagai Pimpinan di Kantor
6
Chapter 6: Kemarahan Visha Tak Terkendali
7
Chapter 7: Azka Berkunjung ke Psikiater
8
Chapter 8: Perbaikan Hubungan antara Azka dan Visha
9
Chapter 9: Berada di Pinggir Jurang Perselingkuhan
10
Chapter 10: Pesan dari Noval dan Ajakan untuk Visha
11
Chapter 11: Merawat Visha yang Sakit Demam
12
Chapter 12: Memanggil Nama Kayla
13
Chapter 13: Tanggal Ulang Tahun Beda Tipis
14
Chapter 14: Rapat Besar Mengguncang Kantor
15
Chapter 15: Peringatan Tegas dari Noval
16
Chapter 16: Ajakan Makan Malam ke Kafe Kekinian
17
Chapter 17: Terjerembab Dalam Perasaan Tak Tertahankan
18
Chapter 18: Tak Ada Lagi Panggilan Bernama Kayla
19
Chapter 19: Sebuah Mimpi yang Terasa Nyata
20
Chapter 20: Ketika Hasrat Menguasai Logika
21
Chapter 21: Hadiah Ulang Tahun untuk Kayla
22
Chapter 22: Kalung Atas Nama Dua Wanita
23
Chapter 23: Keberangkatan Dinas ke Ibukota
24
Chapter 24: Mampir ke Dess Cake
25
Chapter 25: Ibunya Kayla Sudah Tahu
26
Chapter 26: Mimpi Kedua, Pertanda yang Diabaikan
27
Chapter 27: Rapat via Zoom Bersama Kayla
28
Chapter 28: Siasat Menghilangkan Jejak
29
Chapter 29: Visha Menyusul dan Pemberian Hadiah
30
Chapter 30: Pembohong Tidak Pandai vs Wanita Polos
31
Chapter 31: Ketika Kebohongan Berbuah Kebohongan Lain
32
Chapter 32: Paket Kilat Hadiah untuk Visha
33
Chapter 33: Kontroversi Pakaian Kotor yang Singkat
34
Chapter 34: Pertemuan Tak Sengaja yang Berbahaya
35
Chapter 35: Salah Paham dan Dicecar Noval saat Rapat
36
Chapter 36: Obrolan Azka dengan Tante Irma di Telepon
37
Chapter 37: Menjemput Kayla di Bandara
38
Chapter 38: Kejeniusan Katlyn Mengalahkan Sesilia
39
Chapter 39: Perang Kantor dan Kemenangan yang Sangat Mudah
40
Chapter 40: Konsekuensi dan Perayaan Kemenangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!