Ezzerion Fantasy

Ezzerion Fantasy

Cahaya dibawah Kaki

Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis terdengar berulang, tajam namun monoton, memenuhi ruang kelas 3-1 SMA Oguro. Udara terasa berat oleh kombinasi panas siang hari dan kebosanan yang perlahan merayap.

Aku menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memutar pulpen tanpa tujuan.

“Perhatikan bagian ini, karena akan keluar di ujian,” suara guru terdengar datar, seolah ia sendiri tidak yakin murid-muridnya benar-benar peduli.

(Beberapa menit lagi... lalu istirahat. Atau mungkin aku bisa pura-pura sakit.)

Aku melirik ke luar jendela. Langit cerah. Tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda bahwa hidup akan berubah.

Semuanya terasa… biasa.

Sangat biasa.

Di depanku, beberapa murid mencatat dengan serius. Di belakang, suara bisik-bisik kecil terdengar.

“Eh, nanti sepulang sekolah jadi, kan?”

“Iya, tapi aku harus izin dulu ke klub.”

Aku menghela napas pelan.

(Kalau ini cerita fantasi, biasanya sekarang ada sesuatu yang terjadi.)

Aku hampir tertawa kecil pada pikiranku sendiri.

Tentu saja, dunia nyata tidak bekerja seperti itu.

“Baik, sekarang buka halaman”

Kalimat itu terputus.

Bukan karena guru berhenti.

Tapi karena cahaya.

Sebuah cahaya putih… muncul.

Tepat di bawah kakiku.

Aku langsung menegang.

“Apa...?”

Cahaya itu bukan hanya di bawahku.

Di bawah semua orang.

Seluruh kelas.

“Apa ini?” seseorang berteriak.

“Apa yang terjadi?!” suara lain menyusul, panik.

Kursi berdecit. Buku jatuh ke lantai. Suara langkah kaki kacau.

Aku menunduk.

Cahaya itu membentuk lingkaran sempurna, berpendar, seperti sesuatu yang… hidup.

(Ini… tidak normal.)

“Jangan bergerak! Tetap tenang!” guru berteriak, suaranya untuk pertama kalinya terdengar tidak stabil.

Namun tidak ada yang mendengarkan.

Cahaya itu semakin terang.

Terlalu terang.

Aku menutup mata.

(Sial… ini benar-benar terjadi?)

Dalam sepersekian detik terakhir sebelum semuanya putih...

Aku berpikir:

(Ini seperti… game.)

Sunyi.

Tidak ada suara kapur. Tidak ada suara murid.

Hanya suara angin.

Dan… bau tanah.

Aku membuka mata perlahan.

Langit biru… tapi bukan langit yang tadi kulihat dari jendela.

Di atas sana, tidak ada bangunan sekolah.

Hanya pepohonan tinggi yang menjulang, daun-daunnya bergoyang pelan.

Aku langsung bangkit.

“Apa…”

Suara langkah kaki di belakangku.

Aku menoleh cepat.

Tiga orang.

Aku tidak mengenal mereka.

Namun seragam mereka… sama.

SMA Oguro.

Aku memperhatikan lebih detail.

Ada tanda kecil di dada mereka.

Nomor kelas.

3-2.

3-2.

3-4.

(Berarti… mereka bukan dari kelasku.)

“Ini… ini di mana?” seorang laki-laki dengan wajah pucat berbicara, suaranya gemetar. Tubuhnya kurus, napasnya sudah terdengar berat meski hanya berdiri.

Sasaki Dazai.

Aku membaca namanya dari penanda seragamnya.

“Tempat ini kotor sekali…” seorang perempuan menyilangkan tangan, ekspresinya jelas tidak suka. Rambutnya rapi, wajahnya cantik… tapi cara dia melihat sekeliling seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.

Hori Yui.

“...Sudah kuduga.” suara lain terdengar malas. Seorang laki-laki menjatuhkan dirinya duduk di tanah begitu saja, tanpa peduli.

Shinjiro Akira.

“Akhirnya kejadian juga sesuatu seperti ini. Dunia lain atau semacamnya, ya?” dia menghela napas panjang. “Menyebalkan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku melihat sekitar.

Hutan.

Di sisi kanan, ada bukit kecil. Tanahnya sedikit menanjak, dipenuhi rumput liar dan batu.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada jalan.

Tidak ada tanda peradaban.

(Hutan… bukit… tidak ada manusia lain.)

“Ini jelas bukan Jepang!” Dazai mulai panik. “Apa kita… diculik?!”

“Diculik? Dengan cara seperti itu?” Yui mendengus. “Tolong berpikir logis sedikit.”

“Lalu ini apa?!” suara Dazai meninggi.

“Entahlah, tapi jelas bukan tempat untuk orang seperti kita,” jawab Yui, sambil mengibaskan sedikit debu dari roknya, meskipun tidak terlalu kotor.

Akira hanya tertawa kecil, datar.

“Tidak peduli di mana kita berada, hasil akhirnya sama saja.”

Aku akhirnya berbicara.

“Diam sebentar.”

Mereka bertiga langsung menoleh padaku.

Aku menunjuk ke depan.

“Lihat itu.”

Beberapa meter dari kami… sesuatu muncul.

Bukan jatuh.

Bukan datang.

Tapi… seperti muncul begitu saja.

Sebuah peti kayu.

Keempatnya terdiam.

Dazai menelan ludah.

“...Itu tadi tidak ada, kan?”

“Tidak,” jawabku singkat.

Yui menyipitkan mata.

“Jangan bilang kita harus membuka benda mencurigakan seperti itu.”

Akira mengangkat bahu.

“Kalau itu jebakan, ya sudah. Selesai lebih cepat.”

Dazai mundur setengah langkah.

“Jangan… jangan asal sentuh!”

Aku melangkah maju.

Tanah terasa padat di bawah kakiku. Setiap langkah terasa nyata.

(Tidak ada glitch. Tidak ada delay. Ini… terlalu nyata.)

Aku berhenti tepat di depan peti itu.

Kayunya kasar. Ada sedikit goresan.

Tidak terkunci.

Aku membuka tutupnya.

Di dalamnya ada empat set alat.

Kapak batu.

Pickaxe batu.

Cangkul kayu.

Pedang kayu.

Dan…

Empat buku.

Aku mengambil salah satu buku itu.

Sampulnya gelap. Tidak ada judul.

Saat aku menyentuhnya...

Buku itu terbuka sendiri.

Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang.

Halaman-halamannya berputar cepat.

Lalu berhenti.

Tulisan muncul.

Bukan tinta.

Seperti… terbentuk sendiri.

Aku membaca.

Dan tanpa sadar, suaraku keluar.

“…Selamat datang di dunia Ezzerion.”

Tidak ada yang berbicara.

“Dunia ini adalah panggung permainan bagi para dewa dan dewi.”

Dazai menatapku dengan wajah kosong.

“Apa maksudnya…?”

Aku melanjutkan.

“Tujuan mereka… adalah melihat bagaimana kalian bertahan hidup.”

Angin berhenti.

Hutan menjadi… terlalu sunyi.

“Setiap pemain memiliki tujuh nyawa.”

Yui tertawa kecil, tidak percaya.

“Ini lelucon, kan?”

Aku tidak berhenti.

“Ketika nyawa habis… kematian bersifat permanen.”

Akira yang tadinya terlihat bosan… kini menoleh.

Perlahan.

“Respawn point adalah tempat tidur terakhir.”

Dazai mundur satu langkah lagi.

“Berhenti… ini tidak lucu…”

Tanganku sedikit mengencang pada buku itu.

“Tembok cahaya membatasi dunia ini.”

Aku menatap lurus ke depan, meskipun tidak ada apa-apa di sana.

“Melarikan diri… mustahil.”

Sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara serangga.

Hanya napas kami berempat.

Yui akhirnya berbicara, suaranya sedikit lebih rendah.

“…Kalau ini benar… berarti kita benar-benar...”

Akira menyela, datar.

“Terjebak.”

Dazai menggeleng cepat.

“Tidak… tidak mungkin… ini pasti mimpi… ini pasti...”

Aku menutup buku itu perlahan.

(Bukan mimpi.)

Aku menatap alat-alat di dalam peti.

(Bukan permainan.)

Lalu aku melihat mereka bertiga.

(Tapi… aturan seperti game.)

Aku mengambil pedang kayu.

Gagangnya ringan.

Terlalu ringan.

Namun cukup untuk melukai.

Aku mengangkat pandangan.

“Kalau kita ingin tetap hidup…”

Mereka semua menatapku.

Aku berbicara dengan tenang.

“…kita harus menganggap ini nyata.”

Angin kembali berhembus.

Daun-daun bergesekan.

Dan untuk pertama kalinya...

Dunia ini terasa… menatap balik.

“…kita harus menganggap ini nyata.”

Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas kepala kami. Suara gesekannya terasa lebih jelas sekarang, seolah tidak ada lagi suara lain yang mengganggu.

Tidak ada kendaraan. Tidak ada manusia. Tidak ada tanda peradaban.

Hanya kami… dan hutan ini.

Aku kembali membuka buku di tanganku.

(Harus ada informasi lain.)

Halaman yang tadi kosong… perlahan terisi lagi. Tulisan muncul satu per satu, seperti ditulis oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Aku membaca dalam hati.

“…Untuk mengakses status pribadi, ucapkan ‘Status’.”

Aku sedikit mengernyit.

(Status… benar-benar seperti game.)

“Di buku itu ada apa lagi?” tanya Dazai, suaranya masih belum stabil.

Aku mengangkat sedikit buku itu, tanpa menutupnya.

“Ada sistem status. Katanya… kita bisa melihat kemampuan kita sendiri.”

“Maksudnya?” Yui melipat tangan, nada suaranya mulai kehilangan kesabaran.

Aku menatap lurus ke depan.

“Seperti statistik. Kekuatan, kecepatan, hal-hal seperti itu.”

Dazai menelan ludah.

“Lalu… bagaimana cara melihatnya?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku menarik napas pelan.

(Status…)

“Status.”

Sejenak, tidak ada yang terjadi.

Lalu…

Sesuatu muncul.

Bukan di depan mataku.

Lebih tepatnya… di dalam pandanganku.

Seperti lapisan transparan yang menempel di realita.

Tulisan.

Angka.

Informasi.

Aku tidak berkata apa-apa.

Namun mataku bergerak cepat, membaca.

(Nama… Sakamoto Takeru.)

(Level… 1.)

(Daftar skill…)

(Lumberjack… Mining… Crafting…)

(Agility…)

Aku berhenti di sana sejenak.

(Agility… lebih tinggi dari yang lain.)

(Tidak heran.)

Aku menggerakkan mata sedikit.

(Strength… rendah.)

(Fighting… hampir tidak ada.)

(Tubuh biasa.)

Aku menutup mata sebentar.

(Status tertutup.)

Semua itu langsung menghilang.

Aku kembali menatap mereka bertiga.

“Coba ucapkan ‘Status’,” kataku singkat.

Dazai ragu-ragu.

“...Status.”

Matanya langsung melebar.

“Apa… apa ini?!”

Yui juga mencoba, meskipun terlihat enggan.

“Status.”

Ekspresinya berubah sedikit.

Akira, yang sejak tadi duduk di tanah, mendesah pelan.

“…Status.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Dazai mulai panik lagi.

“Ini… ini benar-benar seperti game… ini tidak masuk akal… kenapa ada angka-angka begini?!”

Yui menyipitkan mata.

“…Tidak bisa dilihat orang lain.”

Aku mengangguk pelan.

“Sepertinya hanya kita sendiri yang bisa melihatnya.”

Akira menutup matanya, lalu membuka lagi.

Statusnya hilang.

Dia tertawa kecil.

“…Menarik.”

Tidak ada rasa kagum dalam suaranya.

Hanya… kelelahan.

Aku kembali melihat sekitar.

(Hutan. Bukit. Tidak ada arah pasti.)

(Tapi…)

Aku melirik mereka bertiga.

(Dua dari 3-2… satu dari 3-4.)

(Berarti…)

“Kalau kita ada di sini,” aku mulai berbicara pelan, “kemungkinan besar… yang lain juga ada.”

Dazai langsung menoleh.

“Maksudmu… murid lain?”

Aku mengangguk.

“Tidak mungkin hanya kita berempat.”

Yui mendengus pelan.

“Kalau begitu kita harus mencari mereka. Jelas lebih aman dalam kelompok besar.”

(Aman…?)

Aku tidak langsung menjawab.

(Atau justru lebih berbahaya.)

Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu...

Akira berbicara.

“…Atau kita tidak perlu melakukan apa-apa.”

Kami bertiga menoleh ke arahnya.

Dia masih duduk.

Tatapannya kosong, menatap tanah.

“Kalau dipikir-pikir…” lanjutnya pelan, “…cara paling cepat untuk keluar dari sini sudah dijelaskan, bukan?”

Dazai mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Akira mengangkat kepalanya sedikit.

Matanya tidak menunjukkan harapan.

“Nyawa kita ada tujuh.”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau kita mati tujuh kali… kita mati permanen.”

Yui menyilangkan tangan.

“Lalu?”

Akira tersenyum tipis.

“…Bukankah itu berarti kita kembali ke dunia asal?”

Sunyi.

Hanya suara angin.

Dazai langsung menggeleng keras.

“Itu… itu tidak masuk akal!”

Akira menatapnya, datar.

“Kenapa?”

“Karena… karena itu hanya asumsi!” suara Dazai meninggi. “Tidak ada bukti kalau mati di sini berarti kembali! Bagaimana kalau benar-benar mati?!”

Akira mengangkat bahu.

“Kalau benar-benar mati… ya sudah.”

“Bagaimana bisa kamu bilang ‘ya sudah’?!”

Dazai melangkah mendekat, wajahnya tegang.

“Ini hidup kita!”

Akira tidak bereaksi.

Tatapannya kembali turun ke tanah.

“…Hidup seperti apa?”

Kalimat itu keluar pelan.

Terlalu pelan.

Namun cukup untuk membuat Dazai terdiam.

(Ah… tipe seperti ini.)

Aku memalingkan pandangan.

(Tidak punya keinginan hidup sejak awal.)

(Bukan karena dunia ini… tapi karena dirinya sendiri.)

Yui mendecak pelan.

“Percakapan ini membosankan.”

Dia berbalik.

Saat itulah...

Sesuatu muncul lagi.

Sama seperti sebelumnya.

Tidak ada suara.

Tidak ada tanda.

Tiba-tiba saja… ada.

Sebuah peti kedua.

Letaknya tidak jauh dari yang pertama.

Dazai tersentak.

“A-apa lagi sekarang?!”

Aku langsung mendekat.

(Yang pertama alat dan buku.)

(Yang ini… kemungkinan pelengkap.)

Aku membuka peti itu.

Di dalamnya ada empat tas kecil.

Dan…

Empat korek api.

Aku mengamati sebentar.

(Tas untuk inventory dasar.)

(Korek api… berarti api penting.)

Aku belum sempat berkata apa-apa...

“Bagus.”

Suara Yui terdengar.

Dia sudah di sampingku.

Cepat.

Dia langsung mengambil satu tas.

Gerakannya tanpa ragu.

Lalu satu korek api.

Aku meliriknya.

Dia tidak melihatku.

Sebaliknya, dia sudah berdiri tegak, menepuk sedikit tas itu.

“Setidaknya ada sesuatu yang berguna.”

“Eh...tunggu...” Dazai mencoba menghentikan.

Namun Yui sudah berjalan.

Menjauh.

“Ke mana kamu pergi?” tanyaku.

Dia berhenti sebentar.

Hanya sebentar.

Lalu menjawab tanpa menoleh.

“Aku tidak punya waktu untuk bermain tim dengan orang-orang yang tidak kompeten.”

Nada suaranya dingin.

“Kalau ada kelompok lain… aku akan bergabung dengan mereka.”

“Sendirian?!” Dazai hampir berteriak.

Yui akhirnya menoleh sedikit.

Tatapannya tajam.

“Lebih baik sendiri daripada jadi beban.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Lalu dia pergi.

Langkahnya ringan.

Cepat.

Dan tidak ragu.

Beberapa detik kemudian...

Dia menghilang di antara pepohonan.

Sunyi kembali.

Dazai menatap arah Yui pergi.

“…Dia serius?”

Akira bahkan tidak mengangkat kepala.

“…Satu orang pergi. Lebih sederhana.”

Aku menatap ke arah hutan.

(Meninggalkan kelompok… tanpa ragu.)

(Ambisius… atau bodoh.)

Angin kembali berhembus.

Aku menutup peti itu perlahan.

(Tapi satu hal sudah jelas.)

Aku mengalihkan pandangan ke dua orang yang tersisa.

(Kita tidak akan bertahan seperti ini.)

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play