Keesokan paginya, sinar matahari yang samar-samar telah menembus tirai mewah kamar suite. Aruni perlahan terbangun, namun sensasi pertama yang menghantam kesadarannya adalah rasa pusing yang luar biasa hebat.
"Aarrkkhhh kepalaku...!" ringisnya sambil memegang pelipisnya yang berdenyut, seolah-olah ditusuk oleh ratusan jarum.
Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba meredakan pusing. Namun saat penglihatannya mulai jernih dan fokus, matanya membelalak sempurna. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Langit-langit penuh ukiran, lampu kristal, dan dinding berlapis kayu mahal ini jelas bukan kamar tidurnya yang sempit.
Rasa panik mulai menjalar. Pandangannya bergerak ke samping, dan jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.
Di sebelahnya, seorang pria asing yang tak ia kenal sedang tertidur pulas. Pria itu bertelanj*ng dada, dan tubuhnya berada di bawah selimut tebal yang sama dengan yang menutupi tubuh Aruni.
"Arrrggghhh.." Aruni hampir menjerit histeris, namun dengan refleks cepat ia langsung membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua tangannya. Matanya berair karena ketakutan yang mencekam.
"Apa... apa yang sebenarnya telah terjadi?" bisiknya gemetar.
Dengan tangan bergetar hebat, Aruni menurunkan pandangan dan pelan-pelan menyibak selimut yang menutupi dadanya. Tangisnya pecah tanpa suara saat mendapati dirinya tak mengenakan sehelai benang pun. Bintik-bintik merah di kulitnya dan rasa nyeri yang asing menjadi bukti nyata atas apa yang telah berlalu.
Ia panik luar biasa. Aruni memegang kepalanya erat-erat, memeras ingatan tentang apa yang terjadi semalam. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru semakin terasa ingin pecah. Memori terakhirnya hanyalah rasa kantuk luar biasa setelah meminum air pemberian dari Desi.
Tak ingin membuang waktu dalam ketakutan, Aruni bergegas bangkit dari tempat tidur. Saat kakinya menyentuh lantai, rasa sakit menyengat di area intimnya membuat tubuhnya terhuyung. Sambil berjalan tertatih-tatih, ia membungkuk memunguti seragam merah maroon dan pakaiannya yang berserakan menyedihkan di atas karpet.
Dengan menutupi tubuhnya menggunakan pakaian kotor itu, Aruni berlari kecil menuju kamar mandi. Di dalam, ia mengenakan seragamnya dengan jemari yang terus gemetar hebat. Derasnya air mata telah membasahi pipinya tanpa henti.
Setelah pakaiannya terpasang, Aruni keluar dari kamar mandi tanpa berani melirik sedikit pun ke arah tempat tidur, tempat pria yang telah mengambil kesuciannya masih terlelap.
Dengan pandangan yang kabur terhalang air mata dan langkah kaki yang goyah, Aruni berlari panik menuju pintu keluar. Saking terburu-burunya, tubuhnya bahkan hampir saja menabrak pintu kayu besar itu sebelum akhirnya berhasil membukanya dan melarikan diri ke dalam lorong hotel yang dingin
Aruni berlari keluar dari kamar 808 dengan derai air mata yang belum mereda. Langkah kakinya gontai, berusaha menjauh sejauh mungkin dari tempat kelam tersebut.
Tepat di ujung lorong, Harry asisten pribadi Edgar baru saja keluar dari lift. Sepanjang malam ia frustrasi mencari keberadaan tuannya yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Upayanya memeriksa ruang kontrol pun sia-sia karena jaringan CCTV hotel mengalami kerusakan fatal, tampaknya sengaja dirusak oleh seseorang yang ingin menjebak Edgar.
Saat melangkah di lorong lantai delapan, mata Harry menangkap sosok wanita berseragam pelayan yang berlari tergesa-gesa menyusuri koridor. Namun, Harry hanya sempat melihat bagian punggung wanita itu sebelum akhirnya sosok tersebut menghilang di balik pintu darurat.
Langkah Harry terhenti saat melihat salah satu pintu kamar suite terbuka sedikit. Tanpa membuang waktu, ia menerobos masuk. Betapa terkejutnya Harry saat mendapati sang atasan terbaring di atas ranjang, hanya berbalut selimut tebal dengan kondisi kamar yang berantakan.
"Tuan... Tuan Edgar...!" panggil Harry panik sambil menepuk pelan bahu pria itu.
Edgar mengerang halus. Perlahan ia membuka mata setelah semalaman suntuk terkuras tenaganya bersama wanita asing tersebut.
"Hari... Akh... Kenapa kepalaku sakit sekali!" keluh Edgar meringis, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut hebat.
"Tuan, apakah Anda semalaman berada di kamar ini? Barusan saya melihat seorang wanita keluar dari kamar ini sambil berlari tergesa-gesa," ujar Harry cemas.
Mendengar kata-kata itu, ingatan Edgar seketika berputar. Memori tentang gair4h hebat dan sentuhan hangat wanita semalam menghantam kesadarannya. Namun, akibat pengaruh zat kimia keras yang membuai akal sehatnya, bayangan wajah wanita itu sangat samar di ingatannya.
"Kenapa tidak kau cegah wanita itu, Harry?! Kau bodoh sekali!" omel Edgar geram, matanya membelalak penuh amarah dan penyesalan.
"Maaf, Tuan! Wanita itu cepat sekali perginya dan saya jauh lebih khawatir dengan kondisi Tuan saat melihat pintu kamar terbuka," bisik Harry menunduk takut.
Edgar mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kasur.
"Aku... Aku telah menodai wanita itu," gumam Edgar dengan nada suaranya yang bergetar menahan gejolak emosi. "Gara-gara minuman sialan itu! Ya, aku yakin ada yang menaruh obat ke dalam minumanku semalam. Apakah ini perbuatan Papah... atau musuhku?"
Aura dingin seketika memancar dari tubuh Edgar. Sebagai Presiden Direktur Ganendra Group, belakangan ini ia memang sedang menghadapi ancaman besar dari musuh bisnis yang bergerak di dalam bayangan, yang siap melakukan cara kotor apa pun untuk menghancurkan karier dan reputasinya.
*
*
Setibanya di rumah, Aruni melangkah dengan tubuh gemetar, setengah berlari menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang, sebuah kamar sempit yang dulunya merupakan gudang. Kamar lamanya yang luas di lantai dua telah direbut secara paksa oleh Dona atas desakan Nova. Demi melihat ayahnya bahagia dan terhindar dari pertengkaran rumah tangga, Aruni memilih mengalah dan menerima semua ketidakadilan itu tanpa protes.
Dari sudut dapur, Bi Sumi, asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun mengabdi di sana menatap langkah gontai Aruni dengan mata berkaca-kaca. Hatinya teriris. Ia sudah menganggap Aruni seperti anaknya sendiri dan kerap kali menangis diam-diam saat melihat nona mudanya diperlakukan seperti asing di rumahnya sendiri.
Pintu kamar terhempas pelan. Aruni langsung menguncinya dari dalam dan menerobos masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan kucuran air dingin mengguyur seluruh tubuhnya yang masih terbalut seragam pelayan kotor.
Di bawah guyuran air, pertahanan Aruni runtuh sepenuhnya. Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi, meremas dadanya yang terasa dihantam beban yang teramat berat. Air mata dan kucuran shower menyatu membasahi paras cantiknya.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku...? Setelah Mamah tiada, semua kebahagiaan itu lenyap..." tangis Aruni tersedu-sedu, suaranya parau tercekik rasa sakit. "Mamah... Aruni kangen Mamah..."
Ia menggosok kulit lengan dan lehernya dengan kasar hingga kemerahan, mencoba menghapus bayangan jejak sentuhan semalam. Rasa jijik dan penyesalan mendalam menguasai pikirannya. Masa depan yang ia susun rapi lewat impiannya berkuliah di Universitas Airlangga kini terasa hancur berantakan dalam sekejap.
Sementara itu, di kamar 808 Hotel Grand Panama suasana hening menyelimuti ruangan. Edgar yang baru saja menyelesaikan sapuan matanya ke sekeliling tempat tidur, ia mendadak terpaku.
Pandangannya tertuju pada bercak merah pekat yang membekas jelas di atas seprai putih bersih tempatnya terbaring.
Edgar tertegun. Sepotong bukti bisu itu menegaskan satu fakta yang menghantam kesadarannya secara telak.
‘Wanita itu... masih gadis...’ batin Edgar gemetar.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan pada dirinya sendiri telah membakar dadanya. Rahangnya mengeras saat rasa bersalah yang teramat sangat menyergap hatinya.
‘Akh! Aku benar-benar gila sudah merenggut kesuciannya! Aku bukan binatang... Siapa pun dia, aku harus mencarinya dan mempertanggungjawabkan perbuatanku!’ tegaskannya dalam hati dengan raut wajah penuh tekad.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Sri Rahayu
Edgar....ayo cari siapa gadis yg sdh kau renggut kesucian nya...lanjut Thorr😘😘😘
2026-08-10
3
depoll_poll aje 😉😉😉
ayo Edgar gercep harus cari siapa gadis yg membuat kamu terpikat meskipun dengan kesalahan,,gara2 minuman yg sudah di beri bubuk bergairah..
kamu ttp harus bertanggung jawab n mencari nya terus
2026-08-11
1
Patrick Khan
aku gadis yg kau nodai ed 🤣🤣🤣🤣
2026-08-12
1