Bab 2: Desis Bayangan Darah

Bayangan-bayangan itu bergerak secepat kilat. Enam prajurit berpakaian serba hitam melompat dari dahan pohon mati, mengacungkan belati beracun yang berkilat kebiruan.

"Hati-hati, itu Pasukan Bayangan Vance!" teriak Lyra seraya melemparkan serbuk alkimia hijau ke udara.

Ledakan asap beracun meletus seketika, membuat tiga pembunuh bayaran terbatuk-batuk dan kehilangan pijakan. Kaelen memanfaatkan celah itu tanpa ragu. Ia mencabut pedangnya. Meski tampak berkarat dan tak berseri, saat Qi dalam tubuh Kaelen dikumpulkan, pedang itu memancarkan pendar emas keperakan yang membakar udara.

"Jurus Pedang Hampa: Tebasan Gelombang Pertama!"

Cahaya pedang membelah malam. Suara benturan logam bergema keras di tengah reruntuhan, memecah keheningan lembah yang mencekam.

Bukan suara baja beradu baja, melainkan desisan energi yang merobek udara. Tebasan Gelombang Pertama milik Kaelen bukanlah sekadar ayunan pedang, melainkan gelombang energi Qi murni yang meliuk-liuk, membelah bayangan di hadapannya. Dua pembunuh bayaran yang tersisa, yang masih berdiri tegak setelah asap beracun Lyra, terhuyung mundur. Belati mereka, yang sebelumnya memancarkan aura kematian, kini bergetar di tangan, seolah tak mampu menahan tekanan spiritual dari pedang berkarat itu. Salah satu dari mereka, yang jubahnya sobek di bagian dada, mengeluarkan erangan tertahan saat gelombang energi itu menyapu, membuat tulang rusuknya berderak nyeri dan memaksanya berlutut. Yang lain, lebih cekatan, melesat ke samping untuk menghindari serangan langsung, namun tetap tak luput dari sapuan kejut yang membuat pendengarannya berdenging dan pandangannya mengabur sesaat.

Lyra tak menyia-nyiakan momen itu. Sementara Kaelen mengarahkan pedangnya pada pembunuh yang berlutut, Lyra, dengan gerak cekatan seorang penari kematian, melemparkan sepasang jarum perak yang berkilauan. Jarum itu melesat tanpa suara, menembus titik vital di leher pembunuh tersebut. Tubuh pria itu kejang sesaat, lalu roboh tak bernyawa dengan belati beracun yang terlepas dari genggaman. Mata Lyra yang tajam kemudian beralih pada pembunuh terakhir yang masih limbung. Tangannya bergerak lagi, kali ini bukan serbuk, melainkan sebuah bola kecil berwarna ungu pekat yang dilemparkannya. Bola itu pecah di udara, memancarkan kabut tebal berbau amis yang menyengat. Pembunuh itu terbatuk hebat, matanya memerah, dan air mata mengalir deras. Ia mencoba melarikan diri, namun kabut itu seperti memiliki kehidupan sendiri, melilit kakinya dan membuatnya tersandung.

Tanpa perlu diperintah, Kaelen maju selangkah. Pedang besinya bersinar lebih terang, memotong kabut ungu Lyra dan menerangi wajah panik sang pembunuh.

"Siapa yang mengirimmu?" suara Kaelen berat, dipenuhi aura dingin yang menekan.

Pembunuh itu terbatuk lagi, air liurnya bercampur darah, seolah racun dalam kabut Lyra mulai bekerja. "Liliyana..." bisiknya susah payah, suaranya tercekat.

Ia mencoba merogoh sesuatu dari balik jubahnya, mungkin sebuah pisau tersembunyi, tapi Kaelen lebih cepat. Sebuah tebasan horizontal yang cepat—bukan untuk membunuh, melainkan untuk melucuti—menghantam pergelangan tangannya. Sengatan listrik yang melumpuhkan membuat benda yang hendak diraihnya jatuh ke tanah. Itu adalah sebuah liontin kecil berbentuk sayap kelelawar, diukir dengan simbol aneh yang belum pernah Kaelen lihat.

"Liliyana?" Lyra mengulang nama itu, matanya menyipit. "Pengkhianat dari Sekte Bulan Darah? Jadi dia akhirnya menunjukkan wajahnya."

Ia mendekat, mengabaikan tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya, dan menendang liontin itu agar lebih dekat. "Liontin ini... itu adalah lambang faksi rahasia di dalam Sekte Bulan Darah, faksi yang dikenal suka memburu artefak kuno untuk kepentingan pribadi, bukan untuk sekte. Mereka disebut 'Para Pemburu Jiwa'."

Lyra memandangi pembunuh yang kini terhuyung dan ambruk, napasnya terengah-engah. Racun Lyra tidak membunuh dengan cepat, melainkan menyiksa, melumpuhkan, dan memeras informasi. "Dia mencari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, Kaelen. Dia tahu kita juga menuju ke sana."

Kaelen menatap liontin itu, lalu ke arah kegelapan hutan yang kembali menyelimuti. Pikirannya berpacu, menghubungkan potongan-potongan teka-teki. "Jiwa Artefak Reruntuhan Langit... Jadi ini bukan sekadar perampokan biasa, Lyra. Ini adalah perburuan. Mereka tahu tentang keberadaan kita, atau setidaknya tentang niat kita untuk mencapai reruntuhan itu."

Ia menghela napas, Qi di pedangnya meredup, kembali menjadi besi berkarat biasa. "Liliyana... Aku pernah mendengar namanya dalam desas-desus. Seorang kultivator kejam yang terkenal akan metode liciknya dalam memburu artefak, bahkan jika itu berarti mengkhianati sektenya sendiri. Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan dia?" Kaelen menunjuk pada pembunuh yang kini mengerang kesakitan, tergeletak tak berdaya dengan tubuh gemetar.

"Kita tidak punya waktu untuk menginterogasinya lebih jauh, Kaelen. Racun saya tidak akan memberinya banyak waktu lagi, dan kita tidak bisa membuang-buang waktu di sini," jawab Lyra, matanya bergerak waspada ke sekeliling. "Faksi 'Pemburu Jiwa' ini sangat licik. Jika Liliyana mengirim Pasukan Bayangan Vance, itu berarti dia sangat serius. Dia tidak akan mengirimkan mereka tanpa rencana cadangan."

Ia menoleh ke arah Kaelen dengan ekspresi serius. "Kita harus bergerak. Keberadaan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit terlalu penting untuk jatuh ke tangan orang seperti dia. Jika dia berhasil menguasai artefak itu, bukan hanya Sekte Bulan Darah yang akan menghadapi kekacauan, tapi seluruh wilayah ini bisa terancam."

Sebuah desiran angin dingin melintas, membawa serta aroma darah dan tanah basah. Ancaman baru telah terungkap, dan perjalanan menuju reruntuhan kuno kini terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Mereka tidak lagi hanya menghindari bahaya, tetapi kini berlomba melawan waktu dan musuh yang kejam.

Kaelen mengnoduk, sorot matanya mengeras. Tidak ada waktu untuk keraguan. "Benar. Kita tinggalkan dia. Kematiannya hanya akan menjadi peringatan bagi yang lain, atau setidaknya membuat mereka berpikir dua kali. Racunmu akan melakukan sisanya."

Lyra mengamati pembunuh yang kejang-kejang di tanah, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa suara, menekan titik vital di lehernya. Desahan terakhir terlepas dari bibirnya yang membiru, dan tubuh itu diam, kejang-kejangnya mereda.

"Dia tidak akan menderita lagi, dan kita tidak meninggalkan jejak yang tidak perlu," gumam Lyra dengan ekspresi datar. "Mari, Kaelen. Setiap detik berharga."

Mereka bergegas melintasi rerimbunan, meninggalkan mayat-mayat itu di bawah naungan rembulan yang samar, ditelan oleh keheningan hutan yang dingin.

Hutan yang sebelumnya terasa sunyi kini dipenuhi desiran angin yang seolah membawa bisikan ancaman. Kaelen berjalan di depan, Pedang Besi Berkarat miliknya terasa dingin di sisi pinggulnya, namun keberadaannya memberi ketenangan yang aneh di tengah kekalutan. Indra kultivatornya diperketat; setiap bayangan, setiap patahan ranting, dan setiap aroma lembap di udara menjadi potensi bahaya.

Lyra mengikutinya dengan langkah ringan, nyaris tanpa suara. Matanya yang tajam menyisir setiap detail, mencari tanda-tanda jebakan atau pengintai yang tersembunyi. Mereka bergerak bukan hanya dengan kecepatan fisik, tetapi juga dengan kecepatan pikiran, memetakan rute dan mengantisipasi setiap kemungkinan serangan susulan. Aura gelap yang ditinggalkan oleh Pemburu Jiwa masih terasa menguar, meracuni atmosfer malam.

"Liliyana tidak pernah bergerak tanpa perhitungan," Kaelen memecah keheningan dengan suara rendah, nyaris berbisik. "Faksi 'Pemburu Jiwa' itu terkenal dengan taktik kotor dan jaringan informan mereka. Mereka pasti sudah lama mengincar Jiwa Artefak Reruntuhan Langit ini."

"Dan mereka tahu kita mengejarnya," sambung Lyra. "Itu berarti ada mata-mata di antara kita, atau seseorang yang tidak sengaja membocorkan informasi. Tapi siapa, dan bagaimana?"

Ia berhenti sejenak, meneliti jejak kaki samar di tanah yang baru mereka lewati. "Jejak kaki ini... bukan dari Pasukan Bayangan Vance. Terlalu ringan, terlalu anggun. Milik seorang wanita, dan dia terburu-buru."

Lyra menunjuk pada bekas pijakan yang hampir tak kasatmata, sebuah pola yang hanya bisa dikenali oleh ahli penjejak. "Dia bergerak lebih dulu, Kaelen. Liliyana sendiri."

Kaelen berjongkok, mengamati dengan saksama. "Sepatu bot khusus kultivator, seringan bulu, dan meninggalkan jejak minim. Dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dia sudah berada di sini, di garis depan perburuan ini."

Detik berikutnya, sebuah desis halus menarik perhatian mereka. Kaelen sigap menarik Lyra mundur, Pedang Besi Berkaratnya sudah terhunus, memancarkan aura kegelapan yang samar. Dari balik semak belukar yang rimbun, muncullah dua sosok lain yang berbalut jubah hitam dengan lambang faksi 'Pemburu Jiwa' yang sama. Kali ini, mereka jauh lebih waspada. Mata mereka memancarkan keganasan yang berbeda, dipersenjatai belati bermata ganda yang berkilat di bawah cahaya rembulan. Mereka bukan sekadar preman, melainkan pembunuh terlatih dengan aura Qi yang jauh lebih pekat dan berbahaya, membawa serta aroma darah yang samar.

"Mereka bukan pengintai," bisik Lyra dengan nada tegang. "Mereka adalah pembunuh yang dikirim untuk membersihkan jejak, dan mungkin juga menguji kita. Liliyana tidak meninggalkan apa pun secara kebetulan."

Kaelen tidak menjawab. Ia merasakan gelombang Qi yang tidak menyenangkan berdesir dari belati-belati itu, yang telah diolesi semacam racun untuk membuat udara di sekitarnya terasa menusuk.

Tanpa peringatan, salah satu pembunuh melesat maju, mengincar tenggorokan Lyra dengan kecepatan mematikan—sebuah serangan yang diperhitungkan untuk membungkamnya secara permanen. Namun, sebelum serangan itu mencapai sasaran, Kaelen sudah bergerak. Pedang Besi Berkaratnya berkelebat bagai kilat hitam. Bukan sabetan biasa, Kaelen melepaskan Teknik Jiwa Pedang Hampa level rendah, menciptakan gelombang tekanan Qi yang tak terlihat untuk membengkokkan lintasan belati itu sesaat sebelum mengenai Lyra, sekaligus mendorong sang pembunuh mundur dengan kekuatan tak terduga hingga menabrak batang pohon.

Pembunuh kedua, yang tidak menyangka Kaelen memiliki kecepatan dan teknik seperti itu, terkesiap sesaat. Kaelen memanfaatkan celah tersebut, melesat maju seperti bayangan. Pedang berkarat itu kini terasa ringan di tangannya, seolah beresonansi dengan jiwa. Ia tidak berniat membunuh, setidaknya belum, melainkan memberikan peringatan agar Liliyana tahu mereka tidak akan mudah dihentikan.

Dengan gerakan memutar yang anggun namun mematikan, ia menangkis serangan belati kedua, membalikkannya, dan menghantam titik tekanan di pergelangan tangan sang pembunuh dengan ujung gagang pedangnya. Belati beracun terlepas, jatuh ke tanah dengan bunyi denting tipis.

Kedua pembunuh itu kini terhuyung; satu menahan nyeri di lengan, sementara yang lain terbatuk-batuk akibat Qi dalam tubuh mereka bergejolak tidak stabil karena serangan Qi hampa Kaelen. Mata mereka dipenuhi keheranan dan ketakutan. Mereka sadar, saat itu juga, bahwa mereka tidak sedang menghadapi kultivator biasa.

Episodes
1 Bab 1: Gerbang Reruntuhan Awan
2 Bab 2: Desis Bayangan Darah
3 Bab 3: Siasat di Balik Segel
4 Bab 4: Misteri Lembaran Kuno
5 Bab 5: Babak Baru Perjuangan
6 Bab 6: Misteri Lembaran Kuno
7 Bab 7: Benturan Kehampaan dan Pemurnian Jiwa
8 Bab 8: Titik Balik Pertempuran
9 Bab 9: Kehadiran Sang Pemangsa dan Jeratan Jiwa
10 Bab 10: Pembalasan Masa Lalu dan Takdir yang Terbelah
11 Bab 11: Titik Nadir di Ambang Keabadian
12 Bab 12: Fajar Baru di Atas Reruntuhan Abadi
13 Bab 13: Bayangan di Gerbang Kota Lumina
14 Bab 14: Lorong Rahasia dan Pengkhianatan di Kedai Angin Malam
15 Bab 15: Arus Bawah Tanah dan Janji yang Terikat
16 Bab 16: Badai Petir di Atas Jurang Keabadian
17 Bab 17: Puncak Keheningan dan Pembalasan Abadi
18 Bab 18: Gema Lonceng Perbatasan dan Langkah Menuju Daratan Tengah
19 Bab 19: Gema Petir di Alun-Alun Langit Besi
20 Bab 20: Bayangan Emas Menara Aliansi
21 Bab 21: Nyala Api di Altar Jiwa
22 Bab 22: Warisan Abadi di Bawah Langit Terbuka
23 Bab 23: Bisikan Angin dari Benua Seberang
24 Bab 24: Pintu Gerbang Samudra Kabut
25 Bab 25: Keabadian di Bawah Langit yang Tenang
26 Bab 26: Melodi Angin di Lembah Pengembara
27 Bab 27: Titik Temu di Ujung Cakrawala
28 Bab 28: Titian Ombak Menuju Kuil Kaca
29 Bab 29: Pulang ke Pelukan Senja
30 Bab 30: Warisan Bintang dan Embun Pagi
31 Bab 31: Fajar Abadi di Lembah Harapan
32 Bab 32: Warisan Abadi di Bawah Langit Lembah Bintang
33 Bab 33: Gema Lonceng Senja di Perbatasan Abadi
34 Bab 34: Warisan Bintang yang Tak Pernah Padam
35 Bab 35: Epos Abadi di Bawah Naungan Bintang
36 Bab 36: Gema Abadi di Bawah Naungan Semesta
37 Bab 37: Lembaran Terakhir di Bawah Kubah Kosmos
38 Bab 38: Gema Abadi di Ujung Cakrawala Bintang
Episodes

Updated 38 Episodes

1
Bab 1: Gerbang Reruntuhan Awan
2
Bab 2: Desis Bayangan Darah
3
Bab 3: Siasat di Balik Segel
4
Bab 4: Misteri Lembaran Kuno
5
Bab 5: Babak Baru Perjuangan
6
Bab 6: Misteri Lembaran Kuno
7
Bab 7: Benturan Kehampaan dan Pemurnian Jiwa
8
Bab 8: Titik Balik Pertempuran
9
Bab 9: Kehadiran Sang Pemangsa dan Jeratan Jiwa
10
Bab 10: Pembalasan Masa Lalu dan Takdir yang Terbelah
11
Bab 11: Titik Nadir di Ambang Keabadian
12
Bab 12: Fajar Baru di Atas Reruntuhan Abadi
13
Bab 13: Bayangan di Gerbang Kota Lumina
14
Bab 14: Lorong Rahasia dan Pengkhianatan di Kedai Angin Malam
15
Bab 15: Arus Bawah Tanah dan Janji yang Terikat
16
Bab 16: Badai Petir di Atas Jurang Keabadian
17
Bab 17: Puncak Keheningan dan Pembalasan Abadi
18
Bab 18: Gema Lonceng Perbatasan dan Langkah Menuju Daratan Tengah
19
Bab 19: Gema Petir di Alun-Alun Langit Besi
20
Bab 20: Bayangan Emas Menara Aliansi
21
Bab 21: Nyala Api di Altar Jiwa
22
Bab 22: Warisan Abadi di Bawah Langit Terbuka
23
Bab 23: Bisikan Angin dari Benua Seberang
24
Bab 24: Pintu Gerbang Samudra Kabut
25
Bab 25: Keabadian di Bawah Langit yang Tenang
26
Bab 26: Melodi Angin di Lembah Pengembara
27
Bab 27: Titik Temu di Ujung Cakrawala
28
Bab 28: Titian Ombak Menuju Kuil Kaca
29
Bab 29: Pulang ke Pelukan Senja
30
Bab 30: Warisan Bintang dan Embun Pagi
31
Bab 31: Fajar Abadi di Lembah Harapan
32
Bab 32: Warisan Abadi di Bawah Langit Lembah Bintang
33
Bab 33: Gema Lonceng Senja di Perbatasan Abadi
34
Bab 34: Warisan Bintang yang Tak Pernah Padam
35
Bab 35: Epos Abadi di Bawah Naungan Bintang
36
Bab 36: Gema Abadi di Bawah Naungan Semesta
37
Bab 37: Lembaran Terakhir di Bawah Kubah Kosmos
38
Bab 38: Gema Abadi di Ujung Cakrawala Bintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!