(Kita tidak akan bertahan seperti ini.)
Angin masih berhembus pelan, membawa suara langkah kaki yang semakin menjauh... lalu menghilang sepenuhnya.
Dazai masih menatap ke arah Yui pergi, tubuhnya sedikit gemetar.
“…Dia benar-benar pergi…” gumamnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Akira tetap duduk, tidak bergerak.
Aku mengalihkan pandangan.
(Tiga orang yang tersisa... dan satu sudah tidak punya niat bertahan.)
Dazai tiba-tiba berbicara lagi.
“Aku... aku tidak bisa di sini.”
Aku menoleh padanya.
Dia menatap ke arah hutan, ke arah Yui menghilang.
“Aku tidak bisa sendirian... maksudku... berdua...” dia menggeleng cepat. “Dia mungkin benar. Lebih baik cari kelompok lain.”
(Kelompok lain... atau tempat mati yang lebih cepat.)
“Kalau kamu pergi sekarang, kemungkinan tersesat tinggi,” kataku datar.
“Aku... aku tahu, tapi...” dia menggigit bibirnya. “Aku tidak bisa di sini.”
Akira tertawa kecil dari tempatnya duduk.
“Lihat? Bahkan tanpa melakukan apa-apa, tim sudah bubar.”
Dazai menoleh padanya, kesal.
“Kamu bahkan tidak mencoba!”
“Untuk apa?” jawab Akira tenang. “Akhirnya sama saja.”
Dazai terdiam beberapa detik.
Lalu dia menatapku.
“Aku... aku pergi.”
Aku tidak menahannya.
(Hasilnya sudah jelas.)
Dazai menelan ludah, lalu mulai berjalan... lalu berlari kecil ke arah yang sama dengan Yui.
Langkahnya tidak stabil.
Napasnya sudah terdengar berat meskipun belum jauh.
(Beberapa menit saja... dia akan kelelahan.)
Aku tidak menghentikannya.
Aku tidak memanggilnya.
Aku hanya melihat sampai sosoknya hilang di antara pepohonan.
Sunyi.
Kini hanya dua orang.
Aku dan Akira.
...
Akira akhirnya berdiri.
Dia menguap pelan, meregangkan tubuhnya tanpa semangat.
“…Aku naik ke sana.”
Dia menunjuk ke arah bukit.
Tidak... lebih tepatnya ke arah jalur yang menuju ke atas, ke daerah yang lebih tinggi.
“Tempat tinggi biasanya lebih aman, kan?” katanya, setengah bertanya, setengah tidak peduli.
Aku tidak menjawab.
Dia berjalan melewatiku.
Saat melewati peti, dia berhenti sebentar.
Mengambil satu tas.
Lalu...
Dia melempar sesuatu ke arahku.
Aku menangkapnya secara refleks.
Cangkul kayu.
“Tidak butuh itu,” katanya singkat.
Lalu dia melanjutkan jalan.
Tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Tidak ragu.
Langkahnya lambat, tapi stabil.
Seolah dia tidak peduli apakah dia akan hidup atau mati di atas sana.
Beberapa saat kemudian... dia menghilang juga.
...
Sunyi.
Benar-benar sunyi sekarang.
Aku berdiri sendiri di tengah hutan.
Dengan dua peti kosong di belakangku.
Dengan tiga orang... yang sudah pergi ke arah berbeda.
(Aneh.)
(Tidak ada satu pun yang mencoba bertahan bersama.)
Aku melihat tanganku.
Kapak batu.
Cangkul kayu.
Di sampingku, tas kecil dan satu korek api.
(Tidak buruk untuk awal.)
Aku membuka tas itu.
Di dalamnya kosong.
(Tapi cukup untuk menyimpan sesuatu.)
Aku menutupnya kembali.
Lalu melihat sekeliling.
(Prioritas pertama...)
“Tempat tinggal.”
Aku berjalan mendekati pohon terdekat.
Batangnya cukup besar.
Daunnya lebat.
(Kayu.)
Aku mengangkat kapak batu.
Menarik napas.
Lalu mengayunkannya.
...
Tak!
Suara benturan terdengar jelas.
Getaran merambat dari gagang kapak ke tanganku.
Lebih berat dari yang kubayangkan.
Aku mengayunkan lagi.
Tak!
Dan lagi.
Tak!
(Beberapa kali lagi...)
Batang pohon itu retak.
Lalu...
Pohon itu tumbang.
Tanah bergetar sedikit saat batangnya jatuh.
Aku mundur satu langkah.
Dan saat aku melihatnya...
Aku berhenti.
“…Hah.”
Batang pohon itu tidak lagi utuh.
Sebaliknya...
Tumpukan kayu plank tersusun rapi di tanah.
Potongan bersih.
Seragam.
Seperti hasil produksi.
(Bukan kayu mentah...)
(Tapi sudah jadi bahan.)
Aku menatap kapak di tanganku.
(Sistem ini benar-benar seperti game.)
Tiba-tiba...
Sesuatu muncul lagi di pandanganku.
(Status.)
Tanpa aku panggil.
(Lumberjack... naik.)
(EXP bertambah.)
Aku sedikit menyipitkan mata.
(Setiap aksi... memberi perkembangan.)
Aku langsung bergerak lagi.
...
Kapak diayunkan.
Pohon kedua.
Tak! Tak! Tak!
Tumbang.
Plank lagi.
(Status muncul lagi.)
(Lumberjack naik.)
Aku tidak berhenti.
Aku terus menebang.
Pohon ketiga.
Keempat.
Napas mulai terasa.
Tangan sedikit pegal.
(Tapi bisa dilatih.)
Aku mengangkat kapak lagi...
...
Shhhk...
Suara itu halus.
Sangat halus.
Namun cukup.
Aku berhenti.
Perlahan.
Menoleh.
Di antara semak-semak...
Sesuatu bergerak.
Panjang.
Gelap.
Mengkilap.
(Ular.)
Seekor ular piton besar merayap keluar perlahan.
Matanya mengunci padaku.
Tubuhnya tebal.
Gerakannya tenang.
(Terlalu tenang.)
Aku tidak bergerak.
(Kalau aku lari...)
(Stamina belum cukup.)
(Kalau aku panik...)
(Selesai.)
Ular itu mendekat.
Pelan.
Sangat pelan.
Jarak... lima meter.
Empat.
Tiga.
Ia berhenti.
Tubuhnya sedikit melingkar.
(Kontraksi.)
(Serangan.)
Aku menggenggam kapak lebih erat.
(Datang.)
...
Dalam sekejap...
Ular itu melesat.
Cepat.
Lebih cepat dari yang terlihat.
Aku menghindar ke samping.
Tubuhku bergerak refleks.
Nyaris.
Sangat nyaris.
Aku mengayunkan kapak.
CRACK!
Kapak mengenai bagian tubuhnya.
Tidak dalam.
Namun cukup membuatnya menggeliat keras.
Ular itu berbalik cepat.
Lebih agresif sekarang.
Lebih berbahaya.
(Dua kali lebih cepat.)
Ia menyerang lagi.
Aku mundur.
Kaki terpeleset sedikit.
(Sial.)
Mulutnya terbuka...
Aku mengangkat kapak.
Dan mengayunkannya sekuat mungkin.
CRACK!!
Kali ini...
Tepat di kepala.
Tubuh ular itu bergetar keras.
Menggeliat.
Lalu...
Perlahan melemah.
Diam.
Napas.
Aku menarik napas dalam.
Lalu menghembuskannya pelan.
(Terlambat sedikit saja...)
Aku melihat tubuh ular itu.
Lalu...
Sekali lagi.
Perubahan.
Tubuh itu menghilang.
Digantikan oleh...
Material.
Daging.
Kulit.
Dan beberapa item lain.
(Status muncul.)
(Strength... naik.)
(Fighting... naik.)
Aku menatap kapak di tanganku.
(Bertarung juga memberi EXP.)
Aku melihat sekeliling.
Hutan yang tadi terasa kosong...
Sekarang terasa berbeda.
(Lebih berbahaya.)
Aku mengambil hasil dari ular itu, memasukkannya ke dalam tas.
Lalu menatap tumpukan kayu plank di tanah.
(Dengan ini...)
Aku mengangkat pandangan ke arah sekitar.
(Aku bisa mulai bertahan.)
Angin berhembus lagi.
Namun kali ini...
Terasa lebih dingin.
(Aku bisa mulai bertahan.)
Angin berhembus lagi...
Namun kali ini terasa lebih dingin.
Langit perlahan berubah warna. Biru terang mulai memudar, digantikan oleh jingga yang redup... lalu semakin gelap.
(Malam.)
Aku menatap sekeliling.
Hutan yang tadi terlihat biasa...
Sekarang mulai terasa asing.
(Setiap suara jadi lebih jelas... dan lebih mencurigakan.)
Aku bergerak cepat.
Tidak ada waktu untuk ragu.
Aku mengumpulkan kayu plank yang tadi kudapat.
Jumlahnya cukup banyak.
(Terlalu banyak untuk sekadar api.)
Aku menurunkannya satu per satu dari tas.
Lalu mulai menyusun.
Balok demi balok.
(Bukan rumah... tapi cukup untuk berlindung.)
Aku menyusunnya seperti blok... sederhana... tapi saling mengunci.
Dinding pertama.
Lalu kedua.
Aku menyisakan celah kecil sebagai pintu.
Atapnya...
Aku berhenti sebentar.
(Masih bisa.)
Aku mengambil beberapa plank.
Menaruhnya...
Dan saat aku mencoba menyusunnya...
Tiba-tiba.
Sesuatu terasa berbeda.
Seperti ada dorongan.
Seperti... pemahaman.
(Crafting...)
Aku memegang plank itu.
Membayangkan bentuknya.
(Sederhana saja.)
Dan dalam sekejap...
Plank itu tersusun sendiri.
Rapi.
Presisi.
Atap sederhana terbentuk.
Aku diam beberapa detik.
(Langsung jadi...)
(Tidak perlu dipaku... tidak perlu alat tambahan.)
(Status...)
Aku melihat sekilas.
(Crafting... level 5.)
(Simple Crafting.)
(Membuat sesuatu secara instan... selama materialnya ada.)
Aku menutup status itu.
(Terlalu cepat berkembang.)
(Tapi ini menguntungkan.)
Beberapa menit kemudian...
Sebuah rumah kecil berdiri.
Sederhana.
Kotak.
Seperti balok yang disusun.
Namun cukup untuk melindungi dari angin... dan sesuatu yang lebih buruk.
Aku keluar sebentar.
Mengumpulkan ranting kecil.
Daun kering.
Lalu mengeluarkan korek api.
(Ini penting.)
Aku menyalakan api.
Butuh dua kali percobaan.
Namun akhirnya...
Api menyala.
Api unggun kecil.
Cahaya oranye menari-nari di tanah.
Bayangan pohon bergerak... seperti sesuatu yang hidup.
(Sudah lebih baik.)
Aku duduk di dekat api.
Mengeluarkan daging ular dari tas.
Masih segar.
(Tidak ada darah berlebihan... seperti sudah diproses.)
Aku menusuknya dengan ranting.
Lalu mulai memanggang.
Aroma daging mulai tercium.
Asing... tapi tidak menjijikkan.
(Bisa dimakan.)
Crack...
Suara ranting patah.
Aku langsung berdiri.
Kapak di tangan.
Tatapan tajam ke arah suara.
(Hewan... atau...)
Langkah kaki.
Cepat.
Tidak stabil.
Seseorang muncul dari kegelapan.
Aku langsung siap menyerang...
Lalu berhenti.
“Akira?”
Dia berdiri di sana.
Napasnya berat.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Pakainya kotor.
Wajahnya...
Berbeda.
Kosong.
Namun... ada sesuatu di matanya.
Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.
(Takut.)
Dia menatapku.
Beberapa detik.
Lalu...
“Aku mati.”
Suaranya pelan.
Datar.
Namun tidak kosong.
Aku tidak langsung menjawab.
Dia melangkah mendekat.
Perlahan.
“Satu nyawa hilang.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Akira tertawa kecil.
Namun tidak ada humor di sana.
“Naga.”
Sunyi.
Api berderak pelan.
Aku sedikit menyipitkan mata.
(Naga...)
(Berarti level ancaman di dunia ini...)
“Aku tidak sempat lari,” lanjutnya. “Tidak sempat berpikir.”
Dia menatap tangannya sendiri.
Seolah masih merasakan sesuatu.
“Satu detik... aku berdiri...”
“…detik berikutnya... aku sudah mati.”
Dia mengangkat kepalanya.
Menatapku.
Tatapannya sekarang jelas.
Trauma.
Namun... tetap berdiri.
Tetap di sini.
“…Sakitnya tidak lama,” katanya pelan.
Lalu diam.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
(Aneh.)
(Dia tidak berubah.)
(Tetap ingin mati... tapi sekarang tahu rasanya.)
Akira akhirnya melihat sekeliling.
Lalu matanya berhenti.
Pada...
Rumah.
“…Apa itu?”
Nada suaranya berubah sedikit.
Untuk pertama kalinya...
Ada reaksi.
Aku menjawab singkat.
“Tempat tinggal.”
Dia menatapnya lebih lama.
“…Kamu membuat itu?”
Aku mengangguk.
Akira berjalan mendekat.
Menyentuh dindingnya.
Padat.
Stabil.
“…Cepat.”
“Kayunya langsung jadi plank,” kataku. “Waktu ditebang.”
Dia menoleh padaku.
“Langsung?”
“Ya. Kalau pohonnya besar.”
Aku menunjuk ke arah hutan.
“Kalau batang kecil... tetap batang biasa.”
Akira terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa kecil lagi.
“…Masuk akal.”
Tidak.
Sebenarnya tidak.
Namun di dunia ini...
Itu jadi masuk akal.
Aroma daging kembali menarik perhatian.
Akira menoleh ke api.
“…Itu makanan?”
Aku mengangguk.
“Ular.”
Dia mendekat.
Duduk di dekat api.
Tanpa ragu.
Tanpa komentar.
Aku menyerahkan satu potong.
Dia menerimanya.
Langsung makan.
Tanpa bertanya.
(Beberapa jam lalu... dia bahkan tidak peduli hidup.)
(Sekarang... tetap makan.)
Aku melihatnya sebentar.
Lalu mengalihkan pandangan.
(Status...)
Aku membukanya sekilas.
Lumberjack... level 3
Crafting... level 5
Mining... level 1
Strength... level 5
Fighting... level 4
Agility... level 4
Weapon Making... level 1
Exploring... level 2
Toughness... level 3
Endurance... level 2
Stamina... level 4
Archery... level 1
(Per 5 level...)
(Skill.)
(Heavy Swing...)
(Simple Crafting...)
Aku menutup status itu.
(Tidak perlu dibagi.)
Api terus menyala.
Malam semakin gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini...
Aku tidak berdiri di tempat terbuka.
Aku memiliki tempat berlindung.
Namun...
Di luar sana...
Sesuatu bergerak.
Tidak terlihat.
Tidak terdengar jelas.
Namun...
Ada.
Dan dunia ini...
Baru saja mulai menunjukkan wajah aslinya.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments