CHAOS

CHAOS

sisa-sisa kehancuran

Bangunan yang dulunya berdiri megah kini hanya rangka patah yang menjulang miring, seperti tulang-belulang raksasa yang membusuk di bawah langit kelabu. Api masih menyala di beberapa sudut, memakan sisa-sisa kehidupan dengan rakus, sementara asap hitam menggantung rendah, menutup matahari dan mengubah siang menjadi senja abadi. Jalanan retak, dipenuhi puing, darah, dan tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak. Tak ada tangisan, tak ada jeritan, hanya keheningan yang lebih kejam.

Diantara reruntuhan itu, seorang bocah kecil sedang merangkak kesakitan dengan banyak luka ditubuhnya, tangannya gemetar, lututnya berdarah, setiap gerakan terasa seperti merobek dagingnya sendiri. Nafasnya pendek dan terputus-putus, dadanya naik turun dengan susah payah. Seragam sekolahnya yang dulu bersih kini robek dan berlumuran darah. “Rumah…,” bisiknya lirih, nyaris tak bersuara. Di hadapannya, rumah itu sudah tak berbentuk. Dindingnya runtuh, atapnya lenyap, hanya menyisakan puing-puing hangus dan balok kayu patah. Namun bocah itu tetap merangkak mendekat, seolah menolak kenyataan. Lalu ia melihatnya.

Tubuh seorang wanita tergeletak di antara puing-puing. Separuh tertimpa reruntuhan, separuh lainnya tak lagi utuh. Mata yang terbuka kosong menatap langit, darah mengalir membentuk genangan kecil di tanah retak. Tak ada luka yang bisa disembuhkan, tak ada keajaiban yang bisa menolong, bahkan kata “menyelamatkan” pun terasa seperti penghinaan kejam. Bocah itu berhenti merangkak. Tangannya mencengkeram tanah, kuku-kukunya patah menahan gemetar yang tak terkendali. Air mata mengalir tanpa suara, tenggelam bersama debu dan darah di wajahnya, lalu

sebuah bayangan jatuh menutupi tubuh kecilnya.

Udara di belakangnya terasa berat. Panas. Menekan. Ia perlahan menoleh, sosok itu berdiri tegak di antara api dan asap, tingginya menjulang sekitar dua setengah meter. Tubuhnya besar dan kokoh, seperti diciptakan untuk menghancurkan. Kulitnya gelap keabuan, urat-urat menonjol di lengannya. Di tangannya, sebuah tombak panjang berlumuran darah masih meneteskan cairan hangat ke tanah.

Matanya menatap bocah itu tanpa emosi, bukan marah, bukan senang, hanya menunggu, seolah kematian bocah itu hanyalah urusan hiburan semata. bosan, sosok itu kini mengangkat tombaknya perlahan. Udara bergetar, tekanan luar biasa menekan dada bocah itu hingga ia hampir tak bisa bernapas. Ia ingin berteriak, ingin lari, ingin menutup mata, namun tubuhnya tak bergerak, sampai tombak itu diayunkan.

1 Januari 2023. Yuuta Aizawa terbangun dengan nafas terengah, keringat dingin membasahi punggungnya, dadanya naik turun cepat, jantungnya berdegup keras seolah ingin melompat keluar. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar yang gelap.

“Mimpi itu lagi…” gumamnya pelan. Mimpi itu selalu sama, tak pernah berubah, datang seminggu sekali, kadang dua kali. Seolah masa lalu menolak terkubur.

Yuuta mengusap wajahnya, lalu bangkit duduk. Usianya kini lima belas tahun. Rambut coklatnya sedikit berantakan, matanya tajam namun menyimpan kelelahan yang tak sesuai dengan umurnya. Di ruang tamu kecil rumahnya, televisi menyala. “…dan berikut adalah daftar kandidat yang berhasil lolos tahap seleksi akhir Organisasi Militer Dunia,” suara pembawa berita terdengar tegas. “Mereka akan menjadi calon tentara penjaga bumi yang sah.” Yuuta berdiri diam, menatap layar. Nama demi nama disebutkan.

Hingga “Yuuta Aizawa. Spesies: manusia. Kategori kemampuan: penyihir.” Bibir Yuuta terangkat sedikit. Senyum tipis nyaris tak terlihat.

“Lolos…,” ucapnya pelan.

Ia berhasil. Dengan sihir yang ia miliki, dengan latihan keras yang ia jalani, ia akhirnya sampai di titik ini. Dunia ini mengenal banyak spesies: manusia biasa, penyihir, elf (dikabarkan punah 30 tahun lalu), dan mutant. Dan di antara mereka semua, Yuuta tahu kekuatannya cukup untuk bertahan. Cukup untuk melangkah lebih jauh.

Tak lama kemudian, bunyi notifikasi terdengar dari perangkat komunikasinya. [Pemberitahuan Resmi Pemerintahan Dunia]

Seluruh kandidat diwajibkan hadir untuk mengikuti latihan akhir. Ketidakhadiran dianggap pengunduran diri.

Yuuta mengambil jaketnya dan melangkah keluar rumah. Udara pagi terasa dingin, namun matanya penuh tekad. Di balik ketenangannya, kebencian lama masih menyala, menunggu saat yang tepat untuk meledak. "Suatu hari... gw bakal remukin tubuh lu.”

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play