Isteri Mu Bukan Lagi Milik Mu
Jam dinding berdetak pelan di tengah kesunyian malam.
Di atas kasur busa tipis, seorang gadis berpenampilan sederhana meringkuk sendirian. Kamar sempit itu terasa semakin pengap, seolah ikut menekan perasaan yang selama ini ia tahan.
Gadis itu adalah Amel Carla.
"Mengapa... mengapa harus seperti ini?" gumamnya lirih.
Bahu Amel bergetar. Tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Ia hanya mampu menatap kosong langit-langit kamar.
Pernikahan yang dulu ia kira akan membawa kebahagiaan, ternyata berubah menjadi sumber luka yang tidak pernah berhenti.
Memiliki suami seperti Fajar membuat hari-harinya dipenuhi penyesalan.
Drrt... Drrt...
Ponsel di samping bantal tiba-tiba bergetar, memecah keheningan.
Awalnya Amel memilih mengabaikannya. Namun, suara getaran itu terus berulang hingga akhirnya ia menghela napas berat dan meraih benda tersebut.
Cahaya layar menerangi wajahnya yang lelah. Bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan.
"Amel! Lama sekali angkat teleponnya!"
Suara Sania langsung terdengar tanpa basa-basi.
"Nenek ingin bertemu denganmu. Cepat datang ke kediaman Hartono sekarang!"
Klik.
Sambungan terputus.
Amel hanya diam menatap layar ponselnya.
Jadi Sania hanya ingin menyuruhnya datang?
Namun, dahinya mengernyit.
Ini sudah larut malam. Biasanya ia hanya datang ke rumah Hartono pada hari Minggu.
Ada sesuatu yang berbeda.
Apakah terjadi sesuatu pada Nenek?
Rasa cemas mengalahkan rasa lelahnya. Amel segera menelepon kembali.
"Sania, harus malam ini? Apa Nenek sakit? Apa dia lupa minum obat, atau—"
"Kamu terlalu banyak bertanya."
Suara Sania terdengar kesal.
"Datang saja seperti yang aku katakan. Jangan buang waktuku."
Tut...
Sambungan kembali terputus.
Amel menurunkan ponselnya perlahan.
Sikap Sania memang selalu seperti itu. Angkuh dan merasa semua orang harus mengikuti keinginannya.
Namun kali ini, Amel tidak peduli.
"Yang penting Nenek baik-baik saja."
Ia berdiri perlahan.
"Sudah dua hari aku tidak melihatnya. Aku juga rindu."
Amel berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Tetapi saat keluar...
Langkahnya berhenti.
Sebuah gelas pecah tergeletak di sudut ruangan. Kursi kecil dekat meja bergeser dari tempatnya. Amel sudah tahu siapa penyebabnya bahkan tanpa perlu bertanya.
Fajar.
Pria itu pulang pukul tujuh malam tadi, dan seperti biasa, kepulangannya hanya membawa masalah.
Kalah taruhan.
Itulah alasan mengapa rumah ini kembali berantakan.
Amarah Fajar selalu mencari tempat untuk dilampiaskan.
Dan selama ini, Amel adalah sasarannya.
"Hah..."
Amel menunduk.
"Entahlah... sampai kapan aku harus bertahan."
Senyum getir muncul di wajahnya.
"Capek sekali."
Dua tahun pernikahan telah mengubah dirinya.
Dulu, Amel adalah gadis yang ceria. Ia memiliki banyak impian dan mudah tersenyum.
Sekarang, semua itu terasa seperti kenangan lama.
Bukan karena ia tidak mampu mengejar impiannya.
Tetapi karena ia terlalu lama mengorbankan dirinya demi seseorang yang bahkan tidak menghargainya.
"Sudahlah."
Amel mengepalkan tangannya.
"Nenek lebih penting sekarang."
Biasanya ia akan membersihkan kekacauan yang dibuat Fajar.
Namun malam ini berbeda.
Untuk pertama kalinya, Amel memilih pergi.
Bukan untuk melarikan diri.
Hanya untuk mencari udara segar dan menenangkan pikirannya.
Ia keluar rumah lalu mengunci pintu.
Di bawah langit malam, Amel menarik napas panjang.
"Udara segar..."
Aroma tanah basah setelah hujan sore tadi memenuhi udara.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit bebas.
"Memiliki waktu untuk diri sendiri ternyata tidak salah."
Amel menatap jalanan yang sunyi.
"Bodoh sekali aku selama ini... membiarkan hidupku dikendalikan oleh orang yang bahkan tidak pernah menghargainya."
Namun, tanpa ia sadari...
Malam yang ia kira hanya akan menjadi pelarian singkat ternyata menyimpan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang perlahan mulai mendekat.
"Tuan, semuanya sesuai rencana. Target sudah mendekat."
Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sebuah van hitam terparkir diam di pinggir jalan.
Sekilas, kendaraan itu tampak biasa saja.
Tidak ada yang menyangka bahwa di dalamnya terdapat dua pria yang sejak tadi mengawasi seseorang dari kejauhan.
Salah satu pria itu memiliki tubuh besar dengan tato memenuhi lengannya. Tatapan matanya dingin tanpa emosi, seolah tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap tugas yang sedang dijalankan.
Ia membuang sisa rokoknya keluar jendela sebelum mengangkat alat komunikasi.
"Awasi terus. Jangan bergerak sebelum mendapat perintah."
Suara di seberang terdengar singkat sebelum sambungan terputus.
Pria itu kembali menatap keluar jendela.
"Bagaimana?" tanya rekannya.
"Kita hanya menunggu."
"Target terlihat sendirian."
Pria bertato itu tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada sosok gadis yang berdiri di bawah lampu jalan.
Amel.
Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya menjadi pusat perhatian.
Ia hanya mengusap kedua tangannya, berusaha menghangatkan tubuh dari udara malam yang semakin dingin.
Tidak lama kemudian, rintik hujan mulai turun.
Awan gelap yang sejak tadi menggantung akhirnya kembali menumpahkan airnya.
Amel mendongak sebentar.
Amel berdiri di halte dalam keadaan menggigil.
Ia menerobos gerimis malam demi sampai ke rumah keluarga Harto.
Namun, malam itu terasa berbeda. Jalanan jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada bus yang melintas, hanya suara rintik hujan yang jatuh di antara genangan air.
Akhirnya, setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di depan gerbang besar kediaman Harto.
Ting... Tong...
"Assalamualaikum, Bik Sumi. Ini Amel. Tolong bukakan pintunya."
Tidak ada jawaban.
Amel menunggu beberapa saat sebelum kembali menekan bel.
Ting... Tong...
Apa semua orang sudah tidur?
Ia melihat jam di pergelangan tangannya.
Pukul sepuluh malam.
Seharusnya belum terlalu larut. Biasanya Bik Sumi masih terjaga.
Namun, tubuhnya semakin sulit menahan dingin. Air hujan masih menetes dari rambut hingga ujung bajunya.
"Haciiih..."
Amel bersin kecil sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah.
"Bik Sumi... ini aku, Amel. Bisa buka pintunya?"
Beberapa detik kemudian...
Klik.
Pintu akhirnya terbuka.
Seorang wanita berdaster dengan rambut yang diikat sederhana muncul di balik pintu.
Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, wajah Bik Sumi langsung berubah panik.
"Nona manis..."
Matanya turun melihat pakaian Amel yang sudah basah kuyup.
"Ya ampun, Nona! Kenapa bisa sampai seperti ini?"
"Haciiih..."
"Sudah, cepat masuk. Bibik siapkan air hangat dulu."
Bik Sumi segera memegang tangan Amel dan membawanya masuk.
Bagi wanita itu, Amel bukan sekadar tamu.
Gadis itu sudah seperti anak sendiri.
Berbeda dengan Sania yang sering memperlakukan para pekerja dengan kasar, Amel selalu menunjukkan sikap hangat dan menghargai mereka.
Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh...
"Lima menit."
Suara rendah tiba-tiba terdengar.
Langkah Bik Sumi berhenti.
Amel perlahan mengangkat wajahnya.
Di ujung lorong, seorang pria tinggi berdiri dengan tatapan dingin.
Damar Harto.
"Kamu terlambat lima menit."
Tatapan pria itu lurus mengarah kepada Amel. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya sempat berhenti beberapa detik pada tubuh gadis yang basah kuyup itu.
Rambut Amel meneteskan air. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar menahan dingin.
Namun, ekspresi Damar tidak berubah.
"T-Tuan..." Bik Sumi tergagap.
"Paman Damar... kau sudah pulang?" ucap Amel dengan suara bergetar.
Ia benar-benar tidak diberi tahu bahwa Damar telah kembali dari
Turki.
Apa artinya Sania memanggilku datang malam-malam begini hanya untuk mempermalukanku di hadapan Paman? pikir Amel.
Damar melangkah lebih dekat. Kedua tangannya masih tersimpan di dalam saku celana.
Untuk sesaat, tatapannya turun melihat pakaian Amel yang basah.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Seharusnya dia tidak membiarkan gadis ini berdiri di luar dalam keadaan seperti ini.
Namun, ekspresi itu hanya muncul sepersekian detik sebelum kembali menghilang.
"Bik Sumi, tolong biarkan kami berdua saja."
Nada suaranya tetap datar
Yang tidak diketahui Damar maupun Amel, sejak tadi Sania mengawasi mereka diam-diam dari balik dinding.
"Bagus. Ini yang aku mau."
Senyum puas terukir di bibirnya. Melihat Amel tidak diterima oleh Damar membuat hatinya terasa ringan.
Akhirnya, orang itu tidak akan mengganggu rencanaku.
Dengan langkah riang, Sania pun kembali ke kamarnya.
Setelah kejadian malam itu, Damar memilih kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
Menjelang tengah malam, pria itu masih berada di ruang kerja. Tumpukan berkas dan layar laptop menjadi satu-satunya teman di tengah kesunyian.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Damar akhirnya berdiri. Ia melepas penat dengan berjalan menuju balkon.
Sudah menjadi kebiasaannya mencari ketenangan di tempat itu.
Tangannya mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya perlahan.
Dari balkon lantai tiga, Damar memandangi suasana malam yang sunyi. Cahaya bulan jatuh di halaman luas keluarga Harto, sementara suara serangga malam terdengar samar dari kejauhan.
Namun, ketenangan itu tiba-tiba terganggu oleh sebuah pemandangan di bawah sana.
Di bawah cahaya lampu yang redup, terlihat seorang perempuan sedang meringkuk sendirian.
Rambut cokelat pirangnya masih basah. Tubuhnya tampak kecil dan rapuh dari atas.
Damar menyipitkan matanya.
Meskipun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia langsung mengenali sosok itu.
Amel.
"Gadis bodoh itu... kenapa masih di sana?"
Tatapannya tetap tertuju ke bawah.
Ada rasa tidak nyaman yang muncul di dalam dirinya.
Dia tahu udara malam semakin dingin. Membiarkan seseorang berada di luar dalam kondisi basah kuyup bukanlah hal yang benar.
Namun, sebelum ia melakukan apa pun, terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok... tok...
"Masuk," ucapnya.
Bik Sumi masuk dengan langkah hati-hati.
"Tuan, Nenek terbangun. Beliau terus menyebut nama Nona Amel dan ingin bertemu dengannya. Saya sudah mencoba menenangkan beliau, tetapi Nenek tetap bersikeras."
Damar menghela napas pelan.
Tangannya mematikan rokok di asbak.
Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan melewati Bik Sumi.
Sementara itu, di luar rumah, Amel masih meringkuk.
"Ah... kepalaku pusing sekali..."
Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dirinya berada di sana.
Rasa lelah dan dingin perlahan mengambil alih tubuhnya.
Pandangan Amel mulai berkunang-kunang.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Bruk.
Ia jatuh terbaring di lantai teras.
Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, samar-samar ia mendengar suara pintu terbuka.
Lalu...
Ada langkah kaki mendekatinya.
Namun, sebelum sempat melihat siapa orang itu, semuanya berubah gelap.
Amel benar-benar kehilangan kesadaran.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Comments