Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Detak Jantung yang Tak Disangka
Sejak hari itu, Cynthia tak lagi menyembunyikan apa pun dari Aloy. Di sebuah taman kota yang teduh, di bawah rindangnya pohon tua, Cynthia menyerahkan buku harian beserta foto bayi yang ditemukannya di gudang tua itu kepada Aloy. Dengan suara bergetar, ia menceritakan segala yang dibacanya — bahwa ia bukan anak kandung dari orang tua yang membesarkannya, bahwa ia diambil secara diam-diam dari Rumah Sakit Pertamina belasan tahun lalu, dan bahwa jejak asal-usulnya terputus di sana.
Aloy mendengarkan dengan saksama. Jantungnya terasa perih melihat wanita yang dicintainya itu menahan tangis sekuat tenaga. Tanpa ragu, Aloy menggenggam tangan Cynthia erat.
"Tenanglah, Cynthia..." ucapnya lembut namun tegas. "Aku akan membantumu menelusuri jejak ini. Aku akan mencari tahu siapa orang tuamu sebenarnya. Percayalah padaku."
Cynthia menatap mata Aloy. Di sana, ia melihat ketulusan yang tak pernah diragukan. Mengangguk perlahan, ia merasa seakan beban berat yang memikul pundaknya perlahan terangkat.
Sore itu, langit perlahan berubah jingga. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah basah yang segar. Tanpa mereka sadari, langit tiba-tiba berubah mendung. Titik-titik air jatuh perlahan dari langit, lalu berubah menjadi hujan rintik yang makin lama makin deras.
"Cepat! Berteduh di sana!" seru Aloy sambil menarik tangan Cynthia berlari kecil menuju sebuah gazebo kayu tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Karena terburu-buru menghindari hujan, Cynthia tak melihat akar pohon yang menjulur melintang di tanah. Kakinya tersandung, tubuhnya terhuyung ke depan. Tanpa sempat berteriak, ia jatuh ke pelukan Aloy yang berbalik menariknya.
Dalam sekejap, tubuh Cynthia terhimpit lembut ke dada bidang Aloy. Kedua tangan Aloy secara refleks melingkar erat di pinggang ramping Cynthia demi menahannya agar tak jatuh. Posisi mereka begitu dekat — wajah mereka hanya berjarak seujung jari. Napas mereka menyatu, hangat dan tak beraturan.
Hujan di luar semakin deras, membasahi tanah dan menciptakan bunyi gemerisik yang menenangkan. Namun di dalam gazebo itu, suasana seakan berhenti berputar. Dunia seakan hening, menyisakan detak jantung mereka yang berpacu kencang seirama.
Cynthia mendongak perlahan. Matanya bertemu tepat dengan manik mata Aloy yang menatapnya lekat, penuh kelembutan dan rasa sayang yang tak disembunyikan lagi. Tatapan itu begitu dalam, seakan menyelami setiap sudut hatinya. Wajah mereka semakin mendekat, napas hangat saling menyapu kulit. Ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Cynthia..." bisik Aloy pelan, suaranya terdengar sedikit berat. "Kau... baik-baik saja?"
Cynthia tak mampu menjawab. Lidahnya terasa kelu. Yang ia rasakan hanyalah detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang hingga terasa di telinga. Rasa hangat dari pelukan itu merambat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Ia merasakan ketulusan yang begitu nyata dari pelukan pria itu — pelukan yang melindungi, yang menenangkan, yang seakan berkata tak akan ada yang menyakitimu selagi aku di sini.
Secara tak sadar, jari-jari Cynthia perlahan merambat naik menyentuh dada bidang Aloy. Ia merasakan detak jantung pria itu yang sama berpacunya — sama kencang, sama dalam, sama tak berdayanya.
Aloy menatap bibir merah Cynthia yang sedikit terbuka. Matanya kembali menatap ke manik mata wanita itu. Perlahan, tanpa tergesa-gesa, wajahnya semakin mendekat. Cynthia menutup matanya perlahan, merasakan napas hangat Aloy semakin dekat.
Namun tiba-tiba, sebutir air jatuh dari atap gazebo tepat di antara wajah mereka, membuyarkan suasana itu. Keduanya tersentuh kesadaran, buru-buru menarik diri sedikit meski tangan mereka masih saling menggenggam erat. Wajah Cynthia memerah merona seketika. Begitu pun Aloy yang tampak berusaha menenangkan napasnya yang tak beraturan.
Meski begitu, tangan mereka tak saling melepaskan. Aloy kembali menggenggam kedua tangan Cynthia, menatapnya dengan senyum lembut yang meneduhkan hati.
"Maaf..." ucap Aloy pelan, namun matanya tak menyembunyikan rasa sayang yang meluap. "Aku tak bermaksud kurang sopan. Hanya... melihatmu begitu dekat, aku tak mampu menahan perasaanku lagi."
Cynthia menunduk malu, namun jemarinya justru semakin erat menggenggam tangan Aloy. "Aku tahu..." jawabnya pelan namun jelas. "Aku pun... merasakannya, Aloy."
Hujan perlahan reda. Namun sejak saat itu, sesuatu telah berubah di antara mereka. Rasa cinta yang selama ini tumbuh perlahan kini mekar begitu indah, diperkuat oleh momen tak terduga yang menyatukan detak jantung mereka. Di hadapan pria itu, Cynthia merasa terlindungi, merasa berharga, merasa dicintai sepenuh hati. Dan di saat itulah, Cynthia sadar — tak peduli seberapa kelam masa lalunya, selagi ada Aloy di sisinya, ia tak akan pernah merasa sepi lagi.