Bab 13: Lima Ratus Juta
"Mas."
Radhika tidak bergerak dari sisi pintu mobil.
Naila merapatkan bibir. "Mas Radhika."
"Kurang jelas."
"Mas Radhika, boleh kami naik sekarang?" Naila mengucapkan setiap kata seperti sedang menggigit es batu. "Atau Mas mau kami menginap di parkiran?"
Barulah sudut bibir Radhika terangkat. Ia membuka pintu belakang untuk Gita dan Vania, lalu membukakan pintu depan untuk Naila.
"Silakan, Dek."
Naila masuk sambil menginjak udara di dekat sepatunya. Sayang sekali sepatu kulit itu terlalu jauh untuk benar-benar ia injak.
Begitu mobil meninggalkan kawasan Padma Lakeside, Gita langsung menutup mulut untuk menahan tawa. Vania lebih berani. Ia mencondongkan tubuh di antara kedua kursi depan.
"Nai, kamu kenal dekat sama Sekar?"
"Satu kampus, satu kos."
"Tapi kamu tadi galak banget." Vania meniru nada Naila di lorong. "Ambil kainnya. Minta maaf sekarang. Serem juga."
"Aku nggak galak." Naila menyilangkan tangan. "Aku cuma nggak suka orang sok berkuasa lalu menginjak orang yang dianggap lebih lemah. Sekar belajar mati-matian buat mempertahankan beasiswa. Pulang kerja pun masih baca materi sampai larut. Dia pasti bukan orang kayak yang mereka tuduhkan."
Gita mengangguk. "Kalau bukan kamu yang datang, Sekar mungkin diam saja. Dia takut kehilangan kerja."
"Makanya jangan kasih orang kayak Lina kesempatan merasa mereka benar."
Dari kursi pengemudi, Radhika memandang Naila sekilas. Lampu jalan bergerak di wajah gadis itu, menerangi mata yang masih menyala karena marah. Ia tidak ikut bicara, tetapi jari yang semula mengetuk kemudi berhenti.
Naila menangkap pandangannya. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Kalau mau bilang aku ikut campur, bilang saja."
"Aku justru mau bilang kamu benar."
Jawaban itu membuat Naila kehilangan bahan bertengkar. Ia mendengus kecil dan mengalihkan mata ke jendela.
Perjalanan kembali ke Depok memakan waktu hampir empat puluh menit. Setelah melewati gerbang UI, Radhika berhenti di sisi jalan yang terang, tidak jauh dari jalur menuju kos. Gita turun lebih dulu. Vania menyusul, tetapi masih sempat membungkuk di dekat jendela depan.
"Makasih, Mas Radhika. Hati-hati di jalan."
Radhika hanya mengangguk.
Naila melepas sabuk pengaman. "Aku juga turun."
Tangannya menarik gagang pintu. Tidak terbuka.
Klik.
Kunci mobil tetap menahan pintu. Pada saat yang sama, kaca jendela naik perlahan hingga suara Gita dan Vania di luar teredam.
"Mas apaan, sih?" Naila menoleh tajam. "Buka. Mereka nanti salah paham."
"Aku cuma mau ngomong dua patah kata."
"Dua patah kata nggak butuh menyandera orang."
"Aku kan Mas-mu. Mau salah paham apa?"
"Justru karena Mas bersikap aneh, mereka bisa salah paham apa saja."
Radhika mematikan mesin. Kabin seketika lebih sunyi. Aroma kulit mobil bercampur wangi kayu yang tipis dari pakaiannya.
"Tambahkan aku lagi di WhatsApp."
Naila berkedip, lalu bersandar sambil melipat tangan. "Oh, itu dua patah katanya? Jawabannya nggak mau."
"Aku nyesel."
Nada Radhika begitu tenang hingga Naila hampir tidak yakin ia mendengarnya dengan benar.
"Nyesel apa?"
"Hapus kamu. Bikin kamu marah."
"Aku bukan marah." Naila mengangkat dagu. "Aku cuma nggak suka orang yang merasa bisa buang orang lain sesuka hati, lalu memanggilnya kembali sesuka hati juga."
Radhika menerima kalimat itu tanpa membela diri. "Kalau kamu terima permintaan pertemananku, kamu boleh m…
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda
Episode 13
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 35 Episodes
Comments