Adakah orang yang hidup tanpa tujuan yang jelas di dunia?
Pastinya orang-orang punya tujuan dalam hidupnya, entah itu untuk mencapai cita-cita, menjadi kaya, menikah, punya anak ataupun mendapatkan sesuatu. Tapi apa jadinya jika ada seseorang yang hidup tanpa tujuan yang jelas?
Di balik bayangan yang dingin seorang tanpa tujuan itu menyembunyikan hidupnya, berjalan ke sana kemari, menganggu dan mengacau kehidupan damai, menjadi bumbu penyedap yang di tambahkan dunia dalam kisah. Awalnya tujuan hidupnya terpampang jelas di sorot mata yang ceria itu seperti orang-orang, tertulis judul manis padanya "Hidup dengan bahagia bersama mereka", tapi sebuah kejadian tak disengaja membuat semua jadi berantakan.
Pada akhirnya dia menyerah memperbaiki piring kehidupannya, lalu memilih berkelana dalam diam, mencari tujuannya yang tak seorang pun tau, bahkan untuk dirinya sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Lia67, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Pagi begitu cerah dan segar untuk memulai hari. Hikazu dengan pakaian rapi nan nyaman nya masuk dengan senyuman lebar yang segar, dibalas senyum hangat oleh orang-orang yang sibuk di dalam tempat itu. Pandangan mereka beralih menyapa kedatangan Hikazu.
"Halo semuanya, aku kembali!" Seru Hikazu dengan senyum lebar yang secerah matahari.
"Kamu dari mana saja."
Yang pertama menyambutnya adalah Ayaka yang terlihat terkejut melihatnya, dia beranjak melangkah mendekati Hikazu. Sesaat Ayaka terlihat suram ketika berdiri sangat dekat di depan Hikazu dengan kepala tertunduk. Tanpa terduga satu tinju melayang keras pada perut Hikazu, membuat pria dengan kemeja putih itu meringis kesakitan.
"Aah..Aduh, aduh. Salah ku apa?" Pekiknya mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang ngilu.
"Salah mu banyak! Kemana saja kamu hampir seminggu ini?!! Kami mencari mu ke mana-mana! Kami khawatir, kamu tau?!!"
"Eh, tunggu Ayaka! Aku bisa jelaskan."
Tersulut emosi tiba-tiba Ayaka tanpa ampun mengejar langkah mundur Hikazu, meninju perutnya terus menerus saat dirinya tidak memberikan perlawanan sedikitpun. Ruangan kantor yang hanya di isi oleh anggota Deeper Stuck itu seketika menjadi ricuh, mereka beranjak serempak dari duduknya untuk menenangkan Ayaka.
"Ehhhh?! Mba, mba, tenang Ayaka. Jangan marah-marah.."
"Ayaka, berhenti. Dengarkan dulu Hikazu bicara."
"Nanti uban mu semakin banyak, Ayaka. Sabar..."
"Ayaka."
Untungnya Ayaka berhasil mereka tenangkan, wanita yang tersulut emosi itu duduk di salah satu kursi dengan lirikan tajam yang lekat memandang Hikazu. Tidak paham dengan apa yang membuat Ayaka marah, Hikazu hanya bisa pelan-pelan mendekatinya.
"Aku ada salah, ya Ayaka?" Wajahnya mendekat dan memelas sambil memanyunkan bibirnya.
Tapi tetap tidak ada balasan dari Ayaka, hatinya masih berkobar-kobar karena amarah yang berapi, lirikannya tajam, membuat Hikazu bungkam dan ciut di tempat. Posisi Hikazu sekarang sepertinya sangat sulit untuk berdamai dengan Ayaka yang benar-benar marah.
"Sudah Hikazu, biarkan dia sendiri dulu. Kamu ikut dengan ku." Azari menghela nafas berat, menarik kerah belakang kemeja Hikazu dengan paksa ikut dengannya. Hikazu pun hanya bisa pasrah, melangkah mundur mengikuti tarikannya.
Di dalam gudang kecil yang di dalam kantor ada satu buah kursi dan meja, begitu berdebu dan suram dengan penerangan lampu yang minim di dalam gudang itu. Banyak kotak berdebu, kertas tua yang menumpuk tersusun rapi di rak-rak.
Sambil menghela nafas kasar Azari melepaskan cengkraman nya dari kerah Hikazu, dia berdiri di depan Hikazu, menyandarkan punggungnya pada tepi meja yang berdebu di tempat itu. Manik mereka bertemu, serius dan dalam.
"Untuk saat ini sepertinya kamu bisa menjelaskannya dengan ku dulu. Ayaka benar-benar marah, kamu bisa saja terbunuh jika terus berdiri di sana tadi."
"Baiklah, aku mengerti." Hikazu mengangguk patuh.
"Kemana saja kamu beberapa hari ini? Tidak ada kabar seperti di telan bumi."
"Aku.. Aku ada urusan."
"Urusan apa? Jangan berbohong Hikazu, aku tau kalau Deeper Stuck memang tidak ada peraturan yang memaksa kita untuk memberitahukan tentang rahasia pribadi. Tapi.." Sebelum melanjutkan Azari kembali menghela nafas berat, maniknya melembut memandang lantai di samping sepatu boots Hikazu.
"Tapi apa yang kamu lakukan di rumah Devang beberapa hari ini? Kami melacak ponsel mu ada di sana beberapa waktu lalu dan buktinya sekarang, ponsel mu tetap ada di tangan mu. Jadi tidak ada alasan kalau ponsel mu hilang. Kalaupun tertinggal, apa yang membuat lokasi mu begitu lama di sana?"
Azari mengangkat kepalanya, semakin lama semakin terdengar seperti curiga di setiap katanya. Terdengar serius dan menginterogasi, tidak memberikan kesempatan untuk Hikazu berpikir untuk berbicara apapun. Dalam Kebingungannya Hikazu hanya sempat menunduk, memasukkan tangannya ke dalam saku coat yang ada ponselnya di dalam.
"Jadi kamu mencurigai ku? Kamu menuduh ku bersekongkol melakukan kejahatan bersama Devang?" Nadanya rendah dan datar, wajahnya tertunduk, bersembunyi di bayangan lampu redup yang ada di belakang Azari.
"Ini hanya sebagai pencegahan, Hikazu. Kamu tau kan kita sedang dalam zona misi, kami hanya berjaga-jaga saja apabila kamu teledor dan membuat misi kita gagal." Suara Azari tiba-tiba begitu lembut dan tenang, membuat siapa saja bisa luluh dan terhipnotis olehnya.
Mau tak mau hati Hikazu ikut terhipnotis ke dalam manipulasi Azari, dadanya terasa sesak, merasa bersalah kerena menyembunyikan sesuatu dari Azari. Namun ada janji yang telah mengikatnya, lagipula menjaga rahasia itu juga ada untungnya bagi Hikazu sendiri.
"Memangnya aku pernah membuat kekacauan dalam misi? Ini urusan pribadi ku, tidak ada sangkut pautnya dengan misi. Jadi kalian tidak udah ikut campur."
Pancaran aura Hikazu yang tajam membuat Azari terdiam tidak dapat membalas apapun lagi. Dia mendengus kasar, kembali menundukkan kepalanya menatap langkah sepatu Hikazu yang berjalan menjauh di lantai. Pria yang diam-diam menyimpan aura nya itu menang kembali seperti biasanya, lebih mendominasi dari siapapun anggota Deeper Stuck.
"Dari pada mengurus hal tidak penting ini, lebih baik kita segera pergi ke pelabuhan untuk mengambil senjata. Aku tidak peduli tentang perasaan kalian itu." Kata-kata itu keluar dengan nada yang sangat dingin.
Tangan kekar di balik lengan coat panjang Hikazu membuka sedikit pintu gudang yang redup, membuat cahaya terang di luar masuk sebagian menerangi bayangan pintu. Dirinya keluar meninggalkan Azari yang masih termenung sambil bersandar di tepi meja. Agak aneh rasanya melihat Hikazu yang biasanya bobrok menjadi tiba-tiba serius dan dingin, tapi itulah aura sesungguhnya dibalik kebobrokan Hikazu dia sembunyikan.
"Ingat Azari, kita di sini hanya rekan, bukan keluarga."
Sebagai anggota kedua terdahulu di Deeper Stuck sudah biasa bagi Azari melihat sifat Hikazu yang bisa tiba-tiba berubah itu. Tapi entah kenapa setiap mendengar Hikazu mengatakan bahwa mereka bukanlah 'keluarga' membuat dirinya geram, entah mengapa bisa begitu. Pasalnya sudah 6 tahun mereka lalui bersama..
"Mau kemana, Hikazu?" Tanya Goro saat melihat Hikazu keluar dari gudang hendak mengambil kunci mobil di atas meja.
"Mengambil senjata ke pelabuhan. Kalau mau ikut cepat berkemas."
Cepat-cepat Hikazu mengemas barangnya, mengambil apapun yang terletak di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas disusul oleh Azari yang baru saja keluar dari gudang. Melihat Azari juga mulai bergegas membuat yang lain ikut tergesa-gesa berkemas, kecuali Ayaka. Dia tetap diam di kursi kerja nya, hanya memandang mereka.
"Misi kode 278? Tapi bagaimana kita masuk ke Vilang?" Tanya Goro lagi sambil menoleh dengan tangan terus mengemasi barang penting ke tas.
Dengan senyuman lebar Hikazu mengangkat sebuah amplop hitam dari saku coatnya, menjepit amplop itu di antara jari telunjuk dan jari tengah. Sungguh cepat Hikazu mengubah ekspresi wajahnya seketika menjadi ramah.
"Aku dapat undangan VVIP dari Kataia."
Dititik itu Azari benar-benar bungkam, dia mulai berpikir tentang apa yang terjadi selama Hikazu menghilang. Itu terpampang jelas pada bukti yang telah dia bawa di tangannya. Semua kecurigaan dalam hati Azari perlahan luluh, kedua sudut bibirnya terangkat lebar memikirkan hal yang diam-diam Hikazu lakukan sendirian.
"Jadi ini kamu maksud? Cih, egois sekali!Jangan melakukan apa-apa sendirian, kami juga ingin membantu sebagai rekan mu." Bisik Azari sambil diam-diam menyikut pinggang Hikazu, senyumnya melebar dan jauh di dalam hatinya senang dengan apa yang Hikazu lakukan.
"Ishh... Sakit!" Hikazu meringis, suaranya hampir berbisik membalas Azari.
"Wahhhh!!! Undangan VVIP! Kamu menyogok Kataia dengan apa sampai bisa mendapatkan ini?" Seru Nichioro kegirangan merebut amplop itu dari sela jari Hikazu, dia menatapnya tidak percaya.
"Yang pasti tidak dengan uang. Jangan-jangan..." Sahut Goro yang mulai berpikir kesana-kemari, dia melirik curiga ke Hikazu yang langsung bisa menebak pikirannya.
"Jangan berpikir macam-macam, aku bukan orang bejat. Dia sendiri yang memberikannya dengan sukarela."
Tawa lepas menggema di dalam ruangan kantor, kedua pria itu merangkul santai tengkuk Hikazu sambil mengacak-acak rambut nya dengan gemas. Setelah selesai berkemas dan hendak pergi, dia menoleh pada Ayaka yang masih duduk termenung di kursinya.
"Kamu mau ikut atau tidak, Ayaka?"
Dalam diam tanpa jawaban, Ayaka beranjak, dirinya terlihat lebih tenang saat mengambil jaketnya dari gantungan baju. Langkahnya perlahan menghampiri Hikazu, mencubit lembut lengan coat pria tinggi itu.
"Maaf karena sudah memarahi mu.."
"Sudahlah. Ini hanya kesalahpahaman, aku tau kamu bisa langsung mengerti." Dengan senyum lebar Hikazu mengacak-acak lembut rambut Azari yang tergerai rapi sampai berantakan.
Di setiap hubungan apapun itu pasti ada konflik, tapi semuanya bisa diselesaikan jika setiap individu dalam hubungan itu bisa mengerti. Sama halnya dengan setiap anggota Deeper Stuck, mereka memang sering bertengkar, tapi semuanya dapat mereka selesaikan bila saling mengerti. Hubungan diantara mereka tidak hanya sebatas rekan yang telah bertahun-tahun bersama.
"Ayo, ayo. Kapal sebentar lagi sampai, kita harus segera pergi."
Beberapa besi ringan melayang di udara, kunci yang melayang Hikazu tangkap dengan gesit dari lemparan Azari. Mereka pun pergi menuju pelabuhan, melakukan tugas yang harus dilakukan sebagai upaya utama untuk menjalankan misi yang harus mereka lakukan.
****************
Di dalam toserba yang ada di tengah kota, Kataia tersenyum dengan gembira duduk di salah satu meja. Gelato dingin yang baru saja keluar dari freezer tersusun rapi di atas mejanya seperti sebuah tembok, menjulang tinggi hingga menutupi wajahnya. Kenikmatan gelato dingin di pagi hari yang memberikan sensasi sejuk dengan cita rasa manisnya langsung meleleh di dalam mulut.
"Masa bodo dengan Zean. Dia tidak akan bisa menemukan ku di sini." Gumam Kataia menambahkan sesendok gelato dingin ke dalam mulut, matanya terpejam menikmati kenikmatannya dengan goyangan gembira.
Saat rasa manis dari gelato baru saja turun dari lidah ke tenggorokannya, seseorang yang Kataia sangat hindari datang berdiri di depannya, merebut cepat wadah gelato yang dia pegang. Ketika Zean di depannya itu berkacak pinggang dan terlihat serius, Kataia memutar bola matanya dengan malas. Sendok gelato masih melekat di mulutnya.
"Nona, sedang apa anda di sini? Anda lupa dengan pekerjaan?" Nada Zean terdengar tegas dan serius berdiri depan Kataia.
"Ah! Sial! Bagaimana bisa kamu menemukan ku?!"
"Lupakan tentang itu, ada pekerjaan yang harus anda selesaikan sekarang di sekitar sini."
Bagaimana Zean tidak mudah untuk menemukannya, bodyguard berotot kekar saja tersusun rapi mengelilingi salah satu meja seperti tembok pelindung. Bukannya tersembunyi malah terlihat mencolok. Pencatatan sejarah mungkin akan menobatkan ini sebagai rencana terbodoh untuk menyembunyikan diri dari Kataia.
"Aaaaahhhhh, Zean! Aku tidak mau! Aku mau jadi pengangguran kaya." Rengek Kataia yang membatu di tempat, bertahan dari seretan Zean yang hendak menariknya beranjak.
"Anda sudah kaya, nona. Ayo cepat! Salah anda sendiri mengambil upah di depan sebelum menyelesaikan pekerjaan."
Tidak berhasil menyeret Kataia tidak membuat Zean kehabisan akal untuk membawa nya. Sendok gelato yang ada di mulut Kataia dia cabut, tangannya yang berotot tanpa ragu mengangkat tubuh mungil Kataia yang tidak seberapa beratnya. Betapa terkejutnya Kataia melayang di udara ketika Zean menggendongnya seperti karung beras di pundak yang bidang.
"Zean! Lepas! Aku mau makan!" Berontak Kataia sekuat tenaga dari gendongan Zean.
"Nanti diperjalanan saya belikan makanan."
"AAAHHH!! GELATO KU TERTINGGAL!"
Jeritan Kataia melengking ketika pandangannya di belakang Zean menunjukkan bahwa gelato nya di biarkan tertinggal begitu saja di atas meja. Semua mata orang-orang melirik ke arah mereka yang mencolok dari dalam toserba hingga keluar. Bahkan bodyguard yang bersusun mengikuti mereka pun tidak mempedulikan akan makanan kesukaan Kataia itu tergeletak di atas meja.
"Nanti saya yang ambil, nona."
Kataia memang bos nya, tidak suka di bantah dan terkadang galak. Tapi jika urusannya tentang pekerjaan Kataia yang menunggak, Zean berani menyeret bosnya itu. Seperti biasa mau tak mau Kataia harus pasrah dengan paksaan Zean yang bahkan berani untuk menyeretnya untuk masuk mobil.
Sesampainya di mobil dengan lembut Zean menurunkan Kataia di kursi penumpang di belakang. Raut wajah wanita itu cemberut, membuang muka terhadap Zean yang melirik dari kaca spion di tengah mobil. Diam-diam Zean tersenyum mengejek ketika mobil mereka mulai berjalan.
"Maaf, nona." Ucap Zean sambil senyum-senyum.
"Cih! Tidak dimaafkan." Ketus Kataia sebal.
Dalam perjalanan hanya di penuhi keheningan hingga mobil mereka berhenti di sebuah halte bus yang terlihat sepi tanpa seorang pun disana. Kataia turun dari mobil tanpa berucap, duduk di kursi tunggu sambil memandang mobil yang dikemudikan Zean itu pergi menghilang entah kemana ke ujung jalan.
"Sepertinya aku perlu asisten baru. Makhluk workaholic itu hampir membuat ku gila, menyebalkan sekali!" Gumam Kataia ketus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan punggung yang bersandar pada kursi tunggu halte bus.
Tidak butuh waktu lama sebuah bus berhenti di depan halte, Kataia berjalan masuk ke dalam dan menempelkan sebuah kartu pada mesin di dekat supir yang menyapa ramah. Bus nya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang saja di dalam. Mobil pun berjalan menuju halte berikutnya.
Hanya seorang wanita muda dengan mini dress sederhana, namun dapat memaku pandangan orang-orang yang terpukau dengan pesonanya yang unik. Langkah kakinya menyusuri badan dalam mobil, berjalan dengan percaya diri memilih duduk pada kursi di samping jendela dibelakang nenek-nenek yang duduk seorang diri di depannya.
"Anu.. Anak muda, apa boleh aku duduk di sini?" Ucap nenek pada Kataia yang melamun menatap keluar jendela.
"Ya, silahkan nek."
Senyuman lebar Kataia mengembang, terlihat manis dan ramah ketika nenek itu mengambil tempat di kursi sampingnya yang kosong. Nampaknya nenek tertarik dengan Kataia, dia terus menatap Kataia yang duduk diam fokus pada jalanan. Dia terpukau pada pesona unik aura nya, wajah cantik dan manis dengan kulit putih pucat di dalam setelan baju serba hitam sederhana yang agak terbuka.
"Kamu cantik sekali." Puji nenek tiba-tiba, masih memandang Kataia.
"Ya?" Kataia menoleh, sedikit tersipu dengan pujian sang nenek.
"Aku bilang kamu cantik sekali dengan baju hitam itu. Siapa nama anak muda?" Tanya nenek mengulurkan tangannya.
"Kataia Otako."
Tangan Kataia menyambut ramah uluran tangan nenek. Namun saat bersentuhan dengan permukaan sarung tangan Kataia, tangan nenek terasa dingin. Memang benar sarung tangan itu terlihat akan menghalangi Kataia merasakannya, tapi kenyataannya tidak, dia bisa merasakan bahwa darah nenek itu jauh dari permukaan kulitnya. Kataia melepaskan perlahan jabat tangan mereka.
"Aduh, sepertinya aku menyukai mu pada pandangan pertama, cantik sekali. Kamu pasti akan cocok jika memakai baju itu." Ucap nenek tak melepas sedikitpun pandangannya dari Kataia.
Bingung dengan apa yang nenek bicarakan, Kataia memiringkan kepalanya, tersenyum canggung antara bingung dan tersipu malu dengan pujian yang terus nenek itu lontarkan. Tidak ada kata yang bisa terucap, dia kebingungan, untungnya nenek dapat memahami kebingungan Kataia terhadap perkataannya.
"Aku seorang alumni pendidikan desainer sewaktu muda. Bertahun-tahun aku mencari orang yang cocok untuk mengenakan baju putih khusus yang aku desain. Sekarang aku menemukan Kataia yang sangat cocok untuk mengenakannya."
Memahami akan kekaguman nenek terhadap dirinya, Kataia hanya bisa membalasnya dengan senyuman ramah, diam-diam berbangga diri di dalam hati karena pujian sang nenek. Senyuman tulus dari nenek itu membuatnya sedih, terharu dan senang secara bersamaan, auranya sangat akrab namun terasa jauh.
"Terima kasih untuk pujiannya, nek." Kataia sedikit menghela nafas dengan senyuman yang masih lekat, menunduk menatap paha ramping nya yang terbuka di bawah dress hitam mini nya. "Tapi sepertinya aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Namun Kataia tidak lagi bersuara, hanya diam dalam posisi menunduk dengan wajah tersenyum getirnya. Sungguh terheran nenek dengan sikap Kataia, jadi dia tidak lanjut menanyakan itu. Nenek itu sangat baik, bahkan terlihat jelas pada tampang senyumnya yang tulus, seorang nenek baik hati dengan semua rambutnya yang sudah memutih.
Beberapa waktu berlalu, bus berhenti pada halte berikutnya untuk beberapa saat dan berjalan kembali. Papan hologram menunjukkan pemberhentian berikutnya dilayar ketika halte berikutnya sudah di depan. Tangan ramping Kataia meraih cepat menekan tombol merah di samping jendela, lalu duduk kembali dengan tenang menunggu bus berhenti.
"Kamu berhenti di sini, Kataia?" Tanya nenek dengan suara lembutnya.
"Iya, aku turun di sini mau mengantarkan seseorang. Sekali lagi terima kasih karena sudah mengajak ku mengobrol. Sampai jumpa lagi, nek." Kataia tersenyum tipis saat beranjak dari duduknya.
"Seharusnya aku yang bilang begitu. Berhati-hatilah pulang sendirian, Kataia. Pemberhentian ku masih di halte terakhir."
Namun ketika bus telah berhenti tepat di depan halte pemberhentian Kataia, firasat nenek tiba-tiba saja terasa tidak enak, dia termenung memandang luar jendela. Sebelum pergi Kataia tersenyum lembut lagi, begitu berat dan kaku langkahnya ketika turun dan menginjak aspal.
Setelah beberapa penumpang naik dan ada yang turun, bus itu kembali berjalan, melaju di jalan raya Tokyo yang ramai. Namun belum jauh bus itu melaju pergi, ban nya meledak, kemudi pun lepas kendali di jalan raya yang ramai. Orang-orang histeris ketika melihat bus itu bersusah payah menstabilkan kemudi nya kembali. Namun, sesuatu yang lain terjadi.
...BRAKK...
Kecelakaan pun tidak dapat di hindari, bus itu tidak dapat menstabilkan kemudi nya yang ugal-ugalan karena ban yang tiba-tiba meledak saat mereka melaju. Badan bus yang sudah rebah di jalanan seketika di kerumuni oleh orang-orang, ramai-ramai mereka mengevakuasi para penumpang di dalam bus.
Sementara kejadian itu terjadi tidak jauh dari halte, Kataia hanya diam di halte pemberhentiannya, tersenyum tipis sambil menatap beberapa amplop hitam yang terbakar di tangannya. Senyum Kataia sedikit sayu dan lesu, duduk dalam diam selama beberapa waktu.
Sesekali matanya melirik ke arah keramaian orang yang membantu pda kecelakaan bus, hingga pada akhirnya mobil yang sebelumnya Zean kemudikan berhenti di depannya. Kaca mobil terbuka, memperlihatkan wajah Zean yang serius melihat orang-orang panik di depan mereka.
"Sudah selesai, kan untuk hari ini?"
Ketika Kataia menutup pintu mobil dan duduk dengan benar di dalam mobil, Zean melirik dari kaca spion, melihat Kataia yang memandang jauh ke luar jendela sampingnya. Matanya kosong, lesu dan sayu dalam keheningan sesaat.
"Masih ada beberapa. Tapi anda kelihatannya lelah, nona. Anda tidak apa-apa?"
"Aku baik. Hanya saja... Sangat kasian pada orang-orang itu."
"Kenapa?"
"Tidak ada orang jahat, rasanya sayang sekali mereka harus aku antar." Kataia sedikit tersenyum getir sambil masih memandang jendela di sampingnya, menghindari tatapan Zean yang penasaran.
Tidak lagi bicara Zean fokus mengemudi, membiarkan Kataia menikmati waktu heningnya sejenak di kursi penumpang di belakang. Jalanan begitu ramai, mobil-mobil berlalu lalang di samping mereka. Bahkan saat melewati jembatan ada begitu banyak kapal yang berdatangan di pelabuhan dari kejauhan, sungguh pemandangan yang cukup indah di siang hari itu.
"Kamu membawa gelato ku tadi, kan?" Kataia teringat, mata nya tiba-tiba melotot sambil mencondongkan badannya ke depan.
"Sudah, nona. Sudah... Saya bawa semuanya."
Sambil menghela nafas pelan, Zean menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Betapa pedulinya majikan itu pada makanan kesukaannya, bahkan melebihi kepedulian pada makhluk hidup. Memang aneh, tapi memang kenyataannya begitu.
Makanan kesukaan Kataia yang paling berharga itu tidak boleh ada satupun yang disia-siakan. Itulah yang membuat Zean jera ketika beberapa tahun yang lalu pernah membuang es gelato Kataia ke sungai, wanita itu bahkan tega menyuruhnya menyelam menyelamatkan gelato itu yang sudah larut di sungai walaupun usaha itu ujungnya sia-sia. Hasilnya Zean menjadi musuh Kataia selama berminggu-minggu setelah kejadian itu. Kejadian waktu itu menjadi pelajaran, membuat Zean sangat berhati-hati pada semua hal kesukaan Kataia.
"Oh iya, Zean. Kita mampir ke perusahaan dulu. Aku sudah lama tidak mampir."
"Baik, nona."
Permintaan Kataia langsung Zean kabulkan, dia putar balik arah kemudi nya menuju ke tempat tujuan yang Kataia inginkan saat itu juga. Mobil melaju dengan cepat, berhenti pada sebuah gedung tinggi dan besar di sana. Sebelum Kataia membuka pintu mobil, sejumlah bodyguard keluar dari mobil lain yang sebelumnya mengikuti dari kejauhan.
Mereka mengelilinginya seperti tembok, tersusun rapi menutup pandangan orang-orang terhadap Kataia yang berada tengah-tengah mereka. Semua mata tercengang memandang kedatangan seseorang yang terlihat heboh, namun bisa di bilang ini adalah hal biasa yang tidak biasa di Grize.
Langkah Kataia berjalan dengan penuh percaya diri memasuki lift khusus di ikuti oleh Zean di sisinya. Sementara pada bodyguard mengantarkannya hanya sampai di depan lift, mereka menjaga pandangan orang-orang dari Kataia hingga lift itu tertutup dan naik ke lantai atas yang menjadi tempat tujuan.
"Silahkan masuk, nona."
Di depan pintu sebuah ruangan yang sangat besar Amayara sudah menunggu di sana, menahan pintunya hingga Kataia dan Zean masuk ke dalam. Setelah mereka masuk, dia mengikuti langkahnya dan berdiri tegak di sisi Zean yang juga berdiri di samping kursi kerja tempat Kataia duduk.
"Aduh, banyak juga, ya? Aku tidak menyangka akan sebanyak ini berkas yang tertumpuk meminta tanda tangan ku." Keluh nya mengambil stempel nama di atas meja, lalu mulai menandatangani tumpukan kertas tebal yang terdapat tepat di tengah meja.
"Nona sudah 2 bulan tidak ke perusahaan, tentu saja semuanya menumpuk. Bahkan para manager sampai mengeluh karena anda tidak kunjung menandatangani persetujuan proposal mereka." Tukas Amayara cepat, namun langsung sikut oleh Zean yang ada di sampingnya.
"Jadi kamu mengomeli ku dan menuduh ku bermalas-malasan?"
Walaupun terdengar seperti sarkasme suara Kataia tetap tenang, pandangannya masih tidak teralih dari kertas yang tertumpuk dengan tangan yang terus mencap di setiap lembar kertas. Setelah Kataia mengatakan itu mereka hening, tidak ada sahutan apapun yang keluar sementara Kataia juga nampak acuh tak acuh dengan senyuman tipisnya.
Saat masih sibuknya mencap kertas yang ada di depannya, ponsel di saku Zean tiba-tiba bergetar, berdering cukup nyaring menggema di ruang besar itu. Sejenak matanya melihat nama yang tertera di layar setelah ponsel dia keluarkan dari saku, lalu menyodorkannya pada Kataia yang masih sibuk.
"Nona, tuan Hikazu."
Layar itu Kataia geser dan dia letakkan di atas meja dengan speaker yang menyala. Namun dari seberang ponsel terdengar hening, membuat Kataia yang sebelumnya acuh tak acuh menghiraukannya. Dia mengangkat ponsel itu dan mengarahkannya tepat di depan mulut.
"Oy! Yang menelpon ini setan atau manusia? Mana suara mu?" Celetuk Kataia terdengar ketus.
"Kamu sendiri kenapa tidak bersuara? Setidaknya berikan sapaan saat orang menelpon." Sahut Hikazu tidak mau kalah juga dalam perdebatan.
"Kan kamu yang ada perlu dengan ku, kenapa harus aku yang menyapa duluan?"
"Ck! Sudah, sudah! Kamu dimana?" Decak Hikazu terdengar sebal dari seberang telpon.
"Memangnya kenapa?"
"Beritahu saja, aku ingin bicara dengan mu."
"Ini sudah bicara dengan ku. Kenapa tidak di sini saja?"
Helaan nafas berat Hikazu berhembus di udara dingin pada sebuah pelabuhan, dia menggaruk keningnya frustasi. Perasaan frustasi, kesal, jengkelnya menjadi perpaduan yang sempurna saat itu. Tapi dengan kesabaran yang tersisa dia menghela nafas pelan sekali lagi, melembutkan suaranya saat berbicara kembali di telpon.
"Kamu dimana, Kataia?" Susah payah Hikazu menstabilkan suaranya.
Mendengar suara deep voice Hikazu yang lembut membuat Kataia sedikit tersenyum, hatinya terasa senang karena sikap Hikazu itu. Bukan karena terharu atau apa, tapi karena dia sadar kalau pada waktu itu Hikazu bersusah payah mengalah pada nya. Artinya ini adalah kemenangan awal bagi Kataia mengalahkan Hikazu.
"Aku di Grize."
Kedua sudut bibirnya naik sangat tinggi dengan kedua tangan yang menyanggah di atas meja sambil memegangi ponsel, membuat Zean dan Amayara saling lirik dengan alis yang turun naik memberikan kode pada satu sama lain.
"Aku ke sana sekarang, jangan kemana-mana."
"Oke, Zean dan Amayara nanti aku suruh menunggu mu di depan pintu perusahaan. Waktunya hanya 5 menit, kalau lebih aku pulang."
"GILA!" Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Hikazu dengan decak kan kesal yang menjadi penutup.
Kaka kalau gak sempat baca jangan di kasih like...
please
aku mampir niih