update hari Selasa, Rabu dan Jumat
pukul :13.00 Waktu Indonesia Barat.
Marsha gadis murung yang berjumpa dengan seorang teman baru pindahan di sekolahnya yang wataknya periang dan menyenangkan yang ternyata adalah anak adopsi dari pamannya yang sangat baik dan menyayanginya seperti anak kandung dari pamannya sendiri.
Sebastian Watson adalah anak adopsi dari kekasih pamannya Marsha yang datang dari Amerika untuk sekolah di Jakarta dan untuk pertama kalinya ia jumpa dengan gadis kecil yang paling aneh baginya namun Papanya selalu memintanya untuk menjadi sahabat bagi Marsha.
Selain itu ada rahasia besar yang mengelilingi mereka berdua dan identitas asli dari Sebastian yang sebenarnya..
Yuk ikuti kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Siang hari sepulang dari sekolah sesuai dengan janji untuk bertanding di lapangan luar sekolah. Sebastian dan teman-temannya telah berkumpul bersama untuk pertandingan sepak bola dalam misi untuk memilih kapten tim sepak bola SD Wijaya.
"Devan, Aku sudah siap untuk pertandingan ini." Kata Sebastian dengan sikapnya yang gagah.
"Baik, kita berdua akan lihat siapa diantara kita yang paling cocok untuk menjadi kapten tim sepak bola SD Wijaya."kata Devan menghampiri Sebastian dan teman-teman tim dipihak anak baru yang sudah memakai seragam olahraga.
"Oh,kita pilih dulu siapa yang menjadi wasitnya di pertandingan yang paling menegangkan ini." kata Gusur yang sudah memakai seragam kiper di pihak Sebastian.
"Pak Udin saja. " usul Angela.
"Pak Udin itu siapa?" tanya Marsha yang hadir di dekat Sebastian untuk mendukung sepupunya.
"Pengawalku." jawab Devan nada sombong.
"Oh, ku kira Pak Udin itu adalah Sanudin supirnya Oma-ku." kata Sebastian yang di lirik jengkel oleh pria gagah perkasa di belakang Devan.
"Oh, janganlah dia pasti akan bermain curang." kata Yosep di samping kanan Sebastian melirik tak percaya kepada Udin pengawal Devan.
"Ih, kau pikir Aku orang macam apa..?! " bentak Devan.
"Orang paling licik dan curang di SD Wijaya yaitu kamu Devan." kata Angela yang berjalan ke dekat Sebastian.
"Aku saja."kata seorang anak laki-laki yang cukup tampan namun sikapnya gagah sekali telah tiba di dekat Sebastian dan Devan.
"Neo,kau ini bukan murid-murid SD Wijaya jadi kau tak bisa jadi wasit." kata Devan galak kepada Neo.
"Dia itu cucunya penjaga sekolah kita berarti dia itu adalah staf di sekolah Wijaya yang berhak untuk jadi wasit kita." kata Sebastian yang ramah kepada Neo tapi judes kepada Devan.
"Oh,oke.Dia boleh jadi wasit." kata Devan harus menyetujui saran dari Sebastian yang menatap dirinya dengan tajam.
"Baiklah,sekarang kalian pilih koin untuk memilih untuk tim yang mana untuk mulai lebih dahulu." kata Neo yang berdiri di antara mereka berdua di sekitar barisan tim masing-masing yang sudah menempatkan diri di posisi masing-masing di lapangan.
"Aku pilih gambar garuda." kata Devan tegas.
"Baik, Sebastian kamu gambar orang ya." kata Neo sebagai wasit menengahi keduanya.
"Oke." jawab Sebastian lantang.
Pertandingan pun dimulai dengan keseruan yang disertai keramaian dari para pendukung kedua tim sepak bola SD Wijaya.Dimana Sebastian kini mengambil bola yang di tendang oleh tim Devan ke arah Yosep. Sebastian menggiring bola ke arah depan gawang lalu menendang bola yang langsung masuk ke gawang.
"Gol...! " sorak teman-teman tim Sebastian.
"Ughh.. "
"Satu lawan kosong..! " teriak petugas pencatat gol yaitu Milla temannya Angela.
Devan yang geram bertekad untuk membalas tim sepak bola Sebastian dengan merebut bola di kaki salah seorang dari tim sepak bola lawan di depannya itu lalu mengiring bola ke arah kiri ke arah gawang yang dijaga oleh Gusur.
"Ayo, Devan si pengecut..!" ejek Gusur.
"Eh,kelereng jelek kau bilang apa barusan?!" balas Devan.
"Hei,dilarang mengejek teman...!" teriakan dari Sebastian di sisi lain lapangan.
"Tidak..!"
"Ya..!"
Devan dan Gusur menjawab Sebastian yang kini duduk di lapangan dengan wajahnya pucat dan mengejutkan Marsha dan yang lainnya sampai kedua teman yang ingin bertanding itu berhent dan menghampiri Sebastian.
"Tian,kau kenapa? "tanya Marsha dengan wajah cemas kepada Sebastian.
" A.. Aku.. "jawab Sebastian lemah dan pingsan di pelukan Marsha.
" Tian..! "teriak teman-temannya ramai.
" Udin, cepat kamu gendong Sebastian dan bawa dia pulang ke rumahnya."kata Devan yang telah menyukai Sebastian sebagai teman barunya.
"Iya, Bos kecil." jawab Udin segera menggendong Sebastian lalu berlari ke Kediaman Wijaya.
Disana ternyata Miyochan yang baru saja pulang dari rumah sakit dengan dijemput oleh Pak Udin lain terkejut dengan kedatangan Pak Udin yang membawa Sebastian.
"Ada apa ini? Dia siapa? " tanya Miyochan kaget.
"Oma, dia Sebastian. " jawab Marsha menangis.
"Eh,astaga,kenapa dia pingsan? "tanya Miyochan yang cepat memerintah supirnya untuk antarkan Sebastian ke rumah sakit dengan dirinya yang memeluk anak kecil itu.
" Oma, Aku bagaimana? "tanya Marsha di depan mobil.
" Kau hubungi O'om mu untuk menyusul Oma ke rumah sakit."jawab Miyochan dari dalam mobil kepada Marsha.
"Ya, Oma." Kata Marsha segera berlari ke dalam rumah untuk mengambil HP nya.
Sonya menemani Devan dan yang lainnya yang berkumpul di halaman depan Kediaman Wijaya dan menjamu mereka semua untuk masuk ke ruang tamu.
"Kalian ingin minum apa?" tanya Sonya sopan.
"Apa saja." jawab anak-anak ramai namun sopan kepada Sonya.
Marsha menelepon Edison melalui hpnya namun ia harus bersabar untuk menunggu sampai O'om nya itu suaranya dapat di dengar oleh telinganya dengan lembut.
"📱Marsha ada apa kamu menelepon O'om? "
"📱O'om,Tian jatuh pingsan di lapangan,dan saat ini Oma mengantarkannya ke rumah sakit." jawab Marsha menangis.
"📱Apa? Tenang, Marsha.Tian pasti akan baik- baik saja.Terimakasih ya, sayang.O'om segera ke rumah sakit. Kamu jaga rumah dengan baik ya. "kata Edison lembut.
" 📱Iya, O'om."
Marsha menutup panggilan teleponnya lalu anak itu kembali bergabung dengan teman-temannya di ruang tamu untuk menemani teman-temannya di sana.
*****
PT Wijaya Abadi.
Edison yang mendapatkan berita tersebut telah merapikan semua pekerjaannya dengan cepat lalu bergegas meninggalkan kantornya menuju ke parkiran mobil.
"Oh, Tuhan lindungi anakku.. " batin Edison.
Supir yang mengendarai mobilnya itu dapat lihat kesedihan di wajahnya dari kaca mobil maka ia meminta supirnya untuk mempercepat dalam mengendarai mobilnya agar mereka dapat tiba di rumah sakit dengan cepat.
Di rumah sakit, Elisa cepat menangani Sebastian di ruang IGD dan memeriksa kesehatan anak itu dengan cermat lalu menemui Miyochan di luar ruang IGD.
"Nyonya, jangan cemas Sebastian akan baik- baik saja. " kata Elisa nada menenangkan pada Miyochan.
"Syukurlah, tapi anak itu sakit apa?" tanya wanita tua itu dengan raut wajahnya cemas.
"Dehidrasi." jawab Elisa menenangkannya.
"Oh, lalu kapan dia akan siuman?" tanya Edison yang berlari ke arah ruang IGD kepada Elisa.
"Sebentar lagi juga dia akan siuman, Edison.Tapi, ku sarankan untuk sementara waktu untuk anak mu itu tidak terlalu banyak aktivitas untuk diluar rumah selain sekolah." jawab Elisa.
"Oh,baik, Elisa. Terimakasih banyak." kata Edison menyalami Dokter cantik itu dengan cepat lalu ia menemui Sebastian di ruang pasien setelah ia melihat anaknya telah dipindahkan dari ruang IGD ke ruang pasien.
Bersambung!!