Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
****
Suara langkah kaki tegap menggema pelan di atas lantai marmer, memecah keheningan kamar utama yang temaram. Kenzo melangkah masuk, mematikan kunci pintu dari dalam. Jas kerjanya terpasang rapi, namun dasinya sudah sedikit longgar. Iris mata hitamnya yang tajam langsung mengunci sosok Alana yang masih duduk meringkuk di tepi ranjang berukuran king-size, memeluk lututnya di dalam kegelapan.
Kenzo berjalan mendekat, menyalakan sakelar lampu meja. Cahaya keemasan seketika menerangi wajah Alana yang pucat pasi, sembap, dan dipenuhi jejak air mata kering.
"Bibi Rika bilang kamu tidak menyentuh makan malammu," ujar Kenzo dengan suara berat yang kaku. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tepat di hadapan Alana. "Dan suplemen dari Dr. Maya masih utuh di meja rias."
Alana tidak langsung menjawab. Ia perlahan menegakkan punggungnya yang gemetar, mengangkat wajahnya untuk menatap lurus ke dalam iris mata hitam suaminya. Tidak ada lagi ketakutan yang terpancar di sana, melainkan sebuah keraguan yang menghancurkan hatinya.
"Mas Kenzo..." suara Alana keluar parau, tercekat di tenggorokan. "Saya ingin bertanya satu hal."
Kenzo menyipitkan matanya, mengindikasikan agar wanita itu melanjutkan.
"Apakah... apakah transaksi pernikahan ini benar-benar terjadi demi melamatkan keluarga saya?" tanya Alana dengan bibir gemetar. "Tadi siang, Mutiara berteriak di depan umum. Dia menuduh saya sebagai penyebab kehancuran rumah kami. Dia bilang saya bersenang-senang menikmati harta Elard, sementara Ayah makin kritis dan rumah kami seperti kuburan. Mengapa adiknya sendiri menganggap saya seperti monster yang tega memamerkan kemewahan di atas penderitaan mereka, padahal saya mengorbankan seluruh hidup dan tubuh saya di rumah ini demi melunasi utang Ayah?"
Kenzo tidak menunjukkan sedikit pun raut terkejut atau iba. Bibir tipis pria itu justru terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang teramat remeh.
"Kamu benar-benar naif, Alana," kekeh Kenzo rendah. Tawa hampa itu menusuk pendengaran Alana.
Kenzo melangkah menuju meja kerjanya di sudut kamar. Ia mengambil sebuah map kulit berwarna hitam, lalu berjalan kembali menghampiri Alana. Tanpa rasa ragu, Kenzo melemparkan berkas tebal di dalam map itu tepat ke atas pangkuan Alana.
Brak.
"Baca sendiri," perintah Kenzo dingin, suaranya menusuk hingga ke tulang.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Alana membuka sampul berkas tersebut. Lembar demi lembar dokumen resmi perbankan dan surat perjanjian akuisisi terhampar di depan matanya. Di sana, tertera angka fantastis—ratusan miliar rupiah yang telah disuntikkan secara langsung oleh Elard Group ke rekening utama PT Adhijaya Nusantara serta rekening pribadi Surya Adhijaya.
"Uang ratusan miliar sudah disuntikkan secara nyata dan utuh ke rekening perusahaan ayahmu tepat di hari kamu menandatangani kontrak itu," ujar Kenzo tegas, menatap Alana dari atas dengan pandangan penuh dominasi. "Seluruh utang Adhijaya sudah lunas. Aset rumah kalian yang disita bank sudah dibeli kembali atas nama ayahmu. Bahkan biaya perawatan medis kelas VIP di rumah sakit terbaik sudah disiapkan."
Alana terpaku. Matanya menatap angka-angka fantastis itu dengan napas yang tertahan. "Lalu... lalu kenapa Mutiara bilang—"
"Kenapa adikmu mengira kamu menjual diri dan memamerkan kemewahan?" potong Kenzo sinis. Ia membungkuk sedikit, memangkas jarak hingga wajahnya berada beberapa inci dari wajah Alana. "Karena ayah dan ibumu sendiri yang memilih untuk menyembunyikan kenyataan itu darinya."
Alana mendongak dengan tatapan tak percaya. "Apa... maksud Mas?"
"Ayahmu yang terhormat itu memiliki harga diri yang terlalu tinggi," ulas Kenzo dengan nada meremehkan yang amat tajam. "Surya Adhijaya tidak ingin putri bungsunya tahu bahwa ia telah gagal sebagai kepala keluarga. Dia menutupi fakta bahwa perusahaan dan rumah kalian selamat karena uang kompensasi pernikahanmu. Di depan adikmu, ayahmu berakting sebagai korban kejamnya trah Elard, menangis dan meratapi nasib seolah-olah dia adalah orang tua malang yang dipaksa menyerahkan putrinya!"
"Tidak... Ayah tidak mungkin..." bisik Alana menggelengkan kepala, air mata kembali menetes, namun kali ini terasa begitu dingin di kulitnya.
"Faktanya memang begitu, Alana," sambung Kenzo tanpa belas kasihan. "Keluargamu menggunakan uang ratusan miliar dari saya untuk membersihkan nama mereka dan menikmati sisa kekayaan, sementara mereka menumbalkan namamu. Mereka membiarkan adikmu membencimu agar posisi ayahmu tetap suci sebagai pahlawan yang teraniaya di mata Mutiara. Cara keluarga Adhijaya mengelola fakta dan kebohongan di dalam rumah mereka... berada di luar tanggung jawab saya."
Deg.
Kata-kata Kenzo bagaikan petir yang menghancurkan sisa-sisa batin Alana hingga tak berbekas.
Rasa bersalah yang selama berminggu-minggu meremas dadanya, air mata kepasrahan yang ia tumpahkan tiap kali teringat pengorbanannya untuk Ayah dan Ibunya, serta rasa malu atas caci maki Mutiara tadi siang... semuanya mendadak menguap, berganti menjadi kepahitan yang teramat pekat.
Alana menatap lembaran bukti transfer ratusan miliar itu. Keluarga yang selama ini ia bela, keluarga yang menjadi alasannya rela menyerahkan tubuh dan martabatnya untuk diinjak-injak oleh Kenzo dan Nyonya Helena... ternyata menjadikan dirinya sebagai tumbal untuk menutupi kemunafikan mereka sendiri.
Perlahan, isakan Alana terhenti.
Air mata yang mengalir di pipinya menyerap dinginnya malam. Sorot matanya yang semula meredup oleh kesedihan dan keputusasaan, perlahan berubah. Binar kehangatan di dalam iris matanya padam sepenuhnya. Sebagai gantinya, sebuah benteng dingin yang amat tenang dan pekat terbit dari dasar jiwanya.
Bukan lagi sekadar pasrah atau mati rasa... melainkan benih dendam yang tenang dan membeku.
Alana menyapu sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, gerakan jemarinya kini amat tenang dan terkontrol. Ia menutup map hitam itu dengan perlahan, lalu meletakkannya rapi di samping tempat tidur.
Kenzo memperhatikan perubahan aura istrinya dengan dahi berkerut. Ada kepuasan samar karena berhasil mematahkan naifnya Alana, namun ada pula rasa asing yang mengganjal dadanya melihat ketenangan mendadak dari wanita di hadapannya.
Alana mengalihkan pandangannya, menatap tepat ke dalam iris mata hitam Kenzo. Wajahnya yang pucat tak lagi memancarkan rasa sakit hati. Senyuman tipis—sangat tipis dan penuh kepahitan yang dingin—terukir di bibirnya.
"Terima kasih atas kebenarannya, Mas Kenzo," ujar Alana. Suaranya tidak lagi gemetar atau parau, melainkan keluar begitu tenang, halus, dan datar bagaikan es di dasar samudra.
Kenzo menyipitkan matanya. "Kamu tidak menangis lagi?"
"Untuk apa saya menangis?" balas Alana pelan. Ia berdiri dari tepi kasur, merapatkan gaun mewahnya tanpa sedikit pun rasa canggung. "Saya baru saja menyadari bahwa di dunia ini, saya memang tidak punya siapa-siapa lagi untuk dibela."
Alana melangkah mendekati meja rias, meraih gelas berisi ramuan herbal pahit dari Dr. Maya yang sejak tadi diabaikannya. Tanpa ragu dan tanpa mengeluh sedikit pun, Alana meneguk habis cairan pekat itu hingga tetes terakhir di hadapan Kenzo.
Ia meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja dengan bunyi ketukan halus, lalu berbalik menatap suaminya.
"Keluarga saya memanfaatkan saya untuk menyelamatkan nama baik mereka, dan Mas Kenzo memanfaatkan tubuh saya untuk mengamankan posisi direktur utama Elard Group," ujar Alana dengan tatapan jernih yang tak tersentuh emosi apa pun. "Mulai malam ini, saya paham posisi saya."
Alana berjalan mendekati ranjang, menarik selimut tebal lalu membaringkan tubuhnya secara sukarela, menatap langit-langit kamar yang temaram.
"Silakan lakukan tugas Mas Kenzo sesuai jadwal malam ini," bisik Alana tenang, suaranya bagaikan angin malam yang membekukan. "Saya akan melayani Mas dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berharap Mas bisa menyentuh jiwa saya lagi... karena tempat itu sudah mati untuk siapa pun."
Kenzo mematung di tempatnya berdiri. Rahangnya mengeras rapat. Tatapan dingin dan penyerahan diri yang teramat tenang dari Alana tidak memberikan rasa puas yang ia bayangkan. Sebaliknya, hal itu justru menusuk gengsi dan angkuhnya Kenzo, menghadirkan sebuah gejolak asing yang membakar dadanya dengan rasa tidak nyaman yang amat pekat.
Bersambung