Dunia Yang Terpisah
Langit mendung tanda hujan akan turun. Guen terbaring lesuh diatas kasur empuk sambil jari-jari kurusnya menutupi wajahnya dengan selendang kuning yang baru saja dibelinya di Bandara Pattimura Ambon diiringi sebuah musik DJ Alan Walker kesukaannya. Dia baru saja pulang dari tempat wisata di Ambon yang berjarak 1,152 km dari Makassar yang ditempuh selama 1 jam 45 menit naik pesawat. Guen terlihat sedih dan dia menghabiskan 1 jam menangis di dalam kamarnya. Bantal biru kesayangannya dibasahi oleh air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Yang sabar ya, dia bukan yang terbaik”. Hella ikut sedih.
“Aku tidak menyangka dia membohongiku. Aku terlalu bodoh mempedulikan dan memperhatikan dia berlebihan. Aku menyesal”. Guen mengambil tissue dekat kakinya dan menyapu wajah berjerawatnya dengan tissue lembut dan putih.
“Tapi, semua sudah terjadi! Biarlah! Hidupku akan tetap berlanjut!”. Guen menyemangati dirinya sendiri dan mengambil segelas air lalu meminumnya.
“Ayok main PUBG ya”. Guen mengajak Hella main game.
“Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena saya lelah dan telah menangis”. Keluh Guen
“Jadi bagaiman? Mau main atau istirahat?”. Hella penasaran melirik ke arah Guen
“Main…..!!!”. Pinta Guen. “Aku tunggu di lobby”. Tambah Guen
“OK….!”. Hella setuju.
“Udah ya mainnya. Kita gak pernah menang, aku selalu mati duluan”. Guen menggerutu
“Ya….pikiranmu lagi gak sinkron mom”. Tegas Hella. “Eh kamu uda baikan? Uda bisa ngobrol?”. Hella menggoda Guen.
“Kenapa?”. Guen bertanya
Hella memperhatikan Guen dengan wajah yang penuh gairah entah apa yang sedang dia rencanakan. Hella melompat ke atas kasur empuk milik mereka berdua yangmereka beli setahun yang lalu dan duduk disamping Guen yang sedang mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama music DJ yang sedang terputar melalui speaker Bluetooth kecilnya. Hella menggigit bibir bagian bawahnya sebelum dia mulai berbicara.
“ Hai, Guen!” sapa Hella. “tau gak? Aku punya kabar baik buat kamu dan kamu pasti suka”.
“Apasih,” jawab Guen sambil mengkerutkan dahinya dan kembali memelototin handphone vivo tipis kesayangannya yang sedang memutar YouTube. “Kamu mau cerita sesuatu?”
“iya, tentang kamu” jawab Hella. “Aku mendownload aplikasi cari jodoh dan kamu pasti suka, kamukan pencinta bule.” Hahahhaha sambil Hella tertawa lepas.
Guen seperti disihir oleh penyihir jahat dan langsung duduk manis disamping Hella dan merampas handphone milik Hella dan mulai memeriksa handphone itu sehingga mata sipitnya terlihat bulat seperti mata kucing pada malam hari.
“hey, kamu tau aplikasi ini dari siapa?.” Tanya Guen sambil mendowload aplikasi itu di handphone vivo tipis andalannya.
“Aku dapet dari mr. google”. Jawab Hella sambil tersenyum. “Waktu lihat ini aku langsung ingat kamu”. Tambahnya melirik ke Guen yang sedang sibuk dan semangat menjawab beberapa pertanyaan untuk join dalam aplikasi itu lalu menyelesaikannya.
Tik! Tik! Tik! Bunyi hujan diatas genting. Tung! Tak! Toing! Bunyinya menghempas genting, ember, dan bak yang sudah tersedia di depan rumah.
“Selesaaaaiii….!” Sebuah suara terdengar heboh memecahkan keheningan sore.
Suasana nggak begitu hening sebenarnya, hiperbolis aja sih. Biar lebih seru! Sore itu jalanan di belakang rumah ramai dipenuhi oleh motor, sepeda dan mobil milik orang-orang yang pulang kerja, jalan-jalan dan berolahraga. Mereka lalu-lalang menghindari hujan.
“Jemuraaan! Hujan oooii!”. Teriak Diah kepada Rosdi.
Guen menatap handphone vivo miliknya dengan pandangan dingin yang mungkin bisa membekukan minuman cokelat panas yang masih mengempul. “Terserah deh”. Katanya sambil memutar badannya menghadap ke tembok.
“Apa yang terjadi?”. Diah mencetuskan pertanyaan kepada Guen yang sedang badmood.
“Aku dapet 35 pesan dari pria dalam aplikasi ini dan aku tertarik dengan satu orang tetapi …….huffff”. Guen menghembuskan nafas sambil memonyongkan bibir kecilnya lalu melanjutkan. “Dia terlalu ribet, banyak syarat dan aku gak bisa seperti yang dia mau”. Kesedihan terpancar lewat wajah jerawatan milik Guen.
“Tenang aja….pasti ada yang baik. Toh orang yang ikut aplikasi ini dari semua benua dan macam-macam negara”. Jawab Diah berlagak dewasa dan bijak.
“Baiklah…aku gak akan menyerah”. Senyum harapan dan menggoda terpancar diwajah Guen. Lalu membantingkan badan keatas Kasur empuknya dan tertidur.
Sementara music DJ Alan Walker berhenti dimainkan, tetangga depan rumah heboh karena beberapa teman mereka datang dan mengunjungi mereka. Suara mereka terdengar jelas ke dalam rumah kami yang terletak tepat di depan rumah mereka.
Hujan berhenti dan udara menjadi dingin, nyamuk berkeliaran memasuki setiap sudut ruang rumah kami . Tangan kanan Melser menggaruk lutut dan ujung kakinya yang digigit nyamuk, tangan kirinya menggeser-geser layar handphone xiaomi yang dia beli online beberapa bulan yang lalu.
“SSSShhhhhhhhhhttt!”. Suara semprotan baigon untuk membunuh nyamuk tiba-tiba terdengar di telinga Guen yang sudah terlelap 30 menit yang lalu.
“Bruk”. Suara pintu Guen tertutup
“Maaf”. Teriak Rosdi memegang Baigon di tangan kanannya.
“Tidak apa-apa Ros”. Teriak Guen dari dalam kamarnya.
“Kamu ingin membunuhku?”. Teriak Hella dari kamar mandi yang terletak di sudut ruang tamu.
“Uaaakkk, Uaaaaak,Uaaaak”. Suara Melser dari kamar sebelah sambil mencari masker untuk menutupi hidungnya yang sensitive terhadap bau tajam dan menyengat.
“Maaf guys….aku hanya ingin membasmi nyamuk jahat ini supaya kita tidak terjangkit penyakit demam berdarah”. Jelas Rosdi sambil menerangkan kembali pesan dari petugas fogging nyamuk yang telah menyemprot got depan rumah kami empat hari lalu. “Gak lama koq baunya”. Tambahnya untuk menenangkan yang lain.
“Guys! Aku laper, ada apa di kulkas?”. Guen membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur lalu berhenti tepat di depan kulkas.
“Mbakkk”. Suara kulkas terbuka
“Whatttt!?”. “Cuma ada telur”. “Oufhhh, aku alergi dengan telur”. Guen menggaruk sela-sela jari tanggannya yang selalu gatal setelah makan telur.
“Aku ada Mie Coto, Mau gak?”. Teriak Diah dari samping rumah yang sedang mencuci kain.
“Tidak terima kasih, aku pikir akan makan nasi dengan bayam hijau saja”. Jawab Guen singkat.
“Guys mkan yuk….!”. Suara Guen memenuhi ruangan dari dapur, ruang tamu bahkan sampai ke kamar tempat Hella, Rossi dan Melser berada.
“Mari makaaannn”. Guen mengulangi panggilannya
“Iyo mama…..”. Ke empat gadis kesayangan itu serentak menjawab dan lari kedapur.
“Makanannya cuma sedikit, aku gak usa makan”. Hella kembali ke kamar dan bermain PUBG
Malam itu dapur riuh dengan bermacam-macam suara. Ada yang teriak sambil menceritakan sesuatu, ada yang tertawa sambil tepuk tangan dan ada yang makan sambil menonton FTV di YouTube. Sementara itu, Guen sibuk menghabiskan makanan yang tersisah dipiring putih tebal yang dibelinya dua tahun yang lalu. Dia ingin makanannya cepat habis supaya dia bisa kembali ke hpnya dan membuka aplikasi yang tadi sore ia download berharap ada orang baik yang sesuai dengan harapannya mengiriminya pesan, well baiklah bukan pesan tetapi wink dari pria yang didambakannya.
“Ini siapa ya?”. Gumam Guen dalam hati sambil membuka profil milik pria tampan putih berumur 34 tahun dari Jerman yang mengiriminya pesan.
“Hello My dear, how are you? You catch my eyes. What do you like to do at your free time my dear? I’d like to hear from you”. Pesan dari pria itu.
“Hello there thnk you for taking time and contacting me”. Guen menghabiskan bahasa inggris yang baru dia pelajari setahun yang lalu untuk membalas pesan dari pria itu.
“Where are you from?”. Tanya pria itu
“I am from one of the country in Asia”. And it’s late here, may I talk to you tomorrow?”. Kata Guen
“Ok, sorry dear. It’s a pleasure to meet you here. Goodnight”. Kata pria itu
“Hmmm…..Huaaaah”. Suara uapan keluar dari mulut Guen menandakan osigen diotaknya kurang dan siap untuk tidur.
Ruang tamu, dapur dan semua kamar gelap hanya lampu depan rumah yang menyala yang memberi tanda bahwa pemilik rumah ini ada dan sedang beristirahat. Jam handphone Guen menunjukkan pukul 00:30 tengah malam, ke empat gadis kesayangganya telah tidur lelap sementara mata Guen sudah tertutup tetapi pikirannya masih menjelajah keliling dunia. Guen selalu ingin menjadi journalist yang keliling dunia menuliskan kisah orang-oarng yang ia temui. Sebelum tidur hal ini selalu dipikirkannya dan berusaha untuk mencapainya meskipun kenyataan hidup yang ia hadapi sekarang berbeda dari mimpinya.
“Ahhhh…gak ada yang mustahil”. Kata Guen meyakinkan dirinya saat pikirannya berkata tidak mugkin dia menjadi seorang Journalist.
“Goodnight..!”. Guen menutup kedua mata sipitnya sambil mengambil nafas panjang lalu terlelap.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments