Prolog I

Prolog I

Prolog I

(PROLOG 1)

Pukulan dibalas pukulan, hinaan dibalas hinaan. Aku tidak akan memaafkan dia—seseorang yang kubanggakan—malah mengkhianatiku?

\[Tch ....\]

Aku akan memberi dia pelajaran, aku tidak peduli siapa yang duluan memukul—toh, siapa sih yang masih peduli hal begituan?

\[Aku-\]

Kutinju muka dia.

\[Tunggu dul-\]

Kutinju lagi, tapi tangan dia menahan seranganku.

Suara nya terengah-engah—tapi aku sudah tidak peduli lagi, uang yang seharusnya ku belikan makanan malah dipakai buat beli buku ....

Orang ini pantas diberi pelajaran.

Nafas dia terserak ketika aku memukul dadanya, tangan kanannya masih melindungi muka nya.

Sejak awal pertengkaran memang sudah kudorong dia jatuh duluan sih.

Tapi tetap saja, hatiku terasa terbakar ..... seluruh uang itu memang harus kubelikan makanan untuk seminggu ke depan ini.

\[Haa ..... Haa .....\]

Wajah nya kesulitan menahan pukulanku.

Ya .... seperti yang kalian lihat, rupanya aku sedang bertengkar dengan saudaraku di tengah lapangan yang sepi ini. Kejadian awalnya sulit untuk diceritakan, tapi yang pasti aku saat ini sedang marah besar dengannya.

\[Kau .... menghargaiku, kan ....?\]

Aku bertanya dengan terbata-bata.

\[Nicholas, dengarkan aku—bukunya bisa dipakai untuk belaj-\]

Kutekan tangan yang melindungi wajah nya, omongan dia terhenti.

\[Kau .... meremehkanku ya— ....?\]

Kutekan dengan lebih keras.

Situasi kami sulit untuk diselesaikan, karena masalah ini berhubungan dengan kehidupan kami kedepannya.

\[𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐡𝐚𝐛𝐢𝐬𝐤𝐚𝐧 .... —Kubuka tangan dia.

𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐦𝐩𝐮𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮?! ..\]

Dia terdiam.

Sensasi di perutku memberi semacam alarm darurat agar diriku segera makan. Tetapi masalah ini tidak akan terselesaikan jika aku tidak mendapat uangku kembali.

\[Aku ingin kita berdua tetap hidup, tau!\]

Aku menghela nafas.

\[Kau keterlaluan Icarus!\]

Lalu secara tiba tiba, wajah nya—tidak, seluruh tempat di sekitar kami menjadi gelap seperti telah tertutup oleh bayangan sesuatu.

Aku refleks memutar kepala ku keatas.

\[Wah ....\]

Di tengah-tengah kekacauan yang aku alami—tidak peduli mental atau fisik, awan berkabulan dengan drastis tepat diatas kami.

Awan tersebut berwarna abu abu arang dengan sedikit campuran warna hitam pekat dan biru ....? di dalamnya.

Aku terheran-heran dengan warna yang tidak natural itu, namun dapat dipastikan dari suasana sekitar kalau sebentar lagi, hujan yang sangat berat akan menyirami kami berdua tanpa ampun.

Tetapi, cuaca ini terasa beda ....

Aku menatap langit dengan penuh keheranan.

\[Bukankah tadi masih cerah ya ....?\]

Ini akan merepotkan kami berdua, suasana di sekitar makin dingin. Diriku sebentar lagi tak sanggup bertahan seperti ini.

Aku menolehkan kepala ku.

Hutan dibelakang lapangan juga mulai tertiup angin kencang, dan dari firasatku—aku merasa bahwa .... ini adalah permulaan dari sebuah peristiwa yang tak akan terulang sepanjang masa.

Hehe, sepertinya aku terlalu melebih-lebihkannya.

Kalau pun hujan memang turun, prioritas terpenting ku tetap sama; yaitu agar dia mengembalikan uangku seperti sedia-kala.

Aku bahkan tidak peduli kalau harus basah-basah karena hujan.

\[Icar-\] Aku memutar kepala ku menghadap ke Icarus, namun terlalu lama bagiku untuk bengong keatas selama puluhan detik—karena sebelum aku menyadarinya, ia telah meninju wajah bagian atasku dengan sangat cepat.

Hidungku patah karenanya.

Aku melompat ke belakang dan berteriak histeris, rasanya bukan seperti pukulan penuh pada muka atau badan seperti biasanya, rasanya seperti hidungku tertusuk jarum berukuran pensil. Adanya darah yang mengalir memperburuk rasa sakitnya, pandanganku menjadi kabur—sangat sulit untuk mengikuti lajur Icarus yang berlari ke pohon-pohon.

\[Tch .... Sini kau kalau berani!\]

Aku berteriak sekuat mungkin agar terdengar oleh Icarus, tapi sepertinya rencanaku gagal.

Siapa juga sih yang mau balik setelah kupukul begitu ....?

Langkahku terasa berat, aku tidak tahu kemana Icarus pergi—tapi yang ku ingat dari mendengar percakapan warga, hutan itu berarah menuju satu titik tertinggi yang ada jurangnya.

Kalau begitu, tinggal lari tanpa arah saja kan? Ujungnya tetap ke jurang.

Aku berlari sekuat tenaga kearah pohon ketika pandanganku sedikit memulih, darah masih berceceran banyak dari hidungku.

\[Aduh .... Sakit sekali.\]

Aku tak kuasa menahan air mataku sambil menahan darah yang keluar.

Tapi—Icarus gapapa kan setelah kupukuli begitu? Kepalanya sudah pasti benjol akibat doronganku tadi.

Aku melambatkan langkahku dan merasakan area di atas kepalaku, lalu mengetuknya dengan keras.

\[Aah! Sakit juga.\]

Ada sedikit perasaan bersalah yang keluar dari diriku. Tapi—lupakan saja.

Entah kenapa, aku mempunyai firasat kalau Icarus masih memproses kesedihan setelah ditinggal orang tua.

Dulu, ketika keluarga kami masih dalam kondisi prima, kami berdua sering berlomba lari berjarak 50 meter untuk bersenang-senang. Namun setelah Ibu tiada, kegiatan itu perlahan-lahan berubah menjadi maraton keliling desa untuk sekedar melatih tubuh, tidak lagi untuk berbahagia seperti sedia-kala.

Jika dibandingkan dengan sekarang, alasanku berlari berubah 180° derajat. Aku sedang berlari mengincar Icarus layaknya rubah yang sedang mengincar mangsanya, dan tentu saja—ini membuatku sangat lelah, rasanya aku ingin sekali tidur dengan nyaman dan hangat.

Atau, aku ingin sekali tidur bertiga seperti dulu—ingatan tentang Ibu tiba tiba menyeruak di dalam pikiranku.

Kenapa tiba tiba sekali? Aneh.

Ketika kami masih berusia 12 tahun, Ibunda tanpa sepengetahuan kami sakit secara tiba-tiba dan meninggal. Kami tidak punya persiapan hidup apapun setelah kematian Ibunda, bahkan—kami belum bersiap menghadapi kematian Ibunda. Saat itu kami hanya mengurusi kesibukan masing masing, Icarus sedang ke pasar, entah sedang apa—sementara aku sibuk di toko buku sedang melihat-lihat novel romansa untuk dibaca secara diam-diam.

\[Tidak terasa sudah 2 tahun sejak kepergiannya membuat kami putus asa.\]

Suatu sore berubah menjadi mimpi buruk saat kami menerima kabar duka bahwa Ibunda telah meninggal dunia karena suatu penyakit, dan kabar tentang Ibunda yang saat ini sedang disiapkan untuk dikubur di pemakaman gereja lokal.

Keluarga kami tidak menganut agama tertentu, namun sosok Ibu memang terkenal lumayan dekat dengan orang-orang gereja.

Jadi sudah tidak kaget kalau Ibu tiba tiba sudah terkubur didalam tanah di sekitar pemakaman gereja.

Terlepas dari itu, Ibu adalah sosok yang ramah bagi kita berdua. Ibu baik, sopan, dan sering bersosialisasi layaknya orang tua pada umumnya, Ibu mengajari banyak hal tentang bertahan hidup seperti mengemis dan bekerja (Walau usia kami sangat tidak relevan untuk dikategorikan sebagai siap-kerja).

Kami tetap menghormati Ibu.

Sosoknya membuatku kangen, sudah—itu saja yang ingin kukatakan.

\[Oke oke, aku harus fokus.\]

Tarik napas ....

\[Hufff ....\]

1 .... 2 .... 3 buang ....

\[Haaahh ....\]

Lakukan berulang-ulang seperti yang Ibunda ajarkan. Ayo, lari!

Ranting demi ranting sudah patah, daun demi daun sudah kuinjak. Sebagian besar dari celanaku basah karena melewati rerumputan yang terkena air saat hujan barusan.

\[Dingin sekali diluar ....\]

Tanganku gemetaran.

Omong-omong, hujannya muncul lagi setelah tiba-tiba berhenti sesaat pasca rintisan pertama muncul—memang cuaca yang sangat aneh ....

Sampai aku akhirnya melihat sesuatu di ujung pohon ....

Tidak, tidak. Itu bukan jurangnya, pasti masih jauh lagi.

\[Hff .... kukira sudah dekat.\]

Aku mencoba melihat ulang siluet tersebut—sesuatu yang gelap, dengan tinggi sekitaran sama denganku—Itu pasti dia.

Ia yang terlihat berdiri tersebut lalu duduk dengan mencurigakan.

\[Sekarang aku coba sergap dari belakang.\]

Aku berjongkok dan memulai jalan tanpa suara kearah dia namun—sial, aku tidak bisa melihat apa apa! Jalan jongkok di tengah rerumputan lebat seperti ini memang agak menyebalkan.

\[swush swush\]

Sangat tidak nyaman bagiku, berjalan jongkok ketika badanku sudah basah total.

Dingin dari hujan pun terasa menusuk.

Tapi dia harus mengembalikan uangku yang tadi.

Aku melanjutkan jalan jongkokku.

\[Tress tes .... tes ....\]

Eh? Hujannya berhenti lagi. Aku segera memutar kepalaku keatas dan awan bergerumuh yang menutupi matahari masih belum berubah, namun rintikan air hujan berhenti total secara tiba tiba dalam hitungan detik—Ini benar benar, aneh sekali ....

Memang benar aneh. Lagi pula mengapa memikirkannya?

Aku merasakan sesuatu yang mengalir diatas mulutku ....

\[CUH ..\]

Hampir saja, aku menghisap air keruh dari dedaunan.

Kalau itu aku, pasti sangat malu. Tetapi itu kan memang aku.

Aku tetap berjalan.

Lalu aku mendengar sesuatu yang patah di bawahku ....

\[Hm ....?\] Kepalaku berputar kebawah.

Tanpa kusadari, kakiku menginjak ranting.

\[Sial, dia pasti sudah mendengar nya-\] Sesaat aku melihat ke arahnya, dia telah menghilang.

Aku berdiri seketika.

\[D-Dimana kamu, oi!?\] Aku berteriak sambil melihat ke samping-samping ku.

\[Jangan sembunyi!\]

\[Aku janji tidak akan memukulimu lagi! Aku janji! Namun kembalikan duitku seperti semula!\]

Aku merasakan sesuatu dibelakang ....

\[Aagh! ..\]

Sesuatu meninjuku, uh—tidak, lebih tepatnya mendorongku, aku didorong keras sampai jatuh ke depan.

Aku terbanting ke tanah, namun rerumputan di bawah menyerap tabrakannya ....

\[Aduh .... Sakit, sakit!\]

Aneh, tekanan yang kudapat di belakangku bukanlah dorongan biasa—paru-paruku sulit bernafas karenanya, dan badanku sempat terhempas ke udara sesaat aku menerima dorongan tersebut, ini lebih terasa seperti energi orang dewasa.

\[Jangan melawan! ..\] Dia berteriak dengan keras sambil memegang tanganku.

\[Eh ....?\]

Suaranya seperti lelaki umur 30-an.

Tanganku dililit dengan kencang olehnya.

Kalau itu bukan Icarus .... yang pasti orang lain.

\[Hei jangan keras keras dong! .. Aku tidak akan kabur kok!\]

\[Anda yakin ini dia ....? Nicholas ....?\]

Suara Nona-Nona terdengar tepat di depanku.

\[Ya, Nona. Tidak salah lagi, dia sang pembunuh yang dibicarakan.\]

Eh ....? Tunggu dulu, "Pembunuh" ....? Aku- pembunuh? Orang ini ngomong apa sih! Aku memutar kepalaku kesamping untuk melihat muka orang tersebut.

\[M-Muka nya .... gelap ....?\]

Tak terlihat sama sekali, sekilas ia memakai baju kasual dan berbadan kekar. Aku rasa dia semacam kesatria atau semacamnya. Aku memutar kepalaku ke depan.

Nona itu .... memakai gaun merah elegan yang menutupi hingga mata kakinya, dia juga memakai sepatu hak tinggi berwarna perak yang dilapisi beberapa permata di atasnya, wajahnya juga tak terlihat olehku—tetapi aku sangat yakin Nona itu sekitaran umur 50 atau lebih ....

\[Permisi Nona, mau saya apakan dia sekarang ....?\]

\[Serahkan dia ke pengadilan secepatnya, saya tidak ingin melihat orang lain terkena ulahnya lagi.\]

\[Baik, Nona.\]

Tubuhku mulai diseret oleh pria tersebut, namun bahkan sebelum pria tersebut membawaku lebih jauh lagi, aku dengan cepat mengaku kebenaran yang sebenar-benarnya.

\[TIDAK! Saya bukanlah pembunuh yang kalian bicarakan! Kalian telah salah tangkap pelaku! Saya bukanlah pembunuh!! Tolong, siapapun tolong!!!\]

Aduh memalukan ..!

Aku terlalu bergelisah untuk mengatakan itu semua, aku yakin perkataanku barusan cukup membuat mereka jauh lebih menghiraukanku.

\[Omong kosong. Segera angkat dan segera bawa dia.\]

\[Baik, Nona.\]

Tamat sudah ....

Sebenarnya memang salahku sendiri .... dan salah mereka juga karena menangkap pelaku secara asal-asalan.

Delapan bulan aku digaji pas-pasan, terpaksa menghadapi tekanan kerja yang rentan bermasalah .... Inikah yang ku dapatkan?

Berlebihan, deh.

Inikah balasan alam semesta setelah mencoba mengembalikan uang yang kudapat dengan tanganku sendiri ....?

Balasan alam semesta apa coba?

Cukup dengan ini semua—sepertinya memang tidak ada jalan lain ....

Sudahlah, aku sangat malu dengan diriku yang lebay-nya kebangetan.

Kucoba lepaskan tanganku dari jeratan lelaki tersebut sekuat tenaga.

\[Gawat! ....\] Lelaki tersebut kesulitan menahan tanganku yang ingin lepas.

Aku berteriak dan mengepalkan tanganku.

\[Akan saya bantu.\]

Ucap si Nona ke lelaki tersebut—tetapi sebelum Nona tersebut sampai, aku sudah duluan melepas jeratan dan kabur seketika.

\[Hei .... tunggu, bocah!\]

Suaranya semakin kecil terdengar karena jarak yang memisahkan kami mulai memanjang—akhirnya bisa kabur. Dia berpikir aku akan balik karena dipanggil begitu saja ....—lagi pula kenapa sih menangkap pelaku secara asal-asalan ....?

Hehe ....

Senyum sinis .... aku tertawa kecil.

Jeratan pria tadi—aku sungguh tidak percaya bisa lepas darinya .... Kekuatan genggamannya setara dengan orang-orang dalam bar yang sering beradu panco. Boleh sih, aku menjadi kesatria saat dewasa nanti ....

\[Huff ....\]

Tadi—mereka hanya datang berdua ya ....? Pria tadi juga hanya memakai baju kasual, seharusnya dia memakai baju sesuai peraturan kerajaan kalau memang benar-benar kesatria—tetapi Nona tadi sudah pasti bagian dari keluarga kerajaan, suaranya sangat elegan ....

Ah, sudahlah .... aku ingin bicara terlebih dahulu dengan Icarus.

Aku lanjut berlari sekitar 80 meter dari tempat penyergapan ....

Tunggu dulu, aku merasakan sesuatu yang janggal.

Aku memang belum melihat wajah mereka karena tidak kelihatan, aku ingin lihat mereka sekali lagi .... Sambil berlari dengan cepat, aku menolehkan kepalaku ke belakang.

\[H-Hah? ....\]

Aku .... bingung banget.

Dan tidak, mereka tidak mengejarku—justru mereka .... telah hilang begitu saja.

\[Kemana ....?\]

Aku melambatkan langkah kakiku, Mencoba melihat seseorang sekali lagi, namun mereka menghilang seperti belum ada sebelumnya—apakah aku akan disergap lagi?

Pikiranku terisi tentang bagaimana lelaki tadi akan menyergap dan mengikatku—dan jujur .... aku sebenarnya lebih takut pada hukuman yang akan jatuh jika membunuh seseorang di kerajaan ini—yaitu penjara seumur hidup.

\[Huek ....\]

Membayangkannya saja sudah membuatku mual .... Jorok banget.

Dulu Ibu sering bilang kepadaku "Penjara kerajaan itu surga bagi para tikus-tikus."

Dan aku sangat benci dengan tikus ....

(Itulah kenapa aku sempat putus asa di awal).

Aku lanjut berlari sekencang yang aku bisa sekitar 500 meter ke depan.

\[Haa ....\]

\[Haa ....\]

Perkataan para warga sepertinya benar, ada tepi jurang di ujung pepohonan ini—tapi, itu apa?

Ada orang yang bersembunyi di balik pohon.

\[Icarus ....?\]

Sesaat aku bertanya, sosok itu melompat terkejut.

\[K-Kamu.\]

Dia berlari terbirit-birit.

Ga nyangka dia ada disitu.

\[Memangnya aku semenakutkan itu ya ....?\]

\[H-ha .... haha ....\]

\[Sini Icarus ....!\]

Oke .... jadi main kejar-kejaran nih—berlarian di tengah dinginnya hujan .... bagus—aku menahan emosiku.

Tanganku sudah gemetaran, kakiku sudah lelah berlari. Selanjutnya apa lagi?

Aku menggumam pada diriku sendiri sambil berlarian melewati ranting-ranting tajam dan berbagai serangga yang hampir mengigit kakiku.

500 meter berlalu—aku berhenti sejenak untuk menghela nafas dan mempersiapkan pengejaran berikutnya, namun Icarus menghilang dari pandanganku.

\[Sial, kemana dia ....?!\]

Aku berlari—sampai aku melihat bayangan dengan tinggi dan lebar sebesar rumah bertingkat, namun itu hanyalah sebuah bayangan dari pohon Beringin dengan akar yang sangat tebal sehingga menutupi jalurku.

Aku menerobos akar-akar menggantung tersebut dengan seluruh kekuatanku—sampai-sampai aku hampir terjatuh ketika berhasil melewati ke sisi sebelahnya, dan di sisi sebelah tersebut, aku melihat .... yang lain dan yang bukan, adik kembarku—Icarus.

Rupanya aku telah sampai ke tepi-jurang yang orang-orang bicarakan, di tepi-jurang itu terlihat pemandangan gunung-gunung dari jauh serta pepohonan lebat yang menutupi bukit-bukit kecil di sekitar . Perhatianku teralih pada sejuknya suasana di sini—angin berembus dengan pelan, rerumputan di bawah pohon beringin yang tidak terkena air sedang bergoyang mengikuti arah angin, dan refleksi tetesan dari dedaunan yang basah karena hujan.

Sulit untuk mengungkapkan betapa indahnya nuansa dan pemandangan ditepi jurang ini—namun aku lanjut terhempas balik ke kenyataan ketika Icarus melontarkan sebuah kalimat kepadaku;

\[Aku minta maaf.\]

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play