Episode 3

Bab 3: Ancaman yang Datang Mengetuk Pintu

"Kami dari kepolisian. Buka pintunya."

Alexander Wijaya tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di tengah kamar kos yang sempit, handuk masih tergantung di bahu, rambutnya setengah basah. Di meja lipat, dokumen "Kronologi Restoran" baru saja selesai dicadangkan. Ponselnya masih menyala, menampilkan folder bukti Anthony Wongso.

Ketukan kedua datang lebih keras.

"Pak Alexander Wijaya?"

Kali ini ada nada tidak sabar.

Alexander mengambil Lencana Advokat Herman Wijaya dari meja, memasukkannya ke saku bagian dalam, lalu merapikan kaus polosnya. Ia tidak memakai jas. Tidak perlu. Orang yang datang pagi-pagi bersama polisi biasanya ingin melihatnya panik, bukan rapi.

Ia membuka pintu.

Dua pria berdiri di lorong. Yang pertama mengenakan kemeja cokelat muda dengan kartu identitas kepolisian tergantung di dada. Yang kedua lebih muda, memegang map tipis dan ponsel. Di belakang mereka, Anthony Wongso berdiri dengan wajah pucat yang sudah dipaksa kembali sombong.

Beberapa penghuni kos membuka pintu sedikit. Sepasang mata muncul dari celah-celah kayu. Lorong yang biasanya hanya berbau sabun murah dan kopi sachet mendadak menjadi kaku dan sunyi.

"Alexander Wijaya?" tanya polisi pertama.

"Benar. Boleh saya lihat surat tugas dan dasar kedatangan Bapak?"

Pertanyaan itu membuat polisi muda mengangkat alis.

Anthony menyeringai. "Baru juga dibuka, sudah sok prosedural."

Alexander menatapnya sekilas. "Justru karena dibuka, prosedur harus jelas."

Polisi pertama mengeluarkan surat tugas. "Saya dari Unit Reskrim Polres Kota Cahaya. Ada laporan dugaan pemerasan dan pengancaman. Saudara Anthony Wongso melapor bahwa Anda meminta uang dengan ancaman membuka urusan pribadinya."

Bisik-bisik langsung meledak kecil di lorong.

"Pemerasan?"

"Pengacara itu?"

"Kemarin malam kayaknya pulang basah kuyup..."

Alexander membaca surat tugas itu sampai selesai. Nomor surat. Nama petugas. Tanggal. Ia mencatat semuanya dalam kepala, lalu mengembalikan dengan dua tangan.

"Terima kasih, Pak. Apakah ini undangan klarifikasi atau penangkapan?"

Polisi muda mendengus. "Banyak tanya sekali. Kalau tidak salah, ikut saja."

Alexander mengalihkan pandangan kepadanya. "Kalau Bapak datang untuk klarifikasi, saya kooperatif. Kalau penangkapan, saya berhak tahu surat perintah dan dasar bukti permulaannya. Itu bukan banyak tanya. Itu hukum acara."

Lorong mendadak lebih sunyi.

Anthony melangkah maju. "Jangan main kata-kata. Kau mengancam Priscilla. Kau bilang akan mempermalukan kami kalau tidak dibayar."

"Kapan?"

"Kemarin malam."

"Jam berapa?"

Anthony berhenti sepersekian detik. "Sekitar pukul sembilan."

Alexander mengangguk pelan. "Menarik. Pukul sembilan lewat dua belas menit, saya sedang berdiri di depan meja restoran, memotret cek yang kamu letakkan sendiri. Pukul sembilan lewat lima belas, manajer restoran menyatakan akan mengamankan CCTV. Pukul sembilan lewat dua puluh, saya sudah keluar. Ancaman yang mana?"

Anthony mengeluarkan ponsel. "Ini."

Ia memutar rekaman pendek.

Suara Alexander terdengar dari speaker, datar tetapi kasar karena potongan audio yang tidak utuh.

"...kalau tidak mau semua orang tahu... bayar... jangan salahkan aku..."

Beberapa penghuni kos menahan napas.

Polisi muda memandang Alexander dengan ekspresi seolah kasus sudah selesai. "Nah. Itu suara Anda, kan?"

Alexander tidak menjawab cepat. Ia mendengarkan gema rekaman itu dalam ingatannya. Ada jeda yang terlalu bersih setelah kata "bayar". Ada desis ruangan yang berubah mendadak sebelum frasa "jangan salahkan aku".

Di sudut pandangannya, panel biru berkedip.

Pengumpulan Bukti aktif.

Objek: rekaman audio pendek.

Indikasi: potongan multi-sumber; latar suara tidak konsisten; jeda digital pada detik 03 dan 07; konteks kalimat hilang.

Alexander mengangkat tangan. "Pak, boleh diputar sekali lagi?"

Anthony tertawa. "Mau cari alasan?"

"Saya mau mendengar bukti yang katanya membuat polisi datang ke kos saya pagi-pagi."

Polisi pertama menatap Anthony. "Putar lagi."

Rekaman itu diputar.

Kali ini Alexander menutup mata. Ia tidak mengandalkan telinga saja. Ia mengingat percakapan telepon lama dengan Priscilla, beberapa minggu sebelum putus. Saat itu Priscilla meminta uang untuk membeli hadiah ulang tahun temannya, dan Alexander menolak karena harus membayar SPP Nathan. Ia ingat kalimatnya.

Kalau uang kos dan SPP belum aman, aku tidak bisa bayar. Jangan salahkan aku kalau bulan ini aku harus menolak.

Kalimatnya dipotong.

Kata "semua orang tahu" berasal dari percakapan lain, saat Priscilla takut hubungan mereka diketahui teman-teman elitnya.

Anthony menggabungkannya.

Rapi, tetapi tidak cukup rapi.

Alexander membuka mata. "Rekaman ini hasil edit."

Anthony langsung membentak, "Fitnah lagi?"

"Bukan fitnah. Analisis awal." Alexander menatap polisi pertama. "Pak, pada detik ketiga ada perubahan noise latar. Sebelum kata 'bayar', suara ruangan lebih kosong, seperti panggilan di kamar. Setelahnya muncul gema restoran atau ruangan luas. Lalu di detik ketujuh, sebelum frasa 'jangan salahkan aku', ada jeda digital sangat pendek. Kalau Bapak kirim ke forensik digital, potongannya akan terlihat."

Polisi muda mengernyit, tetapi wajahnya tidak lagi seyakin tadi.

Anthony menunjuknya. "Kau bukan ahli forensik."

"Betul. Karena itu saya minta diperiksa oleh ahli, bukan dipercaya begitu saja." Alexander mengambil ponselnya dan menampilkan foto cek dari restoran. "Sebagai tambahan, semalam Saudara Anthony menyerahkan cek bermasalah kepada saya di tempat umum. Saya menolak dan mendokumentasikan. Ada CCTV, saksi tamu, dan manajer restoran. Laporan pemerasan yang dibuat pagi ini muncul setelah saya membongkar cek itu."

Polisi pertama mengambil ponsel Alexander, melihat foto tanpa menyentuh layar terlalu lama. Sikapnya berubah sedikit. Ia tetap kaku, tetapi tidak lagi meremehkan.

"Anda punya kronologi tertulis?"

"Ada. Sudah saya buat sebelum Bapak datang."

Anthony menegang.

Alexander masuk sebentar, mengambil satu lembar cetak dari meja. Ia memang belum sempat mencetak banyak, tetapi printer kecil milik penghuni kos sebelah semalam dipakainya setelah membayar beberapa ribu rupiah. Kertas itu masih hangat ketika ia menaruhnya di map plastik.

"Ini kronologi awal. Salinan digital sudah dicadangkan. Saya bersedia datang ke Polres untuk klarifikasi, dengan catatan rekaman Saudara Anthony diamankan sebagai barang bukti dan tidak hanya disimpan di ponsel pribadinya."

Polisi muda membuka mulut, tetapi polisi pertama mengangkat tangan.

