Episode 2

Bab 2

Perempuan yang Punya Air Susu

Kata itu masih terngiang ketika langkah Bima benar-benar hilang dari depan kamar.

Lanjutkan.

Laras baru berani mengembuskan napas. Ia menunduk, memastikan Satya tidak terganggu, lalu merapatkan kembali blusnya setelah bayi itu benar-benar kenyang. Kancing paling atas sulit masuk ke lubangnya karena jemarinya masih gemetar.

Satya menggeliat kecil. Laras menegakkannya di bahu, menepuk-nepuk punggungnya sampai terdengar sendawa pelan.

“Enak, ya, Le? Perutmu penuh.”

Bayi itu menjawab dengan desah nyaman.

Perut Laras justru mengeluarkan bunyi panjang.

Ia menekan bagian bawah tulang rusuknya. Sejak pagi ia hanya makan setengah potong singkong rebus dan teh tawar. Jatah makan sebenarnya tersedia, tetapi pada hari-hari pertama ini ia belum tahu mana yang boleh disentuh dan mana yang harus menunggu izin.

Lebih aman menahan lapar daripada dianggap lancang.

Suara sandal berhenti di depan tirai.

“Mbak Laras?” panggil Iwan.

Laras buru-buru membetulkan kerudung. “Iya?”

“Saya taruh beras sama perlengkapan mandi di depan, ya. Ada minyak telon juga buat Satya.”

“Masuk saja, Wan.”

“Waduh, jangan. Nanti Komandan mengira saya tidak tahu aturan.”

Nada Iwan terdengar setengah bercanda, tetapi kalimatnya menusuk tepat ke kegelisahan Laras. Ia meletakkan Satya yang sudah mengantuk di kasur tipis, lalu membuka tirai secukupnya.

Di lantai ada sekarung beras lima kilogram, sabun, popok kain, minyak telon, dan satu bungkus gula. Iwan berdiri dua langkah dari pintu sambil membawa buku catatan kecil.

“Ini untuk rumah atau untuk saya?” tanya Laras.

Iwan berkedip. “Ya untuk Mbak Laras. Jatah bulanan.”

“Semuanya?”

“Semuanya. Nanti gaji juga lewat bendahara, biasanya awal bulan.” Iwan menurunkan suara. “Kalau kurang, bilang saja. Satya itu kalau sudah menangis bisa bikin satu rumah ikut tidak tidur.”

Seolah mendengar namanya, Satya merengek dari dalam kamar.

Iwan meringis. “Nah, kan.”

Laras menahan senyum. “Terima kasih.”

“Tidak usah terima kasih sama saya. Saya cuma disuruh.”

“Oleh Komandan?”

Iwan mengangguk terlalu cepat. “Iya. Memang orangnya begitu. Mukanya keras, perintahnya juga keras. Di batalyon, orang dengar suara sepatunya saja sudah berdiri tegak.”

“Dia tinggal sendiri di sini?”

Mulut Iwan sudah terbuka, lalu ia seperti baru ingat batas. Pandangannya melirik ke arah ruang depan.

“Sejak istrinya meninggal, rumah ini sepi. Cuma Komandan, Satya, dan saya yang keluar masuk kalau ada tugas. Pengasuh sebelumnya tidak ada yang tahan lama. Satya menolak botol, demam terus, berat badannya susah naik.”

“Istrinya meninggal kapan?”

“Waktu Satya masih kecil sekali.” Iwan menggaruk tengkuk. “Sudah, saya ke depan dulu. Kalau saya cerita lebih banyak, nanti yang perlu pengasuh bukan Satya, tapi mulut saya.”

Ia pergi sebelum Laras sempat bertanya lagi.

Senja turun cepat. Lampu rumah mendadak padam bersama beberapa rumah lain di kompleks. Dari luar terdengar seruan para penghuni, disusul bunyi genset dari arah kantor batalyon.

Laras menyalakan lampu minyak kecil yang diberikan Iwan kemarin. Cahaya kuningnya membuat bayangan Satya memanjang di dinding.

Tiga hari lalu, cahaya serupa menerangi rumah Mbah Inah ketika seorang perempuan perantara datang membawa tawaran kerja.

“Anaknya enam bulan, sakit-sakitan, butuh ibu susuan,” kata perempuan itu. “Rumah dinasnya di Magelang. Makan dan tempat tinggal ditanggung. Gajinya tetap, ada jatah beras.”

Laras menatap Nala yang tidur di pangkuan Mbah Inah. Pipi putrinya semakin tirus sejak bubur beras encer menggantikan sebagian besar susunya.

“Harus tinggal di sana?”

“Kalau anaknya menyusu malam, ya harus.”

Mbah Inah langsung menggeleng. “Nduk, kamu baru kehilangan suami. Tinggal di rumah laki-laki sendirian akan jadi omongan.”

“Ada prajurit yang keluar masuk, Mbah. Katanya rumah dinas, bukan rumah terpencil.” Perantara itu menyelipkan kartu nama ke atas tikar. “Bapaknya Danyon. Orangnya tegas, bukan sembarang lelaki.”

Bu Jum yang sejak tadi duduk dekat pintu segera mengambil kartu itu.

“Gajinya berapa?”

Begitu angka disebutkan, mata Bu Jum berubah. Parman yang bersandar di dinding ikut menegakkan badan.

“Ambil saja, Mbak,” desaknya. “Daripada di sini cuma menambah beban. Sebagian gajinya bisa buat melunasi urusanku.”

Laras memandang adiknya lama. “Urusanmu bukan urusanku.”

“Kalau penagih datang ke rumah Ibu, tetap saja jadi urusanmu.”

Bu Jum menepuk lutut Laras. “Keluarga harus saling menolong. Kamu punya air susu, orang membutuhkan. Ini rezeki.”

Tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaan Laras jika harus meninggalkan Nala.

Hanya Mbah Inah yang malam itu memeluknya di dapur. Perempuan tua itu menyelipkan dua lembar uang kusut ke telapak tangannya.

“Jangan kirim semuanya pulang,” bisiknya. “Kamu menyusui. Kamu harus makan.”

Laras mengembalikan uang itu. “Untuk beli telur Nala saja, Mbah.”

Kini, di kamar belakang rumah Bima, Laras membuka simpul kain di pinggangnya. Uang yang tersisa tidak banyak. Gaji pertama belum turun, tetapi ia sudah menghitung berapa yang akan dikirim untuk Nala, berapa untuk obat Mbah Inah, dan berapa yang harus disembunyikan agar tidak habis di tangan Bu Jum atau Parman.

Ia menarik buku kecil dari tas. Di bawah cahaya lampu minyak, angka-angka itu tampak semakin sempit.

Satya terbangun dan menangis.

Laras segera menggendongnya. Bayi itu menggesekkan wajah ke dadanya, mencari susu lagi meski baru saja kenyang. Ia berjalan pelan di dalam kamar sambil menepuk pantat kecil Satya.

“Mama-mu pasti sangat menyayangimu,” bisiknya. “Kalau tidak, mana mungkin rumah sebesar ini masih terasa menunggunya?”

Ia sendiri tidak tahu dari mana kalimat itu datang.

Satya akhirnya tenang. Laras duduk di tepi kasur dan kembali menghitung dalam hati. Susunya untuk Satya. Uangnya untuk Nala. Tenaganya untuk rumah ini. Tidak ada bagian yang sungguh-sungguh tersisa untuk dirinya.

Ia bukan keluarga. Ia bukan tamu.

Ia hanya perempuan yang punya air susu dan bisa diganti kapan saja bila dianggap tidak berguna.

Listrik menyala kembali. Lampu putih di langit-langit membuat kamar sempit itu terasa lebih dingin. Laras mematikan lampu minyak, lalu berbaring miring dengan Satya di sisinya.

Menjelang tengah malam, ia bangun lagi untuk menyusui dan menepuk punggung bayi itu dalam gelap. Dadanya kembali penuh, perutnya kembali kosong.

Besok pagi ia akan belajar aturan rumah ini.

Sementara malam ini, sejak datang ke Magelang, Laras belum juga merasakan satu kali makan sampai benar-benar kenyang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!