Pagi tiba.
Di garasi, sebuah mobil putih bergaya Eropa terparkir rapi. Kilauan bodinya memantulkan cahaya matahari pagi, menunjukkan kesan mewah dan berkelas.
Bik Sumi yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan kegiatannya ketika suara bel pintu terdengar.
Ting tong...
Wanita paruh baya itu segera meletakkan sapunya lalu berjalan cepat menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamor berdiri di hadapannya. Pakaian elegan, riasan sempurna, serta beberapa koper dan tas bermerek di sampingnya membuat auranya langsung terlihat berbeda.
Wanita itu menghela napas kesal.
"Kamu lama sekali membuka pintu. Saya sampai hampir berkarat menunggu di luar."
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah masuk. Sikapnya menunjukkan bahwa rumah itu bukanlah tempat asing baginya.
"Maaf, Nyonya," ucap Bik Sumi sambil menundukkan kepala.
Wanita itu hanya mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan Bik Sumi.
"Cukup. Aku hanya ingin menemui putriku, Sania. Dan..." Ia berhenti sejenak. "Di mana Damar? Kudengar dia sudah tiba."
Bik Sumi kembali menundukkan kepala.
"Nona Sania masih di kamar, begitu juga dengan Tuan Damar, Nyonya."
Mendengar jawaban itu, ekspresi wanita tersebut berubah dalam sekejap.
Matanya membesar.
"Apa?"
"Sania dan Damar berada di kamar yang sama?"
Bik Sumi belum sempat menjelaskan ketika pikiran wanita itu sudah melayang jauh.
Bukankah selama ini aku dan Sania memang berencana menjodohkan mereka?
Kalau mereka sudah sedekat ini, bukankah itu justru kabar yang sangat baik?
Senyum puas mulai muncul di wajah Nawar Wulan.
Putriku benar-benar luar biasa.
"N-Nyonya, Anda salah paham. Maksud saya—"
Namun, penjelasan Bik Sumi tidak lagi didengar.
Dengan langkah cepat, Nawar Wulan langsung menuju lantai tiga.
"Nyonya, tunggu sa—"
"Ibu, di luar sudah ada tukang sayur."
Suara seorang gadis tiba-tiba memotong.
Itu adalah Tania, putri semata wayang Bik Sumi.
Sejak kecil, Tania memang tumbuh di rumah besar keluarga Harto. Setelah suaminya menikah lagi, Bik Sumi memilih mengabdikan hidupnya untuk bekerja di kediaman tersebut demi memenuhi kebutuhan mereka.
Sementara itu, Nawar Wulan sudah sampai di lorong lantai tiga.
Lorong panjang itu dipenuhi dekorasi mewah yang menunjukkan kemegahan keluarga Harto.
Karena terlalu bersemangat, ia bahkan lupa meninggalkan tas dan barang bawaannya di sofa lantai bawah.
Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Dari kejauhan, pintu kamar terbuka.
Nawar Wulan refleks bersembunyi di balik sebuah pilar.
Matanya mengintip dari balik persembunyian.
Dan saat itulah ia melihat Damar keluar dari kamar dengan pakaian tidur.
Pria itu tampak baru bangun. Ia merenggangkan tubuhnya perlahan sambil mengusap tengkuk, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya.
Senyum Nawar Wulan perlahan melebar.
Pikirannya semakin yakin dengan kesimpulan yang sudah ia buat sendiri.
Mata Nawar Wulan langsung berbinar.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan suara kegirangan yang hampir lolos.
"Astaga... putriku benar-benar berhasil."
Senyum puas terukir di wajahnya.
"Kalau begini, cepat atau lambat kami akan menjadi tuan rumah yang sesungguhnya di keluarga Harto."
Saking bersemangatnya, ia hampir tidak menyadari langkahnya yang nyaris menyenggol sebuah vas antik di sudut lorong. Tangannya refleks menahan benda mahal itu sebelum jatuh.
"Untung saja..."
Nawar Wulan menghela napas kecil, lalu kembali tersenyum.
"Aku harus mengucapkan selamat padanya."
Begitu sosok Damar menghilang di ujung lorong, Nawar Wulan tidak ingin membuang waktu lagi.
Ia segera keluar dari persembunyiannya lalu berjalan menuju kamar tersebut.
Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka dan melangkah masuk.
Senyum lebar masih menghiasi wajahnya.
Di atas ranjang besar, seseorang tampak masih tertidur di balik selimut tebal.
Pasti Sania.
Dasar anak ini... benar-benar membuat Ibu bangga, batinnya penuh kebanggaan.
Nawar Wulan berjalan mendekat. Tangannya perlahan terulur untuk menyingkap selimut.
Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, orang di atas ranjang bergerak.
Selimut itu bergeser.
Dan dalam sekejap...
Senyum Nawar Wulan menghilang.
"Astaga..."
Matanya membulat penuh ketidakpercayaan.
"Kenapa malah dia?"
Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh kekecewaan.
Orang yang terbaring di atas ranjang bukanlah Sania seperti yang ia bayangkan.
Melainkan Amel.
Gadis itu masih tertidur pulas. Wajahnya tampak pucat, mungkin akibat hujan deras yang membasahi tubuhnya semalam. Kondisinya yang lemah membuatnya terlihat jauh lebih rapuh dari biasanya.
Beberapa detik, Nawar Wulan hanya berdiri diam.
Harapan yang tadi memenuhi wajahnya perlahan runtuh.
Tatapannya berubah dingin ketika melihat Amel.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah cepat. Wajahnya menyimpan kekecewaan yang sulit disembunyikan.
Namun, tanpa sengaja, tindakannya barusan membuat Amel terbangun.
Kelopak mata gadis itu bergerak perlahan.
Penglihatannya perlahan mulai kembali jelas.
Amel menemukan dirinya berada di sebuah kamar luas dengan dekorasi bernuansa cokelat krem. Aroma lembut ruangan itu terasa asing, membuatnya membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri.
Sambil memegang jidatnya yang masih terasa berat, ia perlahan duduk bersandar.
Saat itulah ia merasakan sesuatu yang dingin dan lembap di dalam selimut.
Tangannya meraba benda tersebut.
Sebuah handuk kompres.
Amel mengernyit heran. Pandangannya kemudian beralih ke meja di samping ranjang. Di sana terdapat sebuah wadah berisi air.
"Selamat pagi, Nona. Sudah bangun?"
Suara Bik Sumi membuat Amel menoleh.
"Syukurlah... saya benar-benar cemas. Semalam Nona pingsan di luar."
Amel terdiam sejenak sebelum bertanya dengan suara pelan,
"Bik... apa Bibik yang menggendongku semalam setelah aku pingsan dan membawaku masuk?"
Ia menatap Bik Sumi dengan ragu.
"Kau tahu kan akibatnya kalau Paman tahu?"
Bik Sumi justru tersenyum kecil sambil meletakkan mangkuk bubur hangat di meja.
"Bukan, Nona."
"Tuan Damar sendiri yang menggendong Anda dan merawat Anda semalaman. Beliau bahkan sampai kurang tidur."
Mata Amel sedikit membesar.
Damar?
Tanpa sadar, pikirannya kembali pada masa lalu.
Saat ia masih kecil, sebelum memasuki usia remaja, Damar adalah satu-satunya orang yang sering ia tunggu.
Namun, ada satu kejadian yang tidak pernah benar-benar ia lupakan.
Hari itu hujan deras mengguyur Kota Sebilan Naga.
Damar berjanji akan menjemputnya sepulang kegiatan kelompok. Namun waktu terus berjalan, dan pria itu tidak kunjung datang.
Dengan kecewa, Amel kecil akhirnya menggunakan tasnya sebagai pelindung dari hujan lalu berlari pulang.
Seluruh perlengkapan sekolahnya basah.
Begitu Damar tiba di rumah, bukannya meminta maaf, pria itu justru memarahinya.
"Amel, apa kau mulai mengacuhkan ommu dan menjadi anak nakal?"
Langkah Amel kecil yang hendak masuk kamar terhenti.
Ia berbalik.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya menyimpan kekecewaan yang selama ini ia tahan.
"Kenapa Paman yang marah?"
Suaranya bergetar.
"Paman yang lupa menjemputku."
Damar terdiam.
"Aku menunggu lama di halte. Aku takut... aku pikir Paman akan datang."
Amel menunduk.
"Aku bahkan menolak pulang bersama teman-temanku karena aku percaya Paman akan menjemput."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi jangan salahkan aku kalau aku kecewa."
Untuk pertama kalinya, Amel kecil mengeluarkan semua rasa kecewanya.
Dan untuk pertama kalinya juga, Damar tidak mampu langsung membalas.
Wajah dinginnya perlahan berubah.
Ada rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sejak hari itu, Amel mengurung dirinya di kamar. Ia menolak makanan apa pun yang dibawakan Bik Sumi, bahkan makanan kesukaannya.
Damar sebenarnya ingin membujuknya.
Namun pekerjaan membuatnya harus menunda.
Malam semakin larut.
"Hacih!"
Suara bersin kecil terdengar dari dalam kamar.
Amel yang mulai sakit bergerak gelisah di atas ranjang.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Damar muncul di ambang pintu.
Melihat pria itu, Amel buru-buru menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Ia tidak ingin dimarahi lagi.
Damar hanya diam.
Ia mendekat, lalu meletakkan semangkuk makanan di meja samping ranjang.
Bukannya pergi, pria itu justru duduk di tepi ranjang.
"Amel."
Suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
"Om minta maaf."
Amel tetap diam.
"Om tidak bermaksud mengecewakanmu. Akhir-akhir ini Om memang banyak kegiatan menjelang akhir masa kuliah."
Ia tersenyum tipis.
"Maukah kau memaafkan ommu yang tampan ini?"
Di balik selimut, mata Amel langsung berputar malas.
Dasar om tua narsis.
Namun, tanpa ia sadari, rasa kesalnya mulai sedikit berkurang.
Damar mengulurkan tangan dan mengusap kepala Amel yang tertutup selimut.
"Haaacih!"
Bersin Amel akhirnya keluar.
Ia langsung menutup mulut dengan wajah kesal.
Sementara Damar hanya tersenyum kecil.
****
:Kembali ke masa sekarang.
Suara Bik Sumi membuat Amel tersadar dari lamunannya.
Saat itu ia baru menyadari satu hal.
Pakaiannya sudah berbeda.
Amel menatap tubuhnya sendiri dengan kaget.
Pikirannya langsung melayang.
Jangan-jangan...
Ia buru-buru menepis pikiran itu.
"Bik, bajuku sudah diganti?"
"Iya, Nona. Saya yang menggantinya."
Amel menghela napas lega.
"Nona, setelah buburnya habis, minumlah obat. Kalau sudah merasa lebih baik, Anda diminta menemui Nenek di bawah."
Amel menatap bubur di depannya.
Tubuhnya masih belum benar-benar pulih, tetapi ia tetap mengangguk.
"Baik, Bik. Akan kucoba."
Setelah Bik Sumi pergi, Amel mengambil mangkuk tersebut.
Meski lidahnya terasa hambar, ia tetap memaksa beberapa suapan masuk.
Setelah cukup makan, ia mengambil obat.
Namun sebelum meminumnya, pandangannya tertuju pada tas biru muda miliknya di dekat jendela.
Semalam tas itu ikut terkena hujan.
Dengan langkah pelan, ia mendekat lalu membuka tas tersebut.
Kekhawatirannya benar.
Semua barang di dalamnya lembap.
Ponselnya bahkan tidak menyala.
"Aduh... baru beberapa bulan dibeli."
Amel menghela napas.
"Terpaksa harus diperbaiki lagi."
Saat itulah matanya menangkap sebuah paper bag cokelat di atas meja.
Ketika ia mengambilnya, sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.
Amel membukanya.
"Amel, jika sudah bangun dan merasa lebih baik, gunakan pakaian itu untuk menemui Nenek. Jangan mempermalukan aku dengan penampilan biasa mu."
Amel membaca pesan itu beberapa detik.
Lalu...
Kertas itu langsung diremas.
"Dasar."
Tanpa ragu, ia melemparkannya keluar jendela.
"Dia pikir siapa dirinya? Baru pulang dari Turki saja sudah semakin menyebalkan."
Meski kesal, rasa penasaran tetap muncul.
Amel membuka paper bag tersebut.
Di dalamnya terdapat satu set pakaian baru yang terlipat sangat rapi.
Amel Carla
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments