organisasi militer dunia

Yuuta berjalan santai di pinggir jalan. Kota ini jauh berbeda dari tempat tinggal lamanya. Bangunannya utuh, jalanannya rapi, dan orang-orang masih bisa hidup normal tanpa rasa takut besok pagi bakal mati. Rumah barunya bersama ayahnya berada di dekat perbatasan negara, wilayah yang cukup sepi, tapi strategis.

"Ironis", pikir Yuuta.

Dekat garis negara, tapi jauh dari rasa aman. Dia memasukkan tangan ke saku jaket, melangkah tanpa terburu-buru. Kepalanya tenang, tapi pikirannya tetap aktif, menghitung waktu, jarak, dan kemungkinan terlambat. Tiba-tiba “woi!!”

Sebuah sepeda meluncur dari kejauhan dengan kecepatan nggak masuk akal. Yuuta langsung melirik. “Oh. Dia.” Sepedanya berhenti mendadak tepat di depan Yuuta, bannya hampir nyium kaki.

“Naik?” tanya pemuda itu sambil nyengir lebar. Dia adalah Randy, sepupu yuuta yang dekat dengannya setelah Yuuta pindah kesini.

Rambutnya acak-acakan, senyumnya terlalu lebar buat ukuran orang waras. Matanya berbinar kayak orang yang baru nemu ide bodoh dan bangga akan hal itu. “Lu niat nabrak atau ngajak bareng?” tanya Yuuta. “Dua-duanya bisa,” jawab Randy santai. “Ayo, gw anter ke markas. Lumayan kan, gratis.” Yuuta mendesah kecil “Santai aja. gw jago.” kata Randy, Kalimat paling berbahaya di dunia. Sepeda itu langsung melesat. “PELAN PELAN TOLOL!” mereka ngebut tanpa peduli aturan, nyalip kendaraan, belok tajam, bahkan sempat hampir nyerempet truk. “Lu sadar ini jalan umum, kan? Bukan arena balap!” teriak Yuuta. “Y!” “sakit.” “memang.” "mati muda sih kalo kayak ini gaya hidup lu." ucap Yuuta

Akhirnya, gerbang besar markas militer dunia terlihat di depan. Bangunan raksasa dengan simbol dunia terukir di tengahnya, dijaga puluhan tentara bersenjata lengkap.

Sepeda berhenti. “Nah, nyampe,” kata Randy santai. Yuuta turun, merapikan jaketnya. “Ajaib gw masih hidup.” “Tenang. Kita pisah di sini.” “Iya, gw tau. Lu asisten, gue kandidat.”

Catatan: di organisasi ini, setiap orang bebas ingin memilih jalan mereka masing-masing, entah itu menjadi kandidat (orang yang akan terjun kelapangan), dan asisten (orang yang akan membantu kandidat saat melakukan misi)

Randy menepuk bahu Yuuta. “Inget ya. Jangan bikin masalah.” Yuuta meliriknya. “Dari siapa kata-kata itu keluar, coba?”, “Serius,” lanjut sepupunya. “Tempat ini bukan sekolah. Salah langkah dikit, lu bisa ilang.” Yuuta tersenyum tipis. “ok.” Mereka berpisah. Yuuta masuk dan dituntun sampai ke sebuah lapangan, lapangan itu luasnya tak masuk akal. Ratusan kandidat berdiri di sana. Manusia, mutant, dan penyihir. Aura sihir bercampur di udara, membuat suasana terasa berat. Beberapa orang pamer kekuatan kecil, sebagian lagi tampak tegang. terlalu ramai, tapi semua saling mengawasi, pikir Yuuta.

Tiba-tiba, suasana mendadak sunyi. Seseorang muncul di depan. Masih muda, terlalu muda. “Pemimpin dunia,” bisik seseorang. Yuuta menatapnya. Umur dua puluh delapan. Wajah tenang, postur tegap, tatapan tajam. Aura kekuasaannya jelas terasa, bukan karena sihir, tapi karena kehadiran. "28 tahun…

Cepat banget buat posisi setinggi ini." ucap Yuuta, “Dengar,” suara pemimpin dunia terdengar jelas dengan mic. “Kalau kalian berdiri di sini karena mimpi jadi pahlawan... keluar sekarang.” Tak ada yang bergerak. “Menjadi tentara dunia berarti siap mati kapan saja. Misi bisa datang tengah malam. Kesalahan kecil bisa bikin satu kota hilang.” Yuuta memperhatikan reaksi sekitar. Ada yang menelan ludah. Ada yang tersenyum tegang. “Kami tidak membutuhkan orang ragu. Kami butuh orang yang sadar risiko, tapi tetap maju.”

Pelatihan ringan dimulai. Lari, pemanasan, tes fisik dasar. Yuuta berlari dengan ritme stabil. Nggak terlalu cepat, nggak terlalu lambat.

Yang pamer biasanya tumbang duluan.

Setelah selesai, dia duduk di pinggir lapangan, minum air, namun Tiba-tiba tamparan keras mendarat di pipinya. Yuuta mendongak, matanya langsung tajam. Seorang pemuda seumurannya berdiri di depannya. Aura sihirnya kuat, mungkin setara. “Apa masalah lu?” tanya Yuuta datar. “Lu nyandung gue pas lari?” kata pemuda itu ketus.

Yuuta mengernyit. “Nggak.” dia menjawab “udah tolol, pikun lagi.” yuuta menyela “Serius. Gue nggak nyentuh lu.” Orang-orang mulai melirik. Beberapa berhenti latihan. “lu pikir gw bohong? Hah? Anjing!” pemuda itu maju selangkah.

Yuuta berdiri perlahan. Tangannya mengepal.

Aura stabil. Nafas normal “Lu salah orang,” kata Yuuta. “Atau lu emang cari ribut.”

“wah tai nih orang”

Yuuta hampir melangkah maju. Lalu teringat untuk tidak membuat masalah. Dia menghembuskan napas pelan, melepaskan kepalan tangannya. “Yaudah,” katanya singkat. “Terserah.” Dia berbalik pergi. Beberapa orang terdengar berbisik. Pemuda itu terlihat kesal, tapi nggak mengejar. Yuuta berjalan menuju kantin. "Menarik" pikirnya.

"Baru hari pertama, udah ada yang main kotor."

Beberapa jam kemudian, suara mesin berat terdengar. Truk-truk militer berbaris di depan lapangan. “Semua kandidat naik!” teriak instruktur. Tujuan pelatihan akhir diumumkan yaitu akan pergi ke Kota hancur buatan. Yuuta naik ke salah satu truk, duduk tenang. Kalau ini buatan, Berarti yang bakal diuji bukan cuma kekuatan, truk mulai bergerak. Dan permainan sebenarnya pun akhirnya dimulai.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play