BAB 2 : Janji di Bawah Langit Jingga

Seminggu setelah pengakuan setengah serius Arkana di lapangan sekolah, Aruna merasa hidupnya seperti diputar dalam volume yang lebih keras.

Setiap hal kecil terasa berarti.

Setiap tatapan terasa lebih lama.

Dan setiap hujan terasa berbeda.

Arkana memang tidak pernah menyatakan sesuatu secara gamblang. Tidak ada kata “suka”. Tidak ada “aku cinta kamu.” Tapi sikapnya berubah. Ia lebih sering menunggu Aruna di depan kelas. Lebih sering mengirim pesan malam hari.

Dan yang paling membuat Aruna gugup yaitu

Arkana mulai tersenyum lebih sering. Khusus untuknya.

Sore itu mereka duduk di tribun lapangan setelah latihan lomba karya ilmiah selesai. Matahari hampir tenggelam. Langit berubah jingga lembut.

“Presentasi kamu tadi bagus,” kata Arkana sambil meneguk air mineral.

“Kamu juga.”

“Hm.”

“Hm apaan?”

“Aku deg-degan.”

Aruna tertawa kecil. “Kamu? Arkana Mahendra deg-degan? Yang ranking satu itu?”

Arkana memutar bola basket pelan di tangannya. “Ranking nggak ada hubungannya sama perasaan.”

Aruna terdiam.

Angin sore meniup rambutnya. Ada sesuatu dalam nada suara Arkana yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus cemas.

“Aku serius waktu itu,” katanya pelan.

Aruna pura-pura tidak mengerti. “Waktu apa?”

“Aku betah di sini karena kamu.”

Hening.

Jantung Aruna berdebar semakin cepat. Ia menunduk, memainkan ujung rok seragamnya.

“Kenapa?” suaranya hampir berbisik.

Arkana menghela napas panjang. “Karena sebelum pindah ke sini… aku nggak pernah ngerasa punya alasan buat mulai lagi.”

Aruna menoleh perlahan. “Mulai lagi?”

“Ayahku pindah kerja karena masalah keluarga,” katanya datar, tapi matanya tidak setenang suaranya. “Ibuku sakit. Di Bandung… semuanya berantakan.”

Ada luka di sana. Luka yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Aruna merasakan dadanya ikut sesak. “Maaf…”

Arkana menggeleng. “Bukan salah kamu. Justru… kamu bikin semuanya terasa lebih ringan.”

Kata-kata itu tidak dramatis. Tidak puitis. Tapi cara Arkana mengatakannya—jujur, tanpa dibuat-buat—membuat mata Aruna terasa panas.

“Aku nggak tahu ini namanya apa,” lanjut Arkana. “Tapi setiap kamu senyum… rasanya kayak aku nggak sendirian.”

Air mata Aruna akhirnya jatuh satu.

Arkana panik. “Eh, kenapa nangis?”

“Kamu tuh…” Aruna memukul lengannya pelan. “Kalau ngomong jangan tiba-tiba sedalam itu.”

Arkana tersenyum kecil. “Jadi kamu marah?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Aku juga nggak tahu ini namanya apa,” jawab Aruna pelan. “Tapi kalau kamu nggak masuk sekolah, aku kepikiran seharian.”

Arkana terdiam.

Waktu seperti berhenti.

Langit semakin jingga. Matahari hampir hilang.

“Apa kita… lagi jatuh cinta?” tanya Arkana pelan.

Kalimat itu menggantung di udara.

Aruna menatapnya lama. Ada takut di sana. Takut kalau ini cuma perasaan sesaat. Takut kalau semuanya akan berubah.

Tapi lebih takut lagi kalau ia tidak jujur.

“Mungkin,” jawabnya lirih.

Dan untuk pertama kalinya, Arkana menggenggam tangan Aruna.

Hangat.

Tidak erat. Tidak memaksa.

Hanya memastikan bahwa ia ada.

“Aku nggak janji bakal selalu sempurna,” kata Arkana pelan. “Aku kadang marah, kadang diem, kadang egois.”

“Aku juga keras kepala,” balas Aruna.

“Tapi kalau kamu mau…” Arkana menelan ludah. “Aku mau coba jalanin ini. Pelan-pelan.”

Aruna tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca. “Pelan-pelan.”

Mereka duduk begitu saja, tangan saling menggenggam, menyaksikan matahari tenggelam bersama janji yang baru lahir.

Hari-hari setelah itu terasa seperti mimpi yang manis.

Arkana mulai menjemput Aruna ke kelas setiap istirahat. Mereka makan di kantin berdua. Kadang bertengkar kecil soal hal sepele.

Seperti hari itu.

“Kamu kenapa sih dari tadi deket banget sama anak basket itu?” tanya Arkana dengan nada datar.

Aruna mengernyit. “Raka? Dia cuma nanya tugas fisika.”

“Kok ketawa-ketawa?”

Aruna mendengus. “Ya masa jawabnya sambil nangis?”

Arkana terdiam. Rahangnya mengeras.

“Kamu cemburu?” Aruna menahan senyum.

“Enggak.”

“Bohong.”

“Aku cuma nggak suka.”

“Kenapa?”

Arkana menatapnya tajam. “Karena kamu milikku.”

Kalimat itu seharusnya terdengar manis.

Tapi ada nada posesif yang membuat Aruna tersentak.

“Aku bukan barang,” katanya pelan.

Arkana langsung sadar. “Bukan maksudku gitu.”

“Terus?”

“Aku cuma… takut.”

“Takut apa?”

“Takut kehilangan.”

Suara Arkana melembut. Semua kekesalan mendadak runtuh.

Aruna menghela napas. “Kamu nggak akan kehilangan aku cuma karena aku ketawa sama orang lain.”

Arkana menunduk. “Aku belum pernah kayak gini sebelumnya.”

Aruna tersenyum kecil. “Aku juga.”

Ia mendekat, menyenggol bahu Arkana pelan. “Kalau kamu cemburu, bilang baik-baik. Jangan pasang muka jutek.”

Arkana akhirnya tersenyum. “Baik, Bu Guru.”

“Eh!”

Mereka tertawa bersama.

Sebulan kemudian, lomba karya ilmiah mereka menang juara satu tingkat kota.

Seluruh kelas bersorak.

Arkana spontan memeluk Aruna di tengah keramaian.

Pelukan itu singkat. Tapi cukup untuk membuat pipi Aruna memerah.

“Lihat kan? Kita tim yang bagus,” kata Arkana.

“Kita pasangan yang bagus juga,” celetuk Nadine tiba-tiba.

Aruna tersedak. “Nadine!”

Arkana hanya tersenyum tipis, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Aruna.

Dan malam itu, di bawah langit yang kembali berwarna jingga, Arkana mengantar Aruna sampai depan rumah.

“Kamu capek?” tanyanya.

“Sedikit.”

Arkana menatapnya lembut. “Tapi senang?”

“Banget.”

Hening sebentar.

“Aruna.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari nanti… kita harus pisah kota lagi…”

Jantung Aruna langsung menegang. “Kenapa ngomong gitu?”

“Aku cuma mikir.”

“Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Arkana tersenyum tipis. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal.”

“Apa?”

“Selama kita masih sama-sama berjuang… jarak nggak akan bisa ngalahin kita.”

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Janji yang saat itu terasa kuat. Tak tergoyahkan.

Aruna mengangguk pelan. “Kita sama-sama berjuang.”

Arkana mengusap puncak kepalanya dengan lembut. “Pintar.”

Aruna mendengus manja. “Jangan usap rambutku, nanti berantakan.”

“Kamu tetap cantik.”

Jantungnya kembali kacau.

Malam itu mereka berpisah dengan senyum.

Tanpa tahu bahwa kata “pisah kota” yang diucapkan Arkana bukan sekadar pikiran kosong.

Karena takdir sedang menyusun sesuatu.

Sesuatu yang akan menguji janji di bawah langit jingga itu. Dan hujan… akan segera turun lagi.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play