Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SCANDAL YANG BUKAN MILIKKU
Tiba-tiba datang seorang wanita dengan wajah mungil, rambut panjang tergerai. Berlari sambil memanggilku. Langkah kaki berhenti dan menatap wanita itu. Dalam hati otak terus bergumam, siapa dia? Apa hubungannya denganku?
Kulihat nama di nametagnya, Puri. Bekerja sebagai staf agensi yang menaungiku.
Sambil menyodorkan gadgetnya, "Kamu liat gak berita kamu udah nyebar di seluruh portal media. Judulnya 'Artis Bawahan Tidur Dengan Manager Agensi'."
"Ada buktinya gak?" tanyaku.
Puri menjawab, "Ada. Aku sudah lihat CCTV-nya. Ada karyawan yang memberi obat tidur di minumanmu, aku dan Alex akan cari lebih banyak buktinya."
Alex? Tanya dalam hati, siapa laki-laki bernama Alex itu dan apa hubungannya denganku.
Tidak terasa kami sudah sampai di pintu luar. Sambutan wartawan dengan cahaya flash di mana-mana membuat kepala makin sakit. Cahaya apa ini, kenapa sangat silau di mata. Lalu ada pria di belakangku menutupi dengan jas, menggiring untuk masuk ke mobil diikuti Puri.
Tiba-tiba benda besi ini berjalan. Seperti orang kebingungan, otak terus berputar dan mencerna apakah pria ini yang bernama Alex.
"Naya kenapa diam aja, aku tau kamu shock tapi tenang aja, aku dan Puri akan bantu cari bukti skandal kamu dengan Pak Hans si otak mesum itu."
Ya, benar ternyata pria ini Alex. Mobil tiba-tiba berhenti, Puri membukakan pintu mobil dan menyodorkan tangan seperti memberi isyarat untuk turun, dan menopang tubuh yang masih lemas, membawa masuk ke rumah kecil diikuti Alex. Tidak cukup besar untuk kami tinggal bertiga.
Melihat lukisan kecil dengan wajah kami. Puri membaringkan tubuh ini di atas tempat tidur dan menyuruh istirahat.
"Naya kamu tidur duluan ya, aku mau bersih-bersih badan dulu."
Aku mengangguk.
Puri tiba-tiba datang dan terbaring di sebelahku.
"Bagaimana dengan Alex?" tanya dengan polos.
Puri menatap lalu tertawa, "Hahaha sudah jangan bercanda Naya, kau tau dari dulu Alex tidur di ruang tamu. Mari tidur, sudah malam. Besok aku dan Alex akan cari bukti lebih banyak. Kau juga istirahat, selamat malam."
Puri membelakangiku.
Ruangan hening. Hanya ada suara AC dan detak jam.
Berbaring memandangi langit-langit. Tubuh ini lemas, tapi otak tidak.
Naya... Jadi ini nama pemilik tubuh ini?
Mata terpejam. Mengingat lagi. Bagaimana bisa, bangun sudah di rumah sakit, jadi bahan gosip di kalangan manusia. Seseorang sengaja mau menghancurkan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.
Suara Alex dari luar, "Puri, kamu udah tidur? Boleh aku masuk sebentar. Ada yang harus aku kasih liat ke Naya."
Puri langsung bangun, "Tunggu di ruang tamu. Aku bangunin Naya dulu."
Aku duduk. Kepala masih berat. Puri menyodorkan segelas air putih.
"Minum dulu, biar enakan."
Airnya tawar, aman.
Di ruang tamu, Alex sudah menunggu. Wajah serius, jas masih dipakai. Di meja ada tablet. Di layar... foto.
Foto tergeletak di sofa hotel. Mata terpejam, gaun berantakan. Dan di samping ada bayangan pria, wajahnya di blur.
Darah mendidih, tapi senyum terlatih di istana keluar.
"Jadi ini buktinya?" tanyaku.
Alex menatap kaget, "Kamu tau?"
"Di istana, kalau mau menjatuhkan seseorang cukup fitnah dengan cerita, bukti manusia dengan seribu mulut."
Tunjuk ke pojok foto, "Lihat jam di dinding. Jam 11 lewat 5. CCTV agensi menunjukkan pingsan jam 10 lewat 30. Tidak mungkin ada di dua tempat sekaligus."
Puri menutup mulut, "Benar juga..."
Alex mengepalkan tangan, "Berarti ada yang pakai nama kamu buat check-in."
Kaki masih goyah, tapi suara tidak, "Jika ini saja sudah cukup, mari kita selesaikan."
"Besok jam 3, konferensi pers. Kita tidak akan mengelak," jawab Puri.
Aku dan Alex saling pandang, lalu mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak ada di tubuh ini, merasa punya kendali.
Skandal ini bukan akhir. Ini awal. Awal memakai semua kelicikan istana untuk bertahan.
Bersambung...