Kebaikan, kecantikan dan ke pintaran tak akan ada gunanya jika kita hidup dari keluarga sederhana!
Ya, kita akan terus saja di hina karena kita tak bisa setara dengan mereka yang punya akan segalanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
-Perusahaan D'N Corp.
Usai pertemuan dengan para direksi, Leon bergegas ke ruangannya bersama dengan Ayah dan Fandi.
"Bagaimana Leon, apa kamu sudah menemukan keluarga korban tabrak lari itu?" tanya sang Ayah.
"Belum, tapi katanya Putri semata wayang nya tinggal di Kota ini dan bahkan kuliah disini. Saat ini masih di cari, Ayah" jawab Leon.
Huh.
"Baguslah, seenggak nya kita tanggung jawab meski bukan kita yang menabrak nya" ucap Ayah membuang nafas kasar.
Lalu ketiga nya membahas kembali pekerjaan, sebelum nanti nya mereka akan makan lebih dulu sebelum meeting kembali.
Ting.
Ponsel sang Ayah berdenting, Leon menghentikan lebih dulu ucapannya.
"Ayo lanjut, Ibu, Adik serta Bibi mu akan ke Rumah temannya Kila. Mereka juga akan makan malam disana" jelas Ayah saat mengerti tatapan sang Putra.
Lalu Leon berbicara kembali dengan sesekali Fandi pun ikut menjelaskan.
🦋
Adel pulang ke Rumah dengan tergesa, pasal nya dia baru saja membuka chat dari Kila yang sudah menunggu nya di depan Rumah.
"Maaf lama ya Tante" ucap Adel tak enak pada Ibu Kila.
"Tidak apa Nak, kami juga baru saja tiba" balas Ibu dengan lembut.
Adel lalu membawa mereka semua untuk masuk, dia menyuruh nya menunggu di ruang tamu dan Adel sendiri akan membuat minuman.
Kila ikut membantu Adel, hingga di ruang tamu hanya ada Ibu dan Audrey sang Adik ipar.
"Enak ya Mbak, suasana nya sejuk dan Rumah nya rapi" celetuk Audrey.
"Hemm, kamu benar Drey. Dan tetangga nya juga cuek gak modelan tetangga kita yang demen gosip" timpal Ibu terkekeh.
Lalu kedua nya terkikik geli, karena memang itu adalah fakta nya.
Adel datang dengan nampan berisi minuman, sedangkan Kila sendiri datang membawa camilan yang memang sering Adel buat.
"Silahkan Tante, Mbak" ucap Adel sopan.
"Terimakasih, sayang" balas Audrey.
Ke empat wanita beda generasi itu pun menikmati senja dengan camilan dan minuman yang cukup menyegarkan.
Bahkan Bunda Nia sangat menyukai teh hijau buatan Adel.
"Besok kamu gak nerima pesanan, Nak?" tanya Bunda Nia, Bunda nya Kila.
"Tidak Tante, aku besok jadwal full dan ada beberapa tugas yang harus selesai. Soal nya aku gak ada laptop jadi harus pergi ke warnot dulu" jelas Adel ramah
Puk.
"Aku lupa" celetuk Kila menepuk kening nya sendiri.
Aunty Audrey pun menggelengkan kepala nya dengan wajah gemas akan sikap sang ponakan.
"Abang aku punya beberapa laptop gak kepake, nah aku cerita kemarin bahwa kami butuh dan dia ngasih 1 buat kamu. Asal nanti nya kamu mau magang di perusahaan Abang" jelas Kila dengan santai.
Hah.
"Gak usah deh Kil, nanti aku tak enak lagi" tolak Adel dengan halus.
Emm.
"Udahlah aku marah, males sama orang yang gak mau nerima apa yang aku kasih. Padahal aku niat bantu loh, kamu kalau ada tugas mendadak gimana? Repot kan"
"Belum lagi nanti harus kuliah offline dan ada zoom"
Kila terus saja menggerutu dengan kesal, hingga pada akhir nya Adel menerima karena tak enak pada Kila dan juga ia setuju dengan ucapan Kila yang pasti akan ada tugas mendadak.
Dan pada akhir nya Kila pun tertawa kecil bahagia, dia sudah menganggap Adel seperti kakak nya sendiri walaupun usia nya tak jauh beda.
Setelah puas berbincang, Adel pamit untuk menyiapkan makan malam.
Dan tentu saja Kila akan membantu nya, dan melarang sang Bunda serta Aunty nya untuk membantu.
"Mbak, bisa kali dia jadi calon mantu mu" bisik Audrey dengan terkekeh.
"Kau benar, aku akan bahagia jika memang Leon mau dengan Adel" balas Bunda Nia.
Kedua nya tertawa pelan, mereka terus saja berbincang dengan masih menikmati camilan buatan Adel.
Hingga tak berapa lama kemudian, suara mesin mobil berhenti di halaman Rumah Adel.
Adel yang mengira itu adalah sang Paman pun langsung saja ke depan,
Namun,
Hah.
"Siapa mereka" gumam Adel bingung.
Lalu Bunda Nia keluar dari Rumah, dia tersenyum saat melihat wajah bengong Adel.
"Dia Ayah nya Kila, itu Abang nya Kila dan itu Om nya Kila, Suami dari Audrey" jelas Bunda Nia.
Ehh.
Adel langsung tergagap dengan wajah lucu nya, dia lalu menganggukan kepala dengan kikuk.
"Adel kira tadi suara mobil Paman, soalnya Paman juga akan kesini"
"Ayo masuk" ajak Adel dengan ramah.
Ayah , Leon dan Fandi pun bergegas masuk.
Mereka langsung saja menuju ke ruang makan yang disana sudah ada Kila dan Audrey.
"Ehemm seperti nya ini makanan lezat ya" ucap Ayah dengan berbinar.
Semua nya duduk, bahkan dengan sengaja Kila menyuruh Adel duduk di samping Abang nya, Leon.
"Maaf ya, ini semua permintaan Kila yang ingin makan masakan kampung" jelas Adel tak enak.
"Tidak apa Nak, kami tak pernah pilih makanan kecuali memang di antara kami ada yang alergi" balas Ayah santai.
Lalu mereka memulai makan dengan hening, hingga Audrey menyadari bahwa Suami nya terus saja menatap pada Adel.
"Kenapa?" tanya Audrey.
Huh.
"Nanti saja setelah makan"
"Ohh iya Adel, setelah makan selesai boleh kami berbicara yang cukup serius?" tanya Fandi yang mana membuat yang ada disana bingung.
"Boleh" jawab Adel gugup.
Makanan yang Adel hidangkan habis tak tersisa, bahkan Bunda dan Audrey yang akan membantu Adel membereskan bekas makan mereka.
*
Disinilah mereka berada, di ruang tamu yang cukup sederhana.
Fandi sendiri tadi sudah menjelaskan apa yang akan ia jelaskan pada Adel malam ini,
Dan hal itu membuat Ayah serta Leon sangat kaget.
"Ada apa ya? Apa Adel buat kesalahan?" tanya Adel hati-hati.
Huh.
Leon membuang nafas kasar, dia lalu menatap Adel dengan dalam.
"Apa benar Ibu kamu meninggal setelah tertabrak di kampung x?" tanya Leon pelan.
Deg.
"Ba bagaimana kalian tau?" lirih Adel berkaca-kaca.
"Maaf, kami datang terlambat untuk bertanggung jawab. Meski bukan kami yang menabrak nya, dia adalah pekerja proyek yang membawa uang saya kabur" jelas Leon.
"Saat saya dan Fandi akan ke rumah duka, di saat itu pula Bunda masuk rumah sakit. Dan hingga saat keadaan sudah stabil, kami kehilangan jejak kalian" lanjut Leon.
Hufh.
Adel membuang nafas kasar, dia menekan dada nya yang cukup sesak.
Kila bahkan memeluk Adel untuk menguatkan, dia juga tak menyangka akan semua ini.
"Saya sudah memaafkan kalian, saya juga pernah mendengar dari Pak Rt bahwa kalian akan tanggung jawab, tapi saya tidak terlalu fokus akan hal itu"
"Semua juga sudah terjadi dan Ibu juga sudah bahagia bersama dengan Bapak"
"Mohon jangan di ungkit lagi, dan mohon doakan saja Ibu saya"
Adel berucap dengan sangat bijak, dia memang tak terlalu fokus akan akibat sang Ibu yang meninggal dalam waktu cepat.
Mereka yang ada disana menghela nafas lega, lalu Bunda pun memeluk Adel dengan hangat.
.
.
.
.
🤣🤣🤣