Prolog II

PROLOG 2

\[Russie ....\]

Suasana menjadi hening sesaat.

\[Nich, aku mendengar kabar dari temanmu bahwa uang yang tadi adalah gajimu untuk yang terakhir kalinya ....\]

\[A-Aku tahu .... kok.\]

Aku berbohong, aku tidak tahu apa-apa soal diriku yang dipecat. Namun upahku itu memang terbilang cukup untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan disimpan dan dimasak di kemudian hari selama sebulan.

\[Tidak, aku yang menyuruh temanmu untuk merahasiakannya darimu—Nichol.\]

\[Tunggu dulu, t-terus uang tadi—berarti ....!?\]

\[Dimulai dari mana ya ....?\]

Dia berlagak sok dewasa dan mulai menatap langit dengan naif.

\[Pertama, Nich—disamping dari gajimu yang barusan, mari berpikir ke depan secara logis. Kita bukan siapa-siapa—jadi kita tidak punya prestasi, tidak punya bakat, tidak punya keahlian tertentu—pasti akan sulit untuk mendapat pekerjaan selain dari bidang industri.\]

Dia menghitung menggunakan jarinya dan mondar-mandir layaknya bos mafia yang sedang menginterogasi korbannya.

\[T-Tapi yang kudengar ada lowongan kerja di wilayah Hautsen, dalam bidang pengangkat barang pertanian, bahkan dengan upah yang lebih besar dari sekarang-\]

\[Wilayah Hautsen? Jaraknya saja membutuhkan 3 minggu untuk mencapainya, apa kau masih yakin?\]

Dilihat dari ekspresinya, ia sedang menantang emosiku, ya?

\[Tidak masalah, asalkan aku tidak punya saudara bodoh yang mementingkan kemauannya sendiri dengan membeli buku polos menggunakan uang hasil kakaknya.\]

Ia terdiam.

\[Mari kesampingkan soal buku, apa yang sekarang sedang kamu lakukan? Kalau bukan ke sekolah, kamu hanya menganggur-nganggur saja kan di rumah? Selain dari kecukupanmu yang membebankan aku seorang diri, kamu tidak berkontribusi apapun bagi kita berdua, terutama menghasilkan uang.\]

\[N-Nicho ....\]

\[Apa?\]

Dia lanjut beradu mulut soal masa depan yang ingin dia capai, dan bagaimana dia akan melampauiku suatu saat nanti dengan prestasi yang dimiliki nya.

\[Apakah kau tidak ingat dengan perkataan mu sendiri 8 bulan yang lalu?\]

\[Ketika kau berjanji akan membantuku menggapai cita-citaku dan mengabaikanmu seorang diri, bagaimana dengan itu? Apakah kau sudah lupa akan semuanya Nichol? Bahkan janji-janji palsumu itu?\]

\[TIDAK ADA YANG NAMANYA MASA DEPAN!!\]

Icarus memasang wajah kaget dan takut.

\[Persetan dengan semua itu! Aku hanya ingin kita berdua tetap hidup! Hanya itu saja, dan kamu malah menyia-nyiakan itu semua dengan membiarkan kita mati kelaparan!\]

Belum cukup, kutambahkan lagi.

\[Hidupku akan lebih baik jika tanpa denganmu! Aku tidak butuh kehadiranmu di dunia ini! Aku tidak butuh!\]

Apa aku harus tambahkan lagi?

\[Aku-\]

Sudahlah, nanti malah jadi sulit bernafas .... Ia juga terlihat sudah kapok.

Keheningan mengisi dengan cepat setelah aku bicara barusan. Pikiranku sekarang sudah tidak terkendali lagi.

Aku segera mondar-mandir tanpa arah sambil berpikir dengan tujuan untuk menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab dengan uang yang sudah ia habiskan tak tersisa, lalu pergi mencari makan terlebih dahulu—karena kami belum makan dari pagi.

Aagh .... ini tidak membantuku menenangkan diri. Hatiku perlahan-lahan makin membara, tetapi aku akan mencoba menyelesaikan situasinya tanpa harus terlibat perkelahian lagi.

Keheningan pun terpecah oleh jerit tangisan Icarus yang sedang merenung kebawah.

\[Jadi, kau senang—Nicho ....?\]

Ia lalu mengungkap wajahnya itu yang sekarang dipenuhi tetesan air mata, ia mencoba mengusap semua air mata tersebut dengan sela-sela bajunya yang masih sedikit kering.

Aku diam mematung, tak berkutik.

\[Nich .... Aku tidak tahu cara mengatakannya, tetapi selama 5 bulan terakhir aku bolos sekolah.\]

\[Hah ....? Tapi kan ....-\]

\[Uang yang kau kasih kepadaku untuk membayar sekolah kusimpan dengan baik, namun kemarin telah hilang dicuri oleh seseorang.\]

Dia menangis tersedu-sedu ketika mengatakannya. Perasaan membara dihatiku kini berkurang.

\[Aku putus asa, Nichol.\]

\[Aku putus asa dengan semua ini.\]

Ia menjelaskan bagaimana uang tersebut menghilang bersama tabungan dia dari mengemis dan bekerja sementara.

Kutenangkan pikiranku terlebih dahulu dan menanyainya soal buku yang ia beli, karena aku masih belum mengetahui maksud dari membeli buku bertebal 400 halaman tersebut.

Sesaat setelah kutanya, Icarus lanjut menangis—bahkan tangisannya sekarang labih keras dari sebelumnya.

\[Aku ingin kita berdua menjelajahi dunia dan mengisi petualangan-petualangan kita di buku itu—sembari memakai uang yang kau kasih kepadaku.\]

Bodoh .... tidak—aku tidak boleh menganggap remeh ide tersebut, mungkin saja ada makna tersembunyi dibalik itu. Namun setelah kupikir dengan baik, itu adalah ide yang lumayan menarik jika saja perbudakkan dan penculikkan sudah tidak ada di dunia ini dan jika uang tersebut tidak berakhir dicuri dengan mudahnya .... Tetapi kalau memang ingin dipaksakan, setelah itu mau apa?

Aku bertanya kepadanya soal masa depan.

\[Hmm ya, ya .... Lalu—setelah itu ....?\]

\[Aku ingin kita berdua mati bersama di tepi-jurang ini.\]

\[ .... \]

Sungguh diluar tebakanku.

Apakah ini sekedar lelucon belaka? Aku tidak mengerti sama sekali.

Ia lanjut berbicara tentang bagaimana keberadaan tuhan itu mustahil di dunia ini, dan bahwa mati itu tidaklah sia-sia.

Sepertinya aku harus menganggap serius ide tersebut, tatapannya begitu mencerminkan orang yang tidak tahu ingin berbuat apa. Sebaiknya apa yang harus kulakukan dalam situasi ini? Beradu nasib dengannya .... tidak. Menasihati nya .... tidak juga. Atau .... mengajaknya berbicara dalam rumah?

Waktunya tidak sempat sih. Kalau kumenangkan argumen dengannya pun kuajak ia makan terlebih dahulu di resto.

Yang pasti, ini bukan waktu yang tepat untuk beradu mulut dengannya .... karena dari yang kutahu ia sepertinya sedang mengalami "Krisis Emosional" atau semacamnya. Kematian ibu. Pemecatan. Uang yang hilang. Itu semua bercampur aduk di dalam pikirannya yang sempit itu. Wajar saja kalau tiba-tiba ada niatan ingin "mengakhiri segalanya", tetapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja.

\[Nichol.\]

\[Ng—kenapa?\]

Ia melangkah ke belakang, lebih tepatnya kearah jurang dengan sangat pelan-pelan—tatapannya sekali lagi mencerminkan orang yang sedang putus asa, aku segera berlari menujunya, tahu bahwa yang sedang dia lakukan itu tidak benar.

\[RUSSIE!!\]

Waktu seolah terasa melambat ketika aku menjulurkan tangan kananku jauh-jauh untuk berpegangan dengannya.

Kami saling bertatap-tatapan saat itu, masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Satu untuk menyelamatkan segalanya, dan satu untuk mengakhiri segalanya.

Saudara kembarku, kenapa kau jadi seperti ini ....?

Aku mohon, Tuhan yang ada. Aku mohon agar diberi kesempatan satu kali saja. Aku tidak meminta orangtua yang lengkap, keluarga yang kaya, maupun sekolah—apapun itu, kali ini saja. Aku ingin menyelamatkan apa yang sudah kupertaruhkan selama ini.

Di langkah ketiganya, kaki kiri dia hampir menyentuh ujung tebing sementara tanganku masih sedikit lebih jauh untuk menyentuhnya.

Langkah keempat sudah dia ambil, kali ini jauh melebihi garis tebing, ia dengan serentak .... terjatuh—namun .... sebelum itu terjadi, tanganku mengenggam tangan kanannya tepat sebelum ia terjatuh lebih jauh.

Kutarik tangannya dengan sekuat yang kubisa.

Rencanaku sepertinya berhasil—namun aku lupa dengan sesuatu—aku menariknya terlalu keras.

Seperti inikah aku akan mati?

Kalimat itu muncul bersamaan dengan berubahnya posisi kami menjadi terbalik—tangan dia mulai melepas dariku. Aku perlahan-lahan menyaksikan tubuhku sendiri tertarik oleh gravitasi.

Yah .... Ini salahku sendiri sih.

Aku akan terjatuh dari jurang—disaksikan oleh saudara kembar kandungku sendiri.

Sudahlah.

Aku menutup mataku, berharap semua yang akan terjadi berjalan dengan cepat.

\[Hap ..!\]

Tanganku terasa hangat, aku membuka mataku dan menyaksikan Icarus yang sedang meraih memegang tanganku.

Aku yang sedang sangat lelah—tidak sadar dengan perbuatan Icarus itu dan tidak bereaksi apapun soal tangan tersebut.

Rotasi badanku sudah mencapai sekitar 45° saat aku akhirnya sadar dan meraih kembali tangannya, namun badanku sudah terbilang terlalu jauh untuk ditarik kembali.

Dia menarik tangan kananku dengan sekuat tenaganya—tapi tetap saja, badanku terlanjur sudah jatuh sangat jauh.

Tapi, kenapa? Kenapa ia bersikeras menolongku?

Tidak, justru mengapa aku menyelamatkannya?

Kakiku terpeleset, badanku sekarang hanya ditopang oleh kedua tangan Icarus sendiri.

\[H-Hwaah ....!\]

Kaki Icarus sempat tergeser oleh gebrakan badanku yang terjatuh secara tiba tiba, ia panik dan segera mengambil tumpuan tanah yang baru dengan kakinya.

\[Icarus, kau sedang apa ....?\]

Ia menghela nafasnya dan menjawab pertanyaanku.

\[Aku minta maaf atas ideku barusan .... mohon bantu aku terlebih dahulu!\]

\[ .... \]

Aku mengangkat tangan kiriku lalu berpegangan dengannya, tetapi aku sengaja belum menariknya.

\[Tetapi kenapa kau menolongku ....?\]

\[Kenapa kau menanyakannya?\]

\[ .... \]

Sesaat aku terdiam, ia berteriak dan menarikku sampai ke atas dengan kedua tangannya.

Aku tidak menyangka orang ini bisa membuatku mengulas senyum lagi, ia terlihat sudah benar-benar mengurungkan niatnya itu.

Kami berdua serentak terjatuh dengan dada terbuka lalu menghela nafas bersama-sama sambil menatap langit yang mulai agak cerah.

\[Haaa ....\]

Tatapan kami ke langit terlihat seolah sedang melihat suatu keajaiban—lebih tepatnya memang ada suatu keajaiban. Awan besar berwarna biru gelap di langit mempunyai 5 lubang besar yang membuat sinar matahari tembus kebawah. Aku tidak mengerti apapun tentang fenomena alam, tapi dari sudut pandangku—sinar-sinar matahari tersebut menjungkai kebawah layaknya benang-benang yang menghubungkan bumi dan surga.

\[Waah .... Kau lihat kan Russie?\]

\[Iya, sepertinya ada meteor di langit.\]

Aku mengubah tatapanku ke Russie.

\[Itu meteor tipe apa ....?\]

\[Magnesium.\]

Russie memang lebih pintar dariku. Sejak kami berumur 8 tahun, kami suka bereksperimen dengan menaburkan sedikit garam ke api di wajan, lalu melihat kobaran api tersebut berubah menjadi sedikit kuning.

Russie mempunyai banyak hobi dari kecil, sementara aku menetap sebagai pencinta buku sejati.

Setelah sesaat—hidungku nyut-nyutan dengan parah.

Aku refleks melindungi hidungku.

\[Hidungku- .... Aduh .... Hidungku patah.\]

Russie mengubah tatapannya ke wajahku, ia melihat hidungku sekilas.

\[Nikmati saja, kau juga sudah membuatku benjol tadi.\]

\[Tapi lukaku lebih parah.\]

Kami berdua menatap satu sama lain, lalu Russie tertawa melihat hidungku yang berwarna merah.

\[Aku seperti pernah melihat wajahmu di sirkus!\]

\[Oi .... Mau kutinju balik sampai patah juga ....?\]

Kembali ke wajah serius.

Rasain tuh, hehe.

Kami sejak kecil sudah terbiasa berbaikan setelah bertengkar seperti ini, jadi kuanggap kejadian tadi semacam "Salam Perdamaian" versi kami.

Ketika aku sudah menjadi dewasa, ide Russie tadi akan kupakai, sebagai bahan cerita novel, tentunya.

Aku jadi ingat novel romansa dengan kisah yang mirip, ceritanya, ada seorang wanita detektif yang ditugaskan untuk memata-matai pria lebih muda darinya, ia awalnya enggan menjalankan misi itu, lalu salah satu temannya mengatakan bahwa pria tersebut adalah pria yang ia idam-idamkan selama hidupnya. Wanita itu pun menerima nya dengan senang hati. Wanita tersebut lalu dengan diam diam menjalin hubungan romantis dengan pria itu. Hari hari berlalu—dan pria tersebut akhirnya mengetahui identitas sang wanita dan memutuskan untuk melompat dari bangunan, ia mengira cintanya itu hanya sekedar misi belaka, tetapi sebelum pria itu melakukannya, wanita detektif tersebut datang dan menolongnya tepat waktu, kisah pun berakhir dengan tragis ketika wanita tersebut tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Sungguh cerita yang ironis, aku sampai harus menahan tangisanku saat membacanya diam diam di toko buku.

Untung gak ketahuan, hehe.

Memang tidak ketahuan sih, tetapi ada beberapa temanku yang iseng menceritakannya ke penjaga toko buku.

Aku pun jadi selalu berakhir diusir ketika baru membaca halaman keempat novelnya.

Awalnya aku bisa baca sampai akhir, tuh.

Oh iya, setelah kubaca lagi sedikit-sedikit, sekuel dari novel tersebut menceritakan si pria yang ingin membalaskan dendamnya ke pemerintahan.

Aku diam diam ingin menjadi novelis di masa depan, tetapi memang Russie lebih pintar, sih.

Aku terlempar balik ke realita, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sampai aku lupa kalau sedang berbicara dengan Russie.

Tadi aku sampai mana, ya?

\[Setelah ini mau kemana ....?\]

Icarus lalu tersadar dan membangunkan dirinya sembari menatapku dengan wajah seperti baru q ....\]

\[Kita mau. lkkk o o p o j. o o o. oho. i o o. makan apa kalau bukan dengan uang!?\]

\[Siap, bos. Ada 400 Dole² di dalamnya bersamaan dengan uang sekolah yang kau kasih, kemungkinan uangnya terbawa saat seprai itu terbuang.\]

---

Hautsen: Sebuah kerajaan agraris berjarak 1,200 kilometer dari pulau Westhabb.

---

Dole² (Dibaca "Doul"): Satu Dole berkisaran sekitar Rp4,500.00.

400 Dole dapat terkonversi sebagai Rp1,800,000.00.

---

\[400 Dole? Waah ....! Berarti uang tersebut masih ada kan?\]

Kutunjukkan ekspresi gembira kepadanya, sementara Icarus terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu.

\[Bisa jadi, sih.\]

\[Bagus—kalau begitu, ayo jalan ke rumah!\]

\[Tunggu dulu.\]

Ia berdiri dengan tegak menghadap ke arah pohon beringin—membelakangiku dengan pose berlagak layaknya karakter misterius di novel detektif.

\[H-Hah ....? Kenapa lagi?\]

\[Uang nya tidak cukup untuk transportasi kita berdua.\]

Aku perlahan berdiri mengikuti Icarus.

\[Transportasi apa? Kita belum makan dari pagi, lho.\]

Dia menjelaskan soal transportasi yang membutuhkan setidaknya 180 Dole² (Rp810,000.00) untuk mencapai kerajaan Hautsen¹—lalu aku menegaskan bahwa prioritas kita sekarang hanyalah untuk makan.

\[Ah .... Sulit sekali ya untuk berdebat denganmu, Nichol.\]

Maksudnya apa sih?

\[Maafkan aku.\]

Aku dengan serentak melihat Russie yang memutarkan badannya.

Perkataan ia sangat membingungkanku, masalah uang sudah terselesaikan, sekarang ia mau menambah masalah lagi?

Sesaat setelah kupikir barusan, kurasa ada dua tangan yang mendorong dengan pelan di dadaku. Genggaman tangan itu membuat kakiku kehilangan keseimbangan, dan membuat diriku miring layaknya pin yang terjatuh saat terhantam bowling ball.

Aku melihat awan tadi dengan sekilas, tapi bukankah aku barusan berdiri menghadap pohon beringin?

Aku baru sadar kalau yang mendorongku barusan adalah Russie sendiri.

\[UWAA!!\]

Aku terhempas jatuh ke jurang.

Lho, kok??

Icarus menatap dingin ke arahku, sesaat sebelum tatapan kami terhadang oleh jurang.

Pandanganku sekarang terbalik, aku bisa melihat awan-awan seperti di bawah kakiku dan gunung-gunung di atas kepalaku. Angin mengibas rambut dengan kencang dan percikan air sedikit-demi-sedikit keluar dari bajuku. Ya, tidak ada yang bisa kulakukan di situasi ini. Nyawaku akan dicabut setelah berakhir tragis terdorong, aku hanya bisa menerima nasibku, toh—hidupku tidak sepenting itu. Kenapa aku tidak langsung menyadarinya? Kenapa aku berakhir menolongnya barusan?

Aku sungguh bodoh, tidak—kita berdua.

Kututup mataku sesaat sebelum kepalaku menghantam tanah dengan jarak kurang dari 5 meter. Namun, sesuatu terjadi dengan sangat cepat bahkan aku tidak sempat menyadarinya.

\[wwWWWUUSHH ....\]

Aku bersiap merasakan rasa sakit luar biasa di kepalaku—namun aku berakhir tidak merasakan apapun. Aku menggerakan tanganku dan merasakan sensasi lembut seperti sedang memegang bantal.

Ini pasti surga kan?

Aku merasa badanku dalam posisi tidur sambil dikelilingi oleh kapas-kapas tak berujung.

Aku meraba-raba sekitar dengan kedua tanganku.

Wah, lembut ya.

Inilah saat ketika aku harus membuka mataku lebar-lebar. Aku takut, tetapi aku harus menghadapinya.

Kubuka mataku perlahan-lahan.

\[Ini terasa .... familiar?\]

Aku melihat sekilas lemari kayu yang ada di sampingku. Lalu kubuka mataku sepenuhnya.

\[Hah ....?\]

Kini aku berada didalam kamarku—tepatnya di sebuah tempat tidur dalam rumahku yang kosong dan sunyi. Entah kenapa .... aku berada disini.

Ku ingat dengan jelas saat hampir mendarat, terlihat kilatan berwarna putih melesat di depanku sesaat sebelum kepalaku menyentuh tanah.

Dan di saat itu juga aku baru menyadari bahwa Icarus telah mengkhianatiku.

Kicauan burung terdengar dengan samar-samar saat aku melihat ke sekitar.

Ini jelas membingungkanku, tetapi dari yang kuamati—aku tidak sedang berada di surga atau di mimpi indah. Aku merasa dipindahkan secara tiba-tiba ke dalam rumahku.

Kupegang bajuku yang sudah kering.

\[Hff hff .... masih bau apek.\]

Aneh—bajuku terasa jauh lebih kering dari saat kejadian di atas tebing itu, yang jelas—ini masih baju yang sama.

Aku melihat keadaan di sekitar, berteriak Icarus untuk sesaat, lalu mengecek kamarnya, disitulah aku melihat sprei baru nya telah terpasang dengan rapi. Aku mondar-mandir ke belakang rumah, namun sepertinya kosong—tidak ada siapapun di sini. Aku dengan santai berjalan ke lorong utama rumah, berjalan ke pintu masuk utama depan—langkahku terasa berat, suara samar-samar terdengar dari arah pintu tersebut. Tanganku mencapai gagang pintu dan aku bersiap membukanya.

Entah kenapa aku merasa deg-degan.

Aku menelan ludahku dan membuka pintunya.

Dan di saat itu juga, aku melihat 5 sosok asing yang lebih tinggi dariku sedang berbicara di depan pintu.

PROLOG •SELESAI•

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play