"Cukup." Ia menatap Alexander lebih lama. "Saudara akan kami undang klarifikasi. Tidak perlu dibawa paksa sekarang. Tapi jangan meninggalkan Kota Cahaya."

"Saya tidak berniat lari, Pak."

Anthony tidak bisa menahan diri. "Pak, dia memutarbalikkan fakta! Kalau dibiarkan, dia akan menghilangkan bukti."

Alexander menatapnya. "Bukti yang mana? Rekaman editan di ponselmu, atau cek yang semalam kamu minta aku terima?"

Wajah Anthony memerah.

Di lorong, seorang ibu kos yang sejak tadi mengintip berbisik cukup keras, "Kalau benar tidak salah, kenapa takut CCTV?"

Kalimat sederhana itu menusuk lebih tajam daripada argumen panjang.

Anthony menoleh, tetapi tidak berani membentak orang tua itu di depan polisi.

Polisi pertama memasukkan kronologi Alexander ke map. "Kami akan hubungi Anda lagi hari ini."

"Baik, Pak."

Sebelum pergi, polisi muda masih sempat menatap kamar kos Alexander. Meja lipat, kipas tua, kasur tipis, jas hitam yang menggantung di paku.

"Pengacara tinggal di sini?" gumamnya, tidak cukup pelan.

Alexander mendengarnya.

Ia tersenyum tipis. "Untuk sementara."

Dua kata itu membuat polisi muda diam. Entah mengapa, ia merasa orang di depannya tidak sedang membela keadaan miskinnya. Ia sedang menandai titik awal.

Anthony pergi terakhir. Ketika melewati Alexander, ia berbisik, "Kau akan menyesal."

Alexander menjawab tanpa menoleh, "Simpan kalimat itu untuk BAP."

Pintu kos ditutup.

Baru setelah lorong kembali sepi, Alexander membiarkan napasnya keluar. Tekanan pertama sudah datang, tetapi belum pecah. Anthony memakai polisi sebagai palu, dan palu itu untuk sementara tertahan oleh prosedur.

Panel Status muncul.

Ting! Ancaman hukum formal terkonfirmasi.

Misi lanjutan aktif: Bersihkan nama dari laporan pemerasan palsu.

Tujuan: buktikan rekaman diedit, kunci sumber cek bermasalah, dan balikkan status dari terlapor menjadi pelapor.

Hadiah: progres skill Pengumpulan Bukti dan Argumentasi Hukum.

Alexander menatap misi itu lama.

"Baik," katanya. "Kita main sesuai hukum."

Malam harinya, jauh dari kos Alexander, Herlina Halim duduk sendirian di ruang tamu rumah kecil keluarga Wijaya. Lampu dinding menyala redup. Di atas meja, ada foto lama yang warnanya mulai pudar.

Herman Wijaya berdiri dalam foto itu, lebih muda, mengenakan kemeja putih dan senyum yang tenang. Di sampingnya, Herlina yang masih muda memeluk bayi Alexander.

Jari Herlina menyentuh wajah Herman di foto.

"Anakmu mulai mirip kamu," bisiknya.

Di laci meja, sebuah amplop tua terselip di bawah kain. Herlina membukanya setengah, memperlihatkan sudut dokumen yang sudah menguning. Ada nama Herman di sana. Ada cap institusi. Ada satu tanggal yang selama bertahun-tahun ia coba lupakan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Alexander masuk.

Bu, aku baik-baik saja. Kalau ada orang tanya soal aku, jangan panik. Aku sedang menangani masalah kecil.

Herlina membaca pesan itu, tetapi bukannya tenang, matanya justru berkaca-kaca.

Masalah kecil.

Herman dulu juga selalu menyebut badai sebagai masalah kecil.

Herlina menutup amplop itu lagi. Tangannya ragu di atas laci, seolah ingin mengunci masa lalu kembali, tetapi sesuatu di wajah Alexander dalam foto membuatnya tidak sanggup.

"Belum waktunya, Alex," bisiknya. "Tapi mungkin... sebentar lagi."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!