Shanum Al-Makthoum

Aroma daun teh hangat bercampur gula batu menyeruak pelan di dalam ruangan klinik. Cahaya fajar yang menerobos masuk lewat celah jendela kayu membias di atas meja tempat secangkir teh panas diletakkan.

Aran berbaring telentang, menatap langit-langit kayu ruangan yang berukir sederhana. Setiap tarikan napas masih menyisakan rasa panas di rusuk kirinya, namun fokus pikiran Aran teralih sepenuhnya pada bayangan dokter muda yang baru saja melangkah keluar.

Di dalam dadanya yang lapang, sepercik rasa hangat yang sudah lama mati mendadak membara kembali. Kelembutan Ning Layla, ketenangannya saat memegang pisau bedah di tengah ancaman bahaya, serta sorot matanya yang bersih tanpa menghakimi, telah menyentuh celah terdalam jiwa Aran.

Namun, rasa kagum itu hanya bertahan beberapa detik sebelum Aran menarik napas panjang dan menepisnya dengan kasar.

Sadarlah, Ardebaran, batin Aran memperingatkan dirinya sendiri.

Mata Aran dipejamkan rapat-rapat. Gambaran jemari Layla yang lembut dan bersih berbenturan secara kontras dengan ingatan akan tangan kirinya sendiri—tangan yang pernah menggenggam pemicu senapan jitu, menumpahkan darah di lorong-lorong kelam, dan mematikan nyawa tanpa keraguan.

Ia memandang telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka dan kapalan keras. Layla adalah sosok anak manusia yang bertumbuh di lingkungan suci, dibesarkan dengan doa-doa, dan mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan sesama. Sementara dirinya? Aran adalah serpihan dosa berjalan, seorang eksekutor dari kedalaman dunia hitam yang bahkan tak tahu bagaimana cara berdoa.

Membayangkan dirinya berada di samping wanita sesuci Layla merasa seperti menodai lembaran kain putih dengan jelaga hitam. Aran terkekeh pelan—sebuah terkekeh dingin dan garing yang menertawakan dirinya sendiri. Ia tahu pasti batas dirinya. Pria seperti dia tidak berhak mengharapkan kehangatan, apalagi dari seseorang seperti Ning Layla.

Pintu kamar mandi luar terdengar terbuka, disusul langkah kaki kaku Mubin yang masuk membawa baskom berisi air hangat dan handuk bersih. Remaja itu masih tampak sedikit ragu dan takut untuk mendekat, matanya berkali-kali melirik ke arah dada Aran yang terbebat kassa tebal.

"P-permisi, Mas..." sapa Mubin gagap, membungkukkan badannya secara berlebihan. "Saya mau antar handuk hangat. Disuruh Ning Layla buat usap keringat Mas."

Aran memiringkan kepalanya sedikit. Sikap dingin dan tenangnya kembali terpasang sempurna bagai perisai baja.

"Terima kasih banyak, Kang Mubin," sahut Aran dengan suara berat, teratur, dan sangat sopan. "Maaf sudah merepotkanmu sejak Subuh tadi."

Mubin mengerjap. Ia membayangkan pria berotot kekar dengan luka tembak ini akan bersuara kasar layaknya preman pasar. Namun, bahasa tubuh dan cara bicara Aran yang begitu santun justru membuat Mubin kehilangan rasa takutnya.

"Nggak apa-apa, Mas. Mas hebat banget pas dicabut pelurunya tadi nggak teriak sama sekali. Kalau saya sih pasti udah pingsan sepuluh kali," ujar Mubin polos seraya meletakkan baskom di atas meja kecil.

Aran menyunggingkan senyum tipis yang berjarak. "Rasa sakit itu hanya sinyal di otak, Kang. Kalau di kendalikan dengn baik, dia pasti akan hilang sendiri."

"Waduh... omongannya berat banget kayak kitab gundul," gumam Mubin terkagum-kagum sebelum pamit keluar ruangan.

Memasuki pukul sembilan pagi, suasana di area depan Pesantren Al-Ikhlas mendadak sedikit riuh. Suara derum mesin mobil mewah memecah ketenangan halaman pesantren yang teduh oleh pohon-pohon beringin tua.

Sebuah SUV hitam berkilat berhenti tepat di depan kediaman Kyai Syahuri. Dua orang pengawal bersafari hitam keluar lebih dulu untuk membukakan pintu penumpang belakang.

Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang wanita muda dengan anggun. Ia mengenakan setelan formal modern berwarna krem yang dipadu dengan jilbab pashmina kain sutra yang tertata sangat rapi. Langkah kakinya tegas, dagunya terangkat sedikit, dan matanya memancarkan ketajaman seorang pimpinan korporat.

Dialah Shanum Al-Maktoum.

Bagi Shanum, Pesantren Al-Ikhlas bukan sekadar lembaga pendidikan. Di sinilah, sepuluh tahun lalu sebelum ia melanjutkan studi bisnisnya ke luar negeri, ia menghabiskan masa remajanya mendalami ilmu agama di bawah bimbingan langsung Kyai Syahuri. Tempat ini adalah oasis pribadinya, satu-satunya tempat di mana ia bisa melupakan sejenak beban berat sebagai CEO Al-Maktoum Group.

"Assalamu’alaikum, Bah," sapa Shanum lembut saat melihat Kyai Syahuri melangkah keluar dari teras rumah.

Aura kaku dan dingin khas pimpinan perusahaan yang melekat pada Shanum luluh seketika. Ia membungkuk hormat dan mencium tangan guru spiritualnya dengan penuh takzim.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Nak Shanum," jawab Kyai Syahuri dengan senyum hangat yang merekah luas. "Alhamdulillah... Nak Shanum bisa menyempatkan waktu datang ke sini di tengah kesibukan Ibu Kota Jakarta."

"Shanum rindu dengan suasana di sini, Bah. Lagi pula, ada beberapa hal terkait amanah Almarhumah Ibu yang ingin Shanum konsultasikan," tutur Shanum.

Meski tutur katanya santun, raut lelah di wajah cantiknya tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Garis-garis ketegangan akibat persaingan bisnis dan tekanan politik di Jakarta terukir tipis di sekitar matanya.

Kyai Syahuri mengangguk paham. "Mari masuk dulu, Nak. Layla sedang di klinik belakang, nanti Abah panggilkan untuk menemani."

Saat melangkah menyusuri selasar kayu menuju ruang tamu dalam, pandangan mata Shanum yang tajam tak sengaja melirik ke arah lorong samping yang menghubungkan kediaman Kyai dengan klinik pesantren. Ia melihat dua orang pengawal pribadi ayahnya yang bertugas di daerah perbatasan tampak berdiri berjaga di kejauhan dengan wajah tegang.

Shanum menghentikan langkahnya sejenak. "Bah... apakah sedang ada tamu khusus di klinik?"

Kyai Syahuri menghentikan langkahnya, menoleh pelan lalu tersenyum teduh. "Bukan tamu, Nak. Hanya seorang Pria yang terdampar di sungai tadi Subuh. Tubuhnya terluka parah, jadi Layla dan Abah merawatnya di sana."

Shanum mengernyitkan alisnya tipis. Sebagai seorang wanita yang terbiasa berpikir rasional dan penuh kewaspadaan tinggi, naluri bisnis dan keamanannya langsung terpicu. Seseorang terdampar dengan luka parah di area perbatasan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele.

"Terluka parah?" gumam Shanum pelan, nada suaranya berubah sedikit kritis. "Apakah Abah sudah tahu pasti siapa dia? Zaman sekarang sangat berbahaya menampung orang asing tanpa identitas yang jelas, Bah."

Kyai Syahuri terkekeh pelan, menepuk bahu Shanum dengan penuh kasih sayang. "Pintu pesantren ini dibentuk untuk memberi perlindungan, Shanum, bukan untuk memeriksa dan mengadili perjalanan hidup seseorang. Selama dia membutuhkan pertolongan, dia adalah tamu Allah."

Shanum menghembuskan napas pelan, menyadari keilahian cara pandang gurunya yang tak pernah berubah. Namun di dalam hatinya, rasa penasaran dan kecurigaan khas seorang pimpinan korporat mulai tumbuh. Shanum melirik sekali lagi ke arah lorong klinik yang remang, tak menyadari bahwa di balik pintu kayu ruangan itu, seorang pria dingin berdarah dingin sedang mengamati gerak-gerik dan langkah kakinya dengan ketajaman analisis taktis dari jarak jauh.

Episodes
1 Kegagalan Misi Viper-1
2 Pondok Pesantren Al-Ikhlas
3 Shanum Al-Makthoum
4 Tatap Mata Di Ujung Koridor
5 Maksud Terselubung Gus Azhar
6 Salah Faham
7 Gradasi Warna dan Gestur Mikro
8 Peretas di Balik Dinding
9 "Apakah Tuhan itu benar-benar ada?"
10 Lampu Merah dan Sinyal dari Bayangan
11 Perantara yang Ditakdirkan
12 Teh Pahit dan Jejak Pemburu
13 Pernyataan Defensif Aran
14 Strategi di Balik Hujan
15 Kilat di Ruang Mesin
16 Pengawal Aneh
17 Kemenangan Diatas Kertas
18 Di Balik Gelas Kristal
19 Bercak di Lengan Hitam
20 Melangkah Kembali ke Pesantren
21 Lamaran Ning Layla
22 Tawa di Panti Asuhan
23 Pengintai Yang Mulai Mengusik
24 Sabotase Lift Al-Makthoum
25 Kedamaian di Dalam Kegelapan
26 Sandaran Sejati
27 Interogasi di Ruang Kontrol
28 Jejak di Balik Lembaran Berkas
29 Persekutuan Tiga Puluh Persen
30 Perlawanan Somasi Kubu Lawan
31 Garis Depan dan Gertakan Hukum
32 Informan Akurat Surya Wijaya
33 Taktik Pengepungan Dua Titik
34 Benturan di Jalur Cepat
35 Sentuhan dan Sumpah
36 Meja Makan dan Tanda Tanya
37 Tamu dari Pesantren
38 Perdebatan Dibawah Atap Al-Makthoum
39 Benang Merah dan Persekutuan Bayangan
40 Jembatan Badai dan Hadiah Kecil
41 Perang di Balik Layar Kaca
42 Kebenaran Yang Harus Ditegakkan
43 Menyusup ke Sarang Serigala
44 Serangan Balik dari Kamar Berita
45 Retakan Kegelapan
46 Bentrokan di Tengah Badai
47 Duel di Benteng Bayangan
48 Ikatan di Bawah Badai
49 Fajar Setelah Badai
50 Sisa Ancaman dan Langkah Pertama
51 Diplomasi Kue dan Kemeja Kasual
52 Harapan di Balik Jeruji
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Kegagalan Misi Viper-1
2
Pondok Pesantren Al-Ikhlas
3
Shanum Al-Makthoum
4
Tatap Mata Di Ujung Koridor
5
Maksud Terselubung Gus Azhar
6
Salah Faham
7
Gradasi Warna dan Gestur Mikro
8
Peretas di Balik Dinding
9
"Apakah Tuhan itu benar-benar ada?"
10
Lampu Merah dan Sinyal dari Bayangan
11
Perantara yang Ditakdirkan
12
Teh Pahit dan Jejak Pemburu
13
Pernyataan Defensif Aran
14
Strategi di Balik Hujan
15
Kilat di Ruang Mesin
16
Pengawal Aneh
17
Kemenangan Diatas Kertas
18
Di Balik Gelas Kristal
19
Bercak di Lengan Hitam
20
Melangkah Kembali ke Pesantren
21
Lamaran Ning Layla
22
Tawa di Panti Asuhan
23
Pengintai Yang Mulai Mengusik
24
Sabotase Lift Al-Makthoum
25
Kedamaian di Dalam Kegelapan
26
Sandaran Sejati
27
Interogasi di Ruang Kontrol
28
Jejak di Balik Lembaran Berkas
29
Persekutuan Tiga Puluh Persen
30
Perlawanan Somasi Kubu Lawan
31
Garis Depan dan Gertakan Hukum
32
Informan Akurat Surya Wijaya
33
Taktik Pengepungan Dua Titik
34
Benturan di Jalur Cepat
35
Sentuhan dan Sumpah
36
Meja Makan dan Tanda Tanya
37
Tamu dari Pesantren
38
Perdebatan Dibawah Atap Al-Makthoum
39
Benang Merah dan Persekutuan Bayangan
40
Jembatan Badai dan Hadiah Kecil
41
Perang di Balik Layar Kaca
42
Kebenaran Yang Harus Ditegakkan
43
Menyusup ke Sarang Serigala
44
Serangan Balik dari Kamar Berita
45
Retakan Kegelapan
46
Bentrokan di Tengah Badai
47
Duel di Benteng Bayangan
48
Ikatan di Bawah Badai
49
Fajar Setelah Badai
50
Sisa Ancaman dan Langkah Pertama
51
Diplomasi Kue dan Kemeja Kasual
52
Harapan di Balik Jeruji

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!