Bab 2 : Pertemuan Kedua dan Janji Tersembunyi

Pagi kedua di Universiti Beihua, Li Wei bangun dengan perasaan yang berbeza. Bukan lagi gementar, tetapi ada sedikit rasa teruja yang menapak di hati. Dia masih teringat perbualannya dengan Lu Han semalam. Ajakan Lu Han untuk membawanya melawat Xian masih berlegar-legar.

“Isit really a date?" bisiknya perlahan sambil membelek cermin matanya. "Don't be silly, Li Wei. He's just being kind."

"Morning, Li Wei! You're glowing today,

" tegur Mei Ling yang sudah siap berpakaian, sedang mengikat rambutnya. "Did you have a good dream about someone tall, dark, and handsome?" Mei Ling memandang Li Wei dengan senyuman nakal.

Li Wei tersipu-sipu. "Mei Ling! Stop it. I just slept well." Dia cuba menyembunyikan pipinya yang memerah. "What about you? You seem... extra cheerful."

Mei Ling hanya tersenyum misteri. "Let's just say, I have a secret that makes me happy." Dia bergegas mengambil begnya. "Anyway, I have an early class. See you later!" Mei Ling bergegas keluar, meninggalkan Li Wei dalam tanda tanya. 'Secret? What secret?' fikir Li Wei.

Li Wei bersiap perlahan, fikirannya masih melayang. Hari ini, dia ada kuliah pengaturcaraan yang agak mencabar. Dia cuba fokus, tetapi bayangan Lu Han masih sukar dibuang.

Apabila Li Wei tiba di fakulti kejuruteraan, dia terkejut melihat Ryan sedang menunggu di koridor utama, bersandar pada dinding dengan gaya santai. Ryan kelihatan sangat bergaya dengan jaket kulitnya.

Di tangan Ryan ada sekuntum bunga mawar merah. "Woah, who is that for?" fikir Li Wei. Dia cuba mengelak dari pandangan Ryan, merasakan kehadiran lelaki itu terlalu menonjol.

Ryan melihat Li Wei melintas, dan mata mereka bersentuhan seketika. Ryan hanya mengangguk kecil, senyumannya yang menawan terpancar. Li Wei hanya menundukkan kepala, tidak berani membalas. Dia tahu Ryan sedang menunggu Mei Ling. Hatinya sedikit perit memikirkan sepupunya itu sentiasa menjadi tumpuan ramai.

Tidak lama kemudian, Mei Ling muncul dari hujung koridor. Apabila dia melihat Ryan, senyumannya merekah lebih lebar. "Ryan! 你等了很久吗? (Nǐ děngle hěnjiǔ ma? - Have you been waiting long?)" tanya Mei Ling, suaranya lembut.

"Not at all, my dear. For you, I can wait forever," jawab Ryan dalam bahasa Inggeris, sambil menghulurkan bunga mawar merah itu kepada Mei Ling. "These are for you, beautiful."

Mei Ling ketawa kecil, mengambil bunga itu. "Oh, Ryan, you shouldn't have. But thank you, they're lovely." Dia menghidu bau mawar itu. "So, what's up?"

"Just wanted to see you before class. And maybe... grab breakfast together?" ajak Ryan, matanya memandang Mei Ling penuh harapan.

"I've already eaten, but thanks for the offer," balas Mei Ling, sedikit malu dengan perhatian Ryan. "Anyway, I have to go, my class starts soon."

"Alright. How about dinner tonight? My treat," Ryan tidak berputus asa.

Mei Ling teragak-agak seketika. "I'll let you know, okay? I have a lot of assignments to catch up on."

"Don't worry, just think about it," kata Ryan, dengan senyuman yang tidak pernah pudar. "See you around, Mei Ling."

Li Wei yang memerhati dari jauh, menghela nafas lega apabila Ryan akhirnya beredar. Dia tahu Ryan benar-benar berminat dengan Mei Ling. Li Wei tidak dapat membayangkan betapa ramainya gadis yang cemburu pada Mei Ling.

Selepas kuliah tamat, Li Wei ingin cepat-cepat pulang ke asrama untuk berehat. Hari ini otaknya dipaksa bekerja keras dengan kod-kod pengaturcaraan. Apabila dia melangkah keluar dari bangunan fakulti, dia terpandang satu sosok tubuh yang dikenalinya sedang berdiri di bawah pokok rendang. Lu Han.

Lu Han sedang berbual dengan beberapa rakan lelakinya, namun matanya sesekali melilau. Apabila terpandang Li Wei, dia segera mengucapkan selamat tinggal kepada rakan-rakannya dan melangkah mendekati Li Wei.

"Li Wei! 這麼巧? (Zhème qiǎo? - What a coincidence?)" sapa Lu Han, senyuman tipisnya kembali terukir.

"Oh, Lu Han," Li Wei sedikit terkejut, namun hatinya gembira. "Yeah, I just finished my class."

"Me too. My last lecture just ended," kata Lu Han. "Are you heading back to the dorm?"

"Yes," jawab Li Wei.

"Great. Let's walk together then," ajak Lu Han, mula berjalan seiring dengan Li Wei.

Sepanjang perjalanan ke asrama, mereka berbual santai. Lu Han bertanya tentang kuliah Li Wei, dan Li Wei bercerita tentang kesukarannya memahami beberapa konsep pengaturcaraan. Lu Han dengan sabar mendengar dan sesekali memberikan cadangan.

"So, about what I said yesterday... the tour around Xian," Lu Han memulakan bicara, matanya memandang Li Wei. "Are you free this Saturday? I was thinking we could visit the Terracotta Army and maybe have dinner at the Muslim Quarter."

Li Wei tergamam. Ini adalah ajakan rasmi. Jantungnya berdegup laju. "This Saturday? Uh... I think I'm free," jawab Li Wei, cuba menyembunyikan rasa terujanya.

"Perfect," kata Lu Han, senyumannya bertambah lebar. "I'll pick you up at your dorm entrance around 9 AM. Is that okay?"

"Yes, that's fine," balas Li Wei, masih tidak percaya. "Thank you, Lu Han."

"Don't mention it. It's my pleasure," ujar Lu Han. "好了, 我先走一步. 星期六见! (Hǎo le, wǒ xiān zǒu yī bù. Xīngqíliù jiàn! - Alright, I'll take my leave first. See you on Saturday!)" Lu Han melambaikan tangan sebelum berpusing ke arah blok asrama lelakinya.

Li Wei berdiri terpaku seketika, melihat Lu Han berlalu pergi.Sebuah senyuman manis terukir di bibirnya. Dia tidak dapat menahan perasaan gembira yang meluap-luap. "He asked me out! He actually asked me out!" bisiknya, hampir menjerit.

Apabila dia masuk ke bilik asramanya, Mei Ling sedang duduk di katil, bermain telefon. "Well, someone is glowing even brighter now," tegur Mei Ling. "What happened? Did Lu Han finally ask you out?"

Li Wei melompat ke katilnya, memeluk bantal dengan erat. "He did! He asked me to go sightseeing with him this Saturday!"

Mei Ling tersenyum gembira untuk sepupunya.

"That's wonderful, Li Wei! I'm so happy for you." Namun, dalam hati Mei Ling, ada sedikit rasa cemburu. Bukan cemburu kerana Li Wei keluar dengan Lu Han, tetapi cemburu kerana Li Wei akhirnya berani melangkah keluar dari zon selesanya.

"But... what should I wear? And what should I talk about? I'm so nervous," kata Li Wei, mula panik.

"Relax, Li Wei. Just be yourself," nasihat Mei Ling. "You're smart and kind. He'll like you for who you are. As for clothes, don't worry, I'll help you pick something nice. We can go shopping tomorrow if you want."

"Really? Thank you, Mei Ling! You're the best!" Li Wei memeluk sepupunya erat.

Petang itu, Li Wei tidak dapat menumpukan perhatian kepada buku-bukunya. Fikirannya penuh dengan persediaan untuk hari Sabtu. Dia membayangkan mereka melawat tempat-tempat bersejarah di Xian, kemudian makan malam di Muslim Quarter. Ia seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Malam menjelang. Selepas makan malam di kafeteria, Li Wei dan Mei Ling kembali ke bilik asrama. Mei Ling tiba-tiba menerima satu panggilan video. Dia segera berlari ke luar bilik. "I'll be back in a bit," katanya kepada Li Wei.

Li Wei hanya mengangguk, hairan dengan tingkah laku Mei Ling. Dia terdengar Mei Ling berbual dalam nada perlahan, kadang-kadang diselangi ketawa mesra. 'Must be her secret admirer,' fikir Li Wei, sambil tersenyum kecil.

Namun, yang Li Wei tidak tahu, panggilan video itu adalah dari Ryan.

Di satu sudut kampus yang agak terpencil, Mei Ling sedang berbual dengan Ryan di telefon.

"哈尼, 我想你 (Hāní, wǒ xiǎng nǐ - Honey, I miss you)," kata Ryan dalam bahasa Mandarin yang fasih, dengan nada manja.

Mei Ling ketawa. "Me too, my silly boy. We just saw each other this morning."

"It's not enough. I want to spend every second with you," balas Ryan. "Did you think about dinner tonight?"

"I couldn't, you know," Mei Ling mengeluh perlahan. "We need to be careful, Ryan. If anyone finds out about us..."

"No one will. We've been careful for two weeks now," kata Ryan, cuba meyakinkan Mei Ling. "Why do we have to keep it a secret anyway? I want to show the world you're mine."

"You know why. My family, your family... it's complicated," jawab Mei Ling, suaranya bertukar serius. "And my cousin, Li Wei, she's here now. I don't want to complicate things for her."

"Complicate what? She's your cousin. It's none of her business," ujar Ryan, sedikit tidak sabar.

"It is. She's new here, and I want her to feel comfortable," balas Mei Ling. "Just for a little while longer, okay? Please, for me?"

Ryan mengeluh. "Alright, fine. Anything for you, my love. But I'm not happy about it."

"I know, baby. I'll make it up to you soon," kata Mei Ling, cuba memujuk. "Oh, and Li Wei actually has a date with Lu Han this Saturday."

"What?! Lu Han? That guy?" Ryan terkejut. "Seriously? With your cousin?"

"Yes. He asked her out for sightseeing," jawab Mei Ling, sambil ketawa. "Looks like my shy cousin is finally getting some action."

"Unbelievable. Lu Han always tries to one-up me," rungut Ryan. "First it was the debate competition, then the basketball tournament, now this. He always wants to take what's mine."

"Relax, Ryan. Li Wei is not 'yours'," Mei Ling membetulkan. "She's my cousin. And they're just going sightseeing. It's not a big deal."

"It is a big deal if Lu Han is involved," kata Ryan, nada suaranya sedikit tegang. "You know how competitive he is."

"Well, let's not worry about that for now. We have our own secret to keep," ujar Mei Ling, cuba mengubah topik. "Anyway, I have to go now. Li Wei might get suspicious."

"Okay. Take care, my love. 晚安 (Wǎn'ān - Good night)," kata Ryan.

"晚安, 宝贝 (Wǎn'ān, bǎobèi - Good night, baby)," balas Mei Ling, kemudian menamatkan panggilan.

Mei Ling menarik nafas lega. Rahsia hubungannya dengan Ryan adalah satu beban yang berat. Dia sayangkan Ryan, tetapi dia juga tidak mahu menyakiti sesiapa, terutamanya Li Wei. Dia tahu bagaimana pandangan Li Wei terhadap Lu Han. Konflik ini semakin hari semakin rumit.

Li Wei yang masih di dalam bilik, mendengar Mei Ling melangkah masuk. "Who was that?" tanyanya, berpura-pura tidak tahu.

"Oh, just a friend," jawab Mei Ling, cuba bersikap biasa. "Just discussing some assignments."

Li Wei tidak mengesyaki apa-apa. Dia terlalu gembira dengan ajakan Lu Han sehingga tidak mengambil peduli tentang rahsia Mei Ling. Dia tidak tahu, janji tersembunyi antara Mei Ling dan Ryan ini akan menjadi duri dalam daging kepada semua orang kelak.

Sementara itu, Ryan di bilik asramanya menghela nafas panjang. "Lu Han and Li Wei, huh?" Dia tersenyum sinis. "Let's see how long that lasts. My Mei Ling is all that matters." Dia tahu dia tidak boleh mendedahkan hubungannya dengan Mei Ling buat masa ini, tetapi dia tidak akan membiarkan Lu Han bermaharajalela, terutamanya jika ia melibatkan orang yang rapat dengan Mei Ling. Persaingan antara Ryan dan Lu Han telah mencapai tahap baharu.

Malam itu, empat jiwa ini terperangkap dalam jaring takdir yang semakin erat. Li Wei dengan perasaan cinta yang baru bersemi, Lu Han dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Mei Ling dengan rahsia cinta yang tersembunyi, dan Ryan dengan ego serta tekadnya untuk memiliki Mei Ling.

...****************...

Diari Li Wei

Dear Diary,

Today was... magical. I can't believe it. Lu Han, the Lu Han, asked me out! Not for a formal date, he called it 'sightseeing', but still! It's an invitation from him. My heart is still doing flips and somersaults. I never thought anyone like him would even notice me, the quiet, nerdy girl with glasses.

Mei Ling is happy for me. She even offered to help me choose an outfit for Saturday. I'm so grateful to have her here. She's always so confident and beautiful, unlike me. Sometimes I wonder how we can be cousins, we're so different.

I wonder what we will talk about? I hope I don't embarrass myself. I need to read up on Xian's history. Maybe I can impress him with my knowledge? No, Li Wei, don't be silly. Just be yourself, like Mei Ling said.

There's something about Mei Ling too. She seems to have a secret. A happy secret, she called it. She took a call outside earlier, and she sounded so... in love. I hope she finds happiness too. She deserves it.

I can't wait for Saturday. This is truly the most exciting thing that has happened to me since I arrived at Beihua. Could this be the beginning of something wonderful? I really hope so.

Yours truly,

Li Wei

...****************...

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play