Angin berhembus pelan.
Namun terasa berbeda.
Terlalu hening.
Kayden berdiri di halte, menatap Annie yang berada di hadapannya.
Nama itu masih terngiang di dalam pikirannya.
Annie.
Seolah nama itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah nama.
"Annie..."
Ia mengulanginya perlahan.
"Kamu bilang... aku sudah mati berkali-kali."
Annie tidak langsung menjawab.
Tatapannya perlahan beralih ke langit.
Langit yang seharusnya biru dan tenang.
Namun di matanya—
Ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah retakan tipis membentang di angkasa.
Hampir tidak terlihat.
Seperti kaca raksasa yang perlahan mulai pecah.
"Kamu lihat itu?" tanya Annie pelan.
Kayden mengernyit.
"Apa?"
Annie menunjuk ke atas.
"Langitnya."
Kayden mengikuti arah jarinya.
Namun yang ia lihat hanyalah langit biasa.
Tidak ada retakan.
Tidak ada keanehan.
Hanya awan putih yang bergerak perlahan.
"Aku tidak melihat apa pun."
Keheningan menyelimuti mereka.
Annie menggigit bibir bawahnya.
Wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Berarti... sudah mulai."
Deg.
Jantung Kayden berdegup lebih cepat.
"Apa yang mulai?"
Namun Annie tidak menjawab.
Sebaliknya, ia melangkah mendekat lalu menggenggam tangan Kayden.
Hangat.
Aneh.
Pada saat yang sama, Kayden merasakan sesuatu mengalir melalui tubuhnya.
Seperti benang tak kasatmata yang menghubungkan mereka.
"Kita harus pergi dari sini."
Nada suaranya terdengar mendesak.
Namun—
Terlambat.
Seseorang muncul di ujung jalan.
Seorang pria.
Ia berjalan perlahan ke arah mereka.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak menunjukkan ancaman apa pun.
Namun setiap langkahnya terasa berat.
Seolah dunia bergerak mengikuti ritmenya.
Tap.
Tap.
Tap.
Kayden tanpa sadar menahan napas.
Lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Orang-orang di sekitar mulai menghilang.
Seorang pelajar.
Seorang pegawai kantor.
Seorang ibu yang sedang membawa belanjaan.
Mereka lenyap satu per satu.
Tanpa suara.
Tanpa cahaya.
Tanpa jejak.
Seolah keberadaan mereka tidak pernah ada sejak awal.
Kayden membeku.
"Apa...?"
Tubuhnya gemetar.
"Annie..."
Annie menatap pria itu.
Tatapannya berubah tajam.
"Authority..."
Pria itu akhirnya berhenti.
Matanya kosong.
Tidak ada emosi.
Tidak ada kehidupan.
Hanya kehampaan.
"Objek tidak relevan akan dihapus."
Suaranya datar.
Tidak terdengar seperti manusia.
Lebih seperti perintah yang dibacakan oleh mesin.
Kayden mundur selangkah.
"Dihapus?"
Pria itu mengangkat tangannya.
Dalam sekejap—
Seorang pejalan kaki yang masih tersisa menghilang.
Begitu saja.
Tidak ada darah.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada kematian.
Hanya ketiadaan.
Kayden merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Itu bukan mati..."
Annie menggenggam tangannya lebih erat.
"Itu jauh lebih buruk."
Pria itu kembali menatap mereka.
"Dua objek tersisa."
Suara itu membuat napas Kayden tercekat.
"Kenapa kita tidak hilang?"
Annie menatapnya.
Matanya dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Karena kamu..."
Tiba-tiba—
Rasa sakit menghantam kepalanya.
Lebih kuat daripada sebelumnya.
Lebih dalam.
"ARGHHHH!!"
Kayden jatuh berlutut.
Kedua tangannya mencengkeram kepala.
Puzzle itu kembali muncul.
Namun kali ini tidak samar.
Tidak tersembunyi.
Potongan-potongannya mulai bergerak.
Bersinar.
Menyatu.
Membentuk simbol demi simbol.
Dan akhirnya—
Sebuah kata.
MEMORY.
Pria itu kembali mengangkat tangannya.
"Objek anomali akan dihapus."
Namun sebelum serangan itu mencapai dirinya—
Sesuatu berubah.
Waktu melambat.
Tidak.
Lebih dari itu.
Waktu berhenti.
Kayden dapat melihat ribuan kemungkinan yang tersebar di sekelilingnya.
Masa depan.
Pilihan.
Jalur kehidupan.
Dan dalam setiap kemungkinan itu—
Ia mati.
Dibunuh.
Dihapus.
Dikorbankan.
Selalu berakhir sama.
"Tidak..."
Suara Kayden bergetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Ia menolak takdir itu.
"Tidak lagi."
Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.
Puzzle itu akhirnya lengkap.
Memori yang tak terhitung jumlahnya mengalir ke dalam pikirannya.
Kematian.
Kehilangan.
Pengulangan.
Semua kehidupan yang pernah ia jalani.
Semua akhir yang pernah ia alami.
"Aku..."
Matanya perlahan terbuka.
Bercahaya keemasan.
"Aku ingat."
Dalam sekejap.
Semuanya berhenti.
Pria itu membeku.
Annie membeku.
Angin membeku.
Bahkan dunia membeku.
Sebuah suara bergema dari dalam keberadaannya.
MEMORY REWRITE.
Kayden perlahan mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia memahami kekuatan itu.
Ia menatap pria di hadapannya.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi ketakutan.
"Kalau semuanya bisa diulang..."
Retakan mulai muncul di langit.
Menyebar ke seluruh dunia.
"...berarti aku bisa mengubahnya."
CRAAACK—
Langit pecah.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 3 Episodes
Comments