Case 01 - Karyawisata Berdarah Bagian 1

POV 1 - Amanda Rikki

Saat dalam perjalanan pergi ke sebuah tempat karyawisata aku dan teman-teman sekelasku menaiki bus dengan penuh kebisingan.

Seperti kebanyakan liburan yang aku alami, pemandangan ini bukanlah hal yang jarang ditemui.

Beberapa siswa bersorak-sorak dan ada dari mereka yang membicarakan tempat karyawisata yang akan sekolah kami kunjungi.

Bagiku, yang tidak terlalu suka kebisingan apalagi keramaian seperti ini, aku lebih memilih untuk mengasingkan diri duduk tepat di ujung bus.

Aku sengaja mengambil tempat duduk paling belakang agar tidak menjadi pusat perhatian apalagi sampai ada yang mengajaku berbicara mengenai karyawisata semester tahun ini.

Kedamaian sesuatu yang paling penting buatku.

Pada saat kondisi yang tenang, aku mulai terlarut dalam kedamaianku perlahan, membuat kedua mataku tertutup.

Aku mengingat-ingat kembali kejadian yang sama saat sekolah menengah pertama.

Waktu itu, saat sedang dalam perjalanan karyawisata bersama teman SMP dan ibu kandungku.

Saat itu segalanya terasa damai semua orang bergembira dan aku pun ikut bersenang-senang namun seketika saja semua itu menjadi sebuah bencana.

Bus yang kami tumpangi mengalamai kecelakaan dan jatuh kedalam jurang.

Selama 2 hari kami terdampar dan pada saat seseorang berhasil menemukan kami, hanya aku seorang diri yang hidup pada saat itu dan ajaibnya, tubuhku sama sekali tidak terluka.

Entah itu sebuah keberuntungan..

Hanya saja...

Aku sama sekali tidak mengingat kejadian setelah bus yang kami tumpangi terjatuh.

Yang aku ingat pada saat kejadian itu hanyalah suara teriakan dari orang-orang yang ada di dalam bus serta suara ibuku yang meminta tolong setelah itu aku terbangun di sebuah kamar penuh cahaya terang serta di kelilingi oleh orang-orang yang memakai baju putih.

Mereka mencoba menjelaskan semuanya kepadaku tentang kecelakaan bus yang aku alami serta kematian teman-temanku dan juga ibuku.

Saat itulah, aku merasa sesuatu terjadi kepada diriku.

Aku kehilangan teman-temanku dan juga ibuku namun, aku sama sekali tidak merasakan apapun.

Aku tidak merasakan Sedih karena kehilangan seseorang yang sangat berharga bagiku ataupun bahagia karena aku berhasil selamat dari kecelakaan itu.

Ini aneh..

Meskipun aku memaksakan diriku untuk menangis.

Air mataku... sama sekali tidak keluar setetespun..

Saat itulah untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hal terpenting dari sebuah kehidupan telah hilang dari dalam diriku.

Setelah 2 tahun berlalu sejak bencana itu terjadi, aku mulai membiasakan diri dengan keadaanku saat ini.

Seperti saat ini, ketika teman sekelasku bersenang-senang, tertawa tapi, Aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Akankah aku hidup seperti ini selamanya ?

Entahlah, aku sama sekali tidak peduli..

"Rikki !!"

Dalam ruang ketenanganku, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.

Tidak ada siswa lain yang bernama 'Rikki' selain diriku.

Perlahan aku membuka kedua mataku untuk melihat orang yang memanggil.

Aku dapat melihat wajah seorang perempuan berada di depanku.

Ibu?

Tidak mungkin, ibuku sudah tiada.

Aku kembali menutup kedua mataku dan membuka lagi mataku sampai pandanganku terlihat cukup jelas.

Dihadapanku ada seorang gadis dengan kedua matanya sedang memandang kearahku.

Tersemat dari rambut hitam panjangnya sebuah bando di hiasi oleh pita berwarna merah.

Aku mengenal gadis yang saat ini sedang memandang diriku.

"Rikki, kamu enggak apa-apa?"

Gadis itu bernama Rena.

Dia tinggal tepat di samping rumahku. bisa di anggap kalau dia adalah tetanggaku.

Mungkin hampir 5 tahun kami selalu bersama.

"Iya, gue engak apa-apa.", Jawabku dengan singkat.

"Tch.."

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang seperti sedang mendecakan lidahnya.

Sebuah kepala muncul tepat di samping tempat duduk Rena.

Tiba-tiba kepala itu berputar ke arahku seraya menghibas rambut hitam panjangnya.

Kedua bola mata berwarna merahnya itu menatapku dengan tajam lalu arah pandangannya berubah menuju Rena sembari berkata, "Kak kenapa mau ngurusin cowok kaya gini ?, aku enggak paham !", dengan nada yang cukup kasar.

Aku sama sekali tidak terkejut jika orang itu bekata seperti itu kepadaku.

Karena aku sudah terbiasa.

Ngomong-ngomong yang berbicara dengan Rena adalah adik perempuannya yang bernama Rini.

Bisa dibilang bahwa mereka berdua adalah saudara kembar.

Rena lahir 1 jam lebih dulu di bandingkan Rini.

Aku mendengar semua itu dari Rena.

Meskipun penampilan dan wajah mereka mirip, akan tetapi mereka berdua memiliki sifat yang berbeda.

Rena lebih pendiam dan tenang dibandingkan dengan adiknya yang selalu banyak bicara.

"Lagian kakak kenapa mau aja nungguin dia sampai bangun ?", Rini melanjutkan pembicaraanya dengan Rena sambil menunjuk diriku dengan jari telunjuknya.

"Yah yang lainnya udah pada pergi, kasihan Rikki kalau dtinggalin sendirian, Lagian Rini tadi juga sempet ketiduran kan?", Jawab Rena sambil menggaruk-garuk pipi kananya sembari tertawa.

"Iihh kakak, enggak usah di omongin juga kali !"

pergi ?

Aku berdiri lalu melihat keadaan di sekitarku dan ternyata di dalam bus hanya ada kami bertiga saja.

"Rena, yang lainnya kemana?", tanyaku

"Yang lainnya baru aja keluar ke tempat penginapan kok, karena Rikki tadi enggak ada di barisan makannya aku cariin kamu di dalam bus", Rena pun menjawabnya sambil memiringkan sedikit kepalanya.

Begitu ya, aku ketiduran lama juga.

"Makasih ya Ren.", sembari berterima kasih kepada Rena aku mengangkat tasku lalu pergi dari tempat duduk.

Selagi aku berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba saja Rini menendang lututku seraya berkata, "Tch..dasar tolol.", lalu pergi meninggalkan kami berdua.

Hal tersebut sedikit membuatku terkejut namun, aku sama sekali tidak mengerti artinya karena itu aku mencoba bertanya kepada Rena,"adik lu kenapa, Ren?", akan tetapi, Rena hanya menjawabnya dengan senyuman tipis lalu pergi mengejar Rini.

Pada akhirnya aku sendirian.

Setelah keluar dari bus, terang cahaya matahari mulai menusuk mataku.

Aku mengangkat tangan kananku ke langit untuk menghalangi cahaya itu.

Sejenak, aku mulai berpikir.

Mungkin saja karena sikapku, aku harus berakhir seperti ini.

Tapi..

Suatu saat nanti aku bisa merasakan banyak hal sehingga aku dapat memahami apa yang mereka rasakan.

Aku ingin merasakannya.

----------------------------------------

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play