Bulan Merah

Bulan Merah

Bab 1 : Prolog

Seorang pemuda berambut perak berdiri di sebuah lapangan terbuka di tengah hutan. Ia menarik tali busurnya sambil mengamati mangsanya dengan cermat. Dengan anggun, ia melepaskan anak panahnya yang mengenai jantung rusa itu. Ia mendekati hewan yang kini telah mati itu, memperhatikan darah mengalir dari luka di tubuhnya. Ia mengangkat rusa itu dan menempelkan mulutnya ke lehernya. Ia membuka mulutnya dan mengeluarkan taringnya, lalu menggigit pembuluh darah jugularnya. Ia tidak mengeluarkan suara saat menghisap darah, membiarkannya menghilangkan rasa lapar ringan yang dirasakannya.

Ia menjatuhkannya setelah menghisap semua darahnya hingga kering dan menyeka sisa-sisa darah dari bibirnya dengan punggung tangannya. Ia memiringkan kepalanya saat mendengar suara gemerisik di kejauhan. Kemudian tiba-tiba, bau serigala jadi-jadian menyerang indra penciumannya. Ia langsung menegakkan punggungnya dan berlari menuju sumber bau menjijikkan itu.

Itu adalah wilayah kelompoknya, seharusnya tidak ada serigala di hutan ini. Matanya berbinar berbahaya saat dia semakin dekat dengan sumber suara itu. Dia menciptakan perisai untuk menutupi aroma vampirnya agar keberadaannya tersembunyi saat dia mengamati area sekitarnya. Kemudian dia melihat sekilas seekor serigala betina dengan bungkusan di tangannya. Dia berlari menyelamatkan diri. Dari kejauhan dia bisa mencium bau beberapa serigala lain yang memancarkan amarah mengikuti jejaknya.

Taeyong mengikuti wanita itu secara diam-diam. Mereka tiba di tepi hutan, di mana terdapat tebing yang berujung pada sungai hitam yang dalam di bawahnya. Wanita itu melihat sekeliling dengan panik. Dia menangis sambil memeluk erat bungkusan di lengannya. Taeyong menurunkan perisainya dan wanita itu tiba-tiba berdiri tegak saat merasakan Taeyong mendekat, mengawasinya dengan ketakutan di matanya.

Wanita itu tiba-tiba berlutut begitu Taeyong tiba di hadapannya, dan hal itu membuat vampir itu mengangkat alisnya tanda bertanya-tanya.

“Kumohon bantu saya,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.

Taeyong membentak, “Kenapa aku harus, anjing kampung? Kau menginvasi wilayahku, aku akan membunuhmu saat ini juga.”

“Kau boleh membunuhku,” jawab wanita itu dan Taeyong terkejut mendengarnya, “tapi tolong selamatkan putraku!”

Taeyong baru menyadari bahwa bungkusan di lengan wanita itu adalah seorang bayi.

“Kumohon, aku memintamu, kau bisa meninggalkannya di desa atau di tempat lain, tapi tolong jangan bunuh dia. Dia masih bayi,” isaknya.

Tiba-tiba, suara gemerisik itu semakin mendekat dan Taeyong serta wanita itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. Wanita itu berdiri dan menyerahkan bayi itu ke pelukan Taeyong, yang menerimanya dengan sukarela.

Ia langsung berlari sambil membawa kain yang sebelumnya membungkus bayinya, membuat Taeyong terpaku di tempatnya. Bayi di pelukannya tidur nyenyak sementara aroma anak serigala yang baru lahir menusuk hidungnya. Bayi itu bahkan tidak bergerak ketika Taeyong berlari mengejar ibunya.

Aroma serigala semakin kuat ketika dia berhasil menangkap wanita itu. Dia mengangkat perisainya ketika melihat ada serigala lain yang mengepung wanita itu. Belum ada yang menyadari kehadirannya.

“Sebaiknya kau kembali bersama kami, Joohyun,” kata salah satu serigala bertubuh besar itu.

“Lewat mayatku dulu,” geram wanita itu. Wanita itu menggenggam erat bungkusan kain di lengannya. Dia harus menaruh sesuatu di sana untuk menggantikan bayi itu, karena dari kejauhan tampak seolah bayi itu masih ada di sana. Dia berbalik dan melompat dari tebing. Serigala-serigala itu menggeram marah sambil mengulurkan tangan untuk menangkapnya. Tetapi sudah terlambat, wanita itu jatuh dari tebing ke sungai gelap di bawahnya.

Entah serigala atau bukan, Taeyong tahu tidak akan ada yang selamat setelah lompatan itu. Karena sungai itu dipenuhi bebatuan besar dan tajam. Bayi di lengannya tiba-tiba menggeliat seolah menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibunya. Taeyong melepaskan aura lembutnya untuk menenangkan bayi itu, dan berhasil. Para serigala, begitu menyadari mereka kehilangan wanita itu, langsung berbalik. Mereka bahkan tidak melirik ke tempat Taeyong berdiri dengan tenang.

Bau itu semakin melemah seiring serigala-serigala itu menjauh dari tempat tersebut. Taeyong masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di wilayahnya. Dia menatap bayi itu dan terkejut ketika mendapati dua mata cokelat menatap balik padanya. Bayi itu mengamatinya dengan tenang, bahkan tidak menangis karena bau asing yang pasti dipancarkan Taeyong.

Saat itu juga, Taeyong teringat pada keponakannya, yang seratus tahun lalu pertama kali ia gendong. Keponakannya juga bermata cokelat seperti bayi ini. Ia memeluk bayi itu erat-erat sambil berlari menuju rumahnya.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play