chapter 2—yang seharusnya tidak terjadi

Terengah.

Napas Kayden memburu.

Keringat dingin membasahi dahinya meski udara pagi terasa sejuk.

Perlahan, ia membuka mata.

Langit-langit kamarnya menyambut pandangannya.

Putih.

Biasa.

Normal.

Terlalu normal.

Kayden terdiam selama beberapa detik. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara pikirannya berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Tangannya gemetar saat menatap telapak tangannya sendiri.

Masih sama.

Masih nyata.

Bukan mimpi.

Namun sesuatu terasa sangat salah.

Perasaan asing itu membuat dadanya sesak.

Perlahan, ia menoleh ke arah jam dinding.

Tik...

Tok...

Tik...

Jarum detiknya bergerak dengan ritme yang tenang.

Namun saat melihat waktu yang tertera di sana, tubuh Kayden membeku.

Matanya melebar.

"Itu..."

Waktu itu.

Jam yang sama.

Menit yang sama.

Persis seperti sebelum ia pergi ke halte.

Sebelum semuanya terjadi.

Sebelum puzzle misterius itu muncul.

Sebelum dunia terasa hancur di hadapannya.

"Ini tidak mungkin..."

Tanpa berpikir panjang, Kayden berdiri.

Ia hampir tersandung saat berlari keluar kamar.

Pintu rumah dibukanya dengan kasar.

Langkahnya cepat.

Napasnya tidak beraturan.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Ia harus memastikan.

Harus.

Beberapa menit kemudian, Kayden tiba di halte.

Ia berhenti.

Napasnya memburu.

Halte itu kosong.

Belum ada siapa-siapa.

Tidak ada penumpang.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada tanda-tanda kejadian yang ia alami sebelumnya.

"Aku..."

Kayden mengepalkan tangannya.

"Aku kembali..."

Lalu ia merasakan sesuatu.

Sesuatu yang masih ada di dalam dirinya.

Puzzle itu.

Meski tidak terlihat, ia bisa merasakannya.

Seolah tertanam di dalam pikirannya.

Diam.

Namun hidup.

Menunggu.

Tiba-tiba—

Langkah kaki terdengar.

Pelan.

Ringan.

Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Kayden menegang.

Tak sadar, ia menahan napas.

Perlahan ia menoleh.

Dan di sanalah ia.

Seorang anak perempuan berdiri beberapa meter darinya.

Rambut panjangnya berkilau lembut diterpa cahaya pagi.

Matanya tampak tenang.

Namun entah mengapa, tatapan itu terasa begitu dalam.

Seolah menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki seseorang seusianya.

Kali ini Kayden tidak menunggu.

Ia langsung berjalan menghampirinya.

"Kamu siapa?"

Anak perempuan itu menatapnya.

Diam.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Tatapannya menyimpan keterkejutan.

"Kamu... masih mengingat?"

Tubuh Kayden membeku.

"Apa maksudmu?"

Perempuan itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya semakin dalam.

Seolah sedang memastikan sesuatu yang mustahil.

"Seharusnya... kamu tidak mengingat apa pun."

Saat kata-kata itu terucap, dunia terasa hening.

Angin berhenti berembus.

Suara kendaraan menghilang.

Bahkan waktu terasa melambat.

Kayden merasakan sesuatu bergetar di dalam kepalanya.

Puzzle itu.

Bersinar.

"Kenapa aku harus lupa?"

Untuk pertama kalinya, ekspresi gadis itu berubah.

Sangat kecil.

Namun cukup jelas untuk terlihat.

Kesedihan.

"Karena..."

Ia menunduk sesaat.

"Ini bukan pertama kalinya."

Deg.

Jantung Kayden berdegup keras.

"Apa maksudmu?"

Gadis itu mengangkat kepalanya.

Matanya dipenuhi emosi yang tidak bisa dijelaskan.

"Kamu sudah mati."

Keheningan menyelimuti dunia.

"Berkali-kali."

Pikiran Kayden kosong.

Mustahil.

Tidak masuk akal.

Namun anehnya...

Sebagian dari dirinya mempercayai kata-kata itu.

Tiba-tiba rasa sakit menghantam kepalanya.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih dalam.

"AARGHHH!!"

Ia jatuh berlutut.

Kedua tangannya mencengkeram kepala.

Fragmen-fragmen memori bermunculan.

Cahaya.

Suara.

Kematian.

Tangisan.

Perpisahan.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Dalam kegelapan yang tak berujung, Kayden melihat sosok dirinya sendiri.

Berdiri di ruang yang tidak memiliki bentuk.

Tidak memiliki waktu.

Tidak memiliki batas.

Dan di hadapannya—

Gadis yang sama.

Namun kali ini ia menangis.

Air matanya terus mengalir.

"Tolong..."

Suaranya bergetar.

"Tolong... kali ini saja..."

Ia menggenggam tangan Kayden dengan erat.

"Jangan mati lagi."

Lalu sebuah suara bergema.

Tidak berasal dari mana pun.

Namun terdengar di seluruh keberadaan.

"REWRITE."

Cahaya keemasan meledak.

Segalanya hancur.

Segalanya terlahir kembali.

Kayden membuka mata.

Ia kembali berdiri.

Di halte.

Di depan gadis itu.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Namun kali ini berbeda.

Ia tahu.

Sesuatu telah berubah.

Kayden menatap gadis itu.

Dengan mata yang tidak lagi sama.

"Siapa kamu sebenarnya?"

Gadis itu terdiam.

Kemudian, untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis.

"Annie."

Angin kembali berembus.

Suara dunia kembali terdengar.

Waktu kembali bergerak.

Namun bagi Kayden, segalanya telah berubah selamanya.

Dan jauh di dalam pikirannya—

Sebuah kata muncul.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Lebih nyata daripada apa pun.

Memory Rewrite.

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play