Indonesia
NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Aku pulang duluan ya. Dan kamu Siti, pulang dari sini ngga usah main. Udah malam! Mainnya pas libur aja, atur aja kapan mau ambil libur biar bisa gantian!" ,kata Auri menggendong tas nya sambil memainkan kunci sepeda motornya.

"Yah...Teh, padahal tadinya Siti mah geus Aya janji sama...", ucapan Budi terhenti saat ia mendapat pelototan maut dari Siti.

Auri menaikkan salah satu alisnya menatap satu-satunya karyawan perempuannya.

Siti tampak kikuk dan meringis kecil.

"Mau ngedate sama si Aa yang kerja di Alpajuni itu?", tanya Auri sedikit memainkan nada suaranya.

Dua rekan Siti menahan tawanya.

"Ya udah kalo gitu mah. Teteh harap kamu jangan pulang kemalaman. Kalian udah kerja dari pagi, jadi badan kalian juga perlu istirahat! Heum?"

"Iya teh!", jawab ketiganya kompak.

Setelah itu, Auri pun bersiap pulang. Ia yakin kedua orangtuanya pasti sedang mencemaskannya.

Benar saja, saat ia baru saja tiba di halaman bahkan belum mematikan roda duanya pintu ruang tamu sudah terbuka.

"Assalamualaikum", Auri memberi salam.

"Walaikumsalam. Ti mana sih Neng? Umi kamu udah kaya setrikaan wae", Abah nya melaporkan.

"Abah mah....! Wajar atuh kalo umi teh cemas sama anak gadis umi yang belom pulang udah Maghrib kieu!", sahut umi yang tak mau di adukan pada Auri.

Auri terkekeh kecil lalu meraih bahu uminya.

"Kan neng ge sok uih peuting Umi. Biasanya kalo mampir ke toko, neng pulang agak telat."

"Sanes telat, ini mah telat pisan"

Auri tertawa pelan sambil merangkul perempuan yang sudah merawatnya sejak kecil.

Ia membawa umi nya duduk di ruang tengah.

"Ganti baju, habis itu makan sekalian. Umi tunggu!"

Auri yang sebenarnya malas makan pun terpaksa mengiyakan. Ia tak mau mengecewakan perempuan lansia itu.

Gadis berperawakan sedang itu langsung ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan mencuci tangan.

Mandi?

Nanti habis makan malam baru mandi! Yang penting sudah sholat Magrib di toko tadi.

Usai mencuci tangan, Auri bergabung dengan dua orang hebat dalam hidupnya tersebut.

"Umi ambilkan nasinya ya, makan yang banyak biar gak terlalu kurus", kata umi Salamah mengambilkan nasi untuk Auri.

"Stop atuh Mi, loba teuing... segitu aja", pinta Auri. Akhirnya umi Salamah menyerahkan sepiring nasi untuk Auri.

"Sambel sama..."

"Umi, neng bisa ambil sendiri...", tolak Auri halus. Masalahnya, umi selalu memperlakukan Auri seperti gadis yang masih kecil. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu ia di adopsi oleh sepasang suami istri tersebut. Tapi sikap keduanya masih saja seperti menghadapi Auri kecil yang berusia delapan tahun.

Mereka makan dalam keheningan sampai selesai makan, barulah Auri membuka obrolan.

"Mi, Bah!"

Sepasang suami-istri itu menatap Auri dengan tenang.

"Naon neng?"

Auri membuang nafas nya dengan perlahan.

"A Ikhsan hari ini order undangan pernikahan."

Abah dan umi saling melempar undangan.

"Neng....", umi mengusap pelan bahu Auri. Auri tersenyum tipis.

"Neng ngga apa-apa kok, Mi."

"Kenapa gitu harus order di kamu, ngga di tempat lain? Sepertinya sengaja sekali mau nunjukin ke kamu kalo dia mau nikah sama perempuan lain."

Abah tak ikut bicara, hanya memperhatikan dua perempuan beda usia tersebut.

"Ya ngga salah juga kalo A Ikhsan nikah duluan, Mi. Soal dia order undangan ke neng berarti rejekinya neng yang bagus. Itu artinya usaha neng udah di kenal luas."

"Positif banget sih pemikiran kamu neng. Kalo jadi umi mah, udah umi tolak mentah-mentah. Apa jangan-jangan Siti ya yang terima ordernya?"

"Iya emang Siti ,Mi. Tapi ya udah lah Mi, itu kan emang tugasnya Siti. Lagi pula, sebelum Siti mengiyakan, dia udah konfirmasi dulu sama neng."

Umi membuang nafas panjang dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.

"Neng bilang begini karena mungkin setelah pulang ngajar, neng bakal sering pulang malam. Orderan lumayan Mi, Bah. Dua ribu lima ratus lembar dan desainnya yang sedikit mewah."

"Undangan yang mahal neng? Butuh bantuan Abah tidak?", tanya Abah.

"Ya harganya lumayan ,Bah. Satu lembarnya tiga ribu."

"Masyaallah...buat undangan doang yang paling-paling di buang ngabisin berapa duit itu neng? Tujuh jutaan?", tanya umi.

Auri mengangguk tipis.

"Neng"

"Heum?"

"Tapi kamu teh ngga apa-apa? Bagaimana juga kamu sama Ikhsan kan pernah ada hubungan yang cukup lama. Memangnya..."

"Neng ngga apa-apa Mi. Neng baik-baik aja kok. Lagi pula, keputusan kami berdua buat berpisah ngga sepihak baik dari neng mau pun A Ikhsan."

"Kalo juragan Dudung tidak menjodohkan Ikhsan sama anaknya bos karet paling juga kalian masih bersama."

"Umi, neng sama A Ikhsan memang ngga berjodoh. Intinya begitu,Mi. Udah ya..."

Obrolan malam itu pun usai. Auri pamit ke kamar untuk bersiap mandi. Abah mengambilkan air panas di pawon agar Auri bisa mandi tanpa drama kedinginan.

❤️❤️❤️

Candra mengepak beberapa pakaian kasualnya juga kemeja kantornya. Meski setengah hati, ia tetap melakukan apa yang papanya perintahkan.

Menjalani kehidupan di kabupaten jelas tak pernah ada dalam pikirannya.

Jauh dari kafe apalagi mall, tentu membuatnya merasa jenuh. Bagaimana kalau dia sedang bosan dengan pekerjaannya???

Tok...tok....

Candra menoleh sekilas tanpa ada niat untuk menyahut apalagi membuka pintu kamarnya itu.

Krieeettt....

Pintu pun terbuka dengan perlahan. Sosok perempuan berusia lima puluhan itu menghampiri Candra.

"Ngapain mama ke sini?"tanya Candra tanpa memandang sang ibu.

"Kamu marah sama mama?"tanya Sinta. Candra tak menyahut dan tetap sibuk dengan kopernya.

"Sayang...apa yang papa tugaskan ke kamu itu semata-mata buat kebaikan kamu di masa yang akan datang. Kalo bukan kamu, lantas siapa?"

Candra menjatuhkan bokongnya di atas kasur.

"Ma... kabupaten itu isinya apa sih? Ngga ada mall, ga ada kafe, ish...pasti ngampung banget kan? Kenapa papa harus nerjunin aku ke sana, kenapa ngga karyawan papa atau kakak-kakak yang lain? Kenapa harus aku?"

Sinta menatap putra bungsunya dengan serius.

"Jalani dulu Ndra, mama yakin kamu bisa..."

"Lagian papa itu aneh, udah tau itu kampung pake buat perumahan segala. Emang siapa yang mau beli di kampung begitu sih?"

"Candra!" Sinta kesal karena putra bungsunya yang sebenarnya sudah lebih dari cukup di sebut dewasa tapi masih saja kekanak-kanakan.

Candra berdecak pelan.

Bagi Candra, papanya sedang mencoba membuangnya ke kampung yang tidak memiliki fasilitas seperti di ibu kota. Tapi bagi Sinta, mungkin ini cara mendewasakan si bungsu agar bisa serius dalam bekerja.

Cepat atau lambat, putra bungsunya lah yang akan berperan menggantikan papanya di perusahaan.

❤️

"Terima kasih atas undangan makan malam ini tuan Mahesa. Ini benar-benar sebuah kehormatan untuk kami", kata Damar.

"Sama-sama tuan Damar, nyonya Erina."

Makan malam bisnis itu pun usai. Erina dan Damar pun kembali ke rumah mewah mereka.

"Kerjasama dengan tuan Mahesa harus berlanjut. Aku harap dia juga bersedia menerima perjodohan anaknya dengan putri kita ya Ma. Angeline sudah cukup dewasa untuk menikah."

Erina tersenyum tipis.

Angeline, anak tirinya yang ia rawat sejak balita sudah pantas untuk menikah. Lalu... putri nya sendiri, tak pernah Erina cari tahu keadaannya.

Apakah putrinya juga sudah siap menikah? Atau bahkan sudah menikah?

"Ma...?"

"Heum? Ah...iya, Angeline memang sudah cocok untuk berumah tangga Pa", sahut Erina dengan senyuman terpaksa. Damar masih terus melanjutkan obrolan mereka sepanjang perjalanan menuju ke kediaman mereka.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Terimakasih....🤗🤗🤗

1
Asriani Rini
Iyu pssti kskaknya cadra
indy
Aamiin
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!