BAB 2

Suara Masjid bersahut-sahutan menandakan pukul 4:30 subuh. Guen tidak dapat tidur lagi. Dia lalu mangambil gitar Yamaha yang tergantung di samping pintu kamarnya lalu menuju ke dapur dan duduk diatas sebuah kursi plastic biru. Jari kanannya mulai memetic satu persatu tali senar gitar sambil memainkan sebuah instrument andalannya.

“Tuhan kenapa ya aku sedih? Kenapa hal terjadi diluar ekspektasiku? Apa rencana-Mu dibalik hal ini? Aku gak ngerti……..Bisa gak aku mengerti?”. Desahan hati Guen sambil menutup matanya.

“Aku wanita baik. Aku selalu berusaha melakukan sesuatu dengan tulus dan mencintai seseorang dengan tulus, tapi….kanapa seperti ini? Huhuhuuuuuuuu”. Suara tangisan Guen terseduh-seduh.

“Ngeeek”. Suara pintu kamar mandi terbuka

“Tuhan sakit hatiku…….!”. Teriakan Guen sambil menenggelamkan kepalanya kedalam bak mandi yang terletak di sudut kamar kamar mandi.

“Tok Tok Tok! Ada orang di dlam?”. Suara Diah sambil mengetok pintu.

“Aku kebelat nih”. Diah menggaruk-garuk pintu kamar mandi.

“Iya…! Sedikit lagi”. Guen mengambil handuk kecil melap wajahnya dan meletakkan handuk kecil itu diatas bahunya.

“Ngeeeak”. Suara pintu kamar mandi.

“Udah?”. Diah memandangi Guen

“Hmmmm”. Guen menganggukan kepala.

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 17 november. Guen memilih beberapa potong pakain dari lemari coklat kecil dan meletakkannya ke dalam ransel Eiger terbaru yang dia beli di Bandung Maret lalu. Dia terpaksa membelinya karena ransel lamanya tiba-tiba sobek saat chek in di bandara Hussein Sastranegara Bandung. Itu sedikit memalukan tetapi, beruntung karena di Bandara itu ada toko penjual tas sehingga masalah memalukan itu dapat teratasi. Guen focus memilih pakain yang cocok untuk dipakainya di desa yang akan dikunjunginya besok saat lampu hijau handphonenya berkedip-kedip bertanda ada pemberitahuan baru.

“Who is this Guy?”. Guen mengkerutkan dahinya solah-olah kaget

Cepat-cepat Guen mengecek profil pria yang baru saja mengiriminya a wink.

“He looks cool”. Guen tersenyum manis

“Hella kesini cepat….!!!”. Guen berteriak dari kamarnya

“Apasih mom?”. Hella kebingungan

“Lihat ni cowok keren bangat, punya putri yang cantk, aku sukaaaa….menurutmu dia umur berapa?”. Guen menjdi konyol

“Iya dia keren. Dia terlihat seperti umur 25 tahun. Siapa sih namanya?”. Hella mengambil handphone Guen dan mengecek pria tersebut. “Coba kamu teks dia”. Pinta Hella.

“Hello I love your daughter, she has lovely smile”. Guen memulai percakapan dengan pria itu.

“Oh thank you very much! You also have a nice smile”. Jawab pria itu singkat

“Lol thank you very much sir”. Guen meresponinya

“Yes of course, my name is Albatross. What’s yours? What are you looking for or hopping to find”. Tanya pria itu

“Hello Albatross nice to meet you here. I am Guen looking for anything”. Guen menjawab dengan penuh semangat dan lupa bahwa dia sedang sakit hati.

“Nice to meet you Guen. Would like to get to know you?”. Pria itu memberi tawaran

“Would you please contact me on WA? If you don’t mind”. Jawab Guen to the poin karena dia bukan member dalam aplikasi ini. Dia hanya ikut gratisan dan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengobrol dengan pria keren yang telah mengiriminya sebuah “wink”, hal itu membuat hatinya mekar kembali seperti bunga kamboja pada pagi hari.

“Yes I can. It’s late here now 177****** you can add me…I will go to sleep now..but let’s chat soon”. Kata pria itu dengan gentle

Guen langsung mengkopi nomor pria itu dan menyimpannya daalam memory handphonenya lalu mencari di google kode negara pria keren itu.

“Otak ku encer hahaha….!”. Guen tertawa bahagia menggoyangkan kepalanya menirukan orang india yang tidak tau apa-apa disertai alis tipisnya naik turun .

“Ok….!”. Guen bicara sendiri dalam kamar kecilnya.

“From this moment as long as I live I will love youuuu….. I promise you this there is nothing I wouldn’t give from this moment on…….ohhhhhhhh….!”. Tarikan suara yang cukup panjang terdengar dari ruang tamu, sedikit menggetarkan pintu kamar kecil Guen yang terbuat dari seng polos. Hella merekam dan mengambil video dirinya sendiri di laptop Lenovo milik Mersel untuk mendapat nilai tambahan dari dosen Bahasa ingrisnya.

“Bruuuukkk”. Pintu kamar depan tertutup. Rosdi sedang vc bersama pacarnya yang sedang bertugas di Sulawesi Tengah dan tidak ingin diganggu oleh suara apa pun termasuk suara cicak yang menempel di dinding, LDR memang sangat sulit.

“Guys, aku makan ya? Donat di meja ini”.  Suara lembut terdengar dari samping kamar Guen. Aneh rasanya sudah dua jam Guen belum keluar dari kamarnya bahkan belum menyentuh sedikit nasi putih pun yang hampir mengering di atas meja lipat berwarna putih.  Guen masih tetap terbaring kaku di atas tilam merah menirukan gaya seorang wanita tua yang ketindisan. Mata sipit miliknya terbuka lebar, bola matanya berputar ke kiri dank e kanan, bibir kecilnya dimoncongkan keluar seperti sedang mencium bau bangkai yang telah seminggu membusuk.

“Apakah dia baik-baik saja?”. Bisikan kecil keluar dari bibir Diah yang melototkan matanya ke arah Melser yang sedang mencuci kedua tangannya di wastafel setelah selesai membersihkan pekarangan depan rumah.

“Hmmmm”. Melser mengangakat kedua bahunya dan memiringkan bibirnya.

Tidak ada yang mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Guen setelah mendapat nomor WA dari pria misteri yang ditemuinya di aplikasih cari jodoh itu.  Ke empat gadis kesayanganya terus bertanya-tanya mencari tau sebenarnya apa yang telah terjadi pada Guen hari ini. Rosdi, Diah dan Mersel mencoba mencari tau penyebabnya melalui Hella karena dia yang telah bersama Guen tadi pagi, tetapi Hella hanya bengong pura-pura tidak tau sesuatu.

“Mbuurrrk, mburrk,mbuurkkk”. Bantal Guen bergetar. Guen telah menaruh handphonenya di balik bantal dan menindisinya dengan kepalanya. “Mbuurk, mbuurrrk, mbuurrrk”. Kembali kepala Guen diganggu oleh getaran tersebut. Dengan gaya malasnya, Guen kemudian mengangkat kepalanya, menggeser bantal itu dan mengambil handphonenya lalu menekan tanda hijau untuk menjawab panggilan tersebut.

“Halo..??? Apari? Sibu’na’I”. Bahasa ibu Guen keluar dari bibirnya yang tidak bisa dimengerti oleh ke empat gadis kesayangannya, bisa dikatakan hampir semua orang tidak bisa mengerti.Google translate pun tidak bisa menterjemahkannya.

“Ok, cepat ya, aku ganti baju dulu. Kita ketemu di lobby jam 7:00. Daaahhhh”. Guen mengahiri percakapannya di handphone dan segera berdiri mengambil baju pink terang yang tergantung dalam lemarinya serta jeans biru ketat pemberian teman barunya di Singapur Januari lalu. Guen menyetrika pakainnya lalu mengenakannya sambil berputar-putar di cermin panjang yang tergantung disamping pintu kamarnya untuk memasitikan blus pink dan jeans biru ketatnya cocok. Tangan kanan Guen mencari bb cream Fair&Lovely di meja tempat dia meletakkan makeup.

“Mam, mau kemana?”. Pertanyaan yang membosankan terdengar dari telinga kiri Guen. Pertanyaan ini sering muncul ketika Guen sedang bercermin atau sedang mencukur alisnya di depan cermin.  Dengan cepat Guen membalikkan badannya ke arah suara tersebut, kedua tanggannya memegang catok kecil merek Philips.

”Aku mau ke mall ketemu adikku”.  Bandan Guen digerakkan seolah-olah memberi Bahasa isyarat kepada Hella. “Mau ikut?”. Tanya Guen

“No thanks mama”. Jawaban jutek Hella seraya menarik sebuah kursi untuk didudukinya. Entah kenapa, Guen selalu tidak suka dengan cara Hella menjawab seperti itu.

Guen masih sibuk mengukir alis matanya ketika Rosdi lewat disampingnya memegang sebuah botol kaca lalu diletakkan diatas meja.

“Mama mau kemana?”. Tanya Rosdi sambil memperhatikan tangan Guen yang sedang mengikat tali sepatu abu-abu kesukaannya.

“Mau cari jodoh di mall siapa tau ada yang nyasar”. Jawab Guen menuju pintu tempat parkir motor. Guen sangat suka dengan  motor honda Revo keluaran 2017. Kemudian Guen  memakai jaket abu-abu lalu menutupi kepalanya dengan helm warna hitam. “Byeee…”. Guen melambaikan tangan kananya lalu pergi.

“Ayo kita ke Chattime, aku suka bubur Chinese”. Guen mengandeng tangan kanan adik perempuannya dan berjalan bersama ke Chattime untuk makan malam.

Malam itu mall TSM Makassar sangat ramai, banyak event yang sedang berlangsung. Aneka ragam musik terdengar  hampir dari semua toko dalam mall itu. Guen memberi isyarat kepada adiknya untuk mempercepat langkahnya menuju restorant pilihan Guen. Guen terbiasa dengan suasana santai, diam, hijau dan udara segar. Kehidupannya di “kota sibuk” membuatnya harus belajar banyak termasuk mimbiasakan diri dengan keramaian kota dan kebisingan kota. Guen termasuk kedalam gategori “gadis hutan” lebih senang menikmati alam terbuka. Terkadang dia lupa waktu ketika sedang berada di alam bebas, tidak hanya itu , dia bahkan bisa melupakan barang bawaannya ketika sedang menikmati alam bebas. Keunikan ini membuat cara hidup Guen berbeda dengan wanita pada umumnya. Wanita pada umumnya ketika melihat kecoak mereka berteriak atau lari tetapi Guen malah membunuh kecoak itu dan membuangnya di tempat sampah. Keramain di mall membuat Guen gelisah dan terus mempercepat langkanya.

“Kita duduk di sudut sana”. Adik Guen memonyongkan bibirnya untuk menunjuk sebuah meja kosong dengan dua kursi mengarah ke pantai belakang mall, cocok untuk mereka berdua. Adik Guen memahami kegelisahan kakaknya.

“Ayo..!”. Kata Guen menarik jari telunjuk adiknya lalu berlari ke meja itu. Mereka tidak ingin ada orang lain yang mendahului mereka.

Sementara dirumah, ke empat gadis kesayangan Guen sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mersel dan Hella bersama teman mereka main PUBG dan terus berusaha untuk menaikkan level mereka. Level Guen semakin menurun karena telah 1 minggu tidak bermain PUBG bersama temannya, meskipun kemarin dia sempat bermain bersama Hella tetapi mereka tidak menang karena pikiran dan hati Guen tidak bersatu. Seorang pria yang ditemui Guen 3 tahun lalu saat penerbangannya ke Kuala Lumpur Malaysia telah menipunya dengan segala macam gombalan yang membuat Guen tergoda dan mempercayainya sepenuh hati. Ternyata pria hebat itu sedang menjalin hubungan dengan wanita cantik, anggun dan cerdas dari negara lain. Guen telah mengahabiskan cukup banyak waktunya untuk mengobrol dan memperhatikan pria itu yang ternyata bukan miliknya. Guen “Gadis hutan” yang memiliki hati lembut dan prinsip yang kuat. Kesetiaannya terhadap satu hubungan membuat dia  selalu tersakiti tetapi untungnya, sakit itu selalu pergi dengan begitu cepat sehingga Guen move on lebih cepat. Rosdi dan Diah sibuk menyelesaikan skripsi mereka. Setiap hari mereka mencari penduduk asli untuk diwawancarai mengenai budaya dan kepercayaan mereka. Hampir setiap malam mereka menelpon dosen pembimbing mereka untuk mendapat arahan dalam membuat judul serta isi skripsi mereka.

“Dumdumdumdumstakdusss….!”. suara musik dilantai dua menggetarkan meja Guen dan adiknya saat pelayan dating membawa buku menu.

“Sudah siap pesan?”.  Tanya pelayan sambil menyodorkan dua buku menu kepada Guen dan adiknya.

“iya”. Guen dan adiknya mengambil buku menu dan memilih makanan sesuai selesa mereka. Guen memilih bubur ayam yang ditaburi tahu goreng sedangkan adiknya memilih hot plate nasi ayam jamur.

“Terima kasih”. Guen mengembalikan kedua buku menu kepada pelayan.

“Mau minum apa?”. Tanya pelayan sekali lagi.

“Oh iya kita lupa”. Adik Guen membuka mulutnya sambil memukul jidatnya. Mereka lupa pesan minuman.

“Aku mau jus sirsak dan air mineral boleh?”. Guen mengedip ke arah pelayan.

“Aku jus apukat kurangi esnya ya,”.  Pinta adik Guen kepada pelayan.

“Saya ulangi pesanannya ya, 1. Bubur . 1. Hot plate nasi ayam jamur. 1. Jus alpukat dan 1. Jus jeruk. Pelayan mengulangi menu pesanan mereka

“Ya betul, terima kasih”. Guen dan adiknya serempak menjawab.

“Ditunggu 15 menit ya”. Tambah pelayan

Guen dan adiknya menikmati makan malam bersama, telah dua bulan mereka belum bertemu meskipun mereka tinggal di kota yang sama.  Guen sibuk menyelesaikan kuliahnya dan harus pergi ke Malaysia untuk Wisudah. Adiknya sibuk mengurusi anak-anak tuna netra dan mengatur jadwal perkuliahannya.

“Aku mau cerita sesuatu,” kata Guen belepaskan sendok dari tangan kanannya lalu melipat kedua tanggannya. Matanya memperhatikan adiknya. “Aku jatuh cinta kepada pria yang tidak aku kenal. Hari ini aku mendapat nomor WAnya,” Guen mulai bercerita dan menarik nafas panjang, membuka tas kecil birunya dan menarik handphone keluar dari tasnya. “Ini foto pria itu,” Guen menyodorkan handphonenya kepada adiknya.

“Cakap lo dia, manis lagi,” Kata adik Guen saat memperhatikan foto pria misteri yang sedang ditaksir kakanya. “Namanya siapa,” tanya adik Guen

“Albatross,” Jawab Guen yang sudah menghabisi bubur kesukaannya. “Sebenarnya ada dua pria yang aku suka dari aplikasi itu tetapi hatiku menginginkan Albatros,” Guen tersenyum.

“Saran saya….lebih baik kakak berdoa saja dulu dan terus berkomunikasi dengan mereka. Pasti kamu akan merasakan sesuatu setelah mengobrol dengan mereka

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play