Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Penguasa Amsterdam

Langit Amsterdam sore itu tampak kelabu, memantulkan bias cahaya dari gedung-gedung pencakar langit berarsitektur modern yang berpadu sempurna dengan bangunan klasik khas Eropa. Di jantung kota yang sibuk itu, berdiri megah Thorne Tower—sebuah mahakarya arsitektur setinggi empat puluh lantai yang mendominasi kawasan bisnis elit. Di sinilah denyut nadi finansial Eropa berpusat, dan di sinilah singgasana seorang penguasa mutlak berada.

Pukul 16.30 CET. Suasana di lantai paling atas gedung tersebut terasa begitu senyap, kontras dengan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi di lantai bawah. Lantai empat puluh adalah zona eksklusif milik CEO Thorne Group, sebuah kawasan privat yang hanya bisa diakses menggunakan pemindai retina khusus.

Di balik dinding kaca anti peluru setinggi tiga meter yang menawarkan pemandangan panorama kota Amsterdam secara 360 derajat, seorang pria berdiri tegak dengan postur tubuh atletis yang sempurna. Tingginya hampir mencapai 195 sentimeter, membuat siapa pun yang berdiri di dekatnya akan merasakan dominasi fisik yang begitu kuat. Namanya Victor Thorne. Pria berusia dua puluh sembilan tahun yang namanya, dalam industri bisnis global, disetarakan dengan kekuasaan absolut.

Victor mengenakan setelan jas bespoke dari Brioni berwarna midnight blue yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Bahunya yang bidang mengisi jas tersebut dengan ketegasan maskulin, sementara potongan celana panjangnya memperlihatkan proporsi tubuh jenjang yang elegan. Kulit putih bersihnya berpadu apik dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta garis wajah tajam seolah dipahat oleh seniman Renaisans. Hidung mancungnya, tulang pipi yang tinggi, dan sepasang mata kelabu slate yang sedingin es, memancarkan aura alpha male kelas atas yang mematikan. Tidak ada celah dari penampilannya. Ia adalah definisi nyata dari kesempurnaan maskulin modern—tampan secara effortless, berkarisma tinggi, dan berbahaya secara bersamaan.

Namun, daya tarik fisik Victor bukanlah hal utama yang membuat para petinggi korporasi dunia gemetar. Reputasinya jauh lebih mendominasi daripada ketampanannya. Di kalangan para miliarder Eropa, Victor dikenal dengan julukan The Ice King. Dingin, kalkulatif, tanpa ampun, dan memiliki intuisi bisnis setajam silet. Dalam kamus hidup Victor Thorne, tidak ada kata "gagal" ataupun "toleransi".

Beberapa menit lalu, sebuah rapat dewan direksi darurat baru saja selesai di ruang konferensi utama. Rapat itu berlangsung hanya selama dua puluh menit—waktu yang sangat singkat untuk membahas akuisisi bernilai ratusan juta euro. Selama rapat tersebut, tidak ada satupun direktur senior yang berani mengangkat kepala terlalu tinggi atau sekadar memotong ucapannya. Victor memimpin rapat dengan gestur minimalis: satu lirikan mata kelabunya yang tajam sudah cukup membuat seluruh isi ruangan terdiam kaku. Ia tidak perlu berteriak untuk mendominasi; auranya yang intimidatif dan dominan sudah menuntut kepatuhan mutlak tanpa bantahan.

Pintu ruang kerja pribadi Victor terbuka tanpa suara. Markus, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan yang telah mendampinginya selama lima tahun, melangkah masuk dengan membawa secangkir ristretto hitam tanpa gula di atas nampan perak. Markus menunduk hormat, menjaga jarak aman dari meja kerja kayu mahoni raksasa tempat bosnya berdiri.

"Laporan keuangan kuartal ketiga dari cabang Frankfurt sudah disetujui oleh auditor, Tuan. Dan mengenai pertemuan dengan para investor dari Zurich malam nanti, jadwalnya tetap pukul delapan," ujar Markus dengan suara tenang, berusaha tidak terlihat gugup di hadapan sang bos.

Victor tidak langsung berbalik. Ia masih menikmati pemandangan lalu lintas kanal Amsterdam yang mulai menyala di bawah sana. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh mengetuk pelan permukaan kaca jendela.

"Batalkan jamuan makan malam formal dengan investor Zurich," suara bariton Victor yang rendah dan berat menggelegar pelan di dalam ruangan yang sunyi. Nada bicaranya datar, dingin, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Alihkan pertemuannya ke ruang virtual pukul sepuluh malam. Aku tidak punya waktu meladeni basa-basi tidak penting di restoran mahal."

"Baik, Tuan. Akan saya urus sekarang," jawab Markus cepat, sama sekali tidak terkejut dengan keputusan mendadak itu. Bagi Victor, waktu adalah komoditas paling mahal di bumi. Ia adalah tipe perfeksionis yang menghitung efisiensi hingga detik terkecil.

Markus meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja, lalu bersiap untuk berbalik meninggalkan ruangan. Namun, sebelum Markus mencapai pintu, Victor kembali bersuara, menghentikan langkah sang asisten.

"Tunggu, Markus."

"Ya, Tuan?" Markus berbalik, kembali berdiri tegap.

Victor akhirnya memutar tubuhnya. Ia berjalan pelan mendekati meja kerjanya, gerakan tubuhnya memancarkan keanggunan seorang predator puncak rantai makanan. Ia meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan sambil menatap tajam ke arah Markus.

"Mengenai permintaan Mami minggu ini... apakah beliau sudah mengirimkan daftar nama wanita itu lagi?" tanya Victor dengan alis terangkat sebelah, menyiratkan kebosanan yang amat sangat.

Markus sedikit tersenyum tipis, berusaha menahan gelagat geli.

"Nyonya besar Valen tadi pagi menelepon kantor. Beliau bilang, jika Anda tidak kunjung memilih sendiri, beliau yang akan langsung menjadwalkan kencan buta khusus untuk Anda akhir pekan ini. Beliau sangat mendesak, Tuan. Mengingat usia Anda yang akan segera menginjak kepala tiga."

Victor mendengus pelan. Sebuah decakan kecil keluar dari bibirnya yang tipis. Kepala tiga. Usia yang bagi kebanyakan pria mapan adalah puncak kematangan, namun bagi Victor, itu hanyalah angka di atas kertas yang tidak mengubah fokus hidupnya. Bagi Victor, hidupnya sudah terlalu penuh dengan ekspansi bisnis, portofolio investasi global, dan dominasi pasar Eropa. Pernikahan? Hal itu sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar prioritas hidupnya. Baginya, komitmen romantis adalah sebuah bentuk kelemahan emosional yang tidak efisien. Hubungan antarpribadi yang ia jalani selama ini hanyalah sebatas relasi kasual tanpa ikatan batin—singkat, panas, dan langsung selesai tanpa drama.

"Katakan pada Mami, aku sibuk. Jadwalku padat hingga akhir bulan," tukas Victor dingin, kembali duduk di kursi kulit ergonomisnya yang mewah.

"Sudah saya sampaikan alasan itu minggu lalu, Tuan. Dan jawaban Nyonya Valen sangat jelas: 'Jika Victor masih menolak, saya sendiri yang akan menyeretnya ke hadapan Annelise di restoran keluarga,'" tiru Markus dengan nada setengah bercanda, meski ia tahu persis betapa keras kepalanya Nyonya Besar Valen jika sudah menyangkut masa depan putranya.

Victor memijat pelipisnya sekilas. Annelise. Nama itu kembali muncul. Wanita berdarah Belanda pilihan maminya yang anggun, lembut, dan sempurna di atas kertas—namun membuat Victor merasa enek karena terlalu dibuat-buat. Victor benci hal-hal yang monoton, dan Annelise adalah lambang dari wanita aristokrat membosankan yang hidup dalam aturan sosial kaku.

"Keluar, Markus. Biarkan aku sendiri," usir Victor dengan lambaian tangan singkat.

"Baik, Tuan. Saya permisi." Markus langsung melangkah keluar, menutup pintu kayu berperedam suara itu rapat-rapat.

Kini, ruangan kembali sunyi. Victor menyandarkan punggungnya yang bidang ke kursi kerja, melepas dua kancing teratas kemejanya untuk sedikit melonggarkan ikatan dasi sutranya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma parfum Tom Ford bercampur aroma kopi pekat yang menguar di ruang kerjanya.

Dari luar, semua orang melihat Victor Thorne sebagai pria paling beruntung di dunia. Kekayaan melimpah yang bisa membeli setengah kota Amsterdam, wajah rupawan yang menghiasi majalah bisnis internasional, kekuasaan yang membuat para politisi tunduk, serta predikat sebagai konglomerat termuda yang paling berpengaruh. Tidak ada satupun sudut kota ini yang tidak mengenal nama besar Thorne. Setiap pintu terbuka lebar untuknya. Setiap wanita mendamba senyuman langkanya.

Namun, di balik dinding kaca pencakar langit setinggi empat puluh lantai itu, di saat malam mulai merangkak naik dan lampu-lampu kota menyala terang, Victor merasakan sebuah kekosongan yang asing. Sebuah kehampaan hampa yang tidak bisa diisi oleh deretan angka di rekening bank, laporan laba rugi perusahaan, ataupun pujian palsu para mitra bisnis.

Hidupnya terlalu terstruktur, terlalu dingin, dan terlalu steril. Ia dikelilingi oleh ribuan orang setiap hari, namun tidak seorang pun yang benar-benar mengenal siapa Victor di balik topeng kesempurnaannya. Ia adalah raja tanpa emosi yang memimpin dunianya seorang diri di atas menara gading.

Victor berdiri kembali dari kursinya. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang luas. Bayangan seorang pria tampan berwajah dingin terpampang jelas di sana. Ia tidak tahu apa yang sedang menantinya di luar sana, takdir acak apa yang sedang disiapkan oleh alam semesta untuk meruntuhkan tembok es pertahanannya. Yang ia tahu pasti, malam ini, ia membutuhkan pelarian. Sebuah pelarian dari rutinitas membosankan, dari desakan perjodohan sang mami, dan dari tekanan posisinya sebagai penguasa Amsterdam.

Ia meraih kunci mobil Aston Martin hitam kesayangannya yang tergeletak di atas meja, menyambar jas panjangnya, dan melangkah keluar menuju lift pribadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!