Sesampainya empat pemuda, Taeyong dan sekretaris nya Kun didepan ruang kepala sekolah, Taeyong membungkukkan badanya 90° sambil melirik kearah depannya. Dimana bagian tubuh keempat pemuda yang menjadi incaran Jaehyun, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
"Terimakasih telah menunjukkan ruang kepala sekolah"
"Sama sama" ucap mereka bersama sama.
Kedua tangan Taeyong nampak merogoh seluruh sakunya, mencari sesuatu dari sana. Setelah itu, Taeyong mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang yang diam diam Jaehyun menyelip kan kartu namanya.
"Ini. Terimalah ini, sebagai ucapan terimakasih ku karena kalian telah mengantarku sampai dengan selamat" ujarnya sambil menyerahkan uangnya.
Keempat pemuda itu lagi lagi saling melempar tatapan, gelagat mereka terlihat seperti ingin menerima uang itu, tapi mereka juga tidak enak untuk menerimanya.
"E... Tidak perlu tuan, lagipula uang itu-
"Oh apakah uangnya kurang? Kalau begitu..." Taeyong memotong ucapan salah satu dari mereka dan mengambil satu black card miliknya dan menyerahkannya kepada mereka.
"...Ini, apakah ini cukup"
Terkejut. Bukannya ini berlebihan? Mereka hanya mengantarkan saja tapi, bayarannya sebanyak ini? Mereka lagi lagi menggunakan telepati mereka untuk mendiskusikan permasalahan kecil ini.
Gemas karena tak kunjung diterima, satu tangan Taeyong terulur untuk menarik salah satu tangan mereka. Memaksakan untuk menerima pemberiannya.
"Sudahlah, terima saja. Aku masih punya banyak kartu ini di dompet dan di rumah"
Keempat pemuda itu, hanya bisa berkedip 'seberapa kaya orang ini?!' batin mereka.
"Sudah ya, kalau begitu. Aku akan masuk kedalam" ujar Taeyong dengan senyuman berdimplenya, lalu masuk kedalam ruang kepala sekolah yang diikuti oleh sekretaris nya.
Begitu Taeyong masuk bersama sekretaris nya, keempat pemuda itu langsung heboh dengan benda yang temannya bawa itu.
"Wah wah wah wah..!!!"
"Bukankah ini gila?!!!"
"Dia punya banyak katanya"
"Kalau seperti ini, aku mau mengantarkan dia terus"
"Eh tunggu sebentar"
Pemuda yang membawa black card itu terdiam, saat ia tak sengaja membalikkan black card itu "ada kartu namanya!"
Keempat pemuda itu merapatkan diri mereka, melihat tulisan yang tertera pada kartu kecil berwarna hitam mengkilap dengan tulisan berwarna emas.
"Namanya lee Taeyong. Dia seorang..."
"... CEO!!!"
"waaahhh"
Sedangkan didalam, Taeyong yang dapat mendengar keseruan mereka hanya bisa mengulas senyuman. Ia menatap telapak tangannya yang digunakan untuk menggenggam salah satu tangan dari keempat pemuda tadi.
'Tangan nya besar dan berotot. Jika digunakan untuk menamparku dan pantatku, pasti akan terasa nikmat'
"Apa yang kau pikirkan lee Taeyong" ujar si kepala sekolah yang memeluk Jaehyun dari belakang.
Taeyong membalikkan tubuhnya, menatap si kepala sekolah yang pernah melakukan hard sex kepada dirinya. Mengalungkan kedua tangannya pada perpotongan leher kepala sekolah itu.
"Itu rahasia, kepala sekolah Johnny Suh"
"Sepertinya dia mengincar murid murid anda"ujar Kun, mengadu kepada Johnny, lalu merangkul pinggang ramping Taeyong.
"Hm... Ternyata kau benar benar nakal"
Taeyong tersenyum, lalu meraup bibir Johnny si kepala sekolah. Sedangkan Kun, ia menjulurkan lidahnya ke telinga Taeyong yang membuat Taeyong mendesah dalam ciumannya.
"Hhhmmmppphhh~"
Kedua tangan Johnny menurun dari pinggang ke bongkahan sintal Taeyong lalu meremas nya dengan kuat.
"Hhhmmmppphhh~~"
Setelah puas menjilati telinga boss nya, Kun beralih ke leher jenjang dan seksi tuannya dan di sesapilah leher itu hingga meninggalkan jejak kemerahan disana. Satu tangan Kun yang lain mulai terangkat menuju dada Taeyong dan meremasnya.
Taeyong memasukkan lidahnya yang langsung disambut oleh lidah Johnny. Mereka saling melilitkan lidah mereka satu sama lain, hingga saliva yang telah tercampur menetes mengenai lengan Kun yang berada dibawahnya.
Johnny melepaskan pagutannya dengan Taeyong, berpindah menuju leher boss nya melakukan hal yang sama dengan sekretaris Taeyong, menciptakan karya yang membuat tuannya merasakan kenikmatan.
"Aaahhh~"
"Kaliannhh... Aku sudah tidak tahannnhhh"
Mendengar pemimpinnya sudah tak tahan, Johnny menghentikan aksinya. Berjalan menuju meja kerjanya, menarik lacinya dan mengambil sebuah kalung berantai. Johnny kembali pada Taeyong, memasang kalung itu ke leher Taeyong.
Taeyong tersenyum senang saat kalung itu dipasang ketat hingga mencekik lehernya. Johnny menarik rantainya dengan kasar membawa Taeyong menuju rak buku. Yang disana terdapat tuas rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, Taeyong dan Kun.
Di gerakkan tuas itu hingga rak buku bergeser, menampilkan sebuah pintu rahasia. Johnny membuka pintu itu lalu masuk sembari menarik rantai itu, membuat Taeyong sedikit tersentak dibuatnya. Kun, ia hanya mengikuti dibelakang.
Sesampainya didalam pintu otomatis tertutup, dan rak buku itu kembali pada tempatnya. Ruang kepala sekolah itu menjadi sepi, seperti ditinggal sang pemilik. Ruang kepala sekolah yang hanya menjadi sampul untuk ruang rahasianya. Ruang dimana ia dapat menyiksa pemimpinnya. Sang pemilik sekolah yang ia pimpin.
Johnny Suh dulunya hanya karyawan setia Taeyong, karyawan kantoran yang selalu menemani dan memuaskan hasrat bossnya, seorang sekretaris sebelum Kun. Tapi, setelah Taeyong membangun sekolah, Johnny dipercayai Taeyong untuk memimpin sekolah itu lalu mengangkat Kun menjadi sekretaris nya.
Hanya Johnny dan Kun saja yang dapat menuntaskan nafsu gila Taeyong, tak seperti karyawannya yang lain. Yang lemah, dan selalu berakhir dengan cepat. Siksaan yang dilakukan karyawan Taeyong pun tak dapat menyenangkan Taeyong sendiri. Benar benar hanya Johnny dan Kun saja yang dapat melakukannya.
Pernah Kun berpikir untuk tak lagi melakukan hard sex kepada Taeyong, jika saja pemimpinnya tidak mengancamnya mungkin saat ini Kun tidak akan berada disini.
Sedangkan Johnny, ia menurut saja dengan apa yang Taeyong inginkan asal ia tetap menerima gajinya juga bonus karena sudah memuaskan Taeyong.
"Aaahhh~ Johnny... Akuhhh... Suka penis muhh.."
PLAAKK..!!!
"Aauuuwhhh.... Hhuunnggghhh... "
Kun menampar pantat sintal Taeyong "kau lupa.. Hah.. Tak hanya penis Johnny saja... Hah... Yang ada di.. Lubangmu... Jalang... Hah.. "
"Hhahhahhahha.... Sshhh... Tam-tampar aku lagi Kuuunnhhh... "
Tak mengindahkan perintah Taeyong, justru Kun malah semakin menekankan penisnya kedalam lubang Taeyong yang membuat Taeyong semakin meracau tak jelas.
"Aaahhh~hhaaanggghhjh... Sakitthh..."
Taeyong mengeluh sakit, tapi kondisi wajahnya tak menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan. Rona merah pada wajahnya, semakin memerah hingga ke telingannya. Dan wajah sayu menggoda itu, tanda Taeyong semakin menikmati dua penis dan satu dildo yang mengoyak ngoyak lubangnya.
Posisi yang menungging, memudahkan Johnny dan Kun untuk menusuk nusuk Taeyong semakin dalam dan semakin dalam. Mendorong lebih masuk dua vibrator yang bersemayam dalam tubuhnya.
Sudah beberapa kali Taeyong mengalami pelepasan hingga stick cock yang sengaja ia pasang pada lubang penisnya, lepas dengan sendiri nya. Tak tahan menahan muatan cairan putih kentalnya yang sudah membludak.
"Ah... Ah... Akuuhh... Akuuhhh akannhh hancuurrrr..."
"Benar.... Kami akan menghancurkanmu lee Jalang Taeyong..."
"Hhhahhahhahhhahha~"
"Hhnnggghh... Hancurkan aku... Lebihhh... Dari ini..."
Aktivitas panas yang akan berakhir pada tengah malam nanti atau mungkin lebih dari itu, membuat Taeyong harus benar benar merasakan kepuasan, atau membuat Taeyong jatuh tak sadarkan diri. Itu lah cara agar mereka dapat mengakhiri kegiatan mereka bertiga.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments