Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Nasib Tragis di Akhir Hayat
Langit begitu cerah di siang bolong itu, nyaris tak ada awan yang menggantung. Sehingga sang Raja Siang dengan leluasa menyemburkan sinarnya yang panas yang begitu terik, seolah hendak membakar seluruh antero mayapada.
Tampak seorang wanita berpakaian lusuh dan kotor, nyaris penuh bercak darah, dengan tubuh yang nyaris penuh luka bekas cambukan. Kedua tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai baja yang begitu kuat.
Tubuhnya yang ringkih dan lemah diseret oleh dua orang prajurit kerajaan menuju tempat eksekusi. Sungguh pemandangan yang begitu menggiriskan di siang bolong seperti itu.
Sementara itu, rakyat kotaraja sudah berkerumun di sekitar panggung eksekusi. Mereka bukan saja melempari wanita malang itu dengan batu-batu kecil, telur busuk, atau apa saja yang busuk dan menjijikkan, bahkan lebih daripada itu, mereka melontarkan kata-kata pedas yang amat menyakitkan kepadanya.
"Dasar wanita jahat! Penghianat busuk!"
"Kau memang pantas mati dengan hina atas perbuatanmu, wanita busuk!"
"Beraninya kau mencoba membunuh selir kesayangan Huang Di Xia!"
"Nyawa busukmu itu sebenarnya ada berapa?"
"Jangan mentang-mentang kau seorang permaisuri, kau berbuat seenaknya terhadap kesayangan Huang Di Xia!"
"Huh, mati saja kamu, wanita terkutuk!"
Wanita malang itu tidak bergeming sama sekali, membiarkan saja benda-benda kotor itu menimpuki wajah lelahnya serta tubuh kotornya yang berdebu. Membiarkan saja kata-kata menyakitkan itu merongrong hati, perasaan dan batinnya yang sudah sedemikian terluka parah dan hancur.
Sepasang matanya yang sayu menatap kosong, seolah alam sekitar semuanya hampa.
Wajahnya yang dulu begitu cantik mempesona yang susah payah diusahakan agar tampil mempesona di hadapan sang kaisar, yang kini dipenuhi luka goresan dan luka lebam, mengguratkan semua penderitaan yang selama ini dia alami.
Kedua prajurit kasar itu terus menarik wanita malang itu hingga sampai di atas panggung eksekusi. Tak lama setelah itu, terdengar suara kasim kekaisaran menggema ke seantero tempat itu, membacakan dakwaan menyakitkan terhadap wanita malang itu.
"Dengan titah Putra Langit, terdakwa atas nama Ling Qingxue, mantan Permaisuri Kekaisaran Zheng, terbukti telah bersalah atas percobaan pembunuhan terhadap Selir Ling Yaofei, dan terbukti telah melakukan pengkhianatan dan penyelewengan terhadap Huang Di Xia...."
"Maka, dengan titah Huang Di Xia, terdakwa Ling Qingxue divonis hukuman penggal...."
"Eksekusi mati segera dilaksanakan....!" teriak sang kasim begitu keras, menggema ke seantero tempat eksekusi.
Di salah satu sisi panggung eksekusi, tampak Kaisar Zheng Liang duduk dengan tenang di kursi berukir indah, bercat kuning emas. Sepasang matanya yang tajam menatap dingin penuh kebencian pada wanita malang yang ternyata bernama Ling Qingxue, mantan permaisurinya itu.
Tatapan sang kaisar sarat akan perendahan dan penghinaan, seolah mantan permaisurinya itu merupakan seonggok makhluk yang tidak layak untuk hidup.
Di sisi kiri sang kaisar duduk anggun selir kesayangannya, Selir Ling Yaofei, mengenakan jubah merah terang bersulam benang emas. Wajah cantiknya menampakkan kesedihan, seolah prihatin atas nasib yang menimpa Ling Qingxue, yang tidak lain adalah kakak tirinya.
Sementara Ling Qingxue menyempatkan memandang keluarganya yang juga ada di situ. Ayahnya, Jenderal Ling Guojin, yang dulu amat dia cintai dan hormati, kedua kakak laki-lakinya yang amat dia hormati dan kagumi.
Juga tak ketinggalan sang kakek, Ling Bojing, orang yang senantiasa dia hormati sepenuh hati, meski Ling Qingxue merasa terkadang sang kakek lebih memihak pada Ling Yaofei.
Tapi... dia tidak mendapati dari orang-orang yang dihormati itu adanya rasa kasihan terhadap nasib yang dia alami, alih-alih menolongnya agar terbebas dari tuduhan dan fitnah keji ini.
Di mata masing-masing mereka melihatnya sebagai orang yang bersalah yang pantas mendapat hukuman berat.
Di sisi lain, kedua penjahat yang sesungguhnya yang berhati busuk; sang ibu tiri, Su Yinfei dan adik tirinya, Selir Ling Yaofei, tampak begitu menikmati suasana ini di balik kepalsuan dan kebusukan sikap mereka.
★☆★☆
"Hahaha! Begini kah akhir hidupku yang malang?" desahnya merintih dalam hati seraya tertawa penuh kegetiran dan kekecewaan. "Mati dengan penuh kehinaan atas fitnah yang kejam?"
"Oh, Lao Tian, kenapa kau menakdirkan hidupku yang begitu kacau seperti ini?" rintihan hatinya semakin perih. "Ini... tidak adil bagiku...."
"Kau sudah tahu jika aku difitnah, tapi kau cuma diam saja...."
Sebelum pelaksanaan hukuman mati, tampak Kaisar Zheng Liang berdiri dengan gagah dan mantap, menatap dingin mantan permaisurinya dengan penuh kebencian.
Sedangkan di sisinya, Selir Ling Yaofei masih saja melakoni sandiwara busuknya dengan baik, berlagak seolah-olah begitu sedih dengan nasib malang sang kakak tiri.
"Ling Qingxue, sebelum hukumanmu dilaksanakan, apakah kamu hendak mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya?" terdengar Kaisar Zheng Liang berkata bernada datar, begitu dingin.
Penuh rasa ketidak pedulian....
Kepala Ling Qingxue yang kembali tertunduk lemah, kini terangkat lagi perlahan-lahan. Menengadahkan wajahnya di hadapan Kaisar Zheng Liang dengan sisa-sisa tenaganya. Sepasang matanya yang sayu menatap dingin penuh kebencian pada lelaki brengsek itu.
Tubuhnya yang ringkih tampak gemetar. Bukan karena dia takut, tapi karena amat benci dan dendamnya terhadap lelaki yang pernah amat dicintainya itu.
"Aku tidak bersalah, Huang Di Xia," ucapnya begitu perih, bernada lirih, namun jelas dan tegas. "Aku tidak pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Selir Ling Yaofei, apalagi melakukan pengkhianatan dan penyelewengan terhadap Huang Di Xia...."
"Aku difitnah, Huang Di Xia!" Ling Qingxue berusaha berteriak sekeras mungkin di sisa-sisa tenaganya.
Tapi setelah itu dia tampak ngos-ngosan karena amat lelah, lemah dan sengsara.
Namun akibat teriakannya yang tidak terlaku jelas itu membuat para penduduk yang ada di situ langsung berkasak-kusuk sendiri. Beberapa orang tampak ragu akan tuduhan yang didakwakan terhadap sang permaisuri. Tapi sebagian besar percaya jika tuduhan itu benar dan fakta.
Tiba-tiba Selir Ling Yaofei berdiri, lalu menghambur berlutut di samping kiri Kaisar Zheng Liang. Air mata palsunya langsung mengalir begitu saja seolah tidak dapat dia kendalikan.
Dengan suara yang seolah penuh dengan kesedihan dan prihatin yang mendalam, dia berkata penuh permohonan, permohonan yang palsu.
"Huang Di Xia, hamba memohon pada Anda, bebaskanlah Permaisuri...! Hamba yakin Permaisuri hanya khilaf melakukan hal itu. Dia... dia hanya terdorong oleh rasa iri terhadap hamba, karena Anda begitu memperhatikan hamba ketimbang dia...."
"Hamba mohon bebaskanlah permaisuri, Huang Di Xia...!"
"Apa yang kamu lakukan, Yao'er? Kamu tidak usah memohon segala untuknya," Kaisar Zheng Liang cepat-cepat membangunkan sang selir tercinta dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Mendengar tangisan memilukan dari Selir Ling Yaofei itu membuat para penduduk semakin terharu dan simpati terhadap selir busuk itu.
"Lihatlah, betapa mulianya hati Selir Ling Yaofei!"
"Beliau masih perduli akan nasib permaisuri berhati kejam itu...!"
"Dasar permaisuri berhati busuk!"
Sekujur tubuh Ling Qingxue kembali gemetar karena memendam kemarahan dan kebencian. Sepasang matanya seketika menatap tajam penuh dendam dan amarah kepada wanita ular berhati licik dan busuk itu.
Lihatlah, bahkan di saat-saat terakhir seperti ini masih juga wanita busuk itu mempermainkan dirinya! Drama yang dipertontonkan begitu menjijikkan, seolah-olah menjadi korban yang patut dikasihani.
Menjijikkan, amat menjijikkan!
★☆★☆
Di saat adegan penuh drama dan rasa simpati yang salah tempat, tiba-tiba terdengar suara berat dan tajam dari bawah panggung sebelah kiri Ling Qingxue.
"Huang Di Xia, hamba harap Anda tidak terpengaruh dengan ucapan bohong Ling Qingxue. Dia ingin menarik perhatian Huang Di Xia dengan kebohongannya itu...."
Dengan sisa-sisa tenaganya, Ling Qingxue berusaha menoleh ke sumber suara yang menyakitkan itu. Didapati seorang lelaki paruh baya berbadan bongsor dengan wajah datar dan tatapan kebencian. Dia ternyata Jenderal Ling Guojin, ayahnya yang pernah dia hormati.
"Sejak dulu Selir Ling Yaofei selalu berprilaku baik dan mulia," kata Jenderal Ling Guojin lagi, begitu menyakitkan didengar oleh putrinya. "Sedangkan Ling Qingxue, dari dulu memang bertabiat buruk dan keras kepala, selalu iri terhadap Selir Ling Yaofei."
"Huang Di Xia, dari kecil Selir Ling Yaofei, adik hamba selalu dijahati oleh wanita busuk itu," sambung jenderal muda, Jenderal Ling Yujian, kakak tertua Ling Qingxue ikut.
"Apa yang dikatakan oleh ayah hamba dan kakak hamba benar, Huang Di Xia," putra kedua Jenderal Ling, Ling Yuchen tak mau kalah ikut memojokkan Ling Qingxue, adik kandungnya sendiri. "Dia sudah menjadi pembunuh sejak kecil. Dia telah membunuh ibu kandung kami...."
Mendengar itu semakin membuat Kaisar Zheng Liang percaya kalau mantan permaisurinya itu memang bertabiat jahat sejak lama. Semakin membuatnya tidak menyesal mengeksekusi mati wanita itu.
Sedangkan Ling Qingxue, mendengar ucapan-ucapan dan tuduhan-tuduhan yang amat memojokkannya itu, membuat dadanya terasa sesak, amat sesak. Hatinya semakin sakit dan perih.
Keluarga kandungnya; ayah dan kedua kakak laki-lakinya lebih mempercayai kebohongan yang dibuat orang lain ketimbang percaya akan pengakuannya yang jujur.
Hatinya semakin hancur tanpa daya mana kala mendengar ucapan sang kakek, Ling Bojing, seolah lelaki tua itu memberi nasehat kepadanya yang malang.
"Xue'er, cucuku, seharusnya kamu berlapang dada dan menerima sepenuh hati hukuman ini. Tidak perlu kamu berbohong segala, agar arwahmu bisa tenang di surga...."
"Jangan melakukan pemberontakan, cucuku," lanjut Ling Bojing penuh kelembutan seolah itu sebuah perhatian dan nasehat.
Tapi bagi Ling Qingxue, ucapan kakeknya itu dan semua keluarganya merupakan suatu penghinaan terhadap dirinya sekaligus pengkhianatan di akhir hidupnya.
Sementara Su Yinfei, selir ayahnya cuma dia saja sejak tadi, tapi dia amat menikmati pertunjukkan yang amat menarik ini.
Ling Qingxue tertawa pelan, begitu perih begitu getir. Rasa putus asa sudah menguasai hatinya yang hancur. Mengalah dan kalah adalah keadaan yang harus dia telan mentah-mentah saat-saat seperti ini.
Tidak ada lagi yang dapat dimintai pertolongan. Suaminya, kakeknya, ayahnya, kedua kakaknya, semua orang memojokkannya, menganggapnya bersalah.
Tanpa berpikir jernih kalau mereka begitu mudahnya dipermainkan oleh dua wanita ular itu; Selir Ling Yaofei dan Su Yinfei, begitu mudahnya mempercayai permainan dusta keduanya yang begitu keji. Sehingga dengan itu menyebabkan dia dibenci oleh seluruh rakyat kotaraja.
Dalam keputus asaan dan menyerah pada keadaan itu, timbul di dalam hati Ling Qingxue, jika ada kesempatan kedua, dia tidak akan mengemis cinta kepada sang kaisar, tidak akan mengemis kasih sayang kepada kakek, ayah dan kedua kakaknya.
Tidak akan berlaku naif lagi terhadap kebaikan palsu yang diperlihatkan oleh Ling Yaofei.
Jika ada kesempatan kedua, dia akan membalas dendam kepada semua orang yang telah membuat hidupnya hancur dan hatinya kecewa dan sakit.
Sungguh... hanya lantara dia terlahir ke dunia ini, dan ibunya meninggal saat berjuang melahirkannya, ayah dan kedua kakaknya malah menuduhnya sebagai pembunuh sang ibu. Sehingga dengan itu mereka membencinya setengah mati.
"Ling Qingxue, apa kamu mengakui semua kesalahanmu?" seketika Kaisar Zheng Liang berkata bernada datar sambil menatap tajam penuh kebencian pada wanita itu.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakui kesalahanku," sahut Ling Qingxue tidak keras tapi jelas dan tegas, "karena aku tidak bersalah."
"Sampai sekarang pun kamu tetap keras kepala, Ling Qingxue," geram Kaisar Zheng Liang bernada dingin.
"Laksanakan hukuman penggal, cepat!" teriak Kaisar Zheng Liang penuh semangat, penuh amarah, penuh kebencian berpadu kekecewaan.
Ling Qingxue menegakkan kepalanya, menghadapkan wajah dukanya lurus pada Kaisar Zheng Liang. Menatap mantan suaminya itu penuh kebencian, penuh dendam, penuh kekecewaan.
Tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya yang berdarah. Dia sudah pasrah akan nasib tragis yang menimpa dirinya.
"Jika ada kesempatan kedua, aku, Ling Qingxue, tidak akan pernah lagi mencintaimu, apalagi mengejar cintamu, Zheng Liang," dia hanya mampu berkata lirih dalam hatinya yang sakit dan rapuh.
Algojo yang berdiri di samping belakang Ling Qingxue segera mengangkat parangnya yang besar, panjang dan amat tajam tinggi-tinggi. Lalu detik berikut parang besar itu terayun cepat, tangkas, dan presisi....
Siiingngng...!
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,