Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Arunika

Kinan berdiri di depan meja petugas perpustakaan kampus, menunggu proses peminjaman selesai. Usai tuntas, Ia membawa lima buku tebal bersampul kusam yang ia dekap erat di dada. Sembari melangkah keluar menuju ruang dosen pembimbing, fokusnya terbagi antara melangkah pelan menyusuri jalan setapak dan memeriksa notifikasi di layar ponsel.

“Nanti kamu bisa temui ibu di ruangan biasanya jam sepuluh pagi. Mungkin ibu tidak bisa lama, hanya sekitar setengah jam saja.”

Pesan dari Bu Tari sebenarnya sudah masuk setengah jam lalu, namun baru sempat Kinan baca. Matanya membelalak kaget begitu melihat jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 09.58. Kinan seketika panik dan tergesa-gesa mempercepat langkah kakinya.

Namun, saat hendak berbelok menuju area koridor fakultas, tumit sepatu Kinan terpeleset di lantai yang sedikit basah dan licin. Ia tak sempat lagi mengatur keseimbangannya.

Bruk!

Tubuhnya menghantam lantai cukup keras. Buku-buku yang sedari tadi ia jaga terlepas dari pelukannya, berserakan hingga ke tengah jalan. Kinan terduduk kaku, napasnya tersengal akibat syok dan rasa nyeri yang menjalar di pergelangan kakinya.

Wajahnya merona merah karena malu saat menyadari beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh ke arahnya. Sayangnya, tak ada satu pun dari mereka yang bergerak untuk membantu, bahkan sekedar mengambil buku yang berserakan di depan mata.

Menahan rasa malu dan ngilu, Kinan buru-buru merangkak kecil untuk mengambil buku-bukunya. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki pelan mendekat. Seseorang berjongkok di sampingnya tanpa sepatah kata, lalu meraih salah satu buku yang terlempar paling jauh dari jangkauan Kinan.

Kinan perlahan mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan wajah yang sangat tak asing baginya. Jantungnya seketika berdebar kencang tak tentu arah begitu sepasang mata cowok itu menatap tajam ke arahnya. Kinan mendadak bingung, apakah debaran ini karena ia baru saja terjatuh, atau karena sosok yang kini ada tepat di depan matanya.

“Te-terima kasih,” gumam Kinan sembari berusaha untuk bangkit berdiri.

Nathan ikut berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan satu buku di tangannya kepada Kinan. Nathan hanya mengangguk pelan merespons ucapan terima kasih tersebut saat pandangan mereka kembali bertemu.

Tanpa menoleh lagi, Nathan langsung melangkah pergi begitu saja. Tatapan Kinan terpaku, matanya terus mengekor punggung Nathan yang perlahan menjauh.

Kehadiran cowok itu meninggalkan jejak dingin yang aneh, namun entah mengapa justru membuat Kinan tak kuasa untuk berpaling. Sesaat kemudian, ia tersentak dari lamunannya begitu teringat bahwa dirinya sedang dikejar waktu untuk menemui Bu Tari.

Sore harinya, Kinan duduk berhadapan dengan Alya dan Mika di salah bangku foodcourt yang menghadap deretan toko. Suasana di dalam mall saat itu cukup ramai oleh lalu-lalang pengunjung, namun tak sampai mengganggu obrolan mereka.

Piring-piring makanan dan gelas minuman di meja sudah bersih tak tersisa, menyisakan gelak tawa dan obrolan santai di antara ketiga sahabat itu.

“Kayaknya aku harus makin sering olahraga deh, Al,” ucap Mika sembari memegang lipatan lemak di perutnya. “Gak bisa dibiarin terus ini.”

“Kan aku udah sering ngajak kamu buat lari pagi pas hari Minggu. Tapi katamu gak pernah bisa buat bangun pagi. Ada aja alesannya,” gerutu Alya.

“Mau gimana lagi, hari Minggu emang paling enak buat rebahan seharian di kasur. Lagian capek juga kalo lari-lari.”

“Ya kalo capek kan bisa jalan santai, gak harus terus lari juga. Yang penting mau gerak badan!” balas Alya gemas.

“Nah, kalo itu aku setuju! Ayo Minggu nanti kita jalan-jalan ke CFD, olahraga sekalian beli-beli jajan. Kan bagus dua-duanya,” celoteh Mika penuh alibi pembelaannya.

“Itu mah gak sebanding! Bakal banyak makannya ketimbang jalannya. Yang ada tuh perut jadi makin gede.”

“Loh, itu yang namanya seimbang, Alya. Ada kalori yang dibakar, ada makanan juga yang masuk ke perut,” kekeh Mika.

Alya dan Mika masih saling berdebat seru, sementara pikiran Kinan justru sedang tak berada di tempat. Entah masih tertambat pada momen memalukan sekaligus mendebarkan saat terjatuh di kampus tadi siang, atau karena hal lain.

Mika yang peka dengan perubahan sikap Kinan, mendadak berhenti berdebat dengan Alya. Ia menyipitkan matanya sambil menyeringai usil ke arah temannya itu. “Hayooo, Kin... lagi mikiran siapa tuh? Dari tadi diem aja, lho.”

Kinan tersentak, ekspresinya mendadak linglung usai terdistraksi dari lamunannya.

“Muka bengong kayak gitu, fix kamu pasti lagi kasmaran sih! Hayo ngaku, ya kan?” goda Mika dengan mata berbinar.

Alya ikut tertawa kecil melihat raut salah tingkah Kinan, lalu menepuk pelan pundaknya. “Nah loh, jangan-jangan kamu emang lagi jatuh cinta nih, Kin. Ayo, cerita dong!”

Kinan menggeleng cepat demi menepis dugaan konyol mereka, walau semburat merah di pipinya tak bisa berbohong.

“Cerita aja sama kita, dijamin aman kok. Ya kan, Al?” bujuk Mika sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.

“Bener, Kin. Cerita aja. Kali aja bisa kita bantu,” tambah Alya mengangguk setuju.

“Gak. Gak ada yang lagi kasmaran. Aku cuman lagi kepikiran soal tugas aja,” bantah Kinan sembari membuang muka.

Mika mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, ekspresinya dipenuhi kecurigaan jenaka. “Tugas apa yang bisa membuat wajahmu semerah itu, hmm? Coba cerita aja, siapa sih cowok paling beruntung di dunia ini yang bakal mendapatkan seluruh hati dan cinta dari Mbak Kinan kita ini?”

“Gak. Gak ada,” potong Kinan panik.

“Bener tuh kata Mika, Kin. Kita kan udah dari lama jadi sahabat bagaikan kepompong. Ceritalah, janji deh gak bakal kesebar,” timpal Alya dengan nada lembut sembari menggoyangkan pelan lengan Kinan.

KInan tersenyum malu-malu, menunduk dalam-dalam karena tak sanggup menatap muka kedua sahabatnya itu. “Dibilangin gak ada, ya gak ada. Kok kalian gak percaya banget, sih!"

“Ih, gak seru, Kinan! Padahal momen langka lho ini,” gerutu Mika cemberut.

“Iya nih,” timpal Alya ikut terkekeh.

Kinan menatap keduanya dengan ekspresi yang seolah-olah tak peduli, lalu beranjak dari kursinya. “Udah ah, mending kita lanjut liat-liat baju aja. Nanti aku malah jadi bahan gosip buat kalian.”

Mika dan Alya akhirnya tertawa geli, menyusul berdiri dan mengekor di belakang Kinan. 

Namun jauh lubuk hati Kinan, obrolan barusan seperti mengusik kedamaian jiwanya. Ada sesuatu yang masih samar tertancap di benaknya, tetapi terasa sangat nyata. Sesuatu yang tak bisa, atau mungkin belum sanggup ia ungkapkan lewat kata-kata.

Tak lama, mereka tiba di sebuah toko pakaian. Di antara deretan baju yang tergantung rapi, Mika tampak sibuk memilih blouse dengan ekspresi penuh pertimbangan. Sesekali ia mengambil beberapa pilihannya, memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu menempelkan pakaian itu ke badannya sambil berkaca di cermin besar. 

Sementara itu, Kinan dan Alya memilih duduk santai di bangku dekat fitting room, hanya sesekali mencuci mata melihat gantungan pakaian baru. Mereka sengaja meluruskan kaki yang mulai terasa pegal sambil terkikik bersama, terhibur melihat Mika yang tak kunjung puas menentukan pilihannya. Hampir dua puluh menit berlalu, dan belum ada satu pun pakaian yang sreg di hatinya.

Tiba-tiba, nada dering ponsel melengking dari dalam tas kecil Mika. Cewek itu buru-buru berlari kecil ke arah Kinan dan Alya, menyodorkan beberapa gantungan baju yang ia pegang ke pangkuan mereka, lalu bergegas mengangkat telepon.

“Halo, Mi? Ada apa?”

Suasana sejenak hening di antara mereka. Hanya terdengar gumaman samar dari seberang telepon yang tak cukup jelas bagi Kinan dan Alya, yang masih memperhatikan gerak-gerik Mika dari tempat duduk mereka.

“Iya? Oh... Kapan? Sekarang?” tanya Mika sambil mengangguk kecil, kerutan di dahinya perlahan surut dan ekspresinya berubah sedikit lebih tenang.

“Oke, Mi. Kalian hati-hati di jalan ya. Salam buat Kakek dan Nenek di sana.”

Setelah menutup panggilan, Mika menghela napas cukup panjang. Ia melangkah mendekati Alya dan Kinan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Ada apa, Mik?” tanya Alya langsung.

“Mami dan Papi katanya mau ke luar kota sore ini buat jenguk Nenek yang lagi sakit. Terus katanya kalo laper, Mami udah siapin makanan di kulkas, tinggal diangetin aja.”

Kinan mengangguk, tersenyum menatap Mika. “Perhatian banget orang tuamu, Mik.”

“Tentu aja! Mami dan Papiku emang sesayang itu sama anak cantiknya ini,” sahut Mika bangga sembari menyugar rambutnya ke belakang.

“Nanti malem sendirian dong di rumah?” tanya Alya.

MIka tak menjawab satu patah kata pun. Ia hanya melempar senyuman penuh makna yang seketika langsung bisa dipahami oleh Alya.

“Iya deh, nanti aku nginep,” sahut Alya mengalah.

Mika hanya cengengesan puas, lalu menyambar kembali baju yang tadi di pegang Alya. Tanpa membuat waktu, ia kembali sibuk memilah-milah baju di depannya.

Kinan dan Alya saling melempar pandang, lalu tertawa kecil menikmati momen konyol sahabat mereka itu. Namun, tawa Kinan mendadak surut. Ada sesuatu yang mendadak berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Sebuah keinginan hangat yang sudah senormalnya didapatkan oleh setiap orang dalam hidup, tetapi tak pernah benar-benar ia rasakan.

Di mata Kinan, hidup Mika terkesan begitu mudah dan penuh kebahagiaan. Segalanya tampak serba ada tanpa sedikit pun kekurangan. Rumah yang nyaman, keluarga yang utuh dan harmonis, bahkan urusan makan pun sudah disiapkan dengan penuh kasih sayang sebelum orang tuanya bepergian.

Kinan mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir kabut kelam yang mendadak memenuhi perasaannya. Mika memang beruntung, tapi bukan berarti ia harus merasa kekurangan hanya karena jalan hidupnya tak semulus dan seindah milik sahabatnya itu.

Lambat laun, senyuman kembali terukir di wajah Kinan yang berhasil menyamarkan gundah yang sempat singgah di hatinya sembari kembali mengalir menikmati waktu bersama kedua sahabatnya.

Di dalam keheningan malam, Nathan sedang berbaring di atas kasurnya dengan wajah yang tertutupi oleh sebuah buku tebal. Novel berjudul ‘Jane Eyre’ karya dari Charlotte Bronte itu tampaknya baru setengah jalan selesai ia baca.

Nathan mengangkat buku yang menutupi wajahnya, lalu meletakkannya begitu saja di sebelah tempat tidur. Ia menatap ke langit-langit kamar sembari menghembuskan napas pelan. Raut wajahnya tampak jelas seperti perpaduan antara rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerang.

Tak lama kemudian, keheningan kamarnya pecah oleh dering ponsel yang menandakan ada sebuah panggilan masuk. Nathan perlahan duduk di pinggir tempat tidur, meraih ponselnya,  lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Halo, Nath.”

Terdengar suara wanita yang terasa begitu lembut di seberang telepon. Nada bicaranya terdengar hangat, memberi kesan seolah ia sedang tersenyum saat mengucapkannya.

“Halo,” balas Nathan pendek.

“Udah sampe bukunya, kan? Harusnya sih udah.”

“Dari kemaren malem,” jawab Nathan tenang. Namun sedetik kemudian, terbesit satu pertanyaan di benaknya. “Tapi kok gak cuman satu?”

Wanita itu terkekeh pelan sebelum menjawab. “Ya berhubung kemaren pas aku nyari buku yang kamu minta itu ada buku lain yang menurutku mungkin kamu bakal tertarik, jadinya ya sekalian aja aku kirim ke sana. Lagian di sini juga cuman jadi pajangan.” 

“Ohh…,” sahut singkat dan padat dari Nathan. “Makasih kalo gitu. Nanti kalo ada waktu biar aku baca semua.”

“Nanti kalo ada lagi buku yang kamu mau, bilang aja. Kali aja ada disini, daripada berdebu percuma gak ada yang baca lagi.”

Nathan hanya menggumam pelan. Sejenak, suasana di antara mereka menjadi hening, hingga akhirnya Nathan kembali membuka suara.

“Gimana kondisi kandunganmu?” tanya Nathan, nadanya melunak, menyiratkan perhatian yang tulus.

“Baik-baik aja sejauh ini. Ya paling jadi agak susah tidur dan bolak-balik ke kamar kecil. Kata dokter, mungkin 4-5 minggu lagi sampe proses persalinan.”

“Oh, syukurlah.”

Keheningan kembali melingkupi mereka sejenak, namun sambungan panggilan telepon masih belum terputus.

“Eh, ngomong-ngomong,” suara wanita itu kembali terdengar. “Kamu ternyata suka nulis cerita online, ya? Udah lama?”

Nathan tak langsung menjawab. Ia sedikit terkejut rahasia kecilnya bisa ketahuan.

“Keren juga ceritanya, meski baru kubaca beberapa bab, sih,” lanjutnya dengan nada bicara yang cukup antusias.

“Mungkin... belum ada dua tahunan,” tanggap Nathan.

Tiba-tiba, terdengar suara samar di latar belakang telepon. Lawan bicara Nathan tampaknya sedang teralihkan oleh suara anak kecil yang mulai merengek.

“Udah duluan ya, Nath. Ruby rewel nih, minta digorengin nugget,” pamitnya terburu-buru.

“Oke,” jawab singkat Nathan singkat dan pelan. Sedetik kemudian, panggilan pun terputus.

Nathan kembali berbaring di tempat tidur dengan ponsel yang masih erat di genggamannya. Ia membuka aplikasi platform tempatnya biasa mempublikasikan cerita online, lalu melihat di bab terakhir yang ia unggah yang ternyata sudah lewat dari 4 minggu lalu.

Matanya terpaku pada satu komentar terbaru. Nama pengguna yang satu itu yang selalu setia meninggalkan jejak di setiap bab tulisan Nathan, sejak awal cerita itu pertama kali dipublikasikan.

“Ahhhhhh. Ini bab yang paling menyedihkan. Ahhhhhhh!!!! Lanjutkan!!”

Nathan beralih ke komentar lain dari nama pengguna yang sama.

“Hey, Author! Kok udah gak pernah update lagi??? Katanya bentar lagi tamat. Kalo gak pernah update gini ya gak bakal tamat jadinya. Aku udah nunggu hampir sebulan!!!”

Nathan hanya memasang wajah datar saat membacanya rentetan tanda seru itu. Ia sendiri merasa bingung harus membalas apa, sebab separuh waktu liburan semesternya habis digunakan untuk berbagai urusan di kehidupan nyata hingga tanpa sadar mengabaikan cerita yang diunggahnya sejak satu setengah tahun lalu.

“Ah, maaf. Bentar lagi akan ku-update,” tulis Nathan membalas.

Ia akhirnya membalas komentar tersebut setelah mendadak mendapatkan ide untuk menamatkan cerita yang sempat terhenti di bab ke tiga puluh empat.

Nathan tersenyum tipis, menyadari ternyata di luar sana ada seseorang yang begitu setia membaca ceritanya dan bahkan menantikan kelanjutannya. 

Sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Sebab, sejak awal ia menulis, tujuannya hanyalah untuk menenangkan pikiran dan melampiaskan segala rasa yang ada di dalam hatinya.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!