SEJARAK KILOMETER, SEDEKAT TAKDIR
Hujan turun deras di hari pertama masuk kelas sebelas.
Langit kelabu seperti belum rela melepas libur panjang, dan halaman SMA Garuda Bangsa berubah jadi genangan kecil yang memantulkan bayangan siswa-siswi yang berlari tergesa.
Aruna Pramesti berdiri di bawah kanopi, memeluk buku ke dadanya. Rambut panjangnya sedikit basah di ujung, seragam putih abu-abu yang baru disetrika rapi kini dihiasi cipratan air.
“Kenapa sih harus hujan sekarang…” gumamnya pelan.
Ia bukan tipe cewek yang suka jadi pusat perhatian. Tapi hari itu, entah kenapa, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena pembagian kelas baru. Mungkin karena rumor kalau anak pindahan masuk jurusan IPA.
“Ra!” Seseorang menepuk bahunya.
Nadine, sahabatnya sejak kelas sepuluh, tersenyum lebar. “Kelas kita gabung sama anak IPA 1. Katanya ada cowok pindahan. Ganteng banget.”
Aruna mendesah. “Kamu selalu tertarik sama cowok baru.”
“Ya ampun, hidup itu harus ada hiburannya.”
Bel masuk berbunyi.
Mereka masuk kelas bersama. Aroma cat papan tulis yang baru dan kayu bangku yang sedikit lembap bercampur jadi satu. Aruna memilih duduk di baris kedua dekat jendela.
Hujan masih turun.
Dan saat itulah pintu kelas terbuka.
Seorang cowok masuk bersama wali kelas.
Rambutnya sedikit basah, disisir seadanya. Tingginya hampir menyentuh kusen pintu.
Seragamnya rapi tapi tatapannya dingin. Bukan dingin yang angkuh—lebih ke arah… menjaga jarak.
“Ini siswa pindahan dari Bandung,” ujar Bu Ratna. “Namanya Arkana Mahendra.”
Nama itu seperti berhenti di udara.
Arkana mengangguk singkat. “Pagi.”
Suaranya rendah. Tenang. Tanpa senyum.
Beberapa cewek langsung berbisik-bisik. Nadine mencubit lengan Aruna pelan. “Itu. Itu dia.”
Aruna pura-pura tidak peduli. Tapi entah kenapa, saat Arkana mencari tempat duduk dan tatapan mereka tak sengaja bertemu—
Jantungnya seperti lupa cara berdetak.
Ia cepat-cepat memalingkan wajah.
“Arkana, kamu duduk di sebelah Aruna saja. Itu bangku kosong,” kata Bu Ratna.
Aruna membeku.
Langkah kaki Arkana terdengar mendekat. Setiap langkah seperti menghitung detik menuju sesuatu yang tak ia mengerti.
Kursi di sebelahnya ditarik.
“Aku duduk di sini,” katanya singkat.
Aruna hanya mengangguk. “Iya.”
Hening.
Hujan makin deras.
Pelajaran pertama berjalan biasa. Tapi bagi Aruna, semuanya terasa tidak biasa. Ia bisa merasakan keberadaan Arkana di sebelahnya. Bau parfum maskulin yang lembut. Suara napasnya yang pelan.
“Pinjam pulpen,” tiba-tiba Arkana berbisik.
Aruna menoleh cepat. “Hah?”
“Pulpen. Punyaku ketinggalan.”
Aruna merogoh tempat pensilnya, menyerahkan satu tanpa berkata apa-apa.
“Thanks.”
Itu pertama kalinya ia mendengar Arkana berbicara langsung padanya. Dan bodohnya, pipinya terasa panas.
Setelah kelas selesai, hujan belum juga reda.
Aruna berdiri di depan gerbang, menunggu ayahnya menjemput. Satu per satu siswa pulang. Arkana berdiri tak jauh darinya, menatap jalanan.
“Kamu dijemput?” tanyanya tiba-tiba.
Aruna mengangguk. “Iya.”
“Kamu tinggal di mana?”
“Bukit Cempaka.”
Arkana terdiam sejenak. “Dekat rumahku.”
Aruna menoleh. “Kamu tinggal di sana juga?”
“Iya. Baru pindah seminggu.”
Entah kenapa, ada sesuatu di cara dia berbicara—tidak banyak, tapi tidak menutup diri sepenuhnya.
Mobil hitam berhenti di depan gerbang.
“Itu ayahku,” kata Aruna pelan.
Arkana mengangguk. “Sampai besok.”
Sederhana. Tapi ada sesuatu dalam dua kata itu yang membuat Aruna tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat.
Arkana bukan tipe siswa yang banyak bicara. Tapi nilainya tinggi. Terutama matematika dan fisika. Guru-guru mulai sering menyebut namanya.
Aruna yang biasanya selalu ranking satu kini punya pesaing.
Dan anehnya… ia tidak merasa kesal.
“Dia sombong nggak sih?” tanya Nadine suatu siang di kantin.
Aruna menggeleng. “Nggak. Cuma pendiam.”
Seolah mendengar namanya disebut, Arkana datang membawa dua minuman kaleng. Ia meletakkan satu di depan Aruna.
“Buat kamu.”
Aruna terkejut. “Kenapa?”
“Kemarin kamu bantuin aku cari ruang lab.”
Aruna tersenyum kecil. “Oh… makasih.”
Nadine menyenggol pelan di bawah meja sambil menahan tawa.
Arkana duduk di seberang mereka. “Besok ada tugas kelompok sejarah. Kamu sudah punya kelompok?”
Aruna menggeleng. “Belum.”
“Kita satu kelompok aja.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi bagi Aruna, rasanya seperti sesuatu yang pelan-pelan tumbuh tanpa permisi.
Sore itu, untuk pertama kalinya Arkana datang ke rumah Aruna. Mereka mengerjakan tugas di ruang tamu.
Hujan turun lagi.
“Kamu suka hujan?” tanya Aruna tiba-tiba.
Arkana menatap jendela. “Dulu nggak.”
“Sekarang?”
“Sekarang… nggak tahu.”
Aruna tertawa kecil. “Jawaban kamu selalu aneh.”
Arkana menoleh. Untuk pertama kalinya ia tersenyum tipis.
Dan Aruna merasa dunia berhenti satu detik.
“Kamu selalu ngomel kalau hujan,” kata Arkana.
“Kok tahu?”
“Kamu ngomel pelan waktu hari pertama sekolah.”
Aruna membelalak. “Kamu dengar?”
“Iya.”
Mereka tertawa bersamaan.
Dan di antara suara hujan yang jatuh di atap, tanpa mereka sadari, sebuah perasaan mulai menemukan tempatnya.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan lomba karya ilmiah antar kelas. Aruna dan Arkana ditunjuk jadi perwakilan.
Mereka semakin sering bersama.
Belajar bareng. Pulang bareng. Kadang bertengkar kecil karena beda pendapat.
“Kamu keras kepala,” ujar Aruna suatu sore.
“Kamu juga.”
“Tapi aku benar.”
Arkana mendesah. “Yaudah, terserah kamu.”
Aruna mendengus kesal. “Kamu tuh kalau marah diem. Nggak enak.”
Arkana menatapnya lama. “Kalau aku ngomong, takutnya kamu makin marah.”
Kalimat itu membuat Aruna terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Arkana. Bukan hanya anak pindahan yang pintar dan pendiam. Tapi seseorang yang sedang belajar membuka diri.
Sore itu, saat mereka berdiri di bawah langit jingga setelah latihan presentasi—
Arkana berkata pelan, “Aruna.”
“Iya?”
“Aku betah di sini karena kamu.”
Jantung Aruna serasa jatuh bebas.
“Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, hujan tidak turun.
Tapi hati Aruna terasa basah oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan yang manis.
Perasaan yang berbahaya.
Perasaan yang kelak akan diuji oleh jarak.
Dan tanpa mereka tahu…
Hujan hanyalah awal.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments