Episode 2

BAB 2

PERJALANAN

Perkenalkan namaku Afza Latifa Hilya ( Namun, entah mengapa abi serta nenek dan kakekku bahkan om dan pamanku memanggilku dengan nama Indeng. Sejak kecil, aku adalah anak kesayangan dimata kami. Cucu kyai Arifin, seorang kyai sepuh di kota kecil kami. Dari kecil, aku memang tertarik pada kisah-kisah perjuangan dan penjelajahan. Bahkan nilai mata pelajaran sejarahku dari MTS hingga kuliah selalu mendapat nilai A. Mempelajari sejarah peradaban dan kebudayaan Islam tidak terlepas dari topik mengenai kemajuan teknologi dan sains, politik, hukum, sosial, ekonomi dan bisnis. Pra Islam datang sebagai agama yang paling sempurna di muka bumi. Keadaan peradaban dunia gelap dan terbelakang. Islam hadir membawa cahaya, membawa ilmu pengetahuan dan keadilan. Islam tidak hanya sempurna bagi umatnya, tetapi bagi seluruh dunia. Namun. Hari ini, yang terjadi Islam mengalami kemunduran dan terpojokkan. Beberapa ahli memiliki teorinya sendiri tentang pembagian tahun dalam periode sejarah peradaban Islam.

Aku memiliki seorang sepupu bernama Fattiyah Nafsah Al-Hikmah. Sejak kecil, kami selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan. Dari dulu seluruh perempuan di keluarga  kami hanya diperbolehkan belajar di pesantren. Hingga suatu hari, Fattiyah hamil di luar nikah. Kejadian itu, benar-benar mencoreng nama kakek dan keluarga besar

“Siapa yang sudah menghamilimu?! Jawab anak setan!,” bentak om Jamal. Om Jamal sangat murka hari itu. Baru saja ia pulang dari tugas di Palestina. Namun hatinya hancur mengetahui anak kesayangannya sudah berbadan dua. Entah siapa yang melakukannya.

“Ampuni saya o’pa,” (bahasa daerah)

“Ana onitu! Ta’silolongga. Ku parakai ko ari mohewu sambe toro, ku poko telae ko. Au poko hakiti penao’nggu, poko mboko kole’ko. Ino ole, iyamo teeni laa tono motuo mu. Labirai au mate, daripada au sosaai tamo keluarga” (Dasar anak setan! Saya merawatmu dari kecil hingga dewasa, saya memanjakanmu. Tapi, kau sakiti hati bapak. Mulai hari ini, jangan kau sebut kami orangtuamu. Pergi kau! Lebih baik kau mati saja. Lebih baik kau pergi! Bikin malu keluarga saja!"

***

Setahun kemudian, kami pun lulus SMA. Setelah lulus MA, akupun melanjutkan pendidikanku di UGM dan STII Yogjakarta dengan bermodalkan beasiswa, sementara, Fattiyah akhirnya dinikahkan dengan pria yang menghamilinya. Itulah saat pertama aku mengudara bebas merantau ke luar daerah. Perjalanan awalku dari sulawesi menuju ke tempat-tempat baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Melintasi cakrawala, melintasi ratusan hingga ribuan kilometer, bukan saja hanya menikmati keindahan alam Indonesia tapi mengelilingi seluruh benua di dunia. Mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah aku datangi.

Di UGM aku mengambil jurusan manajemen bisnis. Sedangkan di STII, aku mengambil sejarah dan kebudayaan Islam di fakultas ilmu pengetahuan dan keguruan. Kesibukanku kuliah, tidak membuatku melupakan hobi fotografi. Sebuah hobi yang sudah lama kusukai sejak kecil. Selain itu, hobiku yang lain adalah menulis dan jelajah alam. Salah satu motivator terbesar dalam hidupku, adalah ayah. Ayah selalu mengajarkanku untuk melakukan apapun karena cinta. Pekerjaan apapun dan seberat apapun, jika itu hal yang kita sukai. Kita akan semangat mengerjakannya meski lelah. Begitupun jika kita melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai. Lingkungan kampus yang jauh berbeda dari lingkungan SMA, jaringan pertemanan dan komunitas yang lebih variatif. Awal-awal kuliah aku ikut beberapa komunitas seni fotografi dan literasi. Namun, ternyata ikut dengan komunitas tersebut malah agak sedikit menjauhkanku dari Allah, karena kurang nyaman, aku memutuskan untuk keluar. Kemudian karena hobi menulis dan fotografi sekaligus berdakwah, aku mencoba untuk masuk ke komunitas dakwah mahasiswa/i kampus. Alhamdulillah, aku menemukan sebuah komunitas yang se visi denganku. Aku memang pencinta dunia seni, namun aku ingin seni menjadi media dakwah dan jihad di jalan Allah. Aku teringat pada pesan abi dan umi kalau kita ingin mengetahui mana pilihan yang terbaik dari yang terbaik, maka shalat istikhoro kan saja dulu. Selalu libatkan Allah dan pasrahkan hasil akhir dari ikhtiar kita kepada Allah Jalla jallalu. Setelah mantap kuputuskan untuk masuk ke organisasi forum media dakwah mahasiswa jurusan. Setelah berjalan 6 bulan aku dipindahkan di pusat ikatan mahasiswa pencinta dakwah universitas. Tentunnya, sebagai anggota. Kefasihanku berbahasa inggris dan arab dan pengalamanku menjadi ketua di organisasi induk. Ternyata, tidak ada apa-apanya ketika aku masuk di organisasi pusat. Ketua organisasi forum dakwah mahasiswa bernama Maliq Abdurahman Ar-Rauf. Mahasiswa semester 6. Calon penerima beasiswa King Faizal University, Saudi Arabia. Fasih 4 macam bahasa Indonesia, Inggris, Arab dan Jerman. Ganteng, soleh, baik hati dan tawadhu. Idaman bagi para akhwat, tak terkecuali aku. Lingkungan organisasi yang baru, jadwal seminar, diskusi, bedah buku, simposium dan masih banyak kegiatan yang sering diiselenggarakan oleh organisasi baik skala nasional maupun international forum. Untung saja aku bertemu dengan Natasyha, seorang mualaf yang kini berganti nama menjadi Aisyah dan sepupunya Nathan yang sedang mempelajari Islam. Mereka berdua lah yang menjadi teman seperjuanganku.

Dari situlah awal perjalananku keliling dunia

“Oh, iya Afza. Apa kamu sudah pernah ke Australia, sebelumnya?,” tanya Khinan dengan bahasa Indonesia namun gaya aksen bulenya masih kental.

“Belum, saya baru pertama kali keluar daerah dan belum pernah ke luar negeri.”

“Kebetulan, bulan ini saya dan Nathan mau pulang ke Australia. Kamu mau ikut?,”

“Hmmm… tapi saya baru seminggu bertemu kalian?,”

“Tidak apa-apa, kami tidak akan berbuat jahat sama kamu. Kok, kebetulan teman-teman yang lain juga akan ikut,”

“Hmmm… nanti ya saya minta izin dulu sama Abi dan Ummi,” jawabku sambil tertunduk malu dan segera berjalan meninggalkan mereka. Dari dulu, aku belum keluar kemana-mana selain dari pesantren

***

Dari dulu hingga kini, aku tak pernah berpergian sendirian apalagi dengan orang lain. Orang yang baru ku kenal. Jika ini terpaksa, maka aku harus mencari seseorang yang dapat ku percaya untuk menemaniku. Untung saja, aku memiliki paman disini. Nama beliau adalah Gufron, sudah lama ia tinggal di Jogja sudah 23 tahun ia disini dan menikah dengan orang sini. Paman Gufron, memiliki seorang putri dan putra Namanya. Haidar dan Ali. Mereka lebih muda beberapa tahun dariku.

“Assalamu alaikum. Paman,”

“Wa’alaikum salam. Eh, Afza. Ayo masuk,” sambut lelaki paruh baya itu, meskipun sudah mulai tua, namun paman Gufron masih tetap seorang pria tampan dengan akhlaq baik. Akhlaqtul karimah yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam. Akhlaq yang selalu diajarkan oleh kakek buyutku kepada anak, cucu hingga generasi selanjutnya.

“Haidar. Mana paman?,”

“Tadi Haidar ke pasar. Disuruh tantemu, tante kamu lagi masakin menu spesial kesukaan kamu. Khusus untuk menyambut kedatanganmu kesini.”

Aku mengarahkan pandanganku menatap sekeliling melihat foto-foto milik keluarga paman Gufron.

“Eh. Afza!? Apa kabar kamu ndo. Tante kangen loh sama kamu,” ungkap tante Asri sambil memelukku dengan sangat gembira. Wanita bertubuh langsing sangat proporsional dan cantik. Terkadang membuatku iri, ibunya saja cantik apalagi anaknya. Haidar adalah gadis yang cantik dengan mata yang besar dan bola matanya yang asli sedikit kebiruan, tanpa soft lens. Bibirnya yang merekah merah merona. Membuat lelaki manapun, terbius. Untung saja sejak kelas 3 SMA hingga semester 4 bangku kuliah ini. Haidar sudah memakai cadar, mengikuti sunnah Nabi untuk menjaga aurat bagi wanita (seluruh bagian tubuh, kecuali telapak tangan).

Beberapa saat kemudian, Haidar pun pulang dari pasar

“Assalamu alaikum. Abi, umi,”

“Wa’alaikum salam. Ndo. Lihat tuh siapa yang datang?,”

“Masyallah… Kak Afza…!!!?,” seru Haidar terkejut ketika melihat kedatanganku. Ia pun langsung memelukku dan kami saling menghambur kerinduan. Bagaimana keadaan kak Fattiyah,” tanya Haidar.

Perlahan aku menghela napas dan mulai bercerita

“Jadi. Begitulah, Om, Tante, Haidar, Alwi,”

***

“Kok, aku jadi nyesek dengar cerita kak Fattiyah.” kata Haidar.

***

“Haidar jadi kasihan sama kak Fattiyah. Oh ya kak, Haidar dengar katanya kakak mau ke luar negeri?,” tanya Haidar dengan rasa penuh tanya. Seakan sedang mencoba untuk mengguak sebuah misteri. Haidar memang anak yang cerdas, rasa keingintahuannya dan semangat untuk mengungkap sesuatu yang membuatnya penasaran. Membuatku kagum. Haidar dan aku memiliki banyak kesamaan.

“Iya. Begitulah, deak. Terkadang takdir manusia memang berbeda-beda sekalipun kita lahir di rahim yang sama,”

“Oh iya kak, kegiatan kakak apa sekarang?”

“Kakak lagi libur. Rencananya kakak mau pulang ke Sulawesi Tenggara. Tapi, cuman 3 minggu aja. Kakak hanya pulang minta ke abi dan ummi. Kakak ada undangan ke Darwin, Australia.”

“Wah… !!! Kakak hebat. Boleh gak Haidar ikut. Kak?,” ucap Haidar dengan penuh ekpektasi.

Sepertinya anak ini sudah tau tujuan ku datang kemari tanpa harus ku jelaskan (gumamku dalam hati).

“Masya Allah. Boleh sekali. Kakak lagi cari mahram untuk perjalanan (safar) ke Australia”

***

Seminggu kemudian, setelah meminta izin ke paman Gufron dan tante Asri. Aku pun mengajak Haidar pulang ke Kendari. Bagi Haidar, ini pengalaman pertamanya pulang ke kampung halaman ayahnya.

Setelah turun dari taksi. Aku langsung mengajak Haidar masuk ke sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang asri berpagar cokelat. Bertuliskan Jalan Sao-sao No. 266.

“Assalamu alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu rumah.

“Wa’alaikum salam! Ya… tunggu sebentar!” terdengar suara Umi dari dalam. Umi dan Abi sebelumnya tidak tau kalau aku pulang hari ini yang mereka tau bahwa aku akan pulang liburan bersama Haidar minggu ini.

“Nak… kamu sudah pulang nak!? Bi… lihat bi. Anak kita Afza anak kita sudah pulang,” seru umi kegirangan.

“Masya Allah Afza? Antum kenapa gak bilang kalau mau pulang sih nak? Ada Haidar juga. Ayo masuk, kebetulan di dalam semua keluarga sedang berkumpul,”

Setibanya di dalam kami di sambut bak tamu. Rupanya mereka rindu denganku. Ada Tomi (adik laki-laki ku yang berusia 11 tahun), Kinaya (adik sepupuku yang berusia 7 bulan), Najwa (adik sepupuku yang berusia 6 tahun), Bang Abdul (kakak sepupu kami yang berusia 24 tahun bersama anak dan istrinya), kakek dan nenek, om dan tante semua generasi dalam keluarga kami berkumpul.

Makan malam pun tiba. Seperti biasa, seluruh keluarga besar berkumpul di meja makan dengan mengucapkan basmalah ku niatkan untuk menyampaikan maksud dan tujuanku.

“Oh. Iya Afza, Haidar. Berapa lama kalian akan libur kuliah disini?,” tanya Ayah memulai percakapan di meja makan. Belum sempat menjawab, bang Abdul ikut bersuara.

“Kalau kalian lama libur disini, abang mau ajak kalian berkeliling. Haidar kan baru pertama kali datang ke sini. Kamu juga Azka butuh bernostalgia,”

***

“Sebenarnya, kami cuman 2 minggu disini,” Jawabku.

“Dua minggu?” tanya Umi.

“Iya. Sebenarnya. Afza mau minta izin ke abi dan umi dan kalian semua untuk berangkat ke Australia. Afza punya undangan ke sana,”

***

Sejenak suasana meja makan menjadi hening. Tak ada satu pun anggota keluarga yang berkomentar. Kemudian, Umi mulai berbicara.

“Menurut umi…”

Belum selesai Umi berbicara. Seorang teman kampus dan seorang editor di sebuah media, bernama Egi meneleponku.

***

“Maaf Mi… maaf. Afza harus terima telepon ini.” Kemudian aku menggangkat telepon yang sedari tadi berbunyi.

“Halo, mas Egi. Ada apa ya mas,”

“Za. Kamu dapat undangan nih dari Monash University, Australia.” kata Mas Egi mengabariku melalui ponsel.

“Alhamdulillah. Masya Allah, syukron lillahi robbi. Tapi mas, ini acara apa ya?”

“Mereka mengundang kamu jadi a one women keynote speaker (pembicara utama) dari Indonesia dalam Asean-Pasific Young Author Summit yang diselenggarakan oleh Leagunge Faculty (fakultas bahasa) di Monash of University (MoU) kamu ke sana nanti bareng mbak Asma Nadia sama mas Sidiq Akbar Nugraha,” jelas Mas Egi kepadaku.

***

“Afza. Telepon dari siapa tadi nak,” tanya Umi.

Sebelum menjawab pertanyaan umi aku mengatur sikap, posisi dan bahasa tubuhku dan tidak lupa aku berdoa semoga Allah Yang Maha Lembut agar melembutkan hati umi.

“Mi. Maafin Afza umi. Tapi Afza harus tetap pergi Mi, Afza gak boleh batalin undangan ini,” jawabku mencoba menyakinkan Ummi.

Umi menghela napas. Sudah seminggu sejak aku pulang, Umi selalu memanjakanku kembali. Dari dulu, ia tidak pernah suka dengan cita-cita. Namun, akhirnya hari ini Ummi mau mengizinkanku pergi mengejar mimpi-mimpiku.

“Baiklah. Kali ini, terpaksa Ummi izinkan. Ummi percaya padamu sekarang. Pergilah nak, kejar mimpimu.”

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play