Hari 1

Takeru berdiri di atas rumput.

Di sebelah kirinya, Hori Yui. Rambut pirang panjang sebahu, wajah cantik. Cewek tercantik kedua di sekolah.

Di sebelah kanannya, Sasaki Dazai. Rambut hijau. Biasa saja. Tidak ada ciri khusus.

Di belakangnya, Shinjiro Akira. Rambut hitam. Biasa saja. Wajahnya datar.

Empat orang. Berdiri. Sadar. Muncul dari ketiadaan.

Tidak ada yang bicara.

Lalu peti itu muncul di tengah-tengah mereka.

Kayu coklat tua dengan ukiran halus di setiap sisinya. Bukan ukiran biasa. Simbol-simbol yang tidak dikenal. Lingkaran. Segitiga. Garis-garis yang berpotongan tanpa pola jelas. Peti itu mengeluarkan aroma kayu tua, seperti peti harta karun yang tersimpan selama ratusan tahun.

Yui mendekat. Dazai mengikuti. Akira diam di tempat. Takeru juga tidak bergerak.

Yui membuka peti itu.

Di dalamnya ada empat buku dengan sampul kulit berwarna merah tua. Empat kapak batu. Empat pickaxe batu. Enam belas roti hangat. Uap tipis masih naik dari permukaan roti.

Dazai mengambil satu buku. Kulitnya lembut. Ada tulisan di sampulnya, ditulis dengan tinta emas, huruf-huruf yang tidak dikenal tapi entah bagaimana bisa dibaca.

Dia membuka halaman pertama.

Kepada yang terdampar di dunia Ezzerion.

Kami menyambut kalian.

Jangan takut. Jangan panik. Kalian tidak akan merasa haus. Itu adalah satu-satunya kenyamanan yang kami berikan.

Dazai melanjutkan membaca. Suaranya pelan, tapi cukup jelas di telinga empat orang itu.

Kalian muncul dalam kelompok kecil. Maksimal empat per lokasi. Kalian bisa bertahan bersama, atau keluar dari kelompok dan berjalan sendiri. Tidak ada paksaan. Tidak ada aturan yang mengikat.

Di dunia ini, ada bangunan-bangunan tua yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan yang sudah mati. Reruntuhan. Kota kuno dengan istana, perpustakaan, dan pasar yang sudah tidak berpenghuni. Di sana, kalian akan menemukan benda-benda yang tidak bisa kalian temukan di tempat lain. Buku sihir. Senjata kuno. Pengetahuan yang telah hilang.

Juga ada dungeon. Lubang-lubang raksasa di perut bumi yang tidak ada dasarnya. Di dalamnya, monster-monster berkeliaran di setiap lantai. Di lantai paling bawah, seorang Dungeon Master menunggu. Bunuh atau taklukkan dia, dan dungeon itu akan mati. Tidak ada monster baru yang lahir. Tidak ada yang bisa masuk lagi. Itu adalah rekor yang akan tercatat selamanya.

Tapi hati-hati.

Hari pertama dan kedua, dunia ini kosong. Hanya kalian. Hanya rumput. Hanya pohon. Hanya sungai.

Hari ketiga, mereka datang.

Monster.

Daging yang kelaparan. Tulang yang berjalan. Mata-mata yang mengawasi dari kegelapan hutan. Mereka akan datang dari dalam tanah, dari celah-celah batu, dari udara yang tadinya kosong.

Ini hari pertama.

Kalian bebas.

Pergilah ke mana pun kalian mau. Utara, selatan, timur, barat. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang benar. Semua jalan menuju kematian. Hanya waktunya yang berbeda.

Ambil kapak batu ini. Tebang pohon, bangun tempat berlindung.

Ambil pickaxe batu ini. Gali tanah, cari batu dan bijih besi.

Ambil roti ini. Makanlah. Hari-hari ke depan, roti tidak akan sehangat ini. Tidak semudah ini.

Selamat bertahan hidup, manusia.

Dunia Ezzerion tidak akan tersenyum padamu.

Dazai menutup buku.

Diam.

Yui mengambil buku lainnya, membukanya sebentar, lalu melemparnya kembali ke dalam peti. "Isinya sama."

Dia mengambil satu kapak batu, satu pickaxe batu, dan empat roti.

Dazai melakukan hal yang sama.

"Aku pergi ke sana," kata Yui sambil menunjuk ke arah yang menurutnya selatan. Tidak ada matahari di langit yang bisa dijadikan patokan. Dua matahari. Satu kuning, satu biru. Tidak ada yang tahu mana utara mana selatan. Tapi Yui tetap menunjuk. "Kau ikut?"

Dazai mengangguk.

Mereka berdua berjalan meninggalkan Takeru dan Akira. Tidak pamit. Tidak melambai. Hanya pergi ke arah yang Yui tunjuk.

Akira masih berdiri di tempatnya.

"Aku juga pergi," kata Akira.

"Ke mana?" tanya Takeru.

"Ke sana."

Akira menunjuk ke arah yang berlawanan dengan Yui. Bukan karena dia tahu itu utara. Bukan karena dia tahu ada sesuatu di sana. Dia hanya tidak ingin berada di sini. Tidak ingin berdiri diam. Tidak ingin bersama orang-orang asing.

Mungkin teman-temannya ada di suatu tempat. Tidak mungkin mereka semua lenyap. Sekolah itu besar. Seratus dua puluh siswa. Pasti ada yang muncul di tempat lain.

Tapi Akira tidak tahu di mana. Dia hanya berjalan. Berharap. Mencari.

Dia mengambil kapak batu, pickaxe batu, dan empat roti. Tidak membaca buku satupun. Lalu dia berjalan ke arah yang dia tunjuk. Tidak menoleh ke belakang.

Takeru sendirian.

Tiga orang asing. Tiga arah berbeda. Tidak ada yang mau tinggal.

Dia mengambil sisa barang dari peti. Satu kapak batu. Satu pickaxe batu. Empat roti hangat. Dan satu buku terakhir.

Takeru membuka buku itu.

Halamannya kosong.

Semua halaman kosong.

Dia membalik satu per satu. Tidak ada tulisan. Tidak ada gambar. Hanya kertas-kertas tua berwarna krem yang berbau seperti buku yang sudah disimpan terlalu lama.

Dia menutup buku itu, menyelipkannya di sela sabuk seragam SMA-nya. Lalu melihat sekeliling.

Rumput. Langit dengan dua matahari. Sungai di satu arah. Hutan di arah lain.

Tidak ada tanda-tanda manusia selain dirinya.

(Sendirian.)

Takeru berjalan ke arah sungai.

Episodes
Episodes

Updated 2 Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play