Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembalasan Nathan

Pembalasan Nathan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ilham risa

Apa itu persahabatan? Apakah di dunia ini ada persahabatan yang benar benar setia? Yang rela menyayangi sahabatnya dan lebih memilih menjaga hubungan walaupun karir menjadi taruhannya?.


Blushitt.......



Nathan yang duduk di dalam jeruji besi langsung tersenyum jijik saat mendengar salah satu napi yang menjadi rekannya di dalam sel memuji tentang indahnya persahabatan.


Nathan langsung meninju kepalan tangannya sendiri ke atas lantai sampai membuat jari jari tangannya menjadi berdarah karena mengalami luka. Sedangkan tatapan matanya terlihat sangat menyeramkan, dipenuhi dendam yang begitu membara.



Satu keinginan Nathan saat ini, yaitu membalaskan dendam kepada orang orang yang telah menjebak dan mengkhianati nya. Satu bulan lagi, dia akan bebas dari tempat terkutuk ini, dan setelah itu dia pastikan kehidupan mereka semua akan hancur di tangannya.



"Tunggu pembalasan dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum Yang Tumpul ke Bawah

Sementara itu, di salah satu ruangan kerja yang berada di kantor kepolisian, suasana justru dipenuhi senyum kepuasan.

Beberapa pria berpakaian rapi duduk mengelilingi meja besar dengan ekspresi tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan lagi.

Di antara mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan seragam lengkap kepolisian berdiri di dekat jendela sambil memandangi pemandangan kota dari ketinggian.

Namun ketenangan di wajahnya perlahan memudar ketika mengingat satu hal.

"Nathan akan segera bebas"

Pria itu langsung menarik napas panjang sebelum akhirnya menoleh ke arah seorang pria bertubuh gemuk yang berdiri di belakangnya.

"Aku tidak peduli bagaimana pun caranya," ucapnya dengan suara dingin.

"Setelah dia keluar dari penjara, dia tidak boleh lagi tinggal di kota ini." ucap pria itu lagi setelah membalikkan tubuhnya menghadap pria bertubuh gemuk.

Pria bertubuh gemuk itu terlihat ragu. namun dia tidak berani membantah perintah yang diberikan oleh atasannya.

"Baik, Tuan. Tapi bukankah dia sudah dipecat dari kepolisian? Bukankah dia sudah kehilangan segalanya? Lalu mengapa kita masih harus mengkhawatirkannya?" tanyanya hati-hati.

Pertanyaan itu justru membuat pria berpangkat AKBP tersebut mengeraskan rahangnya.

Brak!

Telapak tangannya menghantam meja dengan keras hingga membuat seluruh ruangan terdiam.

"Dasar bodoh!" bentaknya tajam.

"Justru orang yang kehilangan segalanya adalah orang yang paling berbahaya."

Tatapan matanya berubah dingin.

"Dia tahu terlalu banyak."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

"Jika dia mulai bergerak dan mencoba menggali masa lalu, maka kita harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat."Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.

"Dan jika perlu..." Ia menghentikan ucapannya sejenak dan kembali melanjutkannya dengan perkataan yang mengejutkan mereka semua.

"...kita akan menghabisinya."

Deghhh...

Kelima orang yang berada di dalam ruangan itu saling berpandangan sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.

Mereka memahami maksud dari perkataan tersebut tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan.

Namun sebelum keluar, salah seorang pria mendekati meja sang AKBP lalu meletakkan sebuah kartu nama di atasnya.

"Ini nomor orang-orang yang mungkin akan Tuan butuhkan."

Pria itu menatap kartu tersebut beberapa saat sebelum mengambilnya.

"Aku mengerti."

Setelah itu, pria bertubuh gemuk tersebut pun keluar meninggalkan ruangan.

Kini hanya tersisa dia seorang diri, yang kembali berdiri di depan jendela sambil memandangi lalu lintas kota yang sibuk di bawah sana.

"Asal ada kekuasaan dan uang..." gumamnya pelan.

"....maka semua bisa dibeli." lanjut pria itu lagi

sambil mengisap rokok yang berada di sela jarinya sebelum mengembuskan asap perlahan ke udara.

"Saat ini penghormatan masyarakat jauh lebih berharga daripada sebuah persahabatan". Ucapnya dengan tatapan yang perlahan berubah dingin.

"Lagipula persahabatan tidak akan memberiku jabatan." gumamnya tersenyum menyeringai.

Lima tahun yang lalu sebenarnya ia tidak pernah berniat menghancurkan hidup Nathan.

Namun ketika pilihan harus dibuat, ia lebih memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Dia memilih jabatan dan juga kekuasaan, dan dia juga memilih mengorbankan sahabatnya sendiri.

Keputusan itu mungkin terlihat kejam,

tapi hasilnya benar benar sangat memuaskan. Kariernya langsung melesat jauh lebih cepat dibandingkan rekan-rekannya yang lain. Namanya dipuji sebagai polisi berprestasi. Pimpinannya menaruh kepercayaan besar kepadanya.

Dan kini.. Impian yang selama ini ia kejar hampir berada dalam genggaman, jangan sampai usahanya yang hampir selesai malah hancur karena ulah satu orang.

"Hah.! Ternyata beginilah rasanya menjadi pemenang." ucapnya tersenyum puas.

Baginya, siapa pun yang menghalangi jalan menuju kekuasaan hanya pantas menerima satu nasib. Yaitu "Disingkirkan"

Termasuk seseorang yang dulu pernah ia sebut sebagai sahabat.

_______

Sedangkan di tempat yang berbeda, jauh dari kemewahan kantor kepolisian, Nathan duduk bersila di lantai dingin sebuah sel penjara.

Satu bulan lagi ia akan menghirup udara bebas, satu bulan lagi ia akan meninggalkan tempat yang selama lima tahun terakhir menjadi dunianya.

Di sekelilingnya duduk beberapa narapidana yang selama ini telah ia anggap sebagai keluarga sendiri.

Lima tahun hidup bersama di balik jeruji besi telah menciptakan ikatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Aku harap kalian tetap menjaga kekompakan setelah aku pergi nanti," ucap Nathan sambil tersenyum tipis.

"Aku juga berjanji akan sering datang menjenguk kalian."

Beberapa napi tersenyum mendengar ucapan yang Nathan lontarkan, di dalam mata mereka ada harapan yang begitu besar kepada pemuda malang tersebut.

"Terima kasih, Nathan," ucap Bejo salah satu napi paling lama di dalam sel penjara.

"Kamu orang baik. Aku yakin kamu bisa memulai hidup baru setelah keluar dari sini." ucap Bejo kembali membuat Nathan tersenyum.

Bejo adalah pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Nathan.

Ia dipenjara karena membunuh seorang pria yang berusaha memperkosa ibunya.

Dalam usahanya melindungi kehormatan sang ibu, Bejo kehilangan masa depannya sendiri, dan dia harus menunggu waktu untuk menerima hukuman yang telah diputuskan pengadilan.

"Nathan," panggil Bejo pelan.

"Jika kau tidak bisa kembali menjadi polisi, setidaknya jadilah seseorang yang tetap membela orang-orang kecil seperti kami." pinta Bejo dengan nada penuh harap.

Nathan terdiam mendengar permintaan Bejo. Hingga detik kemudian seorang pria paruh baya bernama Pak Ahmad ikut menimpali perbincangan mereka.

"Selama lima tahun berada di sini, kau pasti sudah melihat banyak hal." ucap Pak Ahmad sambil menatap jeruji besi di depan mereka.

"Hukum sering kali terasa berbeda bagi setiap orang." Ia tersenyum pahit.

"Orang berkuasa bisa membeli kebebasan, sementara orang miskin bahkan kesulitan membeli keadilan." ucapnya lagi membuat ruangan kembali hening.

Nathan menundukkan kepalanya.

Selama lima tahun berada di penjara, ia telah menyaksikan terlalu banyak kisah yang menghancurkan kepercayaannya terhadap sistem yang dulu ia bela mati-matian.

Namun satu hal yang tidak pernah berubah.

Yaitu keinginannya untuk menegakkan keadilan di negara yang sudah hampir hancur ini. Lalu Nathan perlahan mengangkat kepalanya dan membalas perkataan mereka semua.

"Kalian dengarkan aku baik-baik." ucap Nathan dengan penuh keyakinan.

"Aku mungkin bukan polisi lagi! Tapi selama aku masih hidup, aku akan terus melawan ketidakadilan dengan cara apa pun yang aku bisa." kata Nathan sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Aku juga akan membongkar semua kebusukan yang selama ini disembunyikan oleh mereka yang menggunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Aku berjanji kepada kalian semua!"

Para napi yang mendengar janji Nathan langsung tersenyum bangga. Lalu

mereka semua mengangkat cangkir berisi air putih sebagai simbol perpisahan sederhana.

"Ayo kita bersulang!" ajak Bejo yang diangguki oleh mereka semua.

Namun sempat cangkir itu bersentuhan, tiba tiba saja....

Krekk...

Brak!

Pintu sel terbuka dengan kasar. Tiga orang sipir bertubuh besar masuk dengan wajah dingin sambil membawa pentungan di tangan mereka masing-masing.

"Siapa yang bernama Bejo?" tanya salah seorang dari mereka.

Suasana mendadak membeku.

Nathan langsung berdiri dan melangkah ke depan, menutupi tubuh Bejo dengan tubuhnya sendiri. Ia tahu alasan kedatangan mereka.

"Tidak!" Suara Nathan menggema di dalam sel.

"Kalian tidak bisa membawanya begitu saja. Ada prosedur yang harus dijalankan." bentak Nathan sambil merentangkan kedua tangannya.

Salah seorang sipir langsung melangkah maju dengan wajah marah.

"Banyak bicara kau, Nathan!" ucap Pria itu tak mau kalah seraya mengangkat tinjunya dan melayangkan pukulan ke arah wajah Nathan.

Namun, belum sempat tinjunya mengenai wajah Nathan, Mata sipir itu membelalak saat rasa sakit luar biasa tiba-tiba menghantam perutnya.

Bughhh....

Tubuhnya terhuyung beberapa langkah ke belakang sambil memegangi perutnya yang terasa seperti dipukul palu, sedangkan wajahnya memucat menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Seluruh penghuni sel langsung mundur ke belakang sambil memasang wajah terkejut.

Sedangkan Nathan masih berdiri di tempatnya dengan tatapan dingin.

"Kurang ajar! Berani sekali kau melawan kami napi sialan!" maki Sipir yang lain menatap marah.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun berada di penjara, Nathan akhirnya menunjukkan kekuatan yang dia miliki, dan mulai saat ini dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terus menjamur di dalam penjara.

1
Aditya hp/ bunda Lia
udah waktunya kejahatanmu terbongkar semua Dimas ...
Aditya hp/ bunda Lia
mantap ... ayo Nath hancurkan si Dimas sama si Angga sampe hancur tak bersisa sampe membusuk mereka di bui
Aditya hp/ bunda Lia
seru Thor lanjutin sayang cuman aku suka telat baca bukan niat nabung bab maaf 🙏
kadang suka ada kerjaan ngedadak
Ilham Risa
Halo pembaca setiaku, mau tanyak ini cerita seru apa gak ya menurut kalian? kalau memang seru aku bakal lanjutin sampai tamat, walaupun gagal dapet bab terbaik karena sepi pembaca. tapi aku bahagia karena ada pembaca setia yang selalu ikuti cerita ini. kalau memang mau aku lanjut, komen ya. terimakasih 🥰🙏
Aditya hp/ bunda Lia
waaah, ... bakalan seru banget ini gak sabar nunggu pembalasan Nathan dan Andra
Aditya hp/ bunda Lia
dan permainannya pasti seru .... siap2 kamu Dimas saatnya kamu hancuuuur lebih hancur dari Nathan dulu
Aditya hp/ bunda Lia
pembalasan dimulai
Aditya hp/ bunda Lia
hati hati dan selalu hati hati Nath .. Andra ..
Aditya hp/ bunda Lia
buat mereka ngaku laporkan ke polisi, ... eh tapi kalo polisinya si Dimas gawat juga kan
Aditya hp/ bunda Lia
jangan sampe pak Bayu kenapa2 Thor semoga Nathan dan Andra cepat datang
Aditya hp/ bunda Lia
semoga pertolongan segera datang dan pak Bayu selamat ...
Aditya hp/ bunda Lia
kejahatan gak akan pernah menang sudah saatnya kamu tuai apa yang kamu tanam dulu
Aditya hp/ bunda Lia
keluarga Nathan jangan sampe ada yang celaka yah Thor termasuk Andra
Aditya hp/ bunda Lia
bahaya terus Thor bahayanya lebih lagi apa gak bisa dikurangi dikiiiitt ajah 🤏🤭
lanjut Thor tambah tegang tetap 💪🫰
Aditya hp/ bunda Lia
udah ada pasangan masing-masing yah Nathan Siska ... Andra bela
Aditya hp/ bunda Lia
atuh udah we Nath minta bantuan temannya Andra biar cepet terus dijamin juga keamanannya ... tuman wae
Aditya hp/ bunda Lia
Nathaaaaan ... ibu mu dalam bahaya cepat datang
Aditya hp/ bunda Lia
semoga kalian bisa membalas si Dimas dan si Angga sampe mereka gak mampu berdiri lagi
Aditya hp/ bunda Lia
dan semoga dia ketangkep sama anak buah Andra
Aditya hp/ bunda Lia
yah, ... itulah balasan untuk orang Soleh dan sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!