Jangan lupa bintang 5 untuk ulasan ya.. Terimakasih
Revisi selesai.
Ghazi Akbar, harus merelakan kepergian tragis istrinya, Gayatri, yang meninggal saat melahirkan anak pertama mereka. Hal tersebut membuat hidup Ghazi yang selama ini bahagia berubah suram.
Tak tega melihat keadaan menantu dan cucu tak terawat membuat mertuanya memberikan ide untuk Ghazi menikah kembali dengan adik Gayatri, Adhisty.
Di sisi lain, Adhisty yang terpaksa menuruti keinginan kedua orang tuanya. Dia yang iba terhadap keponakan yang baru lahir akhirnya menuruti kemauan kedua orang tuanya.
Ghazi yang awalnya menolak dan setelah berpikir panjang, dia pun menerima keputusan itu.
Bagaimanakah perjalanan rumah tangga mereka?
Ikuti yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Charra Patta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Mencari Tahu [R]
Malam itu, Ghazi baru memeriksa gawainya dan melihat sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Dia membuka pesan itu dan tampaklah beberapa foto Gayatri yang berada di sebuah kl*b malam. Namun, dalam foto itu, Gayatri terlihat lebih muda daripada saat menikah dengannya. Dia memanggil Adhisty yang saat ini tengah menidurkan Ganesha.
“Dhis, sini bentar, deh.” Ghazi mendekat karena ternyata si kecil belum lelap.
“Ada apa, Kak?” tanya Adhisty.
“Coba kamu perhatikan foto ini deh, itu Gayatri umur berapa ya?” tanya Ghazi.
Adhisty memperhatikan foto kakaknya yang ada di ponsel suaminya. Dia mengingat-ingat kapan terakhir kali Ge memiliki rambut sependek itu.
“Ah, iya, Kak. Dia sedang kuliah di luar kota itu,” ungkap Adhisty.
“Memang dia suka keluar malam?” Ghazi mencoba mengorek informasi.
“Gak tau, Kak. Saat dia kuliah di luar kota itu dia jarang dengan alasan sibuk kuliah. Jadi ayah dan ibu tidak terlalu mengekangnya.” Adhisty menjawab seingatnya.
“Di rumahmu apakah ada foto-foto milik Gayatri saat kuliah?” korek Ghazi lagi.
“Mungkin sih, aku jarang masuk kamarnya. Paling cuma membersihkan aja,” jawab Adhisty.
“Ya udah besok kita ke sana, ya. Mumpung besok Minggu,” ajak Ghazi.
“Ya, tapi beli car seat dulu biar lebih nyaman bawa si kecil.”
oOo
Keesokan paginya, setelah dia merawat sang putra, dia meminta Ghazi untuk menjaga agar dia bisa mandi dan berkemas. Satu jam kemudian, mereka telah siap untuk berbelanja car seat untuk si kecil dan selesai berbelanja, mereka pulang menuju kediaman orang tua Adhisty untuk mengunjungi kamar Gayatri.
Ghazi memutuskan untuk berbincang dengan ayah mertuanya dan Ganesha dibawanya agar Adhisty bisa lebih leluasa untuk mengambil barang-barang milik Ge. Sementara Adhisty sudah berada di kamar Gayatri yang sudah lama tidak ditempati, tetapi masih sering dibersihkan untuk menghindari debu atau penunggu yang datang karena kosong.
Dia mulai memeriksa di bawah ranjang karena di sana terdapat beberapa kardus. Dia mengambil masker untuk menutup hidung dan mulutnya agar terhindar dari debu. Pelan-pelan dia buka dan mengeluarkan barang-barang yang menurutnya berguna untuk Ghazi. Di sana terdapat sebuah buku berupa diary, tetapi dia merasa lancang jika dia membaca buku tersebut. Biar suaminya saja yang membaca, dia hanya mempersiapkan barang yang akan diambil.
Kemudian di sana ada album foto berisi gambar Gayatri saat berada di masa kuliah. Sepertinya kardus yang ada di bawah ranjang ini berasal dari saat kuliah. Di sana, kakaknya terlihat sangat bahagia bersama teman-temannya dan ada beberapa orang lelaki yang posenya intim menurut Adhisty. Dia menutup album itu dan melanjutkan pencarian.
Kardus paling dasar, terdapat sebuah kotak besi kecil, tetapi dia kesulitan membuka karena terkena karatnya. Dia sisihkan kotak itu dan mencari foto-foto atau buku lagi. Dia menemukan lagi buku kelulusan yang bercampur juga foto saat wisuda Gayatri bersama teman-temannya dan kedua orang tua. Dia teringat momen itu, karena bertepatan dengan hari dia ujian SMA dan dia tidak bisa hadir karena wisudanya di luar kota. Saat itu dia ditinggal sendirian di rumah, hanya bersama art.
“Hah, jadi inget masa lalu, deh,” ucapnya sedih.
Dia membongkar kardus kedua dan ketiga, hanya dapat menemukan sedikit dua album foto saat SMA. Sisanya hanya foto-foto cantik hasil photobox. Dia menepikan album foto bersama buku diary yang tadi sudah dia sisihkan. Sekarang dia pergi ke dapur untuk mengambil pisau yang akan dia gunakan membuka kotak besi kecil.
Dengan sedikit usaha yang lebih keras, akhirnya Adhisty berhasil membuka kotak tersebut. Di sana terdapat surat-surat cinta dari entah kapan, dia tidak ingin menduga. Segera dia letakkan barang-barang yang sudah dia sisihkan dalam kardus yang kosong agar memudahkan Ghazi membawanya.
Setelah itu dia membawa kardus itu ke kamarnya dan menutup kamar Gayatri.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pun pamit dengan alasan akan mengajak si kecil jalan-jalan. Mereka pun menuju ke rumah milik Ghazi untuk meletakkan barang-barang milik Gayatri di sana. Tentunya, juga lebih mudah memeriksa tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Agar orang tuanya tidak berpikir bahwa dia masih belum mengikhlaskan Ge.
Namun, yang menjadi tanda tanya besar di hati Ghazi adalah siapa yang mengirimkan foto-foto tersebut dan memiliki tujuan apa?
oOo
“Jadi, kapan Kakak akan mulai mencari tahu tentang foto-foto itu?” tanya Adhisty ketika mereka sudah pulang kembali ke rumah Hasyim.
“Nanti aku akan meminta bantuan temanku agar bisa mempersempit kemungkinan. Karena kita tidak tahu siapa dia dan apa tujuannya.” Ghazi masih memikirkan bagaimana caranya.
“Baiklah, nanti jika memang butuh bantuanku, bilang aja, ya.” Adhisty lalu memilih untuk tidur menemani sang putra.
Sementara Ghazi masih berkutat dengan diary milik Gayatri yang dia bawa tadi karena ingin mengetahui apa yang ada di pikiran wanita itu sebelum bertemu dengannya. Dia meminjam ruang kerja ayahnya untuk memulai membaca dari halaman pertama.
Beberapa jam kemudian, dia telah membaca hampir setengah diary itu dan berkesimpulan bahwa Gayatri selama ini sengaja memilih kuliah di luar kota. Alasannya adalah dia menghindari keluarganya. Memang dia mendapatkan apa pun yang dia inginkan sehingga itu membuat adiknya tersisihkan. Itu salah satu alasan dia pergi, agar adiknya mendapatkan perhatian dari ayah dan ibunya. Dia tahu Adhisty banyak menderita karena hanya sedikit keinginannya yang terkabul oleh ayahnya.
Ge pernah mendengar ayah dan ibunya bertengkar tentang Adhisty. Bahwa mereka belum siap secara finansial untuk memiliki anak kedua sehingga ayahnya kurang suka terhadap keberadaan adiknya.
Siapa yang tidak akan sakit hati jika diperlakukan tidak adil seperti itu. Ge merasakan hal tersebut akan sangat menyakiti hati adiknya maka dari itu dia memilih kuliah di luar kota. Namun, nyatanya itu tidak mengubah perlakuan sang ayah terhadap adiknya. Saat dia kembali, Adhisty terlihat bahagia meski dia tahu, gadis itu menyembunyikan kesedihannya.
Ghazi menutup diary itu dan merasa bersalah dalam memperlakukan Adhisty seenaknya. Dia teringat ucapan ayahnya sebelum mereka menikah. Ya, dia merasa dirinya adalah manusia paling brengsek saat ini. Memanfaatkan seorang gadis yang sudah banyak berkorban untuk masa depannya.
“Maafkan aku, Dhis,” ucap Ghazi pelan.
Dia kembali ke kamarnya dan menggeser posisi putranya di sisi paling kiri dan dia menggeser Adhisty yang sudah tidur lelap untuk ke tengah. Agar dia bisa tidur di sisi kanan dan memeluk istrinya.
Bagaimana terkejutnya Adhisty ketika mengetahui bahwa suaminya tidur semalaman memeluk dirinya?
lanjut Thor crazy up
Author mengucapkan terima kasih banyak untuk kesediaannya membaca hingga bab ini.
Namun, untuk sementara author meminta maaf jika belum bisa update bab terbaru dikarenakan terdapat saran revisi dari editor.
Alur cerita tetap hanya sedikit perubahan di beberapa bab.
Terima kasih sudah mengikuti cerita